Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 19

[DAFTAR ISI] | [Bab 18] [Bab 20]

Bab 19 – Sepatu-sepatu

2001

Intifada Kedua tampak berlangsung terus-menerus tanpa berhenti sedikit pun untuk menarik nafas. Di tanggal 28 Maret, 2001 seorang pembom bunuh diri membunuh dia remaja di pompa bensin. Di tanggal 22 April, seorang pembom bunuh diri membunuh satu orang, dirinya, dan melukai 50 orang di tempat perhentian bus. Di tanggal 18 May, lima warga sipil dibunuh dan lebih dari 100 orang terluka akibat bom bunuh diri diluar pusat perbelanjaan di Netanya.

Lalu di tanggal 1 Juni, pada jam 11:26 malam, sekelompok remaja sedang berdiri mengantri, sambil ngobrol dan bercanda, dan menunggu untuk bisa masuk disco Dolphi yang terkenal di Tel Aviv. Kebanyakan dari para remaja ini berasal dari bekas Uni Sovyet, dan orangtua mereka adalah imigran baru di Israel. Saeed Hotari juga berada di barisan antrian, tapi dia adalah orang Palestina dan sedikit lebih tua daripada para remaja tersebut. Dia mengikatkan pada tubuhnya bahan peledak dan pecahan² metal.

Koran² tidak menyebut serangan di Dolphinarium sebagai serangan bom bunuh diri. Mereka menyebutnya sebagai pembantaian. Sejumlah besar anak² remaja tercabik hancur berantakan akibat ledakan hebat bom yang berisi kelereng² metal. Jumlah korban sangat besar: 21 mati; 132 luka².

Sebagian korban pembantaian di diskotik Dolphinarium

Tiada pembom bunuh diri yang berhasil membunuh begitu banyak orang dalam satu kali serangan. Tetangga² Hotari di Tepi Barat memberi selamat ayahnya. “Aku harap ketiga putraku lainnya juga akan melakukan hal yang sama,” kata Pak Hotari pada wartawan. “Aku ingin semua anggota keluargaku mati bagi negara dan tanah air kami.”

Israel menjadi lebih bertekad lagi untuk memotong kepala ular. Pada saat itu semestinya mereka tahu bahwa memenjarakan atau membunuh para pemimpin organisasi perlawanan Palestina tidaklah akan menghentikan pertumpahan darah.

Jamal Mansour adalah seorang wartawan, dan seperti ayahku, dia adalah salah satu dari 7 pendiri Hamas. Dia adalah salah satu sahabat terdekat ayah. Mereka dulu telah diasingkan bersama di Lebanon selatan. Mereka bicara dan tertawa bersama di telepon hampir setiap hari. Dia juga adalah pendukung utama para pembom bunuh diri. Di wawancara bulan Januari oleh majalah Newsweek, dia membela pembunuhan yang dilakukan terhadap para penduduk sipil tak bersenjata dan memuji para pembom bunuh diri.

Jamal Mansour, salah seorang pendiri Hamas.

Pada tanggal 31 Juli, hari Selasa, setelah mendapat keterangan dari seorang mata², sebuah helikopter Apache berlaras dua mendekati kantor media Mansour di Nablus. Helikopter itu menembakkan rudal yang dikemudikan oleh laser yang meluncur menembus jendela kantornya di lantai dua. Mansour, ketua Hamas Jamal Salim, dan enam orang Palestina lainnya langsung tewas oleh ledakan rudal tersebut. Dua korban adalah anak², usia 8 dan 10, yang sedang menunggu diperiksa dokter di lantai pertama. Kedua anak ini hancur remuk tertimpa reruntuhan gedung.

Kejadian ini sungguh mengejutkanku. Aku menelepon Loai.

“Apa sih yang tengah terjadi? Apakah kau yakin orang² itu terlibat dalam pemboman bunuh diri? Aku tahu mereka mendukung penyerangan, tapi mereka adalah bagian politik Hamas, dan bukan bagian militer.”

“Ya. Kami punya keterangan bahwa Mansour dan Salim langsung terlibat dalam pembantaian disko Dolphinarium. Tangan mereka berlumuran darah. Kami harus melakukan ini.”

Apa yang bisa kulakukan? Berdebat dengannya? Mengatakan bahwa informasi yang didengarnya salah? Tiba² aku sadar bahwa Pemerintah Israel juga mungkin akan membunuh ayahku. Meskipun dia tidak mengatur penyerangan bom bunuh diri, dia tetap bersalah karena berhubungan dengan mereka. Selain itu, dia juga punya keterangan yang bisa menyelamatkan banyak nyawa, tapi dia menahan keterangan itu. Dia punya pengaruh, tapi tak menggunakannya. Dia bisa mencoba menghentikan pembunuhan, tapi dia tak melakukannya. Dia mendukung serangan² itu dan mendorong anggota² Hamas untuk terus melakukan perlawanan sampai Israel terpaksa mundur. Di mata Pemerintah Israel, dia juga adalah seorang teroris.

Setelah banyak mempelajari Alkitab, aku sekarang mulai membandingkan perbuatan² ayahku dengan ajaran² Yesus, dan bukan dengan Qur’an lagi. Hasilnya, ayah semakin tampak bukan lagi sebagai pahlawan di mataku, dan hatiku terasa remuk. Aku ingin memberitahu padanya apa yang kupelajari, tapi aku tahu dia tidak akan mendengar. Dan jika Pemerintah Israel berhasil membunuhnya, maka dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui bahwa Islam telah membimbingnya di jalan yang salah.

Aku menghibur diriku bahwa ayah tidak akan dibunuh untuk sementara waktu karena koneksiku dengan Shin Bet. Mereka dan aku ingin dia tetap hidup, meskipun tentunya karena alasan yang sangat berbeda. Dia adalah sumber utama keterangan dalam tentang kegiatan Hamas. Tentu saja aku tidak bisa menerangkan hal ini kepadanya, dan bahkan perlindungan Shin Bet juga akhirnya bisa jadi berbahaya baginya. Tentunya orang² akan curiga jika semua pemimpin Hamas harus menyembunyikan diri, tapi ayah seorang diri tidak perlu melakukan hal itu dan bisa bebas berjalan-jalan di luar. Aku merasa harus berusaha melindungi ayah. Aku segera datang ke kantornya dan mengatakan padanya bahwa apa yang baru saja terjadi pada Mansour bisa terjadi pula pada dirinya.

“Singkirkan semua orang. Singkirkan bodyguardmu. Tutup kantor. Jangan datang ke sini lagi.”

Reaksinya persis seperti yang telah kuduga.

“Aku akan baik² saja, Mosab. Kami akan menaruh besi baja di depan jendela².”

“Apakah kau gila? Pergi sekarang juga! Rudal² mereka bisa menembus tank² dan bangunan², dan kau pikir kau bisa berlindung di balik selembar metal? Jika kau tutup jendela, maka mereka akan menembak lewat langit² ruangan. Mari pergi sekarang juga!”

Aku tidak bisa menyalahkan ayah dengan sikapnya menolak. Dia adalah pemimpin agama dan politik, dan bukan tentara. Dia tidak tahu apa² tentang pembunuhan atau tentara. Dia tidak tahu apa yang kuketahui. Akhirnya ayah setuju untuk pergi bersamaku, meskipun kutahu dia tidak senang melakukannya.

Tapi aku bukan satu²nya orang yang berkesimpulan bahwa sahabat Mansour, yakni Hassan Yousef, tentunya akan jadi target pembunuhan berikutnya. Ketika kami sedang berjalan di tepi jalan, tampaknya orang² di sekitar kami merasa khawatir. Mereka mempercepat langkah kaki mereka dan sekali² melihat ke langit dengan gugup, jangan² ada helikopter Israel yang muncul. Tiada yang mau ikut jadi korban sial gara² berada terlalu dekat dengan ayah.

Aku mengantar ayah ke Hotel City Inn dan mengatakan padanya untuk tinggal di situ.

“Petugas penerima tamu akan mengganti kamarmu setiap lima jam. Dengarkan dia. Jangan bawa siapapun ke dalam kamarmu. Jangan telepon siapapun kecuali aku, dan jangan tinggalkan tempat ini. Ini telepon yang aman untukmu.”

Setelah aku pergi, aku langsung menelepon Shin Bet.

“Bagus. Tempatkan dia di sana agar aman.”

Mosab menemani ayah kemana pun.

Agar bisa yakin ayah tetap aman, aku harus tahu setiap kegiatannya. Aku menyingkirkan semua bodyguardnya, karena aku tak percaya akan mereka. Aku ingin ayah bergantung padaku sepenuhnya. Jika tidak, dia kemungkinan bisa berbuat kesalahan yang mengakibatkan kematiannya. Aku jadi pembantu, bodyguard, dan penjaga gerbanya. Aku menyediakan semua yang dibutuhkannya. Aku memperhatikan apapun yang terjadi di dekat hotelnya. Aku adalah kontak perantaranya ke dunia luar, dan aku juga jadi kontak perantara dunia luar kepada ayah. Perananku yang baru ini juga menguntungkan diriku karena dengan begitu tiada orang yang curiga padaku.

Aku mulai melakukan sebagaian peranan sebagai pemimpin Hamas. Aku membawa senjata M16, yang merupakan tanda bahwa aku adalah pria yang punya koneksi, peranan penting, dan kekuasaan. Di saat itu, senjata seperti M16 sangatlah diminati dan tidak banyak yang punya (senjataku ini harganya bisa mencapai $10.000).

Orang² militer Hamas mulai bergaul bersamaku hanya untuk menunjukkan bahwa diri mereka penting. Karena mereka mengira aku tahu semua rahasia Hamas, mereka merasa bebas membagi masalah² dan rasa tidak puas mereka padaku, karena menyangka aku bisa menolong mereka.

Aku mendengarkan baik². Mereka tidak tahu bahwa sedikit keterangan dari sana sini yang mereka sampaikan bisa kususun hubungannya satu sama lain untuk menghasilkan gambaran besar permasalahan. Hal ini jugalah mengakibatkan Shin Bet mampu melakukan banyak operasi rahasia yang sukar kujabarkan pada kalian hanya dalam satu buku saja. Yang ingin kusampaikan pada kalian adalah banyak nyawa yang terselamatkan sebagai hasil pembicaraanku dengan para militer Hamas tersebut. Banyak wanita yang tidak menjadi janda dan banyak anak² yang tidak kehilangan orangtua karena kami berhasil mencegah terjadinya banyak serangan bom bunuh diri.

Setelah aku dipercaya dan dianggap penting oleh bagian militer Hamas, maka aku pun jadi wakil Hamas bagi organisasi Palestina lainnya. Organisasi² lain ini mengira akulah yang menyediakan bahan peledak dan yang mengatur kerjasama operasi penyerangan dengan Hamas.

Suatu hari, Ahmad al-Faransi, ajudan Marwan Barghouti, meminta aku untuk menyediakan bahan² peledak bagi beberapa pembom bunuh diri dari Jenin. Aku katakan padanya bahwa aku akan menyediakan bahan peledak itu, dan aku mulai memainkan perananku—menunda sampai aku mengetahui keberadaan kelompok² pembom di Tepi Barat. Permainan seperti ini sangatlah berbahaya. Tapi aku tahu bahwa aku terlindung dari beberapa jurusan. Menjadi putra Syeikh Hassan Yousef mencegah diriku disiksa oleh Hamas di penjara, dan posisi ini juga melindungiku saat bekerja diantara para teroris. Pekerjaanku di USAID juga memberiku perlindungan dan kebebasan pula. Juga Shin Bet selalu melindungiku.

Akan tetapi, jika aku berbuat kesalahan, maka nyawalah taruhannya, dan Pemerintah Palestina (PA) selalu saja jadi ancaman bagiku. PA punya alat bantu dengar yang canggih, hadiah dari CIA. PA menggunakannya untuk melacak teroris dan mata² Israel. Maka aku harus sangat berhati-hati, terutama agar tidak jatuh ke tangan PA karena aku tahu lebih banyak tentang Shin Bet daripada mata² lainnya.

Karena aku adalah satu²nya akses perantara bagi ayahku, maka aku berhubungan langsung dengan semua ketua Hamas di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Syria. Orang lain yang punya akses yang sama seperti diriku hanyalah Khalid Meshaal (ketua Hamas di Syria) di Damaskus. Meshaal lahir di Tepi Barat, tapi dia kebanyakan hidup di negara² Arab lainnya. Dia bergabung bersama Persaudaraan Muslim di Kuwait dan belajar fisika di Universitas Kuwait. Setelah Hamas berdiri, Meshaal mengetuai Hamas di Kuwait. Setelah Kuwait diserang Iraq, dia pindah ke Yordania, lalu ke Qatar, dan akhirnya tinggal di Syria.

Khalid Meshaal, ketua Hamas di Syria.

Karena tinggal di Damaskus, dia bisa bebas bepergian dan tidak dibatasi seperti para ketua Hamas di Palestina. Dia berperan bagaikan diplomat yang mewakili Hamas di Kairo, Moskow, dan Liga Arab. Sewaktu dia bepergian, dia pun mengumpulkan dana. Di bulan April 2006, dia berhasil mengumpulkan dana sebesar $100.000.000 dari Iran dan Qatar.

Meshaal jarang tampil di tempat umum; dia tinggal di tempat rahasia, dan dia tidak berani kembali ke Palestina karena takut dibunuh. Dia punya alasan kuat untuk berhati-hati.

Di tahun 1997, ketika Meshaal sedang berada di Yordania, dua orang agen rahasia Israel masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan racun langka ke dalam telinganya saat dia tidur. Para bodyguard-nya melihat para agen rahasia itu pergi meninggalkan gedung, dan satu dari mereka segera memeriksa Meshaal. Dia tidak melihat darah apapun, tapi Meshaal tampak tergeletak di lantai tanpa bisa bersuara. Para bodyguard mengejar agen² Israel, dan satu dari para agen itu jatuh ke pipa limbah. Para agen Israel ditangkap oleh polisi Yordania.

Saat itu Israel baru saja menandatangani perjanjian damai dengan Yordania dan bertukar duta besar. Serangan terhadap Meshaal ini mengancam perjanjian damai yang baru saja dibuat. Hamas merasa malu karena salah satu pemimpinnya bisa diserang dengan begitu mudah. Kisah ini mempermalukan semua yang terlibat, sehingga mereka semua mencoba menutup-nutupinya. Tapi media internasional bisa mengetahui berita ini.

Demonstrasi² terjadi di jalanan Yordania, dan Raja Hussein meminta Israel membebaskan Syeikh Ahmed Yassin, pemimpin rohani Hamas, dan tawanan² Palestina lainnya untuk ditukar dengan agen² rahasia Mossad yang merah mukanya karena malu. Sebagai tambahan persyaratan, Mossad juga harus mengirim tim dokter untuk menyuntikkan penawar racun pada Meshaal. Akhirnya Israel bersedia melakukan hal itu.

Khalid Meshaal meneleponku setidaknya seminggu sekali. Di lain waktu, dia meninggalkan rapat yang sangat penting untuk menerima telepon²ku. Suatu hari, Mossad menelepon Shin Bet.

“Kita punya seseorang yang sangat berbahaya dari Ramallah yang bicara dengan Khalid Meshaal setiap minggu, dan kami tidak bisa mengetahui siapa orang ini!”

Tentunya Mossad sedang membicarakan tentang diriku. Kami semua tertawa terbahak-bahak, dan Shin Bet tetap tidak memberitahu Mossad tentang siapa diriku sebenarnya. Tampaknya ada persaingan diantara badan² keamanan setiap negara—sama seperti FBI (Federal Bureau of Investigation) dengan CIA (Central Intelligence Agency), atau dengan NSA (National Security Agency) di AS.

Suatu hari aku ingin memanfaatkan hubunganku dengan Meshaal. Aku katakan padanya aku punya keterangan penting yang tidak bisa kusampaikan lewat telepon.

“Apakah kau punya cara aman untuk menyampaikannya?” tanyanya.

“Tentu saja. Aku akan telepon kamu lagi dalam waktu seminggu dan memberi keterangan terperinci bagimu.”

Biasanya cara rahasia untuk berkomunikasi antar daerah Palestina dan Damaskus adalah dengan memberikan surat pada seorang kurir yang tidak punya catatan polisi dan tak berhubungan dengan Hamas. Surat² seperti ini ditulis di atas kertas yang sangat tipis, lalu digulung sampai jadi kecil sekali, dan dimasukkan ke dalam kapsul obat kosong atau dibungkus dengan kain nylon. Sebelum menyeberangi perbatasan, kurir harus menelan kapsul itu, lalu memuntahkannya di WC di tempat yang dituju. Kadang² kurir harus membawa 50 buah pesan sekaligus. Tentunya kurir juga tak tahu apa isi surat² tersebut.

Aku mengambil keputusan untuk melakukan hal yang berbeda dan membuka saluran baru rahasia di luar Palestina, dan dengan begitu memperluas akesku dari sekedar tingkat pribadi saja menjadi tingkat operasi dan keamanan organisasi.

Shin Bet senang sekali mendengar gagasanku.

Aku memilih anggota Hamas lokal dan mengatakan padanya untuk menemuiku di kuburan tua di tengah malam. Untuk membuatnya terkagum-kagum, aku datang sambil membawa senapan M16-ku.

“Aku ingin kau melakukan tugas yang sangat penting,” kataku padanya.

Dia jelas tampak ketakutan tapi juga tertarik dan ingin tahu. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan putra Hassan Yousef.

“Kau tidak boleh memberitahu siapapun—tidak juga keluargamu, bahkan juga ketua Hamas. Ngomong², siapakah pemimpinmu?”

Aku memintanya untuk menulis seluruh pengalamannya dalam Hamas, apapun yang dia ketahui, sebelum aku bisa menerangkan lebih banyak padanya tentang tugas rahasia yang akan diembannya. Meskipun dia tidak bisa menuliskan semuanya di atas kertas dalam waktu singkat, aku sungguh merasa beruntung menerima kertas laporan itu karena keterangannya sangat banyak dan penting. Isinya termasuk keterangan² terbaru tentang setiap kegiatan di daerahnya.

Kami bertemu untuk keduakalinya, dan aku katakan padanya bahwa dia akan memintanya pergi keluar Palestina.

“Lakukan persis seperti apa yang kukatakan,” kataku memperingatkannya, “dan jangan banyak tanya.”

Aku beritahu Loai bahwa orang ini sangat terlibat dalam organisasi Hamas, dan merupakan pengikut Hamas yang aktif dan setia. Shin Bet memeriksa data tentang orang itu, tidak menganggapnya sebagai bahaya, dan membuka perbatasan ke Syria baginya untuk membawa suratku pada Khalid Meshaal.

Aku menulis surat pada Khalid Meshaal bahwa aku punya semua kunci ke Tepi Barat dan dia bisa bergantung padaku sepenuhnya untuk tugas² pelik dan khusus, jika dia tidak bisa menggunakan jalur Hamas yang biasa. Aku katakan bahwa aku siap menerima perintahnya, dan aku menjamin tugas akan dijalankan dengan sukses.

Waktuku menghubunginya sangat tepat, karena Israel telah membunuhi atau menangkapi sebagian besar pemimpin² dan aktivis Hamas saat itu. Brigade Al-Qassam juga telah kelelahan, dan Meshaal tidak punya banyak sumberdaya manusia.

Aku tidak menyuruh kurirku untuk menelan surat. Aku menciptakan desain pengiriman baru, karena hal itu mengasyikan bagiku. Aku suka dengan peralatan agen rahasia, terutama karena badan rahasia Israel menyediakan teknologinya.

Kami membeli baju baru yang sangat bagus bagi kurirku—baju jas komplit, sehingga perhatiannya teralihkan pada baju barunya dan bukan pada sepatunya di mana kami menyembunyikan surat untuk Khalid Meshaal.

Dia lalu mengenakan baju baru tersebut, dan aku memberinya cukup uang untuk melakukan perjalanan dan sedikit uang lebih untuk bersenang-senang di Syria. Aku katakan padanya bahwa orang yang akan menghubunginya hanya akan mengenalnya melalui sepatunya, jadi dia harus tetap memakai sepatu itu. Jika dia tidak memakai sepatu itu, maka mereka akan mengira dia adalah orang lain dan ini akan berbahaya baginya. Begitu penjelasanku padanya.

Setelah kurirku tiba di Syria, aku menelepon Khalid Meshaal dan mengatakan padanya bahwa sebentar lagi akan ada orang yang menghubunginya. Jika orang lain mengatakan pesan seperti itu padanya, Khalid akan jadi sangat curiga dan menolak bertemu. Tapi kurir ini telah dikirim oleh teman mudanya, putra Hassan Yousef. Makanya dia yakin dia tidak perlu khawatir.

Ketika kurirku bertemu dengan Khalid Meshaal, Khalid memintanya menyerahkan surat dariku.

“Surat apa?” kurirku bertanya. Dia tidak tahu bahwa dia memiliki surat itu.

Aku telah memberitahu Khalid untuk mencari surat itu di sepatu kurirku. Mereka lalu menemukan sebuah ruang kecil tersembunyi di salah satu sepatu kurirku. Dengan begitu, jalur baru komunikasi sudah dibuka dengan Damaskus, meskipun Khalid Meshaal tidak menyadari bahwa Shin Bet mengamati semua ini.

[DAFTAR ISI] | [Bab 18] [Bab 20]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: