Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 16

[DAFTAR ISI] | [Bab 15] [Bab 17]

Bab 16 – Intifada Kedua

Musim Panas – Musim Rontok 2000

Hamas—yang dulu merupakan kekuatan dominan di Palestina—sekarang mulai goyah. Saingan berat Hamas yang juga berusaha menarik simpati massa sudah berkuasa penuh.

Melalui intrik politik dan pembuatan perjanjian, Pemerintahan Palestina (Palestinian Authority = PA) telah berhasil mencapai apa yang tidak bisa dicapai Israel melalui kekuasaannya yang besar. PA telah menghancurkan sayap militer Hamas dan memasukkan pemimpin² dan pejuang²nya ke dalam penjara. Meskipun telah dibebaskan dari penjara, anggota² Hamas pulang dan tidak melakukan apapun terhadap PA dan kekuasaannya. Para feda’iyin muda kecapekan. Para pemimpin mereka terpecah-belah dan sangat curiga satu sama lain.

Ayahku juga hanya mengurus kepentingan keluarga saja, dan dia kembali bekerja di mesjid dan kamp² penampungan. Sekarang jika dia bicara, dia bicara dalam nama Allâh, dan bukan lagi sebagai pemimpin Hamas. Setelah bertahun-tahun berpisah karena dipenjara, aku menggunakan kesempatan sebaiknya untuk bepergian dan menghabiskan waktu bersamanya lagi. Aku rindu saat² kami ngobrol panjang lebar tentang kehidupan dan Islam.

Sewaktu aku terus melanjutkan membaca Alkitab dan belajar tentang agama Kristen, aku mendapatkan diriku tertarik sepenuhnya dalam kemuliaan, kasih sayang, dan sikap rendah hati yang disampaikan Yesus. Anehnya, sikap² seperti inilah yang membuat orang² datang pada ayahku—dia adalah salah satu Muslim yang paling berbakti yang pernah kukenal.

Tentang hubunganku dengan Shin Bet, karena sekarang Hamas tidak lagi berkuasa dan PA mengontrol keadaan agar tetap tenang, maka tampaknya tak ada yang harus kukerjakan bagi mereka. Kami hanya berteman baik saja. Mereka bisa mempersilakan aku pergi kapan pun mereka mau, atau aku pun bisa minta permisi pada mereka kapan pun aku mau.

Pertemuan Camp David antara Perdana Menteri Israel Ehud Barak, Presiden Amerika Bill Clinton dan pemimpin Palestina Yasser Arafat, di tanggal 25 Juli, 2000.

Pertemuan Camp David antara Yasser Arafat, Presiden Amerika Bill Clinton, dan Perdana Menteri Israel Ehud Barak berakhir pada tanggal 25 Juli, 2000. Barak telah menawarkan Arafat kekuasaan 90% dari seluruh Jalur Gaza, dan bagian Timur Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina. Selain itu, dana uang internasional akan dikumpulkan untuk membayar ganti rugi bagi masyarakat Palestina yang kehilangan harta benda saat bagian daerah itu dikuasai Israel. Tawaran “tanah suci” ini merupakan kesempatan bersejarah dan tawaran sangat langka yang tak terbayangkan sebelumnya bagi masyarakat Palestina yang telah lama menderita. Akan tetapi, tawaran bernilai sangat besar ini tidak juga memuaskan Arafat.

Yasser Arafat telah jadi sangat kaya raya karena posisinya sebagai simbol korban penindasan di mata internasional. Dia tidak mau kehilangan kedudukannya dan menanggung tanggung jawab untuk membangun sebuah negara yang benar² berfungsi dalam mengurus masyarakatnya. Karena itulah, dia bersikeras meminta semua pengungsi diperbolehkan kembali ke tanah² yang dulu mereka miliki di tahun 1967—persyaratan yang dia tahu betul akan ditolak oleh Israel.

Meskipun penolakan Arafat terhadap tawaran Barak merupakan kerugian sangat besar bersejarah bagi masyarakat Palestina, Arafat kembali pulang ke Palestina dengan dianggap sebagai pahlawan yang berani menantang Presiden AS dengan menolak mundur dan tetap pada keputusannya di hadapan seluruh dunia.

Arafat lalu muncul di TV dan seluruh dunia menonton sewaktu dia khotbah tentang betapa besar cintanya akan masyarakat Palestina dan kesedihannya akan jutaan keluarga yang hidup di kamp² penampungan. Setelah aku ikut bepergian bersama ayah dan menghadiri pertemuan² dengan Arafat, aku mulai melihat sendiri bagaimana orang ini sangat senang jadi perhatian media massa. Dia tampaknya sangat menikmati dianggap sebagai Che Guevara Palestina dan sederajat dengan para raja, presiden, dan perdana menteri.

Yasser Arafat

Yasser Arafat dengan jelas mengakui bahwa dia ingin jadi pahlawan yang ditulis di buku² sejarah. Tapi tatkala aku melihatnya, inilah yang kupikirkan: Ya, biarlah dia diingat dalam buku² sejarah kami, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pengkhianat yang menggunakan bahu masyarakatnya untuk ditungganginya, sebagai Robin Hood terbalik yang mencuri dari masyarakatnya yang miskin untuk membuat dirinya kaya raya, sebagai sepotong daging babi murahan yang membeli ketenarannya dengan darah masyarakat Palestina.

Juga menarik untuk menilai Arafat melalui sudut pandang para agen rahasia Israel. “Gimana sih orang ini?” kata pembimbing Shin Bet-ku suatu hari. “Kami tidak pernah menyangka para pemimpin kami bisa rela mengajukan tawaran begitu besar pada Arafat. Tidak pernah! Dan lalu Arafat menolaknya?”

Memang sesungguhnya Arafat telah ditawari kunci² perdamaian di Timur Tengah dan juga sebuah negara berdaulat utuh bagi masyarakat Palestina—dan dia membuang tawaran besar ini begitu saja. Sebagai hasilnya, korupsi yang dilakukan diam² terus saja berlangsung. Tapi keadaan tidak tetap diam untuk waktu yang lama. Bagi Arafat, dirinya akan lebih banyak beruntung jika masyarakat Paletina terus berdarah. Sebuah intifada yang baru tentunya akan membuat darah terus mengalir dan kamera² media massa Barat akan berputar sekali lagi.

Pendapat para pemerintah dunia dan juga media massa menyatakan pada kita bahwa Intifada Kedua berdarah terjadi secara spontan karena kemarahan masyarakat Palestina terhadap kedatangan Jendral Ariel Sharon ke kompleks Temple Mount (Mesjid di Bukit atau Mesjid al-Aqsa yang berkubah emas). Tapi seperti biasanya, pendapat umum itu salah.
__________________
Di sore hari tanggal 27 September, ayahku mengetuk pintu kamarku dan bertanya apakah aku bisa mengantarkannya pakai mobil ke rumah Marwan Barghouti esok pagi setelah sholat fajar.

Marwan Barghouti, ketua Fatah

Marwan Barghouti adalah sekretaris jendral Fatah, bagian politik terbesar di PLO. Dia adalah pemimpin muda Palestina yang kharismatik, pendukung utama PA dan pasukan keamanan Arafat. Marwan adalah pria pendek yang seringkali berpakaian santai dan memakai celana jeans, dan dia dianggap sebagai calon presiden Palestina berikut.

“Ada masalah apa?” tanyaku pada ayah.

“Sharon dikabarkan akan mengunjungi Mesjid Al-Aqsa besok hari, dan PA yakin ini adalah kesempatan baik untuk melakukan pemberontakan.”

Ariel Sharon adalah pemimpin Partai Likud dan musuh politik Perdana Menteri Ehud Barak dan partai sayap kirinya yakni Partai Buruh. Sharon sedang melakukan persaingan politik terhadap Barak untuk memimpin Pemerintahan Israel.

Ariel Sharon

Pemberontakan? Apakah mereka serius? Para pemimpin PA yang memasukkan ayahku ke penjara, sekarang meminta ayah untuk menolong mereka mengadakan intifada yang baru. Ini sungguh ironis, tapi aku bisa menarik kesimpulan mengapa mereka minta bantuan ayah bagi terlaksananya rencana mereka. Mereka tahu masyarakat cinta dan percaya pada ayah sama besarnya—jika tidak lebih besar—dengan kebencian dan ketidakpercayaan mereka terhadap PA. Mereka akan ikut ayahku ke manapun, dan PA tahu tentang hal itu.

Mereka juga kenal Hamas, yang sekarang bagaikan petinju yang kecapekan yang sedang dihitung oleh juri. PA ingin ayah membangkitkan Hamas, menyiram air ke wajahnya, dan mengirimnya kembali bertarung untuk satu ronde lagi agar PA dapat menghajarnya KO di hadapan penonton yang bersorak-sorai. Bahkan para pemimpin Hamas—yang juga kelelahan karena bertahun-tahun berperang—memperingatkan ayah untuk berhati-hati.

“Arafat hanya menggunakan kita sebagai bahan bakar bagi tungku pembakaran politiknya,” kata mereka pada ayah. “Jangan terlibat terlalu jauh dengan rencana intifada mereka.”

Tapi ayah mengetahui pentingnya melakukan gerak isyarat ini. Jika dia tidak menampakkan keinginan untuk bekerja sama dengan PA, mereka akan dengan mudah menunjuk Hamas, menyalahkan kami karena mengganggu proses perdamaian.

Apapun yang kami lakukan, kami tetap saja dalam situasi yang kalah, dan aku sangat khawatir akan rencana ini. Tapi aku tahu ayahku perlu melakukan hal itu, maka keesokan paginya aku menyetir mobil mengantarnya ke rumah Marwan Barghouti. Kami mengetuk pintu, tidak terdengar jawaban untuk beberapa saat, dan akhirnya kami diberi tahu bahwa Marwan saat itu masih tidur.

‘Biasalaah’, kataku pada diriku sendiri. ‘Fatah melibatkan ayahku dalam rencana mereka yang bodoh tapi mereka bahkan tidak merasa perlu bangun tidur untuk menjalankan rencananya’.

“Tak apa²,” kataku pada ayah. “Jangan khawatir. Masuklah ke dalam mobil, dan aku akan membawamu ke Yerusalem.”

Tentu saja membawa ayah ke daerah yang akan didatangi Sharon adalah tindakan yang riskan, karena kebanyakan mobil Palestina tidak boleh masuk Yerusalem. Biasanya, jika seorang supir Palestina tertangkap polisi Israel, maka dia akan didenda, tapi karena latar belakang kami, aku dan ayah bisa langsung ditangkap di tempat. Aku harus sangat berhati-hati, berusaha tetap berada di sisi jalan dan percaya bahwa hubunganku dengan Shin Bet akan melindungiku jika dibutuhkan.

Mesjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock (tempat keramat bagi Muslim) dibangun di atas reruntuhan dan peninggalan dua Kuil Yahudi kuno, yakni Kuil Salomo (Bait Allah pertama) dari abad ke 10 SM dan Kuil Raja Herodes di jaman Yesus. Tak heran mengapa sebagian orang menganggap bukit berbatu ini merupakan tempat berukuran 35 aker (141.639,974 m²) yang paling berubah drastis fungsinya di dunia. Tempat ini merupakan tempat suci bagi tiga agama besar monotheistik dunia. Bagi para sejarawan dan ilmuwan, tempat ini juga sangat penting karena mengandung peninggalan arkeologi yang sangat besar—bahkan begitu pula pendapat para atheis.

Lokasi Mesjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock

Beberapa minggu sebelum kedatangan Sharon di tempat ini, para Muslim Waqf—penguasa Muslim di daerah itu—telah menutup seluruh daerah Temple Mount dan menghentikan penelitian² arkeologi yang dilakukan oleh Badan Penelitian Peninggalan milik Pemerintah Israel. Untuk melakukan pekerjaan membangun bagian bawah mesjid di tempat itu, pihak mesjid mendatangkan mesin² pembongkar tanah yang besar². Koran² sore Israel menampilkan foto² buldozer, mesin penggali hidrolik, dan truk pengangkut brangkal yang semuanya digunakan di sekitar tempat itu. Dalam waktu beberapa minggu, truk² pengangkut tanah telah memindahkan sekitar 13.000 ton bongkahan tanah dari kompleks Temple Mount ke pembuangan sampah kota. Laporan surat kabar di tempat pembuangan sampah menunjukkan para ahli arkeologi menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya sewaktu mereka mencari sisa² peninggalan kuno di tempat sampah. Sebagian dari peninggalan yang ditemukan berasal dari jaman Bait Allah pertama dan kedua.

Bagi umumnya masyarakat Israel, sudah jelas bahwa rencana pembongkaran tanah dan pendirian bagian bawah mesjid adalah untuk membuat seluruh daerah 35 aker itu jadi daerah Muslim saja, dengan menghilangkan semua tanda, sisa² benda kuno, dan sejarah Yahudi di masa lalu. Hal ini termasuk penghancuran penemuan² arkeologi yang mewakili bukti sejarah Israel di daerah itu di masa lalu.

Kedatangan Sharon bertujuan untuk menyampaikan pesan diam tapi jelas bagi masyarakat Israel yang akan menentukan suara dalam Pemilu mendatang: “Aku akan menghentikan penghancuran yang tidak seharusnya dilakukan ini.” Dalam melakukan kunjungannya, orang² Sharon telah mendapat jaminan dari kepala keamanan Palestina Jibril Rajoub bahwa kedatangannya tidak akan jadi masalah selama dia tidak menginjakkan kaki ke dalam mesjid.

Aku dan ayah datang ke tempat itu beberapa menit sebelum kedatangan Sharon. Pagi hari itu masih sepi. Sekitar seratus orang Palestina datang untuk sholat. Sharon datang di saat jam kunjungan turis biasa, bersama delegasi dari Partai Likud dan seribu polisi anti huru-hara. Dia datang, melihat-lihat, dan pergi. Dia tidak mengatakan apapun. Dia tidak pernah masuk mesjid.

Ariel Sharon mengunjungi Temple Mount.

Semuanya tampak biasa saja bagiku. Di saat pulang kembali ke Ramallah, aku bertanya pada ayahku ada urusan besar apakah yang terjadi?

“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Kau tidak memulai intifada.”

“Belum,” jawabnya. “Tapi aku telah memanggil beberapa aktivis dari gerakan pelajar Islam dan meminta mereka menemuiku di sini untuk melakukan protes.”

“Tidak ada apapun yang terjadi di Yerusalem, mengapa kau sekarang mau melakukan demonstrasi di Ramallah? Ini sungguh gila,” kataku padanya.

“Kita harus melakukan apa yang kita harus lakukan. Al-Aqsa itu mesjid kita, dan Sharon tidak seharusnya datang ke sana. Kita tidak bisa membiarkan hal ini.”

Aku berpikir apakah sebenarnya perkataan itu ditujukan pada dirinya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Demonstrasi di Ramallah bukanlah aksi yang menghebohkan yang membuat kekacauan besar²an. Demonstrasi ini dilakukan di pagi hari, dan orang² yang berlalu-lalang di kota itu merasa heran dengan apa yang dilakukan para pelajar dan anggota Hamas yang tampaknya juga tidak mengerti apa sebenarnya protes yang mereka ajukan.

Beberapa orang berdiri dengan pengeras suara tanduk kerbau dan melakukan pidato, dan sekelompok kecil orang Palestina yang mengelilingi para pembicara kadang² berteriak-teriak. Tapi selain itu, tidak banyak yang memperhatikan adegan ini. Akhir² ini daerah Palestina memang jauh lebih tenteram daripada sebelumnya. Setiap hari berlalu seperti biasa. Serdadu² Israel sudah jadi pemandangan biasa. Orang² Palestina diperbolehkan bekerja dan bersekolah di daerah Israel. Ramallah memiliki kehidupan malam yang ramai. Dengan keadaan seperti ini, susah untuk mengerti mengapa orang² ribut protes.

Menurut pendapatku, demonstrasi ini tidak tampak penting. Aku merasa santai saja dan aku panggil teman²ku dari kelompok Belajar Alkitab, dan kami pun pergi bersama untuk piknik dekat danau Galilea.

Karena tidak ada sumber berita apapun di sana, aku tidak tahu bahwa keesokan harinya sejumlah besar demonstrator Palestina melempari batu dan berkelahi menghadapi tentara anti huru-hara Israel di dekat daerah yang dikunjungi Sharon. Lemparan² batu berkembang jadi lemparan² bom molotov, dan diikuti dengan tembakan² senapan Kalashnikov. Polisi menggunakan peluru karet, tapi sebagian berita mengatakan peluru² tajam juga ditembakkan pada para demonstrator. Empat demonstrator mati terbunuh, dan 200 lainnya luka². Empat belas polisi terluka juga. Dan semua ini persis seperti yang diinginkan oleh Pemerintah Palestina (Palestinian Authority = PA).

Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Shin Bet.

“Di mana kamu?”

“Aku sedang piknik di Galilea bersama teman²ku.”

“Galilea? Apa? Kau gila!” Laoi mulai tertawa. “Kau sungguh sukar dimengerti,” katanya. “Seluruh Tepi Barat jungkir balik dan kamu malah bersenang-senang piknik bersama teman² Kristenmu.”

Ketika dia memberitahu aku apa yang terjadi. Aku meloncat masuk mobil dan segera pulang.

Yasser Arafat dan pemimpin² PA telah bertekad untuk menciptakan intifada baru. Mereka telah merencanakan hal ini selama berbulan-bulan, bahkan sewaktu Arafat dan Barak bertemu bersama Presiden Bill Clinton di Camp David. Mereka hanya menunggu saat tepat untuk menciptakan dalih. Kedatangan Sharon adalah dalih tepat yang telah mereka tunggu². Maka setelah melakukan beberapa kesalahan, akhirnya Intifada Al-Aqsa berlangsung dengan semangat berkobar yang menyebabkan Tepi Barat dan Jalur Gaza penuh pertempuran berdarah lagi, terutama Gaza.

Di Gaza, Fatah melancarkan demonstrasi yang mengakibatkan penayangan internasional kematian anak laki usia 12 tahun yang bernama Mohammed al-Dura. Anak ini dan ayahnya, Jamal, terperangkap dalam kobaran api dan berlindung di balik tembok semen berbentuk silinder. Anak laki ini tertembak peluru nyasar dan mati di tangah bapaknya. Semua kejadian ini direkam oleh kamerawan Palestina yang bekerja bagi TV Perancis. Dalam beberapa jam saja, video kejadian ini beredar di seluruh dunia dan membuat marah jutaan orang terhadap pendudukan Israel.

Kasus penembakan Mohammed al-Dura yang diduga adalah rekayasa pihak Palestina.

Akan tetapi, dalam bulan² berikutnya, terjadi perdebatan yang meragukan keaslian peristiwa ini. Sebagian menyatakan sebenarnya yang membunuh anak itu adalah peluru Palestina sendiri. Yang lain terus menyalahkan Israel. Ada pula yang menuduh kejadian itu hanyalah adegan film yang telah diatur oleh pihak Palestina sendiri. Karena video juga tidak menunjukkan anak laki itu ditembak atau bahkan tubuhnya, banyak yang mengira ini semua hanyalah propaganda PLO saja. Jika hal itu memang benar, maka ini sungguh cerdik dan efektif.

Apapun kejadiannya, aku tiba² saja berada di tengah² perang di mana ayahku adalah pemimpin pentingnya—meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu ke mana dia akan memimpin dan apa akibatnya bagi dirinya. Dia hanya dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh Arafat dan Fatah untuk memulai kekacauan, sehingga menyediakan PA bahan untuk mengajukan tawaran baru pada Israel dan minta sumbangan dana lagi pada masyarakat internasional.

Intifada Al-Aqsa

Di lain pihak, lagi² banyak orang yang mati terbunuh di pos² pemeriksaan. Semua pihak menembak membabi-buta. Anak² juga terbunuh. Dari satu hari penuh darah ke hari lainnya, Yasser Arafat yang menangis mengucurkan airmata sambil berdiri di hadapan kamera² media Barat. Dia meremas jari²nya dan menyangkal bertanggungjawab atas terjadinya kekerasan. Sebaliknya, dia malahan mengarahkan jarinya pada ayahku, pada Marwan Barghouti, dan pada masyarakat di kamp penampungan. Dia meyakinkan dunia bahwa dia tidak bisa berbuat apapun untuk meredakan pemberontakan. Di saat yang sama, jarinya yang lain menarik pelatuk senapan kuat².

Akan tetapi, kemudian Arafat menyadari bahwa dia telah melepaskan setan celaka. Dia telah membangkitkan emosi masyarakat Palestina dan membuat mereka marah, dan hal ini sesuai dengan rencananya. Tapi tak lama setelah itu, masyarakat Palestina jadi benar² diluar kontrol. Sewaktu mereka melihat tentara² IDF menembaki ayah, ibu, dan anak² mereka, mereka jadi begitu marah sehingga tidak lagi mau mendengar PA atau siapapun lagi.

Arafat juga kemudian menyadari bahwa petinju loyo yang dibangunkannya dulu ternyata terbuat dari bahan yang lebih ulet daripada dugaannya. Jalanan merupakan lingkungan alami bagi Hamas. Petinju itu memulai perkelahiannya di situ, dan karena tempat itulah dia menjadi yang terkuat.

Damai dengan Israel? Camp David? Oslo? Separuh Yerusalem? Persetan dengan semua itu! Semua niat awal untuk kompromi telah menguap dalam bara api konflik yang panas. Masyarakat Palestina kembali pada mentalitas lama: dapat semuanya atau tidak dapat apapun sama sekali. Dan sekarang malah Hamas, dan bukan lagi Arafat, yang mengipasi api.

Gigi balas gigi, mata ganti mata, dan kekerasan semakin memuncak. Dari hari ke hari, daftar duka masing² pihak juga semakin panjang.

  • 8 Oktober, 2000, sekelompok masyarakat Israel menyerang masyarakat Palestina di Nazareth. Dua Arab terbunuh, dan lusinan terluka. Di Tiberias, masyarakat Yahudi menghancurkan mesjid berusia 200 tahun.
  • 12 Oktober, sekelompok masyarakat Palestina membunuh dua serdadu IDF di Ramallah. Israel membalas dengan membom Gaza, Ramallah, Yerikho, dan Nablus.
  • 2 November, sebuah bom mobil membunuh dua orang Israel di dekat pasar Mahane Yehuda di Yerusalem. Sepuluh orang lainnya terluka.
  • 5 November, Intifada Al-Aqsa sudah berlangsung selama 38 hari, dan 150 orang² Palestina sudah terbunuh sampai saat itu.
  • 11 November, sebuah helikopter Israel meledakkan peralatan bom yang mereka tanam di mobil aktivis Hamas.
  • 20 November, bom di pinggir jalan meledak di sebelah bus yang berisi anak² yang akan berangkat ke sekolah. Dua orang Israel tewas. Sembilan lainnya luka², termasuk 5 anak² juga terluka.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikan roda kekerasan yang menggila ini. Aku tahu sudah saatnya bagiku untuk mulai bekerja bagi Shin Bet. Dan aku melakukannya dengan sepenuh hati.

[DAFTAR ISI] | [Bab 15] [Bab 17]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: