Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 22

[DAFTAR ISI] | [Bab 21] [Bab 23]

Bab 22 – Perisai Pertahanan

Musim Semi 2002

Kekerasan semakin meningkat dengan kecepatan yang memusingkan kepala.

Orang² Israel ditembaki, ditusuk, dan dibom. Orang² Palestina dibunuhi. Ronde demi ronde balas dendam terus berlangsung, dan semakin cepat. Masyarakat internasional mencoba menekan Israel tapi imbauan ini sia² saja.

“Hentikan pendudukan ilegal… Hentikan pemboman terhadap warga sipil, pembunuhan, dan penggunaan kekerasan yang tak berguna, penghancuran rumah, dan penghinaan setiap hari terhadap masyarakat Palestina,” tuntut sekjen PBB Kofi Annan di tanggal 2 Maret, 2002.

Di hari di mana kami menangkap empat pembom bunuh diri yang kulindungi dari pembunuhan, para pemimpin Persatuan Eropa meminta pihak Israel dan Palestina menghentikan kekerasan. “Tak ada solusi militer bagi masalah ini,” kata mereka.

Di tahun 2002, hari raya Paskah jatuh di tanggal 27 Maret. Di sebuah ruang makan lantai bawah Hotel Park di Netanya, 250 tamu berkumpul untuk tradisi makan Seder.

Anggota Hamas bernama Abdel-Basser Odeh, usia 25 tahun, masuk melewati penjagaan keamanan, meja pendaftaran di lobi, ke dalam kerumunan orang². Dia memasukkan tangan ke dalam jaketnya dan meledakkan bom.

Abdel-Basser Odeh, pembom bunuh diri.

Serangan bom bunuh diri di hari Paskah di Netanya.

Ledakan membunuh 30 orang dan melukai 140 lainnya. Beberapa dari korban adalah orang yang dulu selamat dari Holokaus Nazi. Hamas menyatakan bertanggung jawab, dengan mengatakan tujuan peledakkan adalah untuk mencegah Pertemuan Puncak Arab (Arab Summit) di Beirut. Meskipun demikian, keesokan harinya, Liga Arab yang dipimpin Saudi Arabia mengumumkan bahwa mereka telah memungut suara dan mengakui Negara Israel dan menormalkan hubungan, selama Israel setuju untuk kembali ke daerah kekuasaan sebelum tahun 1967, menyelesaikan masalah pengungsi Palestina, dan mendirikan Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Jika Israel menerima persyaratan ini, masyarakat Palestina akan menang besar sekali. Tapi sayangnya, Hamas tetap saja memaksa dengan sikapnya yang ‘mendapatkan segalanya atau tidak sama sekali.’

Karena tahu Hamas tidak akan mengubah pendirian, Israel melakukan rencana ekstrim untuk menanggulangi Hamas.

Dua minggu kemudian, pasukan Israel menyerang masuk wilayah Palestina dan menduduki dua kota yakni Ramallah dan Al-Bireh. Pengamat militer memperingatkan kemungkinan terjadinya banyak korban di pihak Israel. Tapi sebenarnya mereka tak perlu khawatir.

IDF membunuh lima orang Palestina, menetapkan jam malam, dan menguasai beberapa gedung. Buldozer² raksasa D9 juga menghancurkan beberapa rumah di kamp penampungan Al-Amari, termasuk rumah milik Wafa Idris, pembom bunuh diri wanita pertama, yang membunuh pria Israel berusia 81 tahun dan melukai 100 orang lainnya diluar toko sepatu di Yerusalem, di tanggal 27 Januari.

Setelah serangan bom bunuh diri di Hotel Park, Pemerintah Israel memberi lampu hijau untuk melancarkan operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi militer ini bernama Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield).

Teleponku berdering. Ternyata Loai.

“Ada apa?” tanyaku.

“Seluruh IDF berkumpul,” kata Loai. “Malam ini, kami akan menangkap Saleh dan semua buronan lainnya.”

“Apa maksudmu?”

“Kami akan menguasai seluruh Tepi Barat dan memeriksa setiap rumah dan bangunan, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Diam di tempat. Aku akan meneleponmu lagi.”

Wow, pikirku. Ini hebat! Mungkin serangan itu akhirnya akan mengakhiri perang sinting ini.

Terdengar kabar angin di seluruh Tepi Barat. Para pemimpin Palestina tahu ada sesuatu yang akan terjadi, tapi tak tahu persisnya apa. Orang² meninggalkan tempat kerja mereka, klinik kesehatan, dan kelas², dan langsung pulang untuk nonton TV, menunggu berita. Aku telah memindahkan ayahku ke apartemen milik pasutri warga AS, dan Shin Bet menjamin keselamatannya di sana.

Di tanggal 29 Maret, aku masuk ke Hotel City Inn di Jalan Nablus di Al-Bireh, di mana BBC, CNN, dan media internasional lainnya tinggal. Ayah dan aku tetap berhubungan melalui radio dua jalur.

Shin Bet mengira saat itu aku sedang berada di Hotel City Inn, nonton TV sambil makan cemilan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan menonton peristiwa bersejarah ini langsung di tempatnya. Maka aku keluar hotel sambil membawa senjata M16 di pundakku, sehingga aku tampak bagaikan orang buronan. Aku menuju puncak bukit di sebelah Perpustakaan Ramallah, di mana aku bisa melihat bagian tenggara kota tempat ayahku tinggal. Kupikir aku akan aman berada di situ, dan bisa cepat lari ke hotel jika mendengar tank² mendekati.

Sekitar hampir jam 12 malam, ratusan tank Merkava berderu hebat masuk kota. Aku tidak menduga mereka akan menyerang dari segala penjuru dalam waktu bersamaan—dan juga tidak secepat itu. Beberapa jalanan begitu sempit sehingga tank² tidak punya pilihan lain selain menggilas mobil² yang parkir di jalanan. Jalanan lain cukup lebar, tapi tampaknya para prajurit dalam tank menikmati suara mobil² yang digilas dengan tanknya. Kebanyakan jalan² di kamp penampungan berukuran sedikit lebih besar daripada gang² perantara rumah.

“Matikan radiomu!” kataku pada ayah. “Tiarap! Tundukkan kepalamu!”

Aku telah memarkir mobil Audi ayah di pinggir jalan. Dengan rasa takut aku melihat sebuah tank menggilas remuk mobil ayah. Seharusnya mobil itu tidak kuparkir di situ. Aku tahu aku harus cepat melarikan diri, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Tentunya aku juga tak bisa menelepon Loai dan memintanya menghentikan operasi penyerangan hanya karena aku ingin sedikit bermain Rambo.

Aku berlari ke arah tengah kota dan merunduk ke dalam garasi parkir, hanya beberapa meter dari sebuah tank yang sedang melaju. Prajurit² Israel belum tampak karena sedang menunggu tank² Merkava mengamankan wilayah. Tiba² aku menyadari bahwa sebuah kelompok perlawanan Palestina berkantor di gedung yang terletak di atas kepalaku. Aku sedang berlindung di target sasaran.

Tank² tidak bisa membedakan antara mata² Shin Bet atau teroris, Kristen atau Muslim, orang bersenjata atau warga sipil biasa. Dan para tentara yang berada dalam tank tersebut sama takutnya seperti aku yang sekarang bersembunyi. Di sekitarku, para pria yang tampak seperti diriku menembakkan AK47 kepada tank² tersebut. Ping. Ping. Ping. Peluru memantul kesana kemari. Tank juga tak mau kalah, dan balas tembak. BUUM! Telingaku terasa mau meledak.

Bagian besar bangunan di sekitar kami mulai runtuh dan menimbulkan gelombang debu. Setiap kanon tank meledak, hentakannya terasa seperti memukul perutku. Senapan² otomatis terus ditembakkan, peluru² beterbangan, dan suaranya menggema di tembok² garasi. Kanon meledak lagi, debu beterbangan di mana, dan serpihan² tembok dan batu berjatuhan.

Aku harus keluar dari tempat ini. Tapi gimana caranya?

Tiba² sekelompok pejuang Fatah lari masuk ke dalam garasi dan bersembunyi di sebelahku. Wah, payah nih. Bagaimana jika para prajurit masuk ke sini? Para feda’iyin akan menembaki mereka. Lalu apakah aku juga harus menembak? Pada siapa? Jika aku tak menembak, maka aku pun tetap akan ditembak. Tapi aku tak mau membunuh siapapun. Dulu memang aku bertekad membunuh, tapi sekarang tidak lagi.

Lebih banyak lagi pejuang Palestina yang masuk garasi untuk bersembunyi. Tiba² semua sunyi senyap dan tak ada yang berani bernafas.

Para prajurit IDF masuk perlahan-lahan ke dalam garasi. Tampaknya sebentar lagi akan ada saling tembak dahsyat. Para prajurit menyalakan obor api mencari orang atau refleksi senjata. Mereka mendengarkan, dan kami melihat. Jari² telunjuk berkeringat dan siap menarik pelatuk senjata.

Lalu air Laut Merah terbelah.

Mungkin karena takut masuk ke bagian garasi tergelap dan lembab, atau mungkin karena ingin kembali ke tank, para prajurit itu tiba² berhenti, berbalik, dan pergi begitu saja. Setelah mereka menghilang, aku masuk ke gedung di atasku, naik tangga, dan menemukan telepon yang bisa kugunakan untuk menelepon Loai.

“Bisakah kau meminta IDF untuk mundur sekitar dua blok agar aku bisa kembali ke hotelku?

“Apa?! Di mana kamu sekarang? Mengapa kau tidak berada di hotel?”

“Aku sedang melakukan tugasku.”

“Kau sinting!”

Lalu berlangsung suasana diam sesaat yang canggung.

“Baiklah, akan kami lihat apa yang bisa kami lakukan.”

Dibutuhkan waktu dua jam untuk memanggil mundur para tank dan prajurit, yang tentunya terheran-heran mengapa mereka harus mundur. Begitu mereka telah mundur, aku melompat dari satu atap rumah ke atap lainnya, dan hampir mematahkan kaki²ku. Akhirnya aku tiba di kamar hotel dengan aman. Aku tutup pintu, membuka baju teroris dan senapanku, lalu memasukkan semuanya ke lubang AC.

Di saat itu, rumah tempat ayahku bersembunyi terletak di tengah² badai penyerangan. IDF memeriksa semua rumah di sekitarnya, di belakang setiap gedung, di bawah setiap batu. Tapi mereka juga sudah diberitahu untuk tidak masuk rumah tertentu.

Di dalam rumah itu, ayah membaca Qur’an dan berdoa. Pemilik rumah juga membaca Qur’an dan berdoa. Istrinya juga membaca Qur’an dan berdoa. Lalu, karena alasan yang tak mereka ketahui, para tentara Israel melewati rumah itu begitu saja, lalu pergi, dan mulai memeriksa daerah lain.

“Kau pasti tak percaya muzizat ini, Mosab!” kata ayah lewat radio tak lama kemudian. “Sungguh sukar dipercaya! Mereka datang. Mereka memeriksa setiap rumah di sekitar kami, seluruh daerah tetangga—kecuali rumah di mana kami bersembunyi. Alhamdulillaaah!”

‘Terima kasih kembali,’ kataku dalam hati.

Israel tidak pernah melakukan operasi penyerangan sebesar Operasi Perisai Pertahanan sejak Perang Enam Hari. Dan ini hanya permulaan saja. Ramallah adalah target pertama. Setelah itu Betlehem, Jenin, dan Nablus diserang pula. Ketika aku sedang berlari-lari menghindari tentara Israel, pasukan IDF telah mengepung tempat tinggal Yasser Arafat. Semua gedung ditutup. Jam malam yang ketat diberlakukan.

Di tanggal 2 April, tank² dan mobil² bersenjata mengepung gedung Preventive Security Compound (Kompleks Keamanan Pencegahan) dekat rumah kami di Betunia. Helikopter² militer beterbangan di atas rumah kami. Kami tahu PA menyembunyikan setidaknya 50 orang buronan, dan Shin Bet frustasi karena tidak bisa menemukan mereka dimana pun.

Kompleks itu terdiri dari empat gedung, dan satu gedung kantor empat tingkat di mana Kolonel Jibril Rajoub dan agen² keamanan PA tinggal. Seluruh fasilitas kompleks ini dibangun dan dilengkapi oleh CIA. Polisi PA juga dilatik dan disenjatai oleh CIA. CIA bahkan punya kantor di gedung itu. Ratusan polisi bersenjata lengkap berada di dalam gedung, juga sejumlah besar tawanan, termasuk Bilal Barghouti dan buronan Israel lainnya. Shin Bet dan IDF benar² serius dan tanpa kompromi kali ini. Pengeras suara mengumumkan bahwa tentara akan meledakkan Gedung Satu dalam waktu lima menit dan memerintahkan semua orang untuk keluar gedung.

Persis lima menit kemudian, BOM!!! Lalu giliran Gedung Dua. “Semua keluar!” Lalu BOOM!! Giliran Gedung Tiga. BOM!!! Gedung Empat. BOM!!!

“Buka baju kalian!” begitu perintah dari pengeras suara. Para prajurit Israel tidak mau ambil resiko menghadapi kemungkinan ada yang menyembunyikan bahan peledak dalam baju mereka. Ratusan orang berdiri telanjang. Mereka diberi baju katelpak, dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke Pusat Militer Ofer—di mana Shin Bet nantinya melakukan kesalahan.

Banyak sekali orang² yang ditawan, tapi pihak Israel hanya menginginkan orang² buronan saja, dan membebaskan orang² yang tidak mereka cari. Masalahnya adalah semua orang itu telah menanggalkan baju² mereka di kompleks. Dengan begitu, bagaimana pasukan keamanan Israel bisa membedakan mana orang buronan dan mana yang polisi?

Kolonel Jibril Rajoub

Boss dari boss Loai adalah Ofer Dekel dan dia bertanggung jawab atas operasi penyerangan itu. Dia memanggil Jibril Rajoub, yang sedang tidak berada di Kompleks saat penyarangan dilakukan. Dekel memberi Rajoub ijin khusus sehingga dia bisa melalui ratusan tank dan ribuan prajurit dengan aman. Ketika dia tiba, Dekel meminta Rajoub menunjukkan orang² yang mana yang bekerja sebagai polisi, dan yang mana yang buronan. Rajoub mengatakan akan dengan senang hati melakukannya. Dengan cepat, Rajoub menunjuk para polisi sebagai buronan dan para buronan sebagai polisi, dan karenanya Shin Bet lalu membebaskan semua buronan.

“Mengapa kau lakukan itu padaku?” tanya Dekel pada Rajoub setelah akhirnya mengetahui keadaan sebenarnya.

“Kau baru saja meledakkan gedung tempat kerja dan kompleksku,” jawab Rajoub dengan tenang. Dekel juga rupanya lupa bahwa setahun yang lalu Rajoub terluka ketika tank² dan helikopter IDF menghancurkan rumahnya, sehingga tentunya dia semakin tak suka membantu pihak Israel.

Shin Bet sangat malu. Satu²nya cara untuk balas dendam pada Rajoub adalah dengan mengeluarkan laporan bahwa Rajoub adalah pengkhianat karena menyerahkan orang² yang dicari Israel dalam perjanjian dengan CIA. Sebagai akibatnya, Rajoub kehilangan jabatan dan akhirnya harus bekerja sebagai kepala Persatuan Sepakbola Palestina.

Lepasnya para buronan tentunya adalah kesalahan besar bagi Shin Bet.

Setelah tiga setengah minggu berlalu, Israel menghentikan aturan jam malam dari waktu ke waktu. Di suatu hari pada tanggal 15 April, di mana jam malam sedang tidak diberlakukan, aku bisa membawa makanan dan keperluan lain bagi ayah. Dia berkata padaku bahwa dia merasa tidak aman di rumah tersebut dan ingin pindah tempat. Aku menelepon salah satu pemimpin Hamas dan bertanya apakah dia tahu tempat di mana Hassan Yousef bisa berlindung. Dia menganjurkan aku untuk membawa ayah ke lokasi dimana Syeikh Jamal al-Taweel, salah satu tokoh penting Hamas yang dicari Israel, bersembunyi.

Wow, pikirku. Jika bisa menangkap Jamal al-Taweel, tentunya Shin Bet akan merasa lebih baik setelah kegagalan menangkap buronan beberapa minggu yang lalu. Aku berterima kasih padanya tapi berkata, “Sebaiknya jangan tempatkan ayah di tempat yang sama. Mungkin akan berbahaya bagi mereka berdua jika berada di satu rumah.” Kami setuju untuk memilih tempat lain, dan dengan cepat aku memindahkan ayah di tempat yang baru. Setelah itu aku menelepon Laoi.

“Aku tahu dimana Jamal al-Taweel bersembunyi.”

Loai sangat girang mendengar kabar ini; al-Taweel ditangkap malam itu juga.

Di hari yang sama, kami juga bisa menangkap orang lain yang paling dicari IDF—Marwan Barghouti.

Meksipun Marwan Barghouti adalah salah satu pemimpin Hamas yang terlicin, sebenarnya proses penangkapan Marwan sangatlah mudah. Aku menelepon salah satu penjaga Marwan Barghouti dan bicara dengannya secara singkat melalui ponselnya, dan Shin Bet melacak di mana ponsel tersebut berada. Marwan Barghouti ditangkap dan diadili di pengadilan sipil dan dihukum lima kali hukuman seumur hidup.

Pada saat itu, Operasi Perisai Pertahanan terus berlangsung dan menjadi beritu utama setiap hari di berbagai media internasional. Banyak berita yang menyudutkan pihak Israel. Misalnya terdengar berita bahwa Israel membantai orang² Palestina di Jenin, dan sukar untuk mengetahui kebenarannya karena pihak Israel menutup kota Jenin. Menteri kabinet Palestina Saeb Erekat mengatakan 500 orang mati. Tapi kemudian angkanya diturunkan jadi hanya 50 saja.

Di Betlehem, lebih dari 200 orang Palestina dikepung dalam Gereja Nativity selama lima minggu. Setelah kepulan debu mereda dan kebanyakan penduduk sipil diperbolehkan pulang, diketahui bahwa 8 orang Palestina dibunuh, 26 dikirim ke Gaza, 85 diperiksa IDF dan lalu dibebaskan, dan 13 buronan yang paling dicari diasingkan ke Eropa.

Setelah Operasi Perisai Pertahanan berakhir, dikabarkan sekitar 500 orang Palestina terbunuh, 1.500 luka², dan hampir 4.300 ditahan IDF. Di lain pihak, 29 orang Israel mati, 127 luka². Bank Dunia memperkirakan kerugian mencapai lebih dari $360 juta.

[DAFTAR ISI] | [Bab 21] [Bab 23]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: