Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 17

[DAFTAR ISI] | [Bab 16] [Bab 18]

Bab 17 – Tugas Rahasia

2000 – 2001

Apa yang akan kusampaikan ini tidak diketahui siapapun sebelumnya, kecuali oleh segelintir agen rahasia Israel. Aku mengungkapkan rahasia ini dengan harapan meluruskan beberapa kejadian penting yang selama ini hanyalah misteri saja.

Pada saat aku mengambil keputusan untuk membantu Shin Bet menghentikan semua kegilaan ini, aku mulai mempelajari dengan seksama semua kegiatan² dan rencana² Marwan Barghouti dan pemimpin² Hamas. Aku menyampaikan semua yang kuketahui pada Shin Bet, dan mereka lalu menggunakan segala kemampuan mereka untuk menangkap para pemimpin ini.

Dalam badan Shin Bet, aku diberi nama sandi Pangeran Hijau. Hijau melambangkan warna bendera Hamas, dan pangeran sudah tentu melambangkan kedudukanku sebagai anak dari ayahku—raja dalam Hamas. Maka di usia 22 tahun, aku menjadi satu²nya mata² Shin Bet dalam Hamas yang bisa menembus badan militer dan politik Hamas, dan juga organisasi² Palestina lainnya.

Tapi tanggungjawab ini tidak semuanya berada di pundakku. Sudah jelas bagiku bahwa Tuhan menempatkan diriku di tengah² kepemimpinan Hamas dan Palestina, dalam rapat² Yasser Arafat, dan dalam badan rahasia Israel untuk suatu tujuan tertentu. Aku punya posisi unik untuk melakukan pekerjaan ini. Dan aku dapat merasakan bahwa Tuhan bersamaku.

Aku ingin menyelusup lebih dalam, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Aku dulu berada di tengah² intifada pertama, dikelilingi oleh kekerasan. Mayat² korban telah menyesakkan kuburan di mana dulu aku sebagai anak² bermain sepakbola. Aku melempar batu². Aku melanggar jam malam. Tapi dulu aku tidak mengerti mengapa masyarakatku melakukan kekerasan. Sekarang aku ingin tahu mengapa kami melakukannya sekali lagi. Aku harus mengerti.

Dari pandangan Yasser Arafat, pemberontakan tampaknya hanya bertujuan politik, uang, dan untuk tetap berkuasa. Dia adalah biang manipulator, master pengendali boneka Palestina. Di hadapan kamera, dia mengutuk Hamas karena melakukan serangan² terhadap penduduk sipil dalam wilayah Israel. Hamas tidak mewakili PA atau masyarakat Palestina, katanya. Tapi dia juga tidak banyak melakukan apapun untuk menginterupsi, dan malah merasa puas membiarkan Hamas melakukan pekerjaan kotornya dan lalu disalahkan oleh komunitas internasional. Dia adalah politikus licin yang tahu bahwa Israel tidak bisa menghentikan serangan² tanpa bersedia bekerja sama dengan PA. Semakin banyak serangan terjadi, semakin Israel terdesak untuk bersedia berunding di meja pertemuan.

Di saat ini, sebuah kelompok baru muncul di arena konflik. Kelompok ini menamakan diri Brigade Syahid Al-Aqsa. Prajurit² IDF dan para penduduk Israel adalah sasaran bunuh mereka. Tapi tiada yang tahu siapakah orang² ini atau dari mana mereka berasal. Mereka tampak relijius, meskipun tak ada orang dalam Hamas atau Jihad Islam yang mengenal mereka. Mereka juga tak nampak sebagai kelompok nasionalis dari PA atau Fatah.

Shin Bet juga bingung seperti yang lain. Sekali atau dua kali seminggu, mobil atau bus Israel diserang dengan tembakan yang tepat. Bahkan prajurit² Israel yang bersenjata lengkap juga jadi korban mereka.

Suatu hari, Loai meneleponku.

“Kami punya keterangan bahwa sebagian dari penyerang² misterius ini mengunjungi Maher Odeh, dan kami ingin kau mencari tahu siapa mereka dan apa hubungan mereka dengan Maher Odeh. Kau adalah satu²nya yang bisa kami percayai.”

Maher Odeh adalah ketua Hamas yang sangat dicari oleh Shin Bet. Dia adalah ketua kelompok keamanan Hamas dalam penjara, dan aku tahu dialah yang bertanggung jawab atas penyiksaan² yang dilakukan Hamas di penjara. Aku menduga dialah pengatur dan penggerak serangan² bom bunuh diri. Odeh juga adalah orang yang sangat menjaga rahasia, karenanya tidak mungkin bagi Shin Bet untuk mengumpulkan bukti yang cukup untuk menangkapnya.

Petang itu, aku menyetir mobil masuk ke tengah kota Ramallah. Saat itu bulan Ramadan, dan jalanan sepi. Matahari telah tenggelam, jadi semua orang sedang berada di rumah untuk buka puasa, saat aku memarkir mobil tak jauh dari gedung apartemen Maher Odeh. Meskipun aku belum dilatih untuk melakukan tugas seperti ini, aku tahu dasar² prakteknya. Dalam film², orang yang mengawasi akan duduk dalam mobil di seberang jalan tak jauh dari rumah yang diincar dan mengamati keadaan dengan kamera canggih atau peralatan agen rahasia lainnya. Meskipun Shin Bet punya segala teknologi super canggih, satu²nya yang kumiliki dalam menjalankan tugas rahasia ini hanyalah mobilku dan mataku. Yang perlu kulakukan hanyalah melihat gedung dan mengetahui siapa yang datang dan pergi.

Setelah setengah jam kemudian, beberapa orang bersenjata meninggalkan gedung dua tingkat itu dan masuk ke dalam mobil Chevy hijau baru yang berbendera Israel. Semua ini tampak salah. Pertama-tama, anggota Hamas, terutama dari bagian militer, tidak pernah membawa senjata mereka di tempat umum. Kedua, orang² seperti Maher Odeh tidak berhubungan dengan orang² bersenjata.

Aku menghidupkan mesin mobil dan menunggu dua mobil lewat diantara kami dan lalu mulai mengikuti mereka. Aku mengikuti mobil Chevy hijau hanya sebentar saja di jalan utama ke Betunia, di mana orangtuaku tinggal, dan lalu aku kehilangan mereka.

Aku marah pada diriku sendiri dan Shin Bet. Ini sih bukan seperti di film, tapi ini kejadian nyata, di kehidupan nyata, di mana memata-matai seseorang bisa membuatmu dibunuh. Jika Shin Bet ingin aku mengikuti orang² bersenjata seperti mereka, terutama di malam hari, mereka semestinya memberiku pertolongan. Ini adalah tugas untuk beberapa orang, dan bukan aku seorang diri saja. Aku dulu selalu mengira operasi rahasia seperti ini tentunya melibatkan pengawasan dari udara atau satelit—pokoknya peralatan rahasia super canggih. Tapi yang sekarang ada hanyalah diriku saja. Aku bisa saja beruntung, atau bisa malah apes tertembak. Sekarang aku tidak mendapatkan hasil apapun. Aku menyetir mobil pulang ke rumah bagaikan seseorang yang kehilangan kontrak bisnis bernilai sejuta dollar.

Keesokan paginya aku bangun dan bertekad menemukan mobil itu. Tapi setelah menyetir mobil berjam-jam, aku tetap saja tak menemukannya. Merasa putus asa sekali lagi, aku menyerah dan ingin mencuci mobilku di tempat pencucian mobil. Tak tahunya, mobil Chevy hijau itu juga ada di tempat cuci mobil! Warna hijau yang sama. Orang² di dalam mobil yang sama. Senjata² yang sama.

Apakah ini sekedar keberuntungan atau campur tangan Tuhan atau apa ya?

Aku bisa melihat mereka semua jauh lebih jelas lagi karena sekarang adalah siang hari, dan aku berada jauh lebih dekat dengan mereka daripada kemaren di petang hari. Orang² ini mengenakan pakaian yang resmi, membawa AK-47 dan M16, dan aku langsung mengenali mereka sebagai Pasukan 17, yang adalah pasukan komando elit yang telah terbentuk sejak 1970an. Mereka adalah orang² yang menjaga keamanan Arafat dan melindunginya dari orang² yang membencinya, yang semakin banyak jumlahnya.

Sesuatu terasa tidak cocok. Apakah mereka adalah orang yang sama yang kulihat meninggalkan rumah Maher Odeh kemaren petang? Apa yang dilakukan Maher Odeh dengan orang² bersenjata? Apakah dia bekerja sama dengan Arafat? Semuanya ini tampak tak masuk akal bagiku.

Setelah mereka pergi, aku bertanya pada pemilik perusahaan cuci mobil siapakah mereka. Dia tahu aku adalah anak Hassan Yousef, jadi dia tidak heran atas pertanyaanku. Dia membenarkan bahwa mereka adalah anggota² Pasukan 17 yang tinggal di Betunia. Sekarang aku lebih heran lagi. Mengapa mereka tinggal di tempat yang jauhnya hanya 2 menit menyetir dari rumah orangtuaku dan bukannya tinggal di kompleks tempat tinggal Arafat?

Aku menyetir mobil ke alamat yang kudapat dari pemilik perusahaan cuci mobil dan menemukan mobil Chevy hijau diparkir di luar. Aku cepat² pergi menuju kantor pusat Shin Bet dan memberitahu Loai semuanya yang kutemukan. Dia mendengarkan baik², tapi bossnya terus berdebat denganku.

“Ini tak masuk akal,” katanya. “Mengapa para penjaga Arafat tinggal di luar kompleks? Kau pasti salah.”

“Aku tidak salah!” aku jadi marah. Aku tahu keteranganku tak masuk akal, dan aku frustasi dengan kenyataan bahwa aku tahu apa yang kulihat, tapi tak bisa menerangkan hubungannya. Sekarang orang ini malahan mengatakan aku tidak melihat apa yang jelas sudah kulihat.

“Semuanya juga salah,” aku berkata padanya. “Aku tak peduli jika semua ini masuk akal bagimu atau tidak. Aku melihat apa yang kulihat.”

Dia tersinggung karena aku bicara padanya seperti itu dan berjalan dengan cepat meninggalkan pertemuan. Laoi membujukku untuk tenang dan kembali lagi menceritakan semua detail satu per satu. Ternyata, mobil Chevy ini tidak cocok dengan keterangan yang mereka dapatkan tentang kelompok Brigade Syahid Al-Aqsa. Mobil Chevy hijau ini adalah mobil Israel yang dicuri, dan kemungkinan dipakai oleh orang² PA, tapi kami tidak tahu bagaimana hubungan PA dengan kelompok Brigade Syahid Al-Aqsa.

“Apakah kau yakin mobil itu adalah mobil Chevy hijau?” dia bertanya. “Apakah kau tidak melihat BMW?”

Aku yakin mobilnya adalah mobil Chevy hijau, tapi aku kembali ke apartemen tersebut lagi. Di sana tampak mobil Chevy tersebut, diparkir di tempat yang sama. Di sebelah apartemen, aku melihat mobil lain yang ditutupi kain putih. Dengan hati² aku mendekati bagian samping bangunan dan mengangkat bagian belakang kain penutup. Di dalamnya tampak mobil BMW berwarna perak, buatan tahun 1982.

“Oke, kita menemukan mereka!” Laoi berteriak ke dalam ponselku ketiak aku meneleponnya untuk memberitahukan apa yang kutemukan.

“Menemukan apa?”

“Para pengawal Arafat!”

“Ah, masa? Bukankah semua keteranganku salah?” kataku sarkastik.

“Tidak, kau sangat benar. Mobil BMW itu selalu digunakan setiap kali menembak di Jalur Barat dalam waktu dua bulan terakhir.” Dia lalu menjelaskan bahwa informasiku ini benar² memecahkan persoalan karena merupakan bukti pertama bahwa Brigade Syahid Al-Aqsa tidaklah lain daripada para pengawal Yasser Arafat sendiri—yang langsung dibiayai oleh Arafat melalui sumbangan dana dari Amerika dan dunia internasional lainnya, yang mengumpulkan uang itu melalui pemungutan pajak pada masyarakat negara² tersebut. Menemukan hubungan ini merupakan langkah teramat penting untuk menghentikan rangkaian ledakan bom yang membunuhi penduduk sipil. Bukti yang kuberikan pada Shin Bet nantinya akan digunakan untuk menghakimi Arafat di hadapan Konsul Keamanan PBB. Sekarang, yang harus kami lakukan adalah menangkap anggota² dari kelompok ini—potong kepala ular, begitu istilah orang² Israel.

Kami mengetahui anggota² yang paling berbahaya adalah Ahmad Ghandour, pemimpin Brigade, dan Muhaned Abu Halawa, salah seorang letnannya. Mereka telah membunuh selusin orang. Menyingkirkan mereka tampaknya bukanlah tugas yang sulit. Kami tahu siapa mereka dan di mana mereka tinggal. Terlebih lagi, mereka tidak tahu apa yang kami tahu.

IDF mengirim pesawat kecil tanpa awak mengelilingi kompleks apartemen dan mengumpulkan keterangan. Dua hari kemudian, Brigade melakukan serangan lagi di dalam wilayah Israel, dan pihak Israel ingin membalas serangan. Kanon 120 mm milik tank perang Israel Merkava yang beratnya 65 ton menembakkan 20 peluru ke gedung Brigade. Sayangnya, mereka tidak memeriksa terlebih dahulu apakah orang² itu berada di sana. Ternyata mereka sedang tak ada di tempat itu.

Terlebih jelek lagi, sekarang mereka tahu bahwa mereka terlacak. Sudah dapat diduga bahwa mereka lalu berlindung dalam kompleks tempat tinggal Arafat. Kami tahu mereka berada di sana, tapi saat itu secara politik tidaklah mungkin untuk masuk dan menawan mereka. Sekarang serangan mereka jadi lebih sering dan agresif.

Sebagai pemimpin, Ahmad Ghandour terdapat di puncak daftar cari. Setelah dia bersembunyi di tempat tinggal Arafat, kami kira kami tidak akan bisa menangkapnya lagi. Tapi ternyata kami tidak usah melakukan itu. Dia sendiri ternyata yang mengakhiri masalah.

Sewaktu sedang berjalan dekat kuburan di Al-Bireh, aku melihat penguburan militer.

“Siapa yang mati?” tanyaku ingin tahu.

“Seseorang dari utara,” jawab seseorang. “Kau tak kenal dia.”

“Siapa namanya?”

“Namanya adalah Ahmad Ghandour.”

Aku mencoba mengontrol rasa terkejutku dan bertanya secara biasa, “Apa yang terjadi dengannya? Kupikir aku sudah pernah dengar namanya.”

“Dia tidak tahu bahwa senapannya berisi peluru, dan dia tidak sengaja menembak sendiri kepalanya. Mereka bilang otaknya menempel di atap ruangan.”

Aku menelepon Loai.

“Ucapkan selamat tinggal pada Ahmad Ghandour, karena Ahmad Ghandour telah mati.”

“Apakah kau membunuhnya?”

“Apakah kau memberiku senjata? Tidak, aku tidak membunuhnya. Dia menembak dirinya sendiri. Orang ini sudah mati.”

Loai sukar percaya keteranganku.

“Orang ini sudah mati. Aku sekarang berada di upacara penguburannya.”
__________________
Selama tahun² pertama terjadinya Intifada Al-Aqsa, aku menemani ayahku kemana pun dia pergi. Sebagai putra sulungnya, aku adalah anak-didik, bodyguard, kepercayaan, murid, dan temannya. Dan dia adalah segalanya bagiku—contoh nyata bagaimana menjadi seorang pria. Meskipun ideologi kami sudah jelas tidak sama lagi, aku tahu hatinya benar dan motivasinya tulus. Rasa sayangnya terhadap umat Muslim dan kesetiaannya pada Allâh tidak pernah luntur. Dia sangat mengharapkan perdamaian bagi masyarakatnya, dan dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk berjuang mencapai cita² itu.

Pemberontakan kedua sebenarnya adalah kejadian Tepi Barat. Di Gaza terdapat beberapa demonstrasi, dan kematian Mohammed al-Dura yang masih kecil menyalakan amarah massa. Tapi Hamaslah yang meniupi api sehingga jadi kobaran neraka di Tepi Barat.

Di setiap desa, kota kecil, dan kota besar, masyarakat Palestina yang marah berkelahi dengan prajurit² Israel. Setiap pos keamanan menjadi medan perang berdarah. Kau akan jarang menemukan orang yang tidak menguburkan teman atau saudaranya di hari² tersebut.

Pada saat yang sama, para pemimpin semua organisasi Palestina—pemimpin² terkemuka, yang jabatannya tinggi—bertemu setiap hari dengan Yasser Arafat untuk mengatur strategi mereka. Ayahku mewakili Hamas, yang sekarang sekali lagi menjadi organisasi terbesar dan paling penting. Dia, Marwan Barghouti, dan Arafat juga bertemu setiap minggu, tanpa orang lain. Di beberapa kesempatan, aku bisa menemani ayahku dalam rapat² rahasia tersebut.

Aku benci pada Arafat dan pada perbuatan yang dilakukannya terhadap masyarakat yang kucintai. Tapi sebagai mata² Shin Bet, tentunya aku tidak boleh menunjukkan perasaanku yang sebenarnya. Meskipun begitu, di suatu saat, setelah Arafat menciumku, aku secara reflek mengelap pipiku. Dia melihat itu dan tampak jelas merasa terhina. Ayahku juga jadi malu. Setelah itu, ayah tidak pernah mengajakku masuk ke dalam ruangan rapat dengan Arafat.

Para pemimpin intifada pada berdatangan di rapat harian dengan mengendarai mobil² luar negeri seharga $70.000, ditemani dengan mobil² lain yang penuh dengan bodyguard. Tapi ayah selalu datang dengan mobil Audi biru tua, buatan 1987. Tiada bodyguard, hanya aku saja.

Rapat² ini adalah mesin yang menjalankan intifada. Meksipun aku sekarang harus duduk di luar ruangan rapat, aku tetap saja tahu setiap detail keterangan karena ayahku mencatat itu. Aku bisa membaca catatan² ayah dan membuat duplikatnya. Tidak pernah ada informasi yang super rahasia dalam catatannya, seperti misalnya siapa, di mana, dan kapan operasi militer dilakukan. Lebih tepatnya, para pemimpin selalu bicara dalam istilah² umum yang mengungkapkan pola dan arah, seperti misalnya memusatkan penyerangan di dalam wilayah Israel atau mengarah ke pos² pemeriksaan.

Meskipun begitu catatan ayah mencantumkan tanggal² demonstrasi akan diselenggarakan. Jika ayahku berkata Hamas akan mengadakan demonstrasi besok pada jam 1 siang di pusat kota Ramallah, maka penyampai berita dengan cepat pergi ke mesjid², kamp² penampungan, dan sekolah² untuk memberitahu semua anggota Hamas agar berada di sana jam 1 siang. Para prajurit Israel akan muncul juga. Sebagai akibatnya, para Muslim, pengungsi, dan juga anak² sekolah terbunuh.

Sheikh Hassan Yousef (di tengah, berkacamata, yang paling pendek).

Sebenarnya Hamas sudah hampir mati sebelum terjadinya Intifada Kedua. Ayahku seharusnya meninggalkannya saja. Tapi sekarang setiap hari seluruh dunia Arab melihat wajahnya dan mendengar suaranya di siaran TV Al-Jazira. Dia sekarang tampak jelas sebagai pemimpin intifada. Hal ini membuat dia sangat terkenal dan penting di seluruh dunia Muslim, tapi juga tampak sebagai orang jahat di mata Israel.

Di akhir hari, Hassan Yousef tidak jadi besar kepala. Dia hanya merasa puas tapi tetap rendah hati karena telah melakukan keinginan Allâh.

Tatkala membaca catatan ayahku di suatu pagi, aku melihat sebuah demonstrasi akan diselenggarakan. Keesokan harinya, aku berjalan di belakang ayah di barisan depan massa yang berteriak-teriak memekakkan telinga mendekati pos pemeriksaan Israel. Dua ratus yard (182,88 meter) sebelum kami sampai di pos tersebut, para pemimpin mundur dan mengamankan diri ke puncak bukit yang aman. Orang² lainnya—anak² muda dan anak² sekolah—terus maju dan mulai melemparkan batu² terhadap prajurit² bersenjata lengkap, yang membalas dengan menembak massa.

Intifada Al-Aqsa

Dalam keadaan seperti itu, peluru karet juga bisa mematikan. Anak² tentunya paling mudah tertembak. Peluru karet ini sangat berbahaya jika ditembakkan kurang dari jarak 40 meter, dan jarak ini adalah ketetapan aturan IDF.

Intifada Al-Aqsa

Saat kami menonton dari atas bukit, kami melihat orang² mati dan terluka di mana². Para prajurit bahkan juga menembaki mobil² ambulans yang datang, menembak pengemudinya dan membunuhi pekerja rawat darurat yang mencoba mengambil tubuh korban. Pokoknya brutal deh.

Intifada Al-Aqsa

Tak lama kemudian setiap orang mulai menembak. Batu² berjatuhan di pos pemeriksaan. Ribuan orang menyerbu bagian pembatas wilayah, mencoba mendesak masuk melewati para prajurit, dengan satu tujuan yakni untuk mencapai daerah perumahan masyarakat Israel di Beit El dan menghancurkan segalanya dan semua orang yang mereka temukan. Mereka sudah gila karena marah melihat orang² yang mereka cintai berguguran dan juga karena pengaruh bau darah.

Tank Merkava Israel

Pada saat keadaan tampaknya sudah tidak mungkin bisa lebih kacau lagi, mesin disel 1200 hp tank Merkava masuk dalam kekacauan. Tiba² kanon tank menggetarkan udara dengan ledakan dahsyat.

Tank ini menjawab serangan pasukan PA yang mulai menembaki prajurit² IDF. Setelah tank datang, para bodyguard melindungi para pemimpin Palestina dan membawa mereka ke tempat yang aman. Tubuh² bergelimpangan di jalan di bawah kakiku saat aku membawa ayah masuk mobil. Begitu masuk mobil, kami langsung pergi ke Ramallah, menuju rumah sakit yang dijejali oleh orang² yang terluka, sekarat, dan mati. Tiada ruangan yang cukup menampung mereka. Bulan Sabit Merah (Palang Merahnya Muslim) membuat ruang darurat di luar untuk menghentikan pendarahan pada orang² sebelum mereka bisa dirawat di dalam rumah sakit. Tapi usaha itu tetap tidak cukup.

Tembok² dan lantai rumah sakit berlumuran darah. Orang² terpeleset saat mereka berjalan di situ. Para suami dan ayah, istri dan ibu dan anak² tersengguk menangis dengan rasa sedih dan juga amarah membara.

Anehnya, dalam keadaan yang penuh kesedihan dan marah itu, orang² tampak sangat gembira melihat para pemimpin Palestina seperti ayahku yang datang untuk meninjau keadaan mereka. Tapi justru para pemimpin Palestina inilah yang telah membawa mereka dan anak² mereka bagaikan kambing² masuk ke tempat penjagalan dan lalu merunduk menyelamatkan diri cukup jauh untuk bisa menonton penjagalan dengan nyaman. Hal ini membuatku jauh lebih merasa muak daripada melihat segala luka dan kematian.

Dan ini hanya satu demonstrasi saja. Malam demi malam, kami duduk nonton TV dan mendengar berita kematian korban yang tak hentinya. Sepuluh di kota ini. Lima di sana. Dua puluh lagi di sini.

Aku melihat sebuah berita tentang pria bernama Shada yang saat itu sedang bekerja membuat lubang di tembok di bangunan yang bersebelahan dengan kegiatan demonstrasi. Seorang prajurit tank melihatnya dan mengira alat pembuat lubang tembok adalah senjata. Prajurit itu lalu menembakkan peluru kanon yang mengenai kepala Shada.

Ayah dan aku datang berkunjung ke rumah Shada. Dia memiliki pengantin baru yang cantik jelita. Tapi keadaan ternyata bisa berkembang jadi lebih jelek lagi. Para pemimpin Palestina yang datang untuk menghibur janda itu malahan mulai bertengkar satu sama lain tentang siapa yang berhak memberi pidato saat penguburan Shada. Siapa yang akan menerima para pelayat selama tiga hari? Siapa yang akan mengurus makanan bagi keluarganya? Mereka menyebut Shada sebagai “putra kami,” mencoba mengakui bahwa Shada adalah anggota kelompoknya, dan mencoba membuktikan bahwa kelompok mereka berpartisipasi dalam intifada lebih daripada kelompok lainnya.

Organisasi² yang saling bersaing ini juga berkelahi tentang mayat² korban. Seringkali, orang² yang mati adalah orang² yang tidak pernah berhubungan dengan organisasi² tersebut. Mereka hanyalah orang yang kena getah gelombang emosi massa. Banyak dari korban, termasuk Shada, yang mati hanya gara² mereka berada di tempat yang salah, di waktu yang salah pula.

Selain itu, masyarakat Arab di seluruh dunia membakar bendera² Amerika dan Israel. Mereka berdemonstrasi dan menyumbangkan dana milyaran dollar ke wilayah Palestina untuk menghentikan pendudukan Israel. Di dua setengah tahun pertama Intifada Kedua, Saddam Hussein membayar $35.000.000 bagi keluarga² syahid Palestina—$10.000 bagi setiap keluarga bom bunuh diri. Kau bisa mengatakan berbagai hal tentang perang sinting atas sebongkah tanah ini. Tapi kau tidak pernah bisa mengatakan bahwa nyawa manusia itu murah.

[DAFTAR ISI] | [Bab 16] [Bab 18]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: