Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 24

[DAFTAR ISI] | [Bab 23] [Bab 25]

Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi

Musim Gugur 2002 – Musim Semi 2003

Aku merasa lelah. Aku sudah merasa terlalu lelah karena memainkan berbagai peranan berbeda dalam waktu yang bersamaan. Aku lelah karena harus merubah sifat dan penampilan agar sesuai dengan lingkungan di mana aku berada. Ketika aku bersama ayah dan para pemimpin Hamas lainnya, aku harus berperan sebagai anggota Hamas yang setia. Ketika aku berada bersama Shin Bet, aku harus berperan sebagai mata² Israel. Ketika aku berada di rumah, aku seringkali harus mengambil posisi sebagai ayah dan pelindung saudara²ku. Ketika aku bekerja di kantor, aku harus berperan sebagai karyawan biasa yang merangkap sebagai mahasiswa semester akhir di universitas. Sebentar lagi aku harus menghadapi ujian kuliah, tapi aku tak bisa konsentrasi.

Saat itu adalah akhir bulan September 2002, dan aku mengambil keputusan bahwa sudah saatnya untuk melakukan permainan nomer 2 yang diprakarsai oleh Shin Bet.

“Aku tidak bisa terus-menerus begini,” kataku pada Loai. “Apa yang harus kulakukan? Dikurung beberapa bulan di penjara? Kita bisa saja kan mengatur agar aku menjalani segala prosedur interogasi, dan setelah itu kau bebaskan aku. Lalu aku bisa kembali ke rumah dan menyelesaikan kuliahku. Aku bisa kembali bekerja di USAID dan hidup biasa lagi.”

“Bagaimana dengan ayahmu?”

“Aku tidak akan meninggalkannya sehingga dia bisa terbunuh. Tangkaplah dia juga.”

“Jika itu yang memang kau inginkan, Pemerintah akan dengan senang hati melakukannya, karena akhirnya kita bisa menangkap Hassan Yousef.”

Aku beritahu ibuku di mana ayah bersembunyi, dan aku membiarkan ibu mengunjungi ayah. Lima menit setelah ibu tiba di rumah persembunyian ayah, pasukan keamanan khusus menyerbu sekitar rumah tersebut. Para prajurit berlarian di komplek tetangga, memerintahkan penduduk sipil untuk masuk ke dalam rumah.

Abdullah Barghouti, ahli perakit bom bunuh diri

Salah seorang warga “sipil” yang sedang menyedot narghile (pipa rokok Turki) di depan rumahnya, tak lain daripada Abdullah Barghouti, sang master perakit bom bunuh diri. Dia tidak tahu bahwa dia tinggal di rumah bersebelahan dengan rumah rahasia Hassan Yousef. Dan para prajurit IDF juga tidak tahu bahwa mereka baru saja berteriak pada pembantai massal yang paling dicari di Israel.

Semua orang tak mengerti apa yang terjadi. Ayahku tidak tahu bahwa putranya telah menyerahkan dirinya agar bisa melindunginya dari pembunuhan. Dan IDF juga tidak tahu bahwa Shin Bet telah mengetahui di mana Hassan Yousef bersembunyi selama ini dan bahwa beberapa prajurit Israel bahkan makan siang dan tidur di rumah tempat Hassan Yousef bersembunyi.

Seperti biasa, ayah menyerah dengan damai. Dia dan pemimpin² Hamas lainnya mengira bahwa Shin Bet telah mengikuti ibuku ke tempat persembunyian ayah. Tentu saja ibu jadi sedih, tapi dia juga senang karena suaminya akan aman di penjara dan tidak lagi tercantum dalam daftar orang² yang akan dibunuh Israel.

“Kami akan menemuimu nanti malam,” kata Loai padaku melalui telepon setelah ayah ditangkap.

Setelah matahari terbenam, aku duduk di rumahku, melihat ke jendela di mana tampak dua puluh pasukan khusus bergerak cepat dan mengambil posisi di sekitar rumahku. Aku tahu bahwa aku harus mempersiapkan diri diperlakukan kasar. Dua menit kemudian, mobil² Jeep masuk. Lalu sebuah tank. IDF telah menutup daerah itu. Seseorang meloncat ke atap rumah. Lalu terdengar orang memukul keras² pintu rumahku.

“Siapa itu?” kataku pura² tidak tahu.

“IDF! Buka pintu!”

Aku membuka pintu, dan mereka mendorongku ke lantai, dan dengan cepat memeriksa apakah aku bersenjata.

“Apakah ada orang lain di sini?”

“Tidak.”

Aku tak tahu mengapa mereka bertanya begitu. Mereka lalu mulai menendangi pintu² kamar sampai terbuka dan memeriksa setiap kamar di rumah. Begitu aku dibawa keluar, aku bertatapan muka dengan temanku Loai.

“Kemana saja kau?” Loai bertanya kasar padaku, seakan aku benar² buronan. “Kami telah mencarimu di mana². Apakah kau ingin ditembak mati? Kau tentunya sudah gila melarikan diri dari rumah ayahmu tahun lalu.”

Sekumpulan prajurit IDF mengamati dengan mata marah.

“Kami sudah menangkap ayahmu,” kata Loai, “dan akhirnya kami bisa menangkapmu pula! Kita nanti lihat apa yang akan kau katakan saat interogasi!”

Dua orang prajurit melemparkan aku ke dalam Jeep. Loai datang, dan merunduk agar orang tidak bisa mendengarkan apa yang kami bicarakan, dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai kawan? Apakah kau baik² saja? Borgolnya terlalu ketat?”

“Semua baik² saja,” kataku. “Jangan biarkan aku berada di sini terlalu lama, dan awasi agar prajurit² tidak memukuliku di sepanjang perjalanan.”

“Jangan khawatir. Seorang agen kami akan berada bersamamu.”

Mereka membawaku ke Pusat Militer Ofer, di mana kami duduk di ruangan yang sama, yang dulu sering kami gunakan untuk rapat. Kami duduk bersama selama dua jam untuk “interogasi,” sambil minum kopi dan membicarakan keadaan terakhir.

“Kami akan membawamu ke Maskobiyeh,” kata Loai, “hanya untuk waktu singkat saja. Kita akan berpura-pura kau telah menjalani interogasi yang berat. Ayahmu telah berada di sana, dan kau akan bertemu dengannya. Dia tidak akan ditanyai atau disiksa. Setelah itu kami akan membawamu ke penjara biasa. Kau akan berada di sana selama beberapa bulan, dan setelah itu, kami akan minta perpanjangan penjara bagimu selama tiga bulan, karena siapapun dengan status seperti dirimu tentunya telah diduga akan berada cukup lama di penjara.”

Ketika aku melihat para interogator, bahkan yang dulu menyiksaku ketika aku pertamakali dibawa ke tempat ini, aku heran karena aku tidak merasa benci sama sekali pada orang² ini. Satu²nya cara untuk bisa menerangkan perasaanku hanyalah melalui ayat berikut: Ibrani 4:12 berkata bahwa “Perkataan Tuhan adalah perkataan yang hidup dan kuat; lebih tajam dari pedang bermata dua. Perkataan itu menusuk sampai ke batas antara jiwa dan roh; sampai ke batas antara sendi-sendi dan tulang sumsum, sehingga mengetahui sedalam-dalamnya pikiran dan niat hati manusia.” Aku telah membaca dan merenungkan ayat ini berkali-kali, begitu juga dengan perintah Yesus untuk memaafkan musuhmu dan mencintai mereka yang menindasmu. Meskipun aku belum bisa menerima Yesus sebagai Tuhan, perkataannya terasa hidup, aktif, dan bekerja dalam diriku. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa melihat manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai orang Yahudi atau Arab, tawanan atau interogator. Bahkan kebencian yang dulu mendorongku untuk membeli senjata dan merencanakan pembunuhan atas orang² Israel telah diganti dengan rasa kasih yang tak kumengerti.

Aku dimasukkan ke dalam sel penjara seorang diri selama dua minggu. Jika teman² Shin Bet-ku sedang tidak sibuk memeriksa tawanan, mereka mengunjungiku di sel penjara sekali atau dua kali sehari untuk sekedar mengobrol dan menanyakan keadaanku. Aku diberi makan dengan baik, tidak dikerudungi dengan tutup kepala yang bau, tak usah bertemu dengan penjaga penjara yang seperti kera besar, tak ada lagi lagu Leonard Cohen (meskipun nantinya dia jadi penyanyi favoritku—aneh, ya?). Di Tepi Barat tersebar berita bahwa aku benar² tangguh di penjara, karena tidak mengatakan informasi apapun meskipun disiksa berat oleh Israel.

Beberapa hari setelah aku dimasukkan ke penjara, aku dipindahkan ke sel penjara ayahku. Wajah ayah tampak sangat lega saat dia memelukku. Dia melihat wajahku dan tersenyum.

“Aku mengikutimu,” kataku sambil tertawa. “Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Ada dua orang lain dalam sel tersebut, dan kami ngobrol dengan gembira bersama. Secara jujur aku mengakui bahwa aku merasa sangat senang melihat ayahku aman berada di penjara. Tiada usaha bunuh atau tiada misil yang akan menyerang dari langit.

Kadangkala ketika ayah membacakan Qur’an bagi kami, aku senang melihat padanya dan mendengarkan suaranya yang indah. Kuingat betapa lembutnya dia pada kami anak²nya ketika kami masih kecil. Dia tidak pernah memaksa kami bangun pagi untuk melakukan sholat fajar, tapi kami semua melakukannya karena kami ingin membuatnya bangga. Dia telah memberikan hidupnya bagi Allâh sejak masih sangat muda, dan meneruskan ajarannya kepada kami anak²nya.

Sekarang aku berpikir: ‘Ayahku terkasih, aku sangat senang bisa duduk bersamamu. Aku tahu kau tidak mau berada di penjara saat ini, tapi jika kau tidak berada di sini, tubuhmu yang hancur berantakan mungkin sudah berada di dalam kantung plastik kecil di suatu tempat’. Kadangkala dia mendongak dan melihatku tersenyum padanya dengan rasa sayang dan hormat. Dia tidak mengerti apa pikiranku, dan aku pun tidak bisa menjelaskan padanya.

Ketika para penjaga akhirnya datang untuk memindahkanku ke penjara biasa, ayah dan aku berpelukan erat. Dia tampak ringkih dalam pelukanku, tapi aku tahu betapa kuatnya dia. Kami menjadi begitu dekat selama beberapa hari terakhir, sehingga sukar untuk berpisah. Aku bahkan merasa sedih berpisah dengan teman² Shin Bet-ku. Hubungan kami selama bertahun-tahun telah berkembang menjadi sangat amat akrab. Aku melihat wajah² mereka dan berharap mereka mengetahui bahwa aku sangat menghargai mereka. Mereka menatapku kembali dengan rasa sedih. Mereka tahu bahwa perjalananku berikut tidak akan semudah di tempat ini.

Ekspresi wajah para prajurit IDF yang memborgolku untuk dibawa ke penjara lain sangatlah berbeda dengan ekspresi wajah para temanku. Bagi prajurit IDF, aku adalah teroris yang pernah lepas dari buruan mereka, sehingga membuat mereka malu dan tampak bodoh. Kali ini aku dibawa ke Penjara Ofer, yang merupakan bagian dari pusat militer di mana aku dulu sering rapat dengan Shin Bet.

Jenggotku tampak panjang dan tebal seperti jenggot para tawanan lainnya. Aku bergabung bersama tawanan lain dan melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Ketika waktu sholat tiba, aku bersujud, bersimpuh, dan berdoa, tapi tidak lagi pada Allâh. Aku sekarang berdoa pada Pencipta Alam Semesta. Aku semakin menjauh dari Islam. Suatu hari aku menemukan Alkitab berbahasa Arab di bagian agama di perpustakaan penjara. Alkitab ini lengkap, dan tidak hanya Perjanjian Baru saja. Tampaknya tiada seorang pun yang pernah menyentuhnya. Aku berani bertaruh bahwa tiada yang tahu Alkitab ini berada di situ. Sungguh pemberian besar dari Tuhan! Aku membacanya berulangkali.

Kadang² seseorang datang padaku dan menanyakan dengan sopan apa yang sedang kulakukan. Aku jelaskan padanya bahwa aku sedang belajar sejarah dan karena Alkitab adalah buku kuno, maka buku itu mengandung keterangan jaman kuno. Tidak hanya itu, tapi ajarannya juga sangat baik, kataku, dan aku percaya bahwa setiap Muslim harus membacanya pula. Para tawanan biasanya tidak keberatan dengan jawabanku. Mereka hanya tampak jengkel ketika bulan Ramadan, karena tampaknya aku lebih banyak membaca Alkitab daripada Qur’an.

Kegiatan Belajar Alkitab yang sering kukunjungi di Yerusalem Barat terbuka bagi siapapun—orang Kristen, Muslim, Yahudi, atheis, pokoknya dari golongan manapun. Melalui kelompok ini, aku mendapat kesempatan untuk bisa duduk bersama dengan orang² Yahudi yang datang dengan tujuan yang sama denganku: untuk mempelajari agama Kristen dan mengenal Yesus. Sungguh merupakan pengalaman menarik bagiku sebagai seorang Muslim Palestina untuk belajar tentang Yesus bersama dengan seorang Yahudi Israel.

Dari kelompok ini, aku berkenalan akrab dengan pria Yahudi bernama Amnon. Dia telah menikah dan punya dua anak yang cantik. Dia sangat cerdas dan mahir berbicara dalam beberapa bahasa. Istrinya adalah orang Kristen dan telah mendorongnya sejak lama untuk dibaptis. Akhirnya, Amnon bersedia melakukan itu. Kelompok itu berkumpul bersama di suatu petang untuk menyaksikan upacara baptisnya di tempat mandi milik pendeta. Ketika aku datang, Amnon telah selesai membaca suatu ayat dan mulai menangis keras².

Dia tahu ketika dia mempersilakan dirinya dibaptis, dia tidak hanya menyatakan persekutuan dengan Yesus Kristus, tapi dia juga telah bercerai dengan budaya Yudaismenya. Dia telah memalingkan tubuh dari agama ayahnya, seorang profesor di Universitas Ibrani. Dia telah meninggalkan tradisi agama masyarakat Yahudi dan mempertaruhkan masa depannya.

Tak lama setelah itu, Amnon menerima surat perintah bahwa dia harus bergabung bersama IDF. Di Israel, semua warga non-Arab, laki atau perempuan, di atas usia 18 tahun diwajibkan ikut dalam militer—pria selama tiga tahun, dan wanita selama dua tahun. Tapi Amnon telah melihat banyak pembantaian di pos penjagaan. Dia merasa bahwa sebagai orang Kristen, dia tidak mau ditempatkan di tempat itu, karena kemungkinan akan menanggung resiko membunuh warga sipil tak bersenjata. Dia juga tak mau mengenakan seragam militer dan pergi ke Tepi Barat.

“Bahkan jikalau pun aku bisa melakukan tugasku dengan menembak anak yang melempar batu di kakinya dan bukan di kepalanya, aku tetap tak mau melakukan itu. Aku kan disuruh untuk mengasihi musuhku,” begitu penjelasannya.

Surat perintah kedua datang. Lalu surat perintah ketiga.

Ketika dia tetap saja tak mau melakukan tugas wajib militer, Amnon ditangkap dan dipenjara. Aku tidak tahu bahwa selama aku berada di penjara Ofer, Amnon pun dipenjara di situ, di bagian penjara bagi orang² Yahudi. Dia dipenjara karena dia tidak mau bekerja bagi Israel; aku dipenjara karena aku setuju untuk bekerja bagi Israel. Aku sedang mencoba untuk melindungi orang² Yahudi; dia sedang mencoba melindungi orang² Palestina.

Aku tidak beranggapan bahwa semua orang di Israel dan Palestina harus jadi orang Kristen agar bisa menghentikan pertumpahan darah. Tapi kupikir, jika saja kita memiliki 1.000 Amnon di dalam masyarakat Yahudi dan 1.000 Mosab di dalam masyarakat Palestina, maka akan terjadi perubahan besar. Dan jika jumlahnya lebih besar lagi … siapa tahu kemungkinan ini bisa terjadi?

Dua bulan setelah tiba di Ofer, aku dibawa ke pengadilan, di mana tak seorang pun mengetahui siapa diriku—hakim dan jaksa penuntut tidak tahu, dan pengacaraku sendiri juga tidak tahu.

Di pengadilan, Shin Bet bersaksi bahwa aku adalah seorang teroris yang berbahaya dan mereka meminta aku dipenjara lebih lama lagi. Pak Hakim setuju dan menetapkan aku harus dipenjara selama enam bulan lagi di penjara lain. Lagi² aku ditransfer.

Letak penjara Ktzi'ot di padang pasir Negev, dekat perbatasan dengan Mesir.

Penjara Ktzi'ot tampak atas.

Penjara Ktzi'ot

Setelah melakukan perjalanan pakai mobil selama lima jam di gurun pasir Negev, akhirnya mobil berhenti dekat pusat nuklir Dimona. Lalu aku melihat tenda penjara Ktzi’ot, di mana kau meleleh di musim panas dan membeku di musim dingin.

“Apa organisasimu?”

“Hamas.”

Ya, aku masih mengaku sebagai bagian dari Hamas, tapi aku tidak lagi seperti tawanan yang lain.
Hamas masih merupakan organisasi mayoritas. Tapi sejak dimulainya Intifada Kedua, Fatah juga berkembang dengan pesat, dan masing² organisasi memiliki jumlah tenda yang hampir sama banyaknya. Aku sudah lelah berpura-pura, dan iman baruku juga melarangku untuk berdusta. Agar aman, aku tidak banyak bergaul dengan siapapun dan menyendiri saja selama aku berada di situ.

Ktzi’ot adalah tempat terasing yang masih liar. Di malam hari terdengar suara angin bercampur dengan lolongan srigala, hyena, dan macan tutul. Aku telah mendengar cerita bahwa beberapa tawanan bisa melarikan diri dari Ktzi’ot, tapi tak satu pun selamat melalui gurun pasir. Musim dingin lebih buruk daripada musim panas—udara sangat dingin membeku, salju yang beterbangan, dan hanya kanvas tenda saja yang melindungi kami dari udara luar. Setiap tenda memiliki kain penangkal lembab di langit² tenda. Tapi sebagian tawanan menyobek kain itu untuk memakainya sebagai gorden prifasi di sekitar tempat tidurnya. Udara lembab dari nafas kami seharusnya tertahan pada kain tersebut. Tapi yang terjadi adalah udara lembab itu menguap dan menempel pada bagian atas kemah menjadi cairan air liur yang berkumpul sampai terlalu berat dan lalu menetes bagaikan hujan pada kami di sepanjang malam ketika sedang tidur.

Orang² Israel menyebarkan begitu banyak papan² berlem penangkap tikus di seluruh kamp tawanan untuk mengontrol populasi tikus. Di suatu pagi yang sangat dingin, ketika semua orang masih tidur dan aku sedang membaca Alkitab, terdengar suara mencicit. Aku menengok ke bawah tempat tidurku dan melihat seekor tikus tertempel di papan lem. Yang mengejutkan aku, di situ terdapat seekor tikus lain yang mencoba menyelamatkan tikus yang terperangkap sambil berusaha tidak menginjak lem. Apakah tikus lain itu pasangannya atau temannya? Aku tak tahu. Aku melihat selama sekitar setengah jam bagaimana seekor binatang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan binatang lain. Aku sangat terharu sehingga aku bebaskan keduanya.

Di penjara, bahan bacaan terbatas pada Qur’an dan pelajaran tentang Qur’an saja. Aku hanya punya dua buku berbahasa Inggris yang diselundupkan temanku melalui pengacaraku. Aku sangat berterimakasih mempunyai bahan bacaan yang memperkuat kemampuan bahasa Inggrisku, tapi sebentar kemudian buku itu mulai lapuk karena terlalu sering kubaca. Suatu hari, ketika aku sedang berjalan seorang diri, aku melihat dua tawanan sedang membuat teh. Di sebelah mereka terdapat sebuah kotak kayu besar berisi novel² yang dikirim oleh Palang Merah. Dan kedua orang ini menyobeki halaman buku² untuk dijadikan bahan bakar api! Aku sungguh tak tahan melihatnya. Aku dorong kotak kayu itu menjauh dari mereka dan mulai mengambili buku² tersebut. Mereka mereka aku menginginkan buku² itu untuk membuat teh bagi diriku.

“Apakah kalian gila?” tanyaku pada mereka. “Aku butuh waktu sangat lama untuk bisa mendapatkan dua buku bahasa Inggris sehingga aku bisa membacanya, dan sekarang kau bikin teh dengan buku² ini!”

“Itu buku² Kristen,” kata mereka.

“Ini bukan buku² Kristen,” kataku pada mereka. “Ini buku² New York Times bestsellers! Aku yakin buku² ini tidak mengatakan apapun yang menentang Islam. Ini hanyalah buku² fiksi tentang pengalaman manusia.”

Mereka mungkin mengira ada yang salah terhadap putra Hassan Yousef. Dia tampak sangat diam, suka menyendiri, dan membaca. Tiba² saja sekarang dia ngamuk gara² sekotak buku. Jika bukan karena ayahku, mungkin mereka sudah akan berkelahi denganku untuk mempertahankan bahan bakar mereka. Tapi mereka membiarkan aku mengambil novel² tersebut, dan aku kembali ke tempat tidurku dengan kotak besar penuh buku. Aku tumpuk buku² ini di sekitarku dan bergelimangan dalam buku² tersebut. Aku tak peduli apa kata orang. Hatiku bernyanyi dan memuji Tuhan karena menyediakan bagiku buku bacaan sewaktu aku mencoba menghabiskan waktu di tempat ini.

Aku membaca enam belas jam sehari sampai mataku jadi lemah karena penerangan di penjara yang kurang baik. Selama empat bulan di Ktzi’ot, aku menghafalkan empat ribu perbendaharaan kata bahasa Inggris.

Ketika aku berada di sana, aku mengalami dua kali kekacauan di penjara, jauh lebih parah daripada yang pernah kualami di Megiddo. Tapi Tuhan menyelamatkan diriku dari dua malapetaka tersebut. Sebenarnya aku merasakan kehadiran Tuhan jauh lebih kuat di penjara tersebut daripada di lain tempat. Aku belum mengenal Yesus sebagai sang Pencipta, tapi aku jelas telah belajar untuk mengasihi Tuhan sang Bapa.
__________________
Pada tanggal 2 April, 2003—sewaktu tentara Sekutu menyerang Baghdad—aku dibebaskan. Aku dianggap sebagai pemimpin Hamas yang dihormati, teroris berpengalaman, dan buronan licin. Aku telah ditahan dan sekarang bebas. Resiko ketahuan sebagai mata² juga telah sangat berkurang, dan ayahku masih hidup di tempat aman.

Sekali lagi, aku bisa dengan bebas berjalan-jalan di Ramallah. Aku tidak lagi harus bersembunyi sebagai buronan. Aku bisa jadi diriku lagi, bisa menelepon ibuku; dan lalu menelepon Loai.

“Selamat datang kembali, Pangeran Hijau,” katanya. “Kami sangat rindu padamu. Banyak yang terjadi sewaktu kau pergi, dan kami tak tahu harus berbuat apa tanpa kau.”

Beberapa hari setelah aku keluar dari penjara, aku bertemu Loai dan teman² baik Israelku. Mereka hanya punya satu laporan saja untuk disampaikan, tapi ini adalah laporan yang sangat penting.

Di bulan Maret, Abdullah Barghouti telah diketahui persembunyiannya dan ditangkap. Setelah itu, pembuat bom dari Kuwait ini diadili di pengadilan militer karena telah membunuh enam puluh enam orang dan melukai sekitar lima ratus orang. Aku tahu jumlah korban lebih dari itu, tapi hanya itulah yang bisa kami buktikan. Barghouti awalnya dihukum enam puluh tujuh kali hukuman seumur hidup—satu untuk setiap korban pembunuhannya dan satu ekstra bagi semua korban yang terluka. Sewaktu mendengar ini, dia tidak menunjukkan rasa sesal sedikit pun, menyalahkan Israel, dan hanya menyesal karena tidak punya kesempatan untuk membunuh orang² Israel lagi.

“Teror pembunuhan membabi-buta yang dilakukan pihak tertuduh merupakan satu dari pembunuhan berdarah yang paling keji dalam sejarah negara ini,” kata Hakim. Barghouti mengamuk, mengancam untuk membunuh Hakim dan akan mengajar semua anggota Hamas yang dipenjara bagaimana cara membuat bom. Karena ancamannya itu, dia lalu ditempatkan di sel penjara terisolasi seorang diri tanpa kontak dengan tawanan lain. Sementara itu, Ibrahim Hamed, sahabatku Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya masih belum ditemukan.

Di bulan Oktober, proyek USAID-ku telah selesai, dan aku tidak bekerja lagi bagi mereka. Maka aku memusatkan perhatian pada tugasku untuk Shin Bet dengan mengumpulkan semua keterangan sebaik mungkin.

Di suatu pagi, dua bulan kemudian, Loai menelepon.

“Kami telah menemukan Saleh.”

[DAFTAR ISI] | [Bab 23] [Bab 25]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: