Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab 15

[DAFTAR ISI] | [Bab 14] [Bab 16]

Bab 15 – Jalan ke Damaskus

1997 – 1999

Dua bulan setelah keluar dari penjara, ponselku berdering.

“Selamat ya,” terdengar suara berbicara dalam bahasa Arab.

Aku kenal aksen bahasanya. Orang ini adalah kapten Shin Bet-ku nan “setia,” si Loai!

“Kami akan senang sekali jika bertemu denganmu,” kata Loai, “tapi kita tidak bisa bicara panjang lebar di telepon. Dapatkah kita bertemu?”

“Tentu saja.”

Dia memberi aku nomor telepon, password, dan beberapa arah jalan. Aku merasa bagaikan agen rahasia. Dia memberitahuku untuk pergi ke suatu tempat, dan lalu ke tempat lain, dan menelpon dia di tempat itu.

Aku mengikuti petunjuknya, dan ketika aku akhirnya meneleponnya, aku diberi lagi petunjuk lain. Aku berjalan sekitar 20 menit sampai sebuah mobil bergerak di sebelahku dan berhenti. Seorang pria dalam mobil menyuruhku untuk masuk, dan aku menurutinya. Aku diperiksa, disuruh telungkup di lantai, dan ditutupi selimut.

Kami mengendarai mobil selama satu jam, dan selama itu tak ada seorang pun yang bicara. Ketika akhirnya kami berhenti, kami berada di dalam garasi rumah. Aku bersyukur ini bukan pusat militer atau penjara lagi. Nantinya aku mengetahui bahwa rumah itu milik Pemerintah di daerah Israel. Begitu aku tiba di sana, aku diperiksa lagi, kali ini jauh lebih teliti, dan lalu aku diajak masuk ke dalam ruangan yang disusun dengan perabot² yang rapih. Aku duduk sebentar di sana, dan lalu Loai muncul. Dia menjabat tanganku—dan bahkan memelukku.

“Bagaimana kabarmu? Bagaimana pengalamanmu di penjara?”

Aku katakan padanya aku baik² saja dan pengalamanku di penjara tidak terlalu menyenangkan, terutama karena dia bilang aku tidak usah tinggal di penjara terlalu lama.

“Maafkan aku; kami harus melakukan itu untuk melindungimu.”

Aku berpikir tentang pengakuanku pada maj’d tentang jadi agen dobel dan berpikir mungkin Loai juga harus tahu akan hal ini. Kupikir aku harus mencoba melindungi diriku.

“Begini nih,” kataku, “mereka menyiksa orang² di sana, dan aku tak punya pilihan lain selain mengatakan pada mereka bahwa aku setuju bekerja bagimu. Aku takut saat itu. Kau tidak pernah memperingatkanku apa yang terjadi di sana. Kau tidak pernah memberitahuku untuk berhati-hati dengan orang²ku sendiri di sana. Kau tidak pernah melatih aku, dan aku ketakutan. Maka aku beritahu mereka bahwa aku berjanji untuk jadi mata² agar aku bisa jadi agen dobel dan akhirnya membunuh kalian semua.”

Loai tampak terkejut, tapi dia tidak marah. Meskipun Shin Bet tidak melalukan penyiksaan di kamp penjara itu, mereka tentunya tahu penyiksaan itu terjadi—dan tentunya mengerti mengapa aku jadi merasa ketakutan.

Dia menelpon bossnya dan memberitahu semua yang kukatakan. Mungkin karena sungguh sukar bagi Israel untuk merekrut anggota Hamas atau mungkin juga karena aku adalah putra Syeikh Hassan Yousef, aku dianggap sangat berharga sehingga mereka melupakan keteranganku begitu saja.

Orang² Israel ini tidaklah seperti yang kuduga sebelumnya.

Loai memberiku beberapa ratus dollar dan memberitahuku untuk beli baju, merawat diriku, dan menikmati hidupku.

“Kita akan berhubungan lagi,” katanya.

Apa? Tiada tugas rahasia? Tiada buku sandi? Tiada senjata? Hanya segepok duit dan rangkulan? Hal ini sungguh sukar kumengerti.

Kami bertemu kembali dua minggu kemudian, dan kali ini di sebuah rumah Shin Bet di jantung Yerusalem. Rumah ini diberi perabotan lengkap, penuh dengan alarm tanda bahaya dan penjaga², dan begitu rahasia sehingga tetangga sebelah juga tak tahu apa yang terjadi di rumah ini. Kebanyakan ruangan digunakan untuk rapat. Aku tidak pernah diijinkan mengunjungi ruangan² itu tanpa pengawal, bukan karena mereka tidak percaya padaku, tapi karena mereka tidak mau aku terlihat oleh agen² Shin Bet lainnya. Ini sekedar lapisan keamanan lain.

Sewaktu pertemuan kedua, anggota² Shin Bet sangatlah ramah. Mereka bicara dalam bahasa Arab yang baik, dan sudah jelas bahwa mereka mengenal diriku, keluargaku, dan budayaku. Aku tidak punya informasi apapun dan mereka pun tidak bertanya apapun. Kami hanya mengobrol biasa saja tentang berbagai hal umum.

Semua ini sungguh diluar dugaanku. Aku sangat ingin tahu apa yang mereka ingin aku lakukan, meskipun karena catatan yang kubaca di penjara, aku agak khawatir mereka akan menyuruhku untuk berhubungan seks dengan saudara perempuanku atau tetanggaku dan harus merekam adegan sex itu. Tapi tak ada yang menyinggung hal itu sama sekali.

Setelah pertemuan kedua, Loai memberiku uang dua kali lebih banyak daripada pertemuan pertama. Dalam waktu sebulan saja, aku telah mendapatkan uang sebanyak $800 darinya, dan ini sungguh uang yang buanyak sekali bagi pemuda usia 20 tahun seperti aku pada saat itu. Dan aku pun tidak memberikan apapun pada Shin Bet. Malah sebenarnya, dalam waktu beberapa bulan aku jadi agen Shin Bet, aku belajar jauh lebih banyak dari mereka sedangkan aku tak memberi keterangan apapun.

Mereka mulai melatihku dengan aturan² dasar. Aku tidak boleh berzinah karena ini akan mengungkapkan diriku dan membuatku menghadapi masalah besar. Aku tidak diperbolehkan memiliki hubungan di luar nikah dengan wanita sama sekali—baik wanita Palestina maupun Israel—sewaktu aku bekerja bagi mereka. Jika aku melakukan itu, maka aku akan dipecat. Aku juga tidak boleh menceritakan pada siapapun bahwa aku ingin menjadi agen dobel lagi.

Setiap kali kami bertemu, aku belajar lebih banyak tentang kehidupan dan keadilan dan keamanan. Shin Bet tidak mencoba menghancurkanku dengan memaksaku melakukan hal² yang jahat. Mereka sebenarnya tampak berusaha sebaik mungkin untuk membangun diriku, untuk membuatku lebih kuat dan bijaksana.

Sejalan dengan berlalunya waktu, aku mulai mempertanyakan rencana awalku untuk membunuh orang² Israel. Orang² ini sungguh baik padaku. Mereka jelas peduli akan diriku. Mengapa aku mau membunuh mereka? Aku kaget tatkala menyadari bahwa niat itu sudah tidak kurasakan lagi.

Pendudukan tidaklah lenyap. Kuburan di Al-Bireh masih terus dipenuhi oleh mayat² lelaki, perempuan, dan anak² Palestina yang dibunuh oleh prajurit Israel. Aku juga belum lupa dengan pemukulan yang kuderita saat dibawa ke penjara atau hari² di mana aku diikat di kursi kecil.

Tapi aku juga ingat akan jeritan² dari tenda penyiksaan di Megiddo dan orang yang membiarkan dirinya tercabik-cabik kawat silet karena mencoba melarikan diri dari para Hamas yang menyiksanya. Sekarang aku mendapat pengertian dan hikmat. Dan siapakah pembimbingku sekarang? Musuh²ku sendiri! Tapi apakah mereka benar² musuhku? Ataukah mereka hanya baik padaku karena ingin memanfaatkanku? Aku jadi bertambah bingung saja jadinya.

Di suatu pertemuan, Loai berkata, “Karena kau bekerja bagi kami, kami mempertimbangkan untuk melepaskan ayahmu agar kau bisa dekat dengannya dan melihat apa yang terjadi di daerahmu.” Aku tidak tahu bahwa hal itu bisa terjadi, tapi aku senang jika ayah bisa pulang kembali.

Di tahun² berikutnya, ayah dan aku membandingkan catatan² tentang pengalaman kami. Dia tidak mau menjelaskan secara detail apa yang dideritanya, tapi dia ingin agar aku mengetahui bahwa dia memperbaiki keadaan sewaktu dia dipenjara di Megiddo. Dia mengatakan bahwa ketika dia sedang menonton TV di mi’var, seseorang menjatuhkan papan kayu di depan layar TV.

“Aku tidak akan menonton TV lagi jikalau kau terus-menerus menutup layar TV dengan papan,” katanya pada emir. Mereka menyingkirkan papan itu, dan masalah selesai sudah. Ketika dia dipindahkan ke kamp tawanan, dia pun menghentikan kegiatan penyiksaan. Dia memerintahkan maj’d untuk menyerahkan semua catatan padanya, dan dia memeriksanya, dan menemukan bahwa 60% dari orang² yang didakwa sebagai mata² ternyata tak bersalah. Maka dia memerintahkan agar pihak keluarga dan masyarakat orang² diberitahu atas tuduhan yang salah itu. Salah satu tertuduh yang tak bersalah adalah Akel Sorour. Ayah mengirim surat keterangan pada desa Akel bahwa Akel tak bersalah. Surat ini mungkin tidak bisa menghilangkan penderitaan Akel, tapi setidaknya dia sekarang bisa hidup tenang dan terhormat.

Setelah ayahku dibebaskan dari penjara, pamanku Ibrahim datang untuk menjenguknya. Ayahku juga ingin agar paman tahu bahwa ayah telah menghentikan kegiatan penyiksaan di Megiddo dan bahwa kebanyakan orang² yang disiksa maj’d adalah orang² tak bersalah dan semuanya ini berakibat hancurnya kehidupan mereka dan juga sanak saudara mereka. Ibrahim pura² kaget. Dan ketika ayah menyinggung tentang Akel, pamanku mengatakan dia mencoba membela Akel dan mengatakan pada maj’d bahwa Akel tidak mungkin jadi mata² Israel.

“Terpujilah Allâh,” kata Ibrahim, “karena kau telah menolongnya!”

Aku tak tahan akan kemunafikannya, maka aku lalu meninggalkan ruangan. Ayahku juga memberitahuku bahwa ketika dia berada di Megiddo, dia mendengar kisah agen dobel yang kukatakan pada maj’d. Tapi dia tidak marah padaku. Dia hanya mengatakan bahwa aku bodoh karena mau bicara pada mereka.

“Aku tahu, ayah,” kataku. “Aku berjanji kau tak perlu khawatir akan diriku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

“Bagus jika begitu,” katanya. “Hati-hatilah dari sekarang. Tiada seorang pun yang bisa lebih kupercayai selain kau.”

Ketika kami bertemu lagi di bulan itu, Loai berkata padaku, “Sudah saatnya kau mulai bertugas. Ini yang harus kau lakukan.”

Akhirnya, begitu pikirku.

“Tugasmu adalah kuliah di perguruan tinggi dan meraih gelar S1.” Dia menyerahkan amplop penuh berisi uang. “Ini cukup untuk menutupi biaya kuliah dan keperluan²mu,” katanya. “Jika kau butuh lagi, tolong beritahu aku.”

Aku sungguh tak percaya akan hal ini. Tapi bagi orang² Israel, hal ini sangat masuk akal. Pendidikanku merupakan investasi yang baik bagi mereka. Tentunya tidak baik bagi badan keamanan negara untuk bekerja sama dengan orang yang tak berpendidikan tinggi dan tak punya prospek hidup yang baik. Bagiku juga berbahaya jika dianggap sebagai orang tak berguna karena pandangan orang² Palestina selama ini adalah hanya orang² sampah saja yang bersedia bekerja sama dengan Israel. Tentu saja pandangan seperti ini salah, karena orang² tak berguna tentunya juga tidak punya keterangan berguna apapun bagi Shin Bet.

Maka aku lalu melamar ke Universitas Birzeit, tapi mereka tidak menerimaku karena nilai² SMA-ku terlalu rendah. Aku jelaskan bahwa keadaanku adalah perkecualian karena aku telah dipenjara. Aku sebenarnya adalah pemuda cerdas, kilahku, dan aku akan menjadi mahasiswa yang baik. Tapi mereka tetap tidak memberikan perkecualian bagiku. Satu²nya pilihan bagiku adalah melamar di Universitas Terbuka Al-Quds dan belajar di rumah.

Kali ini nilai² kuliahku baik. Aku jadi sedikit bertambah bijaksana dan lebih bermotivasi. Dan pada siapakah aku harus berterima kasih atas semua ini? Musuhku.

Setiap kali aku bertemu dengan orang² Shin Bet, mereka berkata padaku, “Jika kau perlu apapun, bilang saja pada kami. Kau boleh membersihkan diri. Kau boleh sholat. Kau tidak perlu merasa takut.” Makanan dan minuman yang mereka tawarkan padaku tidak melanggar hukum Islam. Para pembimbingku sangat berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang mereka tahu bisa menyinggung perasaanku: mereka tidak memakai celana pendek. Mereka tidak duduk dengan kaki diangkat ke atas meja dan kaki menghadap wajahku. Mereka selalu bersikap sangat menghormati. Karena sikap mereka ini, aku juga belajar banyak dari mereka. Mereka tidak bersikap seperti mesin militer. Mereka adalah manusia biasa yang normal, dan mereka pun memperlakukanku seperti manusia normal pula. Hampir setiap kali saat kami bertemu, sebongkah batu lainnya dari fondasi pandanganku dalam melihat dunia runtuh.

Budayaku—bukan ayahku—telah mengajarku bahwa IDF dan masyarakat Israel adalah musuh²ku. Ayahku tidak melihat prajurit² Israel sebagai penjahat; tapi dia melihat mereka sebagai individu² yang melakukan apa yang mereka percayai sebagai tugas para prajurit. Masalahnya bukanlah dengan orang² Israel tapi dengan ideologi yang mendorong dan memotivasi orang² Israel.

Loai bersikap mirip dengan ayahku, lebih dari semua orang Palestina manapun yang pernah kutemui. Dia tidak percaya pada Allâh, tapi dia tetap menghormatikua.

Maka sekarang siapakah musuhku sebenarnya?

Aku berbicara dengan Shin Bet tentang penyiksaan di Megiddo. Mereka berkata bahwa mereka mengetahui semua itu. Setiap gerakan tawanan², apapun yang mereka katakan, direkam diam². Mereka tahu tentang pesan² rahasia dalam bola² roti, dan penyiksaan² dalam tenda, dan juga lubang celah di pagar.

“Mengapa kalian tidak menghentikannya?”

“Pertama-tama, kami tidak bisa merubah mentalitas seperti itu. Bukan tugas kami untuk mengajar Hamas mengasihi satu sama lain. Kami tidak bisa masuk ke kamp penjara dan berkata, ‘Hey, jangan siksa sesama orang; jangan saling siksa satu sama lain,’ dan membuat semua beres. Kedua, Hamas sendiri hancur lebih banyak dari dalam daripada serangan Israel dari luar.”

Duniaku yang dulu kukenal mulai lenyap dengan cepatnya, dan timbul dunia baru yang mulai kumengerti. Setiap kali aku bertemu Shin Bet, aku belajar sesuatu yang baru, sesuatu tentang hidupku, atau hidup orang lain. Semua proses ini bukanlah proses cuci otak melumpuhkan yang diulang-ulang terus-menerus, yang dilakukan dengan siksaan larangan makan atau tidur. Apa yang diajarkan orang² Israel ini lebih masuk akal dan lebih nyata daripada apapun yang telah kudengar dari masyarakatku.

Ayahku tidak pernah mengajarku segalanya yang baru ini karena dia terus-menerus berada di penjara. Dan terus terang, aku menduga dia pun tidak bisa mengajarku tentang hal baru ini karena ayahku sendiri tidak tahu akan hal itu.
__________________
Dari tujuh buah pintu gerbang kuno yang menjadi jalan masuk ke Kota Tua Yerusalem, satu pintu gerbang dihiasi lebih dari yang lainnya. Pintu Gerbang Damaskus, didirikan oleh Raja Sulaimaan hampir 500 tahun yang lalu, terletak di dekat tengah tembok utara. Pintu gerbang ini penting karena merupakan pintu yang membawa orang masuk ke Kota Tua di perbatasan daerah di mana Lapangan Daerah Muslim (Muslim Quarter) bertemu dengan Lapangan Daerah Kristen (Christian Quarter).

Pintu Gerbang Damaskus di Yerusalem.

Di abad pertama, seorang pria bernama Saulus dari Tarsus melewati versi asli dari pintu gerbang ini dalam perjalanannya ke Damaskus, di mana dia berencana untuk melakukan penindasan brutal terhadap sebuah aliran Yudaisme yang dianggapnya sesat. Target penindasannya adalah umat Kristen. Sebuah pertemuan mengejutkan yang dialaminya tidak saja membatalkan perjalanannya, tapi juga merubah hidupnya untuk selamanya.

Dengan semua latar belakang sejarah yang berhubungan dengan tempat kuno ini, maka seharusnya aku tak perlu merasa heran jika mengalami kejadian di sana yang merubah diriku selamanya pula. Pada suatu hari, aku dan sahabatku Jamal sedang berjalan melalui Pintu Gerbang Damaskus. Tiba² aku mendengar suara menyapaku.

Tampaknya inilah Jamal yang tinggi (182 cm), yang bertahun-tahun kemudian diwawancarai oleh FoxNews

“Siapakah namamu?” seorang pria yang tampak berusia sekitar 30 tahun bertanya padaku dalam bahasa Arab, meskipun jelas dia bukan orang Arab.

“Namaku Mosab.”

“Mau kemana kau, Mosab?”

“Kami mau pulang. Kami berasal dari Ramallah.”

“Aku dari Inggris,” katanya, kali ini dalam bahasa Inggris. Meskipun dia lalu terus bicara, aksennya sangat kental sehingga aku tidak mengerti perkataannya. Setelah sedikit menduga-duga, akhirnya aku bisa mengerti bahwa dia sedang bicara tentang agama Kristen dan kelompok Belajar Alkitab akan berkumpul di YMCA (Young Men’s Christian Association = Perkumpulan Pemuda Kristen) di Hotel King David di Yerusalem Barat.

Aku tahu tempat itu. Aku sedang sedikit bosan saat itu dan berpikir mungkin menarik juga untuk belajar tentang agama Kristen. Jika aku bisa belajar begitu banyak dari orang² Israel, mungkin “kafir” lain juga punya hal berharga untuk disampaikan padaku pula. Selain itu, setelah bergaul dengan berbagai orang seperti Muslim KTP, Muslim radikal, atheis, orang² yang terpelajar maupun yang tidak, pengikut sayap kiri atau kanan, Yahudi dan non-Yahudi, maka aku jadi tidak pilih² lagi. Orang yang tampak sederhana ini mengundangku untuk datang dan bicara, bukan untuk memilih Yesus di Pemilu.

“Bagaimana menurutmu?” aku bertanya pada Jamal. “Apakah kita harus pergi ke sana?”

Jamal dan aku sudah saling kenal sejak kami masih sangat kecil. Kami pergi ke sekolah yang sama, melempar batu bersama, dan mengunjungi mesjid bersama pula. Jamal adalah pria tampan yang tingginya 182 cm, dan dia tidak banyak bicara. Dia jarang memulai percakapan, tapi dia adalah pendengar yang sabar. Kami tidak pernah bertengkar mulut, sekalipun tidak.

Selain tumbuh bersama, kami berdua juga pernah dipenjara di Penjara Megiddo. Setelah Kotak bagian Lima terbakar dalam kekacauan penjara, Jamal ditransfer bersama saudara sepupuku Yousef ke Kotak Enam dan dibebaskan dari sana.

Akan tetapi, penjara telah mengubahnya. Dia berhenti sholat, tidak lagi mengunjungi mesjid, dan mulai merokok. Dia mengalami tekanan mental dan menghabiskan kebanyakan waktunya dengan diam di rumah sambil nonton TV. Setidaknya aku punya kepercayaan yang kupegang saat berada di penjara. Tapi Jamal berasal dari keluarga sekuler yang tidak melakukan ibadah Islam, maka imannya terlalu tipis untuk bisa menolongnya.

Jamal memandangku, dan aku bisa melihat bahwa sebenarnya dia ingin pergi ke kegiatan belajar Alkitab. Dia tampak jelas ingin tahu—dan juga bosan—sama seperti aku. Tapi sesuatu dalam hatinya mencegahnya.

“Kau silakan pergi saja tanpa diriku,” katanya. “Telepon aku ya jika kau sudah kembali pulang.”

Hotel Raja Daud di Yerusalem. Tempat Mosab berkumpul pertama kali untuk belajar Alkitab.

Di tempat pertemuan, terdapat sekitar 50 orang yang berkumpul malam itu. Pengunjung kebanyakan adalah murid² sekolah yang berusia sama dengan diriku, berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Dua orang menerjemahkan ceramah bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab dan Ibrani.

Aku menelepon Jamal setelah pulang ke rumah.

“Bagaimana?” tanyanya. “Wah, senang lho,” kataku. “Mereka memberi aku buku Alkitab Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Arab dan Inggris. Orang² baru, budaya baru; senang lho.”

“Wah, tak tahu ya, Mosab,” kata Jamal. “Mungkin berbahaya bagimu jika orang² tahu kamu bergaul dengan orang² Kristen.”

Aku tahu maksud Jamal adalah baik, tapi aku tidak terlalu khawatir. Ayahku selalu mengajarku untuk berpikiran terbuka dan menyayangi orang lain, meskipun pada kafir yang tidak percaya Islam. Aku melihat Alkitab di pangkuanku. Ayahku punya perpustakaan besar yang berisi 5.000 buku, termasuk sebuah Alkitab. Ketika aku masih kecil, aku telah membaca pasal² sexual di kitab Kidung Agung oleh Raja Sulaiman, tapi tidak pernah membaca lebih jauh lagi. Buku Alkitab Perjanjian Baru ini adalah hadiah. Karena budaya Arab menghormati dan menghargai pemberian hadiah, maka aku mengambil keputusan setidaknya yang bisa kulakukan adalah membacanya.

Aku mulai dari awal, dan ketika sampai pada bagian Khotbah di Bukit, kupikir, ‘Wow, orang bernama Yesus ini benar² mengagumkan! Semua yang dikatakannya indah sekali’. Aku tidak bisa meletakkan buku itu dan terus membacanya. Setiap ayat terasa menyembuhkan luka parah yang dalam di jiwaku. Pesannya sangat sederhana, tapi entah kenapa punya kekuatan untuk memulihkan jiwaku dan memberi aku harapan.

Lalu aku baca bagian ini: “Kalian tahu bahwa ada juga ajaran seperti ini: cintailah kawan-kawanmu dan bencilah musuh-musuhmu. Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: cintailah musuh-musuhmu, dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kalian, supaya kalian menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” (Matius 5:43-45).

Ini dia! Aku merasa bagaikan disambar petir oleh kata² ini. Belum pernah sebelumnya aku mendengar pesan seperti ini, tapi aku tahu bahwa inilah pesan yang kucari-cari seumur hidupku.

Selama bertahun-tahun aku berjuang untuk mengetahui siapakah musuhku, dan aku melihat mreka yang diluar Islam dan Palestina sebagai musuh. Tapi tiba² saja aku sadar bahwa orang² Israel bukanlah musuhku. Bukan pula Hamas atau pamanku Ibrahim atau prajurit yang menghajarku dengan popor M16 atau penjaga penjara mirip kera di Maskobiyeh. Aku melihat bahwa musuh tidak dijabarkan melalui nasionalitas, agama, atau warna kulit. Aku sekarang mengerti bahwa kita semua menghadapi musuh² yang sama: keserakahan, kesombongan, segala pikiran jahat, dan kegelapan setan yang hidup dalam diri kita.

Ini berarti aku bisa mencintai semua orang. Satu²nya musuh yang nyata adalah musuh dalam diriku sendiri!

Jika saja aku membaca perkataan Yesus lima tahun yang lalu, tentunya aku akan berkata: ‘Betapa bodohnya orang ini! dan segera membuang Alkitab itu’. Tapi pengalamanku dengan tetanggaku tukang jagal gila, anggota² keluarga dan pemimpin² agama yang memukuliku saat ayah berada di penjara, dan saatku di Megiddo semuanya bercampur dan mempersiapkan diriku untuk menerima kekuatan dan keindahan kebenaran ini. Yang bisa kupikirkan saat itu hanyalah: ‘Wow! Betapa hebatnya hikmat yang dimiliki orang ini!’

Yesus berkata, “Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi.” (Matius 7:1).

Sungguh besar perbedaan antara dia dan Allâh! Tuhan Islam sangat suka menghakimi, dan masyarakat Arab mengikuti bimbingan Allâh.

Yesus mengecam kemunafikan para Ahli Taurat dan kaum Parisi, dan aku langsung ingat akan pamanku Ibrahim. Aku ingat di saat dia menerima sebuah undangan untuk menghadiri acara khusus dan betapa marahnya dia sewaktu tidak diberi kursi yang terbaik. Rasanya bagaikan Yesus bicara pada Ibrahim, seluruh syeikh, dan imam dalam Islam.

Semuanya yang Yesus katakan dalam halaman² buku ini sangat masuk akal bagiku. Karena rasa haru yang meluap-luap, aku pun mulai menangis.

Tuhan menggunakan Shin Bet untuk menunjukkan padaku bahwa Israel bukanlah musuhku, dan sekarang dia meletakkan jawaban atas pertanyaan²ku di tanganku dalam buku Alkitab Perjanjian Baru yang kecil ini. Tapi perjalananku masih panjang sekali untuk bisa benar² mengerti Alkitab. Muslim diajar untuk beriman pada semua buku Allâh, termasuk Taurat dan Injil. Tapi kami juga diajar bahwa manusia telah mengganti Injil, dan membuatnya tidak dapat dijadikan panutan. Muhammad berkata bahwa Qur’an merupakan firman Allâh yang terakhir yang tak ada salahnya bagi manusia. Dengan begitu, pertama-tama aku harus menyingkirkan pendapatku bahwa Alkitab telah diganti. Lalu aku harus mencari cara bagaimana membuat kedua buku Qur’an dan Alkitab sejalan dalam hidupku, bagaimana mencampurkan Islam dan Kristen bersama. Hal ini bukanlah hal yang mudah, karena bagaikan mencampurkan hal yang tak tercampurkan.

Di saat yang sama, meskipun aku percaya ajaran² Yesus, aku tetap tidak bisa percaya bahwa dia itu Tuhan. Meskipun begitu, pemikiran²ku telah berubah secara tiba² dan secara dramatis, karena sekarang pikiranku lebih dipengaruhi Alkitab daripada Qur’an.

Aku terus membaca Alkitab Perjanjian Baru dan mengunjungi kegiatan Belajar Alkitab. Aku menghadiri kebaktian Kristen dan berpikir, ‘Ini bukan agama Kristen yang kulihat di Ramallah. Inilah yang benar’. Orang² Kristen yang kukenal sebelumnya tak berbeda dengan Muslim² tradisional. Mereka mengatakan diri mereka beragama, tapi tidak menjalankan ajaran agamanya.

Aku mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang² dalam Belajar Alkitab dan sangat menikmati persahabatan dengan mereka. Kami merasa sangat senang bicara tentang kehidupan, latar belakang, dan kepercayaan kami. Mereka sangat menghormati budaya dan warisan Muslim kami. Aku bisa jadi diriku sendiri yang sebenarnya saat aku bersama mereka.

Aku sangat ingin memberikan apa yang kupelajari ini pada budayaku, karena aku menyadari bahwa pendudukan Israel bukanlah penyebab penderitaan kami. Masalah kami adalah lebih besar daripada prajurit² dan politik Israel.

Aku bertanya pada diri sendiri apakah yang akan dilakukan masyarakat Palestina jika Israel hilang lenyap—jika semuanya tidak hanya kembali saat sebelum 1948 tapi juga jika semua orang² Yahudi meninggalkan tanah Kanaan dan terpecah belah lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu jawabannya.

Kami akan terus berperang. Tentang segala hal yang tak ada gunanya. Tentang gadis tak berjilbab. Tentang siapakah yang lebih kuat, siapa yang lebih penting. Tentang siapa yang menentukan aturan, dan siapa yang dapat kursi terbaik.

Di akhir 1999, aku berusia 21 tahun. Hidupku mulai berubah, dan semakin banyak aku belajar, semakin bingung pula aku dibuatnya.

“Tuhan, sang Pencipta, tunjukkan kebenaran padaku,” begitu doaku setiap hari. “Aku bingung. Aku tersesat. Dan aku tak tahu lagi harus ke mana.”

[DAFTAR ISI] | [Bab 14] [Bab 16]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: