Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 25

[DAFTAR ISI] | [Bab 24] [Bab 26]

Bab 25 – Saleh

Musim Dingin 2003 – Musim Semi 2006

Tidak sukar untuk mengetahui di mana Saleh dan teman²nya baru saja berada sebelumnya. Darah yang mereka tinggalkan di tempat kejadian sangatlah jelas. Tapi sampai sekarang tiada seorang pun yang bisa menangkap mereka.

Keterangan dari Shin Bet bahwa mereka telah menemukan Saleh membuat hatiku sedih. Saleh adalah teman dekatku. Dia telah menolongku dalam studiku. Aku telah makan bersamanya dan istrinya, dan aku telah bermain-main dengan anak²nya. Tapi Saleh juga adalah seorang teroris. Dulu sewaktu dia dipenjara oleh PA, dia terus belajar melalui Universitas Terbuka Al-Quds dan menggunakan apa yang dipelajarinya untuk menjadi perakit bom yang hebat, sehingga dia bahkan bisa membuat bom dari bahan² di tempat sampah.

Setelah Saleh keluar dari penjara PA, Shin Bet mengawasi dia dan teman²nya untuk mengetahui berapa lama yang dibutuhkan mereka untuk membangun kembali Brigade Al-Qassam. Ternyata mereka tak butuh waktu lama. Organisasi yang baru memang tidak sebesar yang lama, tapi tetap mematikan.

Maher Odeh adalah otak operasi pemboman; Saleh adalah teknisi perakit bom; dan Bilal Barghouti merekrut pelaku bom bunuh diri. Sebenarnya, bagian militer Hamas hanya terdiri dari sepuluh orang yang masing² bekerja sendiri², memiliki dana tersendiri, dan tidak pernah saling bertemu kecuali jika ada urusan yang sangat penting. Saleh bisa menghasilkan beberapa sabuk bom bunuh diri dalam semalam saja, dan Bilal memiliki daftar orang² yang bersedia mati syahid melakukan serangan bom bunuh diri.

Jika aku yakin Saleh tidak bersalah, aku tentu akan memperingatkan bahwa dia akan segera diciduk. Tapi ketika akhirnya kami menghubungkan berbagai kejadian dan informasi, aku menyadari bahwa dia sebenarnya bertanggung jawab atas pemboman Universitas Ibrani dan tempat² lainnya. Aku mengerti bahwa dia harus dipenjara. Mungkin yang seharusnya kulakukan dulu adalah memperkenalkan ajaran Yesus padanya dan mengajaknya mengikuti ajaran tersebut, sama seperti yang telah kulakukan. Tapi aku juga tahu betul bahwa dia terlalu dibutakan oleh amarah, semangat balas dendam, dan kesetiaan pada Islam sehingga tak akan sudi mendengar nasehat temannya. Aku lalu memohon pada Shin Bet untuk menangkap Saleh dan orang² buronan lainnya dan jangan membunuh mereka. Meskipun awalnya sangat ragu, mereka akhirnya setuju.

Agen² keamanan Israel telah mengamati Saleh selama lebih dari dua bulan. Mereka tahu saat dia meninggalkan apartemennya untuk bertemu dengan Hasaneen Rummanah di sebuah rumah kosong. Mereka juga melihat saat dia kembali pulang, dan tetap tinggal di tempatnya selama seminggu. Mereka melihat teman Saleh bernama Sayyed al-Syeikh Qassem lebih sering keluar meninggalkan tempatnya, tapi lalu kembali pulang. Mereka sangat berhati-hati, sehingga sukar dilacak. Tapi begitu jejak mereka tercium, yang Shin Bet perlu lakukan hanyalah menyelusuri siapa para penghubung di sekitar mereka, yang ternyata jumlahnya mencapai empat puluh sampai lima puluh orang.

Kami telah menemukan tiga dari lima orang yang paling kami cari. Dua orang lainnya yakni Ibrahim Hamed dan Maher Odeh masih buron. Kami harus membuat keputusan apakah kami tetap harus menunggu sampai ada penghubung kepada kedua buronan itu, atau segera mematahkan tulang punggung Brigade Al-Qassam di Tepi Barat dengan menangkapi orang² yang sudah kami ketahui lokasinya. Kami menetapkan untuk melakukan pilihan kedua, dengan pertimbangan keadaan mungkin tidak akan jadi lebih menguntungkan, dan kemungkinan bisa menangkap Hamed atau Odeh jika mendapat keterangan tentang mereka dari tawanan² lainnya.

Di suatu malam tanggal 1 Desember, 2003, pasukan keamanan khusus mengepung lebih dari lima puluh lokasi yang dicurigai pada waktu yang bersamaan. Semua pasukan yang ada dipanggil dari seluruh Tepi Barat. Para ketua Hamas berkumpul di gedung Al-Kiswani di Ramallah, dan mereka tidak bereaksi ketika diminta menyerah. Saleh dan Sayyed punya banyak senjata, termasuk senapan otomatis berat, dan senapan tempur yang biasanya digunakan di kendaraan² militer.

Baku tembak dimulai pada jam 10 malam dan terus berlansung sampai larut malam. Ketika saling tembak dimulai, aku bisa mendengarnya dari rumahku. Lalu terdengar tembakan kanon tank Merkava yang khas menggelegar di pagi hari dan setelah itu tak terdengar apapun lagi. Pada jam 6 pagi, teleponku berdering.

“Temanmu sudah mati,” kata Loai padaku. “Maaf sekali. Kau tentunya tahu kami sudah berusaha untuk tidak membunuh jika memang keadaan memungkinkan. Tapi kuberitahu ya. Jika orang ini …” suara Loai terhenti dan dia melanjutkan lagi, “jika orang ini tumbuh besar di lingkungan lain, dia tentunya tidak akan jadi seperti itu. Dia akan jadi orang biasa seperti kita. Dia mengira, dan dia benar² yakin, bahwa apa yang dilakukannya adalah baik bagi masyarakatnya. Tapi dia sangat salah.”

Loai tahu aku mengasihi Saleh dan tidak ingin dia mati. Dia tahu bahwa Saleh berjuang melawan sesuatu yang dia yakini sebagai hal yang jahat dan merugikan masyarakatnya. Dan mungkin karena itu pula, Loai juga jadi peduli akan nasib Saleh.

“Apakah mereka semua mati?”

“Aku belum melihat tubuh² mereka. Mereka membawa mayat² korban ke Rumah Sakit Ramallah. Kami ingin kau pergi ke sana juga untuk mengenali mayat² tersebut. Kau satu²nya yang mengetahui orang² ini.”

Aku ambil jaketku dan menyetir ke rumah sakit, dengan sangat berharap mayat Saleh tidak berada di situ dan mungkin Saleh tidak terbunuh. Ketika aku tiba, keadaan di rumah sakit kacau-balau. Para aktivis Hamas yang marah berteriak-teriak di jalanan, dan terlihat banyak polisi dimana pun. Tiada seorang pun yang boleh masuk ke dalam, tapi karena semua tahu siapa aku, maka petugas rumah sakit mempersilakan aku masuk. Seorang petugas medis membimbingku ke ruangan pendingin. Dia membuka pintu kulkas dan dengan perlahan menarik sebuah laci yang mengeluarkan semerbak kematian di seluruh ruangan.

Aku melihat ke dalam laci itu dan tampak wajah Saleh. Dia tampak hampir tersenyum. Tapi sebagian besar kepalanya telah hilang. Laci Sayyed terdiri dari kumpulan bagian² tubuh—kaki², kepala, dan lain²—semuanya dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Hasaneen Rummanah telah terbelah dua. Aku tidak yakin bahwa itu adalah dia karena wajahnya bercukur dan Hasaneen selalu berjanggut coklat lembut. Meskipun media melaporkan bahwa Ibrahim Hamed juga berada diantara orang² yang terbunuh, pada kenyataannya, dia masih belum tertangkap. Ibrahim memerintahkan orang² ini untuk bertempur sampai mati, tapi dia sendiri lebih memilih melarikan diri menyelamatkan nyawanya.

Karena pada hakekatnya semua ketua Hamas di Tepi Barat mati atau sedang dipenjara, maka aku jadi penghubung bagi para pemimpin Hamas lainnya di Gaza dan Damaskus. Aku juga jadi penghubung utama seluruh jaringan organisasi², sekte², dan sel² di Palestina—termasuk sel² teroris. Juga hanya segelintir orang² Shin Bet yang mengetahui siapa aku sebenarnya. Hal ini sebenarnya sungguh mengherankan.

Karena peranan baruku ini, maka aku pun dengan sedih harus mengurus penguburan Saleh dan rekan²nya. Ketika aku melakukan hal ini, aku mengamati setiap gerakan dan mendengar setiap bisikan marah dan sedih orang² di sekitarku, yang mungkin bisa mengungkapkan di mana Ibrahim Hamed bersembunyi.

“Karena kabar burung sudah terbang ke mana²,” kata Loai, “dan kau duduk menggantikan para pemimpin yang kami tangkap, mari kita buat berita bahwa Ibrahim Hamed bekerja sama dengan Shin Bet. Masyarakat Palestina umumnya tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga mereka akan percaya berita seperti ini. Akibatnya, Ibrahim Hamed harus keluar dari persembunyiannya untuk membela diri di muka umum atau setidaknya menghubungi pemimpin² politik Hamas di Gaza atau Damaskus. Apapun pilihannya, kita mungkin bisa melacaknya.”

Itu adalah gagasan yang baik, tapi ditolak oleh boss-nya karena khawatir Ibrahim akan membom penduduk sipil sebagai aksi balas dendam—ini sungguh pertimbangan yang tak masuk akal karena Ibrahim tentunya sudah sangat marah atas kematian teman²nya dan penangkapan separuh anggota organisasinya.

Maka kami pun menerapkan cara lain yang lebih sulit dilakukan.

Agen² Shin Bet menempatkan alat² penyadap suara di rumah Ibrahem Hamdi, dengan harapan istri dan anak²nya tanpa sengaja mengatakan dimana dia berada. Tapi ternyata rumah itu adalah rumah tersepi di Palestina. Sekali waktu kami mendengar putranya yang paling bungsu, Ali, bertanya pada ibunya,” Mana ayah?”

“Kita tidak membicarakan tentang hal itu sama sekali,” bentak ibunya.

Jika keluarganya saja sudah sedemikian berhati-hati, tentunya terlebih lagi Ibrahim Hamed. Bulan² berlalu tanpa ada jejak darinya.
__________________
Di akhir bulan Oktober 2004, Yasser Arafat jatuh sakit saat rapat. Orang² di sekitarnya mengatakan dia sakit flu. Tapi keadaannya semakin memburuk, dan dia akhirnya diterbangkan dari Tepi Barat ke rumah sakit di luar kota Paris. Di tanggal 3 November, dia jatuh koma. Seseorang berkata bahwa dia sebenarnya telah diracun. Yang lain berkata dia kena AIDS. Dia mati di tanggal 11 November di usia tujuh puluh tiga tahun.

Yasser Arafat mati di usia 73 tahun

Seminggu lebih kemudian, ayahku dibebaskan dari penjara, dan tiada seorang pun yang lebih kaget atas pembebasannya selain dia sendiri. Loai dan beberapa pejabat Shin Bet bertemu dengannya di pagi hari dia dilepaskan dari penjara.

“Syeikh Hassan,” kata mereka, “sudah saatnya untuk mengadakan perdamaian. Orang² di luar memerlukan orang seperti kau. Arafat sudah wafat; sudah banyak orang yang terbunuh. Kau adalah orang yang bisa berpikir terang. Kita harus melakukan sesuatu bersama sebelum keadaan jadi memburuk.”

“Tinggalkan Tepi Barat, dan beri kami negara berdaulat,” jawab ayah, “dan masalah akan berakhir.” Tentu saja baik ayah maupun Shin Bet tahu bahwa Hamas tetap akan terus menyerang sampai negara Israel tidak ada lagi, meskipun negara Israel yang berdaulat mungkin bisa mendamaikan sekitar satu atau dua dasawarsa.

Di luar Penjara Ofer, aku menunggu bersama ratusan wartawan dari seluruh dunia. Sambil membawa barang² miliknya dalam sebuah kantung plastik hitam, ayah memicingkan mata karena silau sinar mentari sewaktu dua orang prajurit Israel membimbingnya keluar pintu.

Kami berpelukan dan berciuman, dan dia memintaku untuk segera membawanya ke kuburan Yasser Arafat sebelum kami pulang. Aku melihat matanya dan mengerti bahwa ini merupakan langkah yang sangat penting baginya. Karena Arafat telah mati, Fatah menjadi lemah dan jalanan kembali penuh dengan kekerasan. Para pemimpin Fatah khawatir Hamas akan mengambil alih kekuasaan dan usaha ini akan mengobarkan perang saudara. Amerika Serikat, Israel, dan masyarakat internasional juga takut hal itu akan terjadi. Kunjungan ketua top Hamas di Tepi Barat ke kuburan Arafat mengejutkan semua orang, tapi tiada seorang pun yang tak menangkap pesannya: Tenanglah, semua pihak. Hamas tidak akan mengambil kesempatan dari kematian Arafat. Tiada perang saudara.

Sebenarnya, setelah satu dasawarsa menangkap, memenjarakan, dan membunuh, Shin Bet masih saja tidak tahu siapakah yang berkuasa dalam Hamas. Dan tiada seorang pun yang tahu. Aku telah menolong mereka menangkap aktivis² buronan, orang² yang sangat terlibat dalam gerakan perlawanan, dengan harapan kami bisa menangkap orang² yang mengatur Hamas. Kami memenjarakan orang² sampai bertahun-tahun, kadang² hanya karena kecurigaan saja. Tapi Hamas tampak tidak kehilangan apapun.

Maka, siapakah sebenarnya yang mengatur Hamas?

Fakta bahwa yang berkuasa atas Hamas bukanlah ayahku tentunya mengejutkan siapapun—bahkan aku sendiri. Kami menyadap kantor dan mobilnya, memonitor setiap gerakannya. Dan sudah jelas bahwa dia bukanlah yang memberi perintah.

Hamas itu bagaikan hantu. Dia tidak punya pusat pemerintahan atau kantor² cabang, tiada tempat di mana orang bisa berkunjung untuk bicara dengan wakil organisasi. Banyak orang² Palestina yang berkunjung ke kantor ayahku, menyampaikan masalah² mereka, dan minta tolong, terutama para keluarga tawanan dan yang terbunuh yang kehilangan suami² dan bapak² mereka dalam intifada. Tapi bahkan Syeikh Hassan Yousef sendiri tidak sanggup menolong mereka. Setiap orang mengira dia punya jawaban masalah, tapi dia sebenarnya tidak berbeda dengan kami semua: dia tak punya jawaban.

Suatu kali dia memberitahuku bahwa dia sedang mempertimbangkan menutup kantornya.

“Mengapa? Di mana kau akan bertemu dengan media?” tanyaku.

“Aku tak peduli. Orang² datang dari mana², berharap aku bisa menolong. Tapi aku tak mungkin bisa menyediakan dana bagi yang membutuhkan; terlalu banyak yang datang minta tolong.”

“Mengapa Hamas tidak membantu mereka? Mereka adalah sanak keluarga para anggota Hamas. Hamas kan punya banyak uang.”

“Ya, tapi organisasi Hamas tidak memberikannya padaku.”

“Ya minta saja dong. Katakan pada mereka tentang orang² yang butuh bantuan.”

“Aku tak tahu siapa mereka atau bagaimana menemui mereka.”

“Tapi kau kan ketuanya,” protesku.

“Aku bukan ketuanya.”

“Kau mendirikan Hamas, ayah. Jika kau bukan ketuanya, lalu siapa dong?”

“Tiada seorang pun yang jadi ketua!”

Aku sangat terkejut. Shin Bet merekam semua pembicaraan, dan mereka juga terkejut.

Suatu hari, aku menerima telepon dari Majeda Talahme, istri Saleh. Kami belum sempat bicara setelah penguburan suaminya.

“Apa kabar? Bagaimana kabarnya Mosab dan adik²nya?”

Majeda mulai menangis.

“Aku tak punya uang untuk memberi makan anak².”

Aku berpikir, semoga Tuhan mengampunimu, Saleh, atas apa yang kau perbuat terhadap keluargamu!

“Baiklah, saudaraku, tenang, dan aku akan mencoba berbuat sesuatu.”

Aku lalu menemui ayah.

“Istri Saleh baru saja menelepon. Dia tidak punya uang untuk membeli makanan bagi anak²nya.”

“Sedihnya, Mosab, dia bukanlah satu²nya yang mengalami masalah seperti itu.”

“Ya, tapi Saleh adalah sahabatku. Kita harus segera berbuat sesuatu!”

“Nak, aku sudah memberitahu padamu. Aku tak punya uang.”

“Oke, tapi mestinya ada seseorang yang mengatur keuangan. Seseorang yang punya banyak uang. Ini sungguh tak adil! Saleh mati demi perjuangan Hamas!”

Ayahku mengatakan dia akan melakukan apa yang dia bisa. Dia menulis surat, yang kedengarannya seperti “bagi yang bersangkutan,” dan memasukkan surat ke dalam kotak pesan. Kami tidak bisa menelusuri siapa yang akan menerima surat itu, tapi kami tahu orang itu berada di Ramallah.

Beberapa bulan sebelumnya, Shin Bet telah mengirim aku ke sebuah warung internet di tengah kota. Kami tahu seseorang menggunakan salah satu komputer di warung itu untuk berkomunikasi dengan pemimpin² Hamas di Damaskus. Kami tidak tahu siapa para pemimpin tersebut, tapi tak disangsikan lagi bahwa Syria merupakan pusat kekuatan Hamas. Sudah masuk akal jika Hamas ingin mengontrol seluruh organsasi—kantor, persenjataan, dan kamp² militer—diluar jangkauan palu Israel.

“Kami tidak tahu siapa yang berhubungan dengan Damaskus,” kata Loai, “tapi tampaknya orang ini berbahaya.”

Sewaktu aku berjalan masuk ke warung internet tersebut, aku melihat dua puluh orang duduk di depan komputer² yang tersedia. Tiada seorang pun yang berjenggot. Tiada yang tampak mencurigakan. Tapi salah seorang dari mereka menarik perhatianku, meskipun aku tidak tahu mengapa. Aku tidak mengenalnya, tapi naluriku mengatakan bahwa aku harus mengawasi orang ini. Aku tahu ini hanya dugaan saja, tapi setelah bertahun-tahun bekerja sama, Shin Bet tahu bahwa mereka bisa percaya pada naluriku.

Kami yakin bahwa siapapun orang ini , dia kemungkinan berbahaya. Hanya orang yang sangat dipercaya saja yang bisa berkomunikasi dengan para pemimpin Hamas di Damaskus. Kami berharap dia akan membimbing kami untuk mengetahui siapa sebenarnya yang berkuasa atas Hamas. Kami sebarkan foto wajahnya, tapi tiada seorang pun yang mengenalnya. Aku mulai mempertanyakan ketajaman naluriku.

Beberapa bulan kemudian, aku berusaha menjual sebuah rumah di Ramallah. Beberapa orang datang untuk melihat, tapi tiada seorang pun yang mengajukan tawaran. Di sore harinya, ketika aku telah menutup rumah itu dan pulang, seseorang meneleponku dan bertanya apakah aku masih berada di rumah tersebut. Aku saat itu sudah sangat lelah, tapi aku mempersilakannya berkunjung dan bertemu denganku di rumah itu. Aku kembali ke rumah yang akan kujual, dan tak lama kemudian orang itu datang.

Ternyata orang ini adalah orang yang kucurigai di warung internet. Dia mengatakan namanya adalah Aziz Kayed. Dia bercukur rapih dan tampak sangat profesional. Aku bisa menduga bahwa dia berpendidikan tinggi, dan dia mengatakan bahwa dia memiliki pusat pendidikan Islam bernama Al-Buraq Center yang dihormati. Kelihatannya dia bukanlah orang yang kami cari. Tapi daripada membuat Shin Bet semakin bingung, aku tidak mengatakan pada siapapun.

Mosab mendampingi ayahnya.
Tak lama setelah bertemu dengan Kayed, ayah dan aku mengunjungi berbagai kota, desa, dan kamp² penampungan di seluruh Tepi Barat. Di satu kota, lebih dari 50.000 orang berkumpul untuk bertemu dengan Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua ingin menyentuhnya dan mendengar apa yang akan dia katakan. Dia masih sangat dicintai masyarakat.

Di Nablus, yang merupakan pusat Hamas yang kuat, kami bertemu dengan para pemimpin organisasi, dan aku bisa menebak siapa dari mereka yang menjadi anggota² konsul shurah—kelompok kecil beranggotakan tujuh orang yang membuat keputusan akan masalah strategis dan kegiatan sehari-hari gerakan di daerah mereka. Sama seperti ayah, mereka juga merupakan ketua² Hamas yang paling senior, tapi mereka bukanlah “pembuat keputusan” yang sedang kami cari.

Setelah bertahun-tahun, aku tidak percaya bahwa kontrol akan Hamas ternyata sudah terlepas dan jatuh ke tangan² yang tak diketahui. Jika aku sendiri, yang lahir dan dibesarkan di jantung Hamas, tidak tahu siapakah yang berperan menggerakkan Hamas, lalu siapa yang bisa tahu?

Jawabannya datang tiba² saja, entah dari mana. Salah seorang konsul shurah di Nablus menyebut nama Aziz Kayed. Dia menganjurkan agar ayah mengunjungi Al-Buraq dan bertemu dengan “orang baik” ini. Kupingku tiba² menjadi sangat waspada. Mengapa ketua Hamas lokal memberi anjuran seperti itu? Terlalu banyak kebetulan yang tampak: pertama, Aziz tampak mencurigakan di warung internet; lalu dia muncul di tempat aku menjual sebuah rumah; dan sekarang, anggota konsul memberitahu ayah untuk bertemu dengan orang ini. Apakah ini pertanda bahwa naluriku benar dan Aziz Kayed adalah seorang penting dalam organisasi Hamas?

Apakah kami demikian beruntung sehingga menemukan orang yang paling berkuasa? Meskipun masih ragu, aku tetap mengikuti naluriku. Aku kembali dengan cepat ke Ramallah, menelepon Loai dan memintanya untuk mencari keterangan tentang Aziz Kayed melalui komputer.

Beberapa Aziz Kayed muncul, tapi tak seorang pun cocok dengan keterangan akan yang dicari. Kami lalu mengadakan rapat darurat, dan aku meminta Loai memperluas pencarian nama Aziz Kayed di seluruh Tepi Barat. Mereka mengira aku gila, tapi tetap melaksanakan permintaanku.

Kali ini, kami menemukan keterangan tentang dirinya.

Aziz Kayed lahir di Nablus dan bekas anggota gerakan pelajar Islam. Dia menghentikan aktivitasnya sepuluh tahun yang lalu. Dia menikah dan punya beberapa anak, dan bisa dengan bebas keluar masuk negara Israel. Kebanyakan dari temannya adalah orang² sekuler. Kami tak menemukan keterangan yang mencurigakan.

Aku menjelaskan pada Shin Bet semua yang terjadi, dari saat aku melihatnya di warung internet sampai pada kunjungan ke Nablus bersama ayahku. Mereka mengatakan bahwa meskipun mereka sangat percaya padaku, kami tidak mempunyai cukup bukti.

Ketika kami sedang bicara, aku teringat sesuatu.

“Kayed mengingatkanku akan tiga orang yang kukenal,” kataku pada Loai. “Salah Hussein dari Ramallah, Adib Zeyadeh dari Yerusalem, dan Najeh Madi dari Salfeet. Ketiga orang ini punya gelar sarjana dan pernah aktif di Hamas. Tapi karena suatu alasan, mereka tiba² menghilang begitu saja sepuluh tahun yang lalu. Sekarang mereka hidup normal, tidak berhubungan dengan kegiatan politik apapun. Aku heran mengapa orang yang tadinya begitu bersemangat dengan Hamas, tiba² saja berhenti.”

Loai setuju bahwa mungkin hal ini perlu dicurigai. Kami mulai mempelajari kegiatan tiap orang tersebut. Ternyata ketiga orang ini masih berkomunikasi satu sama lain dan juga dengan Aziz Kayed. Mereka semua bekerja bagi Al-Buraq. Ini jelas lebih dari sekedar kebetulan saja.

Apakah keempat orang ini adalah para penggerak Hamas, bahkan mengontrol bagian militer Hamas pula? Apakah mereka selama ini menghindar radar pengamatan kami sewaktu kami mengarah pada tokoh² Hamas yang telah diketahui umum? Kami terus memonitor, menggali keterangan, dan menunggu. Akhirnya kesabaran kami terbayar dengan memuaskan.

Kami mengetahui bahwa keempat pria berusia 30-an ini menguasai total keuangan Hamas dan mengatur seluruh kegiatan Hamas di Tepi Barat. Mereka membawa uang sebesar jutaan dollar dari luar negeri, yang lalu mereka gunakan untuk membeli persenjataan, bom², merekrut sukarelawan, melindungi para buronan, menyediakan logistik, semuanya—semuanya dilakukan di bawah Al-Buraq, yang merupakan salah satu badan pendidikan Islam yang tampaknya tidak berbahaya.

Tiada yang tahu akan mereka. Mereka tidak pernah muncul di TV. Mereka hanya berkomunikasi melalui surat² yang dimasukkan ke dalam kotak² pesan. Sudah jelas bahwa mereka tidak percaya siapapun—buktinya bahkan ayahku sendiri tidak tahu keberadaan mereka.
Suatu hari, kami mengikuti Najeh Madi dari apartemennya ke penyewaan garasi umum yang jaraknya satu blok dari rumahnya. Dia berjalan ke salah satu bagian dan mengangkat pintu penutup ruang garasi. Apa yang dilakukannya di situ? Mengapa dia menyewa sebuah garasi tertutup yang jauh dari rumahnya?

Selama dua minggu, kami terus mengamati garasi sialan itu, tapi tiada yang datang mengunjungi tempat itu. Akhirnya pintu garasi dibuka—bukan dari luar, tapi dari dalam—dan Ibrahim Hamed keluar dari garasi tersebut!

Shin Bet menunggu cukup lama sampai dia kembali ke dalam garasi sebelum akhirnya ditangkap. Tapi ketika Ibrahim Hamed dikepung pasukan keamanan khusus, dia tidak berkelahi sampai mati seperti yang dia perintahkan pada Saleh dan teman²nya yang lain.

“Lepaskan bajumu dan keluar!”

Tiada jawaban.

“Kau punya waktu sepuluh menit. Setelah itu kami akan menghancurkan gedung!”

Dua menit berlalu, pemimpin bagian militer Hamas di Tepi Barat berjalan keluar pintu dengan hanya mengenakan celana dalam.

“Lepaskan semua bajumu!”

Dia ragu², lalu melepas celana dalamnya, dan berdiri telanjang di hadapan para prajurit Israel.

Ibrahim Hamed secara pribadi bertanggung jawab atas kematian lebih dari delapan puluh orang yang bisa kami buktikan. Mungkin kedengarannya tidaklah seperti anjuran Yesus, tapi jika semuanya terserah padaku, aku akan mengembalikan dia ke dalam garasi joroknya, menguncinya dalam tempat itu seumur hidup, dan Pemerintah Israel tidak perlu membayar ongkos proses pengadilan bagi dirinya.

Menangkap Ibrahim Hamed dan mengungkapkan pemimpin² Hamas yang sebenarnya merupakan operasi rahasiaku yang paling penting bagi Shin Bet. Dan ini juga merupakan yang terakhir.

[DAFTAR ISI] | [Bab 24] [Bab 26]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: