Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab VIII

[DAFTAR ISI] | [Bab VII] [Bab IX]

BAB VIII

Sayyid Mahmoud al-Qimni

Sayyid Mahmoud al-Qimni adalah “penulis progressive dan dosen Universitas Cairo dalam bidang Sosiologi Agama” (The Middle East Media Research Institute, September 27, 2004: 1). Al-Qimni lahir pada tanggal 13 Maret, 1947, di kota Al-Wasita, yang terletak di propinsi Selatan Mesir (Abd al-Gadir, 2 Feb., 2004). Ayahnya adalah Syeikh Mahmoud al-Qimni, lulusan Universitas Al-Azhar. Syeikh al-Qimni adalah orang Azharite yang sangat relijius dan tradisional dan selalu mengenakan pakaian sesuai tradisi lama. Di rumahnya yang besar Syeikh al-Qimni menyelenggarakan perkumpulan ibadah agama seperti ketika dia dulu masih aktif di Al-Azhar. Kebanyakan perkumpulan diselenggarakan di bulan Ramadan. Meskipun Syeikh al-Qimni sangat relijius, dia tetap terbuka terhadap pendapat orang lain. Karena itu pula dia menerima gagasan reformasi Islam dari ahli Islam Mesir bernama Muhammad Abduh.

Putra Syeikh al-Qimni yakni Sayyid dibesarkan di rumah yang penuh nuansa agama Islam. Dia menderita penyakit gangguan jantung sejak kecil (Mahmoud 2001: 1); al-Qimni menjelaskan dalam wawancara dengan Asharif Abd Al-Gadir (2004) bahwa masa kecilnya tidak bahagia karena penyakitnya. Meskipun begitu, dia berhasil lulus dari Universitas A’in Shams di Cairo, dari Jurusan Filosofi. Setelah belajar Filosofi, al-Qimni meneruskan kuliah di Universitas Al-Azhar dan belajar tentang Sejarah Islam. Kekalahan Mesir terhadap Israel di tahun 1967 menjadi titik balik perubahan hidupnya. Dia ingin tahu mengapa Mesir bisa kalah dan hal ini membuatnya membaktikan hidupnya mempelajari Islam dan agama² lain. Dia melakukan penyelidikan akan ilmu ibadah Islam seperti fiqh, filosofi Islam, dan kalam dalam beberapa aliran Islam, tapi dia baru menjadi penulis di tahun 1985. Tulisannya terpusat pada penelaahan dan diskusi kritis akan Islam. Akan tetapi, penyerangan tentara Sadam Hussein (Iraq) terhadap Kuwait di tahun 1991 merubah sikap al-Qimni yang asalnya adalah seorang Nasarit yang percaya akan perlunya kesatuan masyarakat Arab menjadi seorang yang memusatkan perhatian pada kepentingan masyarakat Mesir saja. Dengan kata lain, Mesir sebagai negara harus menggantikan Mesir sebagai negara Arab, begitu pendapatnya. Sejak itu, al-Qimni percaya akan paham dan dogma liberalisme. Meskipun al-Qimni tidak menyatakan dengan tegas, dari wawancara dengan Asharif Al-Abd Al-Gadir dan tulisan²nya yang awal, tampaknya al-Qimni sedang bekerja di Kuwait saat tentara Saddam mengambil alih kekuasaan Kuwait. Banyak orang² Arab yang melarikan diri dari Kuwait, meninggalkan harta dan kekayaan mereka.

Al-Qimni ingin mengetahui penyebab keterbelakangan Mesir. Tentang hal ini dia berkata, “Apa yang paling menggangguku adalah keterbelakangan negaraku dan kekalahan masyarakatku. Setiap proyek yang kutangani bertujuan untuk mencari penyebab mengapa Mesir jadi negara terbelakang dibandingkan negara² beradab tinggi lainnya” (Abd Al-Gadir, Feb., 2004). Pada saat yang bersamaan, dia ingin menulis kembali Sira Nabi (biografi Nabi Muhammad) sesuai dengan perkembangan sejarah saat itu, yang mendasari terbentuknya Negara Politik Islam di jaman Nabi Muhammad. Dia membahas hal ini dalam jilid bukunya yang berjudul al-Islamiat (Paham Islamisme), yang terdiri dari dua buku yakni Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamyia (Kelompok Hashmit dan Fondasi Negara Islam) dan Hurub Dawlat al-Rasul (Peperangan di Negara Nabi). Dalam buku²nya yang berjudul Al-Ustora Wa Al-Turath (Dongeng dan Warisan) dan Kisat Al-Khalik (Kisah Penciptaan), al-Qimni menelusuri asal-usul dan akar berbagai dongeng yang akhirnya tercantum dalam agama Yudaisme, Kristen, dan Islam.

Salah satu proyek yang ditangani al-Qimni saat ini adalah menyusun kembali Qur’an dalam kronologi yang benar. Menurut al-Qimni, Qur’an yang sekarang disusun Kalifah Uthman bagaikan menyusun tembok saja, yakni dimulai dari Sura terpanjang sampai Sura terpendek. Karena penyusunan seperti ini, ayat² Nasikh yang membatalkan jadi berdekatan letaknya dengan ayat² Mansukh yang dibatalkan, dan ayat² bebas beragama tercampur baur dengan ayat² yang membuat Islam sebagai agama wajib dan tak menerima agama lain. Karena penyusunan ini, Muslim pada umumnya tidak mengerti Qur’an tanpa penjelasan dari seorang Mufassir atau penafsir Qur’an. Al-Qimni yakin inilah alasan monopoli tafsir Qur’an oleh sekelompok ahli Islam yang merasa tafsir mereka adalah tafsir yang terbenar. Tafsir lainnya mereka anggap sebagai tafsir kafir. Dalam wawancara dengan Abd al-Gadir, al-Qimni menjelaskan pendapatnya sebagai berikut:

  1. Qur’an perlu disusun ulang dan ditinjau dengan lebih seksama.
  2. Tiada badan resmi keagamaan (majelis para imam) dalam Islam.
  3. Tak ada hukuman murtad dalam Qur’an.
  4. Ahli² Muslim ingin menghargai hak² azasi wanita tapi di saat yang bersamaan, mereka menuduh kaum wanita kurang beragama dan bodoh, hal ini jelas merupakan kontradiksi.
  5. Konsep Jihad merupakan hal yang rasis dan tidak berlaku lagi di jaman modern.
  6. Apa yang dilakukan oleh para Muslim Mujahidin atau pejuang² Islam terhadap negara² yang dulu mereka serang perlu dimaafkan di jaman modern.

(Abd al-Gadir 2004:4)

Al-Qimni berpendapat bahwa penjajahan Mesir oleh bangsa Arab harus dianggap sebagai penjajahan orang asing terlama di seluruh dunia (al-Muhsin, 26 Feb., 2004:1). Kemunduran Mesir terjadi karena, menurutnya, Mesir menerima saja penjajahan yang dilakukan bangsa Arab dan malah menyerap budaya Arab. Pandangan al-Qimni ini tentu saja membuat marah para Muslim ahli Islam moderat dan radikal di Mesir. Dalam bukunya yang berjudul Al-Fashun wa al-Watan (Kaum Fasis dan Negara), al-Qimni menjelaskan pandangannya tentang efek dari budaya Arab pada Mesir sebagai berikut:

Terdapat tiga budaya di Mesir, dan tiada satu pun dari ketiganya yang boleh dianggap lebih tinggi dari yang lain. Budaya² ini adalah budaya Mesir kuno, budaya Koptik yang tertulis dalam huruf² Yunani, dan budaya Arab Islam yang berasal dari Arabia. Usaha budaya Arab berkuasa di atas budaya² lain bertentangan dengan prinsip negara Mesir. Siapapun yang ingin budaya Arab berkuasa di Mesir tidak melihat budaya lain Mesir sebagai budayanya sendiri, dan ini berarti dia tidak menganggap dirinya sebagai orang Mesir, tapi sebagai antek penjajah Arab. Karena itu, kami ulangi, pengertian kesatuan umat Muslim selalu diikuti dengan pembatalan kesatuan konsep bernegara, dan lebih jelek lagi, hal ini akan menghancurkan negera itu sendiri. (al-Qimni 1999: 49).

Maka dari itulah, al-Qimni beranggapan bahwa “identitas orang Muslim Mesir haruslah orang Mesir dan bukan orang Afghani atau orang Hijazi, dan identitas orang Kristen Mesir haruslah orang Mesir dan bukan orang America atau Perancis” (ibid). Jika identitas Mesir berdasarkan pada Arabia dan persekutuan Islamiah, maka “orang Muslim Mesir lebih merasa bersaudara dengan Muslim Bosnia dibandingkan dengan orang Mesir Kristen Koptik. Dengan begitu, mencurahkan darah orang Mesir Koptik dianggap halal, dan orang Mesir Kristen Koptik ini dibunuh karena apa yang terjadi terhadap Muslim di Bosnia dan Hursik” (ibid: 51).

Karena pidato yang diucapkan al-Qimni di Pertunjukan Buku Internasional di Cairo pada tanggal 4 Januari, 2004, koran Muslim Bersaudara “al-Akhwan al-Muslimun” berkata bahwa pidato itu dimaksudkan untuk menghancurkan pillar² Islam (“al-Akhwan al-Muslimun”, 1 Januari, 2004:1). Koran ini mengatakan bahwa al-Qimni berkata Muslim yang pertama telah mencuri segala harta benda Mesir dan karenanya Mesir tidak boleh lagi disebut sebagai negara Arab dan negara Muslim lagi. Islam tidak perlu jadi agama resmi Mesir dan Hukum Syariah tidak usah dijadikan dasar utama UUD Mesir. Dalam artikel yang berjudul Buku² Meragukan (Doubtfull Books), di koran al-Watan, Abd Allah al-Samti berkata, “Penulis² seperti Khalil Abd al-Karim, Sa’id al-Ashmawi, Sayyid al-Qimni, al-Sadiq Nihum, and Nawal al-Sa’adawi menginginkan orang untuk percaya bahwa Qur’an tidak diwahyukan berdasarkan perkataan Muhammad” (al-Samti, 15 Maret, 2002: 1). Bagi para penulis ini, Muhammad itu hanya sekedar tokoh besar dan bukan merupakan Nabi terakhir (ibid). Dalam wawancara lain yang diadakan oleh Hala Mahmoud untuk koran “Middle East Times”, pewawancara mengatakan:

Sayyid Al Qimni menelaah sejarah awal Islam dengan keberanian yang tidak pernah ditunjukkan oleh sejarawan Mesir manapun. Dia selamat dari tuduhan murtad atau antek Barat karena dia menggunakan semua sumber yang diakui oleh Al Azhar, tapi banyak dari kesimpulannya yang bisa membuat Nasr Hamid Abu Zayd pucat pasi. Tulisannya² dalam buku² Al Hizb Al Hashimi (Kelompok Hashimit), Al Dawla Al Mohamadiya (Negara Nabi Muhammad), and Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi), menyelusuri Islam sebagai tekanan politik dan bukan sebagai wahyu illahi, sedangkan bukunya yang berjudul Al Nabi Ibrahim (Nabi Ibrahim) menyatakan penjelasan sekuler atas dongeng² di jaman Nabi² awal (Mahmoud, Middle East Times, hal. 1).

Ketika ditanya oleh Hala Mahmoud apakah dia pernah menghadapi serangan fisik atau verbal dari kelompok radikal Islam, al-Qimni menjawab:

Ya, secara ideologi dan fisik. Pertama-tama hal ini dilakukan oleh Fahmi Howiedy di Al Ahram. Dia berkata aku ini lebih berbahaya daripada Salman Rushdie dalam artikelnya yang berjudul “Pluralisme Tanpa Keluar Batas” di bulan Maret, 1989. Dia menulis, ‘Mereka berbeda dengan buku² Rushdie dalam hal penghinaan, tapi tidak dalam hal pesannya’; buku² itu melukai hal² yang sakral’; dan ‘kita harus menghentikan tulisan² seperti ini.’ Dia hanya menyebut dirikku sebagai SQ tapi dia menyebut judul² bukuku. Empat tahun yang lalu, dalam Al-Islam Watan (Islam adalah Sebuah Negara), seorang jendral dari Departemen Kementrian yang bernama Essam Eddin Abdel Azayem menulis, ‘Oh Tuhan, cegahlah siapapun yang seperti orang ini untuk hidup di tanah kami. Mereka menghancurkan agama kami dan melahirkan para kafir.’ Dr. Muhammad Ahmed Al Musayyar di Al Nour, bulan Juli dan Agustus, 1992, menulis ‘Harus ada orang yang membungkam mulut orang ini.’ Di tahun 1989, setelah Howeidy artikel, aku sedang menyetir mobil di kampung Giza di Badrshein ketika seseorang menembakku dengan senapan Kalashnikov. Anak²ku saat itu ada bersamaku. Ini merupakan peringatan. Jika mereka ingin membunuhku, mereka tentu bisa saja melakukannya. (ibid: 11).

Al-Qimni disebut oleh Samir Sarahan sebagai pemikir yang paling provokatif (membangkitkan reaksi) di Mesir karena “tulisan²nya yang menelaah ulang sejarah Nabi” (Sarahan, 5 Feb., 1998: 1). Dalam perdebatan panjang di Radio Al-Jazira dengan radikalis Islam bernama Kamal Habib, Al-Qimni berkata, “Kita berada dalam dasar laut terdalam karena kita mengajarkan anak² kita di sekolah tentang agama Islam dan bahasa Arab saja” (ibid: 15). Dengan kata lain, sistem pendidikan di Mesir dan negara² Arab lainnya hanya menghasilkan orang² yang hanya tahu bagaimana melakukan sholat dan bagaimana berbicara bahasa Arab. Sealin itu, Al-Qimni yakni kurikulum pendidikan di negara² Muslim menghasilkan teroris² (ibid: 11).

Menurut Sayyid Mahmoud Al-Qimni, pemimpin agama Islam di Mesir menuduh berbagai Muslim atau Muslimah sebagai murtadun yang layak dibunuh karena melakukan hal di daftar berikut (di sini al-Qimni mengutip daftar ahli Islam dari Al-Azhar yang bernama Syeik Sabiq):

  1. Menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan.
  2. Mengumumkan kemurtadan, atheisme, dan mengaku menerima wahyu dari Allâh.
  3. Menghina Nabi atau Islam.
  4. Menyerang Qur’an dan Sunna.
  5. Membuang buku² Hadis atau Fiqh ke tong sampah dan meludahinya.
  6. Menyangkal kemungkinan melihat Allâh di Hari Kiamat.
  7. Menyangkal kemungkinan adanya siksaan kubur dan mempertanyakan Munkir dan Nakir (dia tidak menyebut Al-Su’aban Al-Aqr’a atau ular botak walaupun ini merupakan hal yang wajib dalam agama).
  8. Menyangkal Sirot dan pengadilan Hari Kiamat.
  9. Menyatakan tidak percaya pada penyampai cerita dalam hadis.
  10. Menyatakan percaya pada penyampai cerita dalam hadis, tapi meragukan hadis tertentu.
  11. Mengatakan pada Muslim penafsiran atau pendapat yang tidak pernah didengarnya sebelumnya.
  12. Meninggalkan hukum dalam Qur’an dan Sunna dan lebih memilih hukum buatan manusia.

(Al-Qimni 2004: 235).

Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini) dan Kasus Pengadilan

Pada tanggal 18 Agustus, 1997, berdasarkan laporan dari Badan Riset Islam Universitas Al-Azhar (Islamic Research Academy of Al-Azhar University (IRA)) “polisi menyerbu perusahaan² percetakan buku untuk menyita buku Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini) yang ditulis oleh Sayyid al-Qimni” (Engel 1998: 1). Berhubungan dengan dikeluarkannya UU Darurat di tahun 1981 berkenaan dengan pembunuhan Presiden Anwar Sadat “pihak Jaksa penuntut diperbolehkan untuk menyita material sebelum keputusan pengadilan” (ibid: 3). Akan tetapi, untuk membuat penyitaan ini tampak lebih sah, Jaksa menuntut pertanggunganjawab Al-Qimni di Pengadilan Cairo Utara. Pengadilan diadakan pada tanggal 15 September, 1997, “di bawah pimpinan Pak Salama Selim” (“Riset Sah dan Pusat HAM” (Legal Research and Resource Center for Human Rights) 1998: 1). Laporan ini menyatakan:

Sebuah buku yang ditulis oleh pemikir Islam Sayyid Al Qimni telah disita polisi pada tanggal 16 Agustus, 1997, tanpa perintah dari pihak Pengadilan, setelah para ahli dari Badan Riset Islam Universitas Al-Azhar menetapkan buku ini melanggar hukum dan norma agama. Di tanggal 15 September, pihak Pengadilan membatalkan keputusan tersebut dan mengijinkan penerbitan semua kopi buku Tuhan Masa Kini.

Riset Sah dan Pusat HAM mewakili Pak Al-Qimni di pengadilan(ibid).

Pihak Jaksa Penuntut bagi keamanan negara meminta Pengadilan melarang penerbitan buku itu “berdasarkan hukum butir 198 Kode Hukum mengenai propaganda dan prejudis melalui tulisan– semua pesan yang menolak agama Islam, berdasarkan laporan dari Badan Riset Islam Universitas Al-Azhar” (ibid). Andrew Hammond memberi komentar tentang buku itu dan sidang pengadilan:

Buku Pak Al-Qimni hanyalah koleksi artikel² yang telah diterbitkan dalam beberapa tahun terakhir di berbagai koran² Mesir. Pak Al-Qimni dituduh “menghina agama … Para penuntutnya adalah orang² yang telah berdebat tatap muka melawan Pak Al-Qimni di siaran² TV. Meskipun begitu, sebuah badan khusus dari Al-Azhar yang merupakan badan Sunni paling kolot telah melarang penerbitan buku Sayyid Al-Qimni yang berjudul Rabb Al Zaman (Tuhan Masa Kini) sebagai satu dari 196 lainnya yang dilarang karena mewakili gagasan sekulerisme yang semakin berkembang (Hammod 1997: 1).

Tuntutan terhadap Buku Rabb Al Zaman

Badan Riset Islam Universitas Al-Azhar mengeluarkan tuntutan sebagai berikut terhadap buku Al-Qimni:

  1. Buku ini mengandung sarkasme dan hinaan terhadap ulama Islam dan ‘orang yang terbaik yang pernah dikirim pada umat’ (Adadeh: maksudnya adalah Nabi Muhammad) di negara ini.
  2. Di hal. 32, berdasarkan Taurat dinyatakan tentang Ibrahim, putranya Ishmael dan Ishak dan putranya Yakub, dan cucu²nya. Ditanyakan pula perihal lain di hal. 32-41 dan membandingkannya dengan kisah dari Taurat.
  3. Di hal. 66 dinyatakan bahwa Firaunlah yang membangun Ka’bah.
  4. Di hal. 67 dinyatakan bahwa Nabi² berkunjung Mesir dan belajar monotheisme di sana dan berkhotbah tentang monotheisme setelah kembali ke negara masing².
  5. Di hal. 80, penulis mengisahkan kisah Senubia (Ratu Tadmor) dan Setan dan hal ini menghina hukum Nabi Sulaiman.
  6. Di hal. 84, dia menulis tentang dewa Marduk, yang adalah salah satu berhala yang disembah di Iraq di jaman Abraham, yang merupakan salah satu berhala yang dihancurkan Ibrahim. Pernyataan ini membutuhkan penyelidikan yang seksama.
  7. Dia mengatakan di hal. 107 dan 109 beberapa kejadian berkenaan dengan Kalifah Uthman Ibn ‘Affan yang diragukan kebenarannya.
  8. Di hal. 111, 112, dan 115, dia menulis hinaan terhadap dua tokoh Islam utama yakni Muhammad al-Ghazali dan Abu Azayem.
  9. Di hal. 141-149, dia menghina Syeikh Abdel Sabur Shanin. Di hal. 147-148 dia menyinggung kasus Dr. Nasr Abu Zayd dan sikap Syeikh Shanin terhadap Abu Zayd. Di hal. 151 dia menghina badan hukum.
  10. Di hal. 154, dia berkata ‘Umar Ibn al-Khattab telah mengharamkan apa yang dihalalkan bagi wanita dan ibadah haji’ (ibid: 1-2).
  11. Laporan menyatakan buku ini menghina Nabi Yusuf dan Kalifah Uthman Ibn ‘Affan

(Warr 1997: 2).

Sikap Al-Qimni yang berhati-hati sewaktu menulis buku Al-Hizb Al-Hashimi (Kelompok Hashimit) ternyata tidak cukup untuk menghindarkan dirinya dari serangan Badan Riset Islam Universitas Al-Azhar terhadap bukunya yang lain Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini). Di buku Al-Hizb Al-Hashimi, dia menggunakan berbagai sumber literatur Islam yang diakui Universitas Al-Azhar dan karenanya para ulama tidak punya cukup bukti untuk melarang buku itu. Akan tetapi di buku Rab Al-Zaman, Al-Qimni tidak hanya mengritik para ahli Islam Al-Azhar, tapi juga mengritik ahadis Nabi Muhammad dan Al-Qur’an.

Keputusan Pengadilan

Keputusan Pengadilan tampaknya ditetapkan berdasarkan sanggahan² Al-Qimni terhadap tuduhan² atas bukunya. Hal ini tampak jelas dari pendapat para pembaca buku itu dan laporan Pengadilan. Sampai sekarang aku belum membaca laporan Pengadilan, tapi aku terus mencoba mendapatkannya untuk mengetahui bagaimana Al-Qimni sukses membatalkan tuntutan atas bukunya. Aku telah menerima sebuah e-mail dari pihak penerbit buku yang mengatakan bahwa buku itu, laporan Pengadilan, dan pembahasan dari media telah dikirimkan padaku di tanggal 23 Mei, 2004. Akan tetapi, aku akan memberikan kesimpulan keputusan Hakim Pengadilan atas buku ini, yang telah diterangkan secara singkat oleh Riset Sah dan Pusat HAM mewakili Pak Al-Qimni di pengadilan.

Tentang tuduhan mengenai cara buku ini mengisahkan Nabi² Yahudi Ibrahim, Ishmael, Ishak, dan Yusuf di hal. 32-42, pak Hakim berkata, “Penulis menyampaikan kritiknya terhadap film yang disutradarai oleh Yusuf Shahin karena penulis menganggap cara film itu menyampaikan keterangan, keadaan, nama² dari Taurat tidak ilmiah dan salah.” (Riset Sah dan Pusat HAM, 1998: 2). Al-Qimni membahas mengenai kakek moyang bani Israel dalam film Yusuf Shahin yang berjudul Al-Muhagir (Para Imigran). Menurut al-Qimni, Yusuf Shahin tidak jujur dalam flimnya karena menyembunyikan fakta bahwa kisah Yusuf dalam film itu bersumber dari Taurat dan bukan dari Qur’an. Kata al-Qimni, “Produser film membuat poster film dalam bahasa Arab yang menyatakan film ini tiada hubungannya dengan kisah Nabi Yusuf, tapi dia juga membuat poster film dalam bahasa Perancis yang menyatakan film ini mengisahkan tentang Keturunan Nabi Yusuf.” (ibid: 32). Ketika tokoh pahlawan film ini masuk Mesir, narator mengisahkan kisah Yusuf, dan ketika tokoh ini meninggalkan Mesir, narator mengisahkan kisah Musa. Tentang pernyataan bani Yahudi tentang nubuat dan Tanah Perjanjian, al-Qimni menulis:

Ada satu negara yang dipilih Tuhan di atas negara² lainnya, terdapat sejumlah Nabi² suci cendekiawan, ayah mereka adalah seorang Nabi dan melahirkan seorang Nabi, dan mereka terus mendapatkan wahyu illahi sewaktu mereka mewarisi tanah Palestina, mereka adalah keturunan terbaik dari kaum terbaik, mereka lebih unggul dalam beribadah suci dibandingkan negara² lain, kakek moyang mereka adalah Ibrahim teman Tuhan, dan ayah² mereka adalah Ishak, dan Yakub yang dijuluki sebagai Israel, dan anak²nya merupakan keturunan terhormat, dan dari mereka munculah Yusuf yang tampan dan menjadi menteri yang mengurus semua harta di Mesir… dan setelah dia munculah Musa Nabi terbesar Israel… lalu Raja Daud dan anaknya Raja Sulaiman, dan Raja ini mendirikan kerajaan besar yang dipuji-puji melalui nyanyian oleh berbagai buku agama dan legenda, dia berkuasa atas para binatang, Al-Hoam, Jinn, dan Al-Afariat (setan), dan di masa pemerintahannya Israel jadi negara terkaya sampai² perak berserakan di jalanan bagaikan pasir (menurut Taurat) dan menurut Islam dia merupakan satu dari empat raja² dunia yang berkuasa dari ujung bumi ke ujung bumi lainnya (ibid: 37-38).

Di hal. 41, al-Qimni berkata, “Sebenarnya, jika kita mengukur kebesaran kejayaan Tatmosis ketiga atau Ramses kedua atau Nebukadnezzar, kekuasaan Sulaiman jadi tampak sangat kecil.” Tentang pernyatan ini, Hakim menyimpulkan “dalam riset ilmiah tak ada pelanggaran apapun terhadap para Nabi dan juga terhadap apa yang dikatakan Taurat … Laporan ini tidak berbahaya dan tidak melanggar Islam” (Riset Sah dan Pusat HAM, 1998: 2).

Pengadilan juga membatalkan tuduhan bahwa al-Qimni menghina Kalifah Uthman Ibn ‘Affan. Menurut Hakim, yang dinyatakan al-Qimni tentang Uthman hanyalah kutipan dari sumber² literatur Islam terkenal dan dipercaya:

  1. Al Bedaya wal nehaya (Awal dan Akhir) oleh Sheikh Emad Ibn al-Nedaa Ishmael Ibn Omar Ibn Kathir. Lihat hal. 190 dan 251, bagian 7, volume 4, edisi al-Ghad al-Arabi.
  2. Al Tabakat al Kobra oleh Mohammed Bin Sa’ad, disahkan oleh Prof. Hamza al Nasharti, Prof. Abdel Hafiz Faraghali dan Abdel Hamid Mustafa. Lihat hal. 623, vol. 11 distribusi Al Ahram.
  3. Tarikh al Islam al Zahabi (Jaman Emas Islam), vol. 11, hal. 123 (diterbitkan oleh al-Ghad al Arabi).
  4. Zoamaa al Islam (Pemimpin² Islam) oleh Dr. Hassan Ibrahim, diterbitkan oleh Egyptian Book Organization, Religious Works, edisi tahun 1997, hal. 401 (Ibid: 3-4).

Mengenai apa yang dikatakan al-Qimni tentang Syeikh Muhammad Al-Ghazali dan Jendral Essam Eddin Abul Azaym, Hakim berkata, “Meskipun dinyatakan dengan kata² keras, hal ini merupakan kritik yang boleh dinyatakan melalui perdebatan diantara para ahli dan pemikir terkemuka, dan hal ini lumrah dalam sejarah kritik dan debat intelektual” (ibid: 4). Tentang apa yang ditulis al-Qimni tentang peran Syeikh Abd Sabur Shahin dalam pengadilan Nasr Hamid Abu Zayd, Hakim menetapkan, “Hal ini bisa dilihat sebagai perdebatan antara penulis dan pandangan Shahin” (ibid). Pendeknya, Hakim membatalkan semua tuduhan terhadap penulis dan pelarangan bukunya. Hakim menyimpulkan keputusannya dengan berkata, “Karena semua alasan tersebut, kami membatalkan penyitaan buku Rab Al Zaman wa Derasaat Okhra oleh penulisnya Pak Sayyid Mahmoud al-Qimni, dan mempersilakan buku itu dicetak” (ibid: 5).

Analisa al-Qimni tentang Sejarah Awal Islam

Dalam kebanyakan tulisannya, al-Qimni mencoba membuktikan bahwa sejarah Islam telah dirubah dan diganti. Untuk membuktikan hal ini, al-Qimni menulis tiga buah buku yang kontroversial (mengundang banyak pertentangan), yakni:

  1. Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamyia (Kelompok Hashmite dan Dasar Negara Islam), (1989)
  2. Hurub Dawlat al-Rasul (Peperangan Negara Nabi), (1996)
  3. Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini), (1996)

Bukunya yang pertama, Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamyia, membuat dirinya diserang para ulama Universitas Al-Azhar Al-Sharif. Menurut Sivan, “Di tahun 1989, al-Qimni menerbitkan bukunya yang menggemparkan, Al-Hizb Al-Hashmi, di mana dia membahas hal tabu seperti kehidupan Nabi Muhammad (al-Qimni membahas perjuangan Nabi di Mekah sebagai usaha meraih kekuasaan politik). Seorang ahli Islam terkemuka menyebut al-Qimni sebagai “Salman Rushdie Arab” (Sivan 2003: 39). Dalam bukunya, al-Qimni mencoba membuktikan bahwa kakek Nabi Muhammad yakni Abd al-Mutalab telah menyiapkan jalan bagi terwujudnya Negara Islam. Implikasi dari pandangan ini menyiratkan bahwa pendiri utama Negara Islam bukanlah seorang Nabi, tapi sang Nabi hanya mewujudkan apa yang telah dirilis oleh kakeknya. Selain itu, buku ini mencoba membuktikan bahwa banyak doktrin Islam dalam Qur’an ternyata meminjam gagasan dari para umat Hanafiya, Yudaisme, Sabian, dan agama pagan Arab. Buku ini juga menyebut beberapa ayat² puisi yang disusun oleh para penyair Arab yang hidup di jaman sebelum Islam atau hidup di jaman Muhammad, yang dijiplak persis ke dalam Qur’an dan jadi bagian dari buku suci Islam. Pernyataan seperti ini dianggap Muslim sebagai penyangkalan terhadap keaslian firman illahi dalam Qur’an dan dengan begitu menuduh Nabi Muhammad mencontek atau melakukan plagiarisme. Dengan begitu, Qur’an hanyalah menjadi “produk budaya” dan “kitab Qur’an yang asli di surga” dianggap omong kosong saja (Najjar 2002: 194). Meskipun begitu, para Muslim ahli Islam dari Al-Azhar tidak bisa menyangkal al-Qimni karena kritiknya bersumber dari literatur Islam yang dianggap sahih oleh para ulama. Mengutuk al-Qimni bisa juga berarti menyangkal kebenaran literatur Islam sahih. Buku² utama yang digunakan al-Qimni adalah tulisan² al-Tabari, al-Qurtubi, al-Suyuti, Ibn Kathir, al-Bihaqi, al-Halabi, Ibn Hisham, dan Ibn Sa’ad. Salwa Ismail memberi komentar atas tulisan kontroversial Sayyid al-Qimni dan Khalil Abd al-Karim:

Ini adalah sumber² Islam yang diakui Al-Azhar. Hal ini tidak bisa disangkal, karena penulis² menyatakan keterangan tentang masyarakat Mekah dan Medinah melalui sumber² terpercaya. Penulis² ini tidak mempertanyakan kesahihan sumber, tapi justru menggunakan sumber² ini untuk menyerang pihak² yang menentang mereka. Jika pihak Al-Azhar menyatakan materi tulisan itu salah, maka mereka harus menelaah kembali buku² sahih Islam, dan memang begitulah yang diinginkan para penulis tersebut (Ismail 2004: 114).

Dalam buku keduanya, Hurub Dawlat al-Rasul (Peperangan Negara Nabi), al-Qimni lagi² melanggar batas tabu yang ditetapkan oleh para ulama Islam dengan membahas kehidupan politik Nabi Muhammad. Dia tidak hanya mengritik sejarah Islam saja, tapi juga mengritik kehidupan politik Nabi Muhammad. Penelaahannya menunjukkan bahwa Nabi bersikap licik dan penuh tipu daya terhadap kaum Yahudi. Ketika dia masih lemah dan membutuhkan dukungan kaum Yahudi, dia memuji-muji agama dan Nabi² mereka. Ketika tidak lagi membutuhkan dukungan kaum Yahudi untuk mendirikan Negara Islam, sang Nabi mencari-cari kesempatan untuk menyingkirkan mereka semua. Hal ini menunjukkan Nabi sebagai politikus licik yang melakukan segala cara untuk meraih cita²nya. Dalam bahasa modern, sang Nabi mengikuti prinsip “the end justifies the means” (yang penting hasil akhrinya saja). Contoh lain adalah sikap Nabi terhadap agama kakek moyang masyarakat Mekahnya. Di awal karirnya, sang Nabi menolak dan mengutuki agama pagan yang merupakan agama kakek moyang Arabnya. Pada waktu itu, dia bersikap damai dan memberi hak pada siapapun untuk menerima dan menolak pesannya. Tapi pada akhir hidupnya, literatur Islam menunjukkan bahwa sang Nabi ternyata kembali memeluk agama pagan kakek moyangnya dan memasukkan semua ibadah pagan ke dalam Islam, terutama ibadah Haji. Di masa ini, Qur’an menyangkal hak bebas beragama, dan Islam merupakan pilihan satu²nya bagi pagan Arab. Para ahli Islam mencoba mengatasi segala kontradiksi dalam Qur’an melalui doktrin Nasikh dan Mansukh atau “pembatalan.” Akan tetapi, al-Qimni menganggap doktrin ini tidak memecahkan masalah. Solusi yang lebih baik dan jujur adalah dengan mempertimbangkan berbagai konteks politik yang dialami Muhammad. Melalui penelaahan kehidupan politik Nabi dan doktrin Islam, tulisan² al-Qimni menceraikan diri dari penafsiran tradisional Islam.

Dalam bukunya yang ketiga, Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini), al-Qimni mendapat masalah dari ahli² Islam Al-Azhar. Mereka tidak bisa lagi menolerir dirinya lebih jauh. Mereka meminta Pemerintah melarang bukunya dan membawa al-Qimni ke Pengadilan. Mereka mengira dengan begitu al-Qimni akan dihukum. Akan tetapi, al-Qimni malah menang di Pengadilan karena dia menggunakan sumber² Islam yang diakui Al-Azhar. Dengan begitu, tulisan² al-Qimni tetap tidak bisa dibantah para ahli Islam.

Dalam bukunya Rab Al-Zaman, al-Qimni mencoba membuktikan sejarah Islam penuh pemalsuan. Dia menggunakan contoh kasus peperangan terhadap kaum murtadun yang dilakukan Abu Bakr terhadap suku² Arab. Menurut al-Qimni perang ini tiada hubungannya dengan agama. Abu Bakr mengobarkan perang terhadap siapapun yang menolak menerimanya sebagai Kalifah umat Muslim. Untuk menghalalkan perang itu, Abu Bakr menyelubunginya dengan pesan illahi. Dia mengarang hadis yang menghalalkan pembunuhan para Muslim Arab dan mengatakan hadis itu diucapkan oleh Nabi. Al-Qimni mengatakan sejarah Perang Murtadun ini dipalsukan dan diajarkan pada Muslim di berbagai sekolah Islam dan dianggap sebagai perang suci. Al-Qimni juga mengritik Kalifah ketiga Uthman Ibn ‘Affan sebagai pemimpin yang korup dan akibatnya dia dibunuh. Untuk membuat Uthman tampak baik, para penulis sejarah Muslim menutupi fakta dan mengganti kisah sejarah dan mengatakan Uthman dibunuh oleh orang Yahudi!

Dalam tulisannya, “Al-Qimni menunjukkan persaingan politik dan penggulingan kekuasaan untuk meraih kedudukan dalam Islam” (Ismail 2004: 102). Tujuan utama al-Qimni adalah untuk menghapus “anggapan periode awal Islam sebagai keadaan sosial dan politik yang ideal” (ibid: 103). Akan tetapi, tulisan al-Qimni menimbulkan kebencian Muslim terhadapnya. Para Muslim tentunya tidak bisa menerima kenyataan simbol² Islam dipertanyakan. Para ulama al-Azhar mengajukan dua alasan mengapa simbol² Islam tidak boleh dipertanyakan:

Pertama-tama, simbol² Islam itu merupakan bimbingan yang benar sekali. Setiap usaha mempertanyakan kekuasaan dan otoritas Islam harus disingkirkan. Kedua, sebagai pembimbing, mereka lebih benar dibandingkan penilaian atau pertanyaan Muslim awam. Dengan begitu, Muslim tidak perlu mempertanyakan. Dia hanya akan bisa bereaksi penuh emosi saja, dan tidak mampu menelaah dalam level intelek (ibid).

Pernyataan al-Azhar ini diajukan ke Pengadilan Rendah Cairo Utara dalam laporan yang dipersiapkan oleh Badan Riset Islam Universitas Al-Azhar. Laporan juga menyatakan, “Tulisan buku itu mengandung kesalahan dan pemlintiran dan salah tafsir akan apa yang dimengerti sebagai Islam yang sebenarnya” (ibid: 117). Tapi karena tidak bisa membuktikan tuduhan dan karena kalah di Pengadilan, maka para ulama mengganti taktik dan mulai menuduh al-Qimni sebagai taksir atau tak beriman pada Islam dan nyawa al-Qimni jadi terancam. Al-Qimni lalu menyembunyikan diri di tahun 1998. Para penyerangnya termasuk Dr. ‘Abd al-Mu’ti Bayumi, dosen Universitas Al-Azhar dari Fakultas Dasar Agama, dan juga banyak ahli Islam terkemuka Azhari lainnya.

Al-Qimni Menarik Kembali Tulisannya

Pada tanggal 17 Juli, 2005, Dr. Sayyid Mahmoud al-Qimni menerima surat dari al-Qaida cabang Irak yang dipimpin oleh al-Zarqawi. Surat ini mengatakan al-Qimni akan dibunuh jika dia tidak mengganti tulisan²nya dan berjanji untuk tidak menulis lagi.

Pujian hanya bagi Allâh saja, dan doa dan damai bagi dia yang tiada lagi Nabi setelah dia.

Kau harus tahu, kau kafir jahanam yang bernama Sayyid al-Qimni, bahwa lima Muslim Tauhid dan singa² Jihad telah mengincar untuk membunuhmu. Mereka bersumpah pada Allâh yang Maha Tinggi bahwa mereka akan mendekatkan diri padaNya untuk memukul kepalamu, dan menyucikan dosa mereka dengan cara mengucurkan darahmu. Dengan melakukan hal itu, mereka memenuhi perintah Nabi tertinggi, doa² Tuhanku dan salam baginya yang mengatakan, “siapapun yang mengganti agamanya harus dibunuh.”

Kau penuduh palsu, kami tidak main², silakan mau percaya atau tidak, kami tidak akan mengulang ancaman kami. Tiada guna bagimu untuk melapor pada pihak keamanan Mesir. Mereka tidak bisa melindungi kamu. Mereka mungkin bisa melindungimu untuk sesaat tapi setelah itu mereka akan meninggalkanmu untuk dijadikan korban para singa Islam. Ini pun jika mereka setuju untuk melindungimu. Tiada pengawal pribadi yang bisa melindungimu. Pengawal²mu tidak akan mampu menghentikan peluru yang ditembakkan dari mobil yang melaju atau dari teras rumah tetangga. Tiada yang bisa menghentikan bom meledak di mobilmu atau cara pembunuhan lainnya. Ingat orang² yang kami kirim ke liang kubur padahal lebih sukar membunuh mereka daripada membunuh kamu. Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain.

Ini menjernihkan kesadaran kami dan mendirikan kembali al-Mugah dalam dirimu, kami beri kamu waktu satu minggu untuk menyatakan pertobatan dan tarik semua tulisanmu yang murtad. Kau harus mengumumkan penarikan tulisan di majalah “Rose-al-Yusif” di mana kau selalu menerbitkan semua tulisan² kafirmu.

Jika kau ngotot, kau bodoh dan terpedaya, tetap keras kepala dan terus murtad dan atheis, Setan terkutuk berbisik padamu bahwa kau pasti bisa menghindari kelompok Jihad, maka ketahuilah bahwa pedang para Muslim akan memenuhi kewajibannya bagimu. Saat ini kau bagaikan mayat berjalan diantara para Muslim. Sebaiknya kau cari lubang persembunyian karena Muslim setia pasti akan memburumu.

Ini adalah peringatan bagimu, kebangkitan adalah janji kami, dan pada Pemilik Takhta Illahi saja orang menemukan kebaikan.

Tertanda: Kelompok Jihad, Mesir.

Sayangnya, al-Qimni dipaksa menarik kembali tulisannya dan menerbitkan pertobatan di media. Menurut laporan Caroline Kim, karena “menghadapi ancaman nyawa, maka penulis Mesir terkenal Sayyid al-Qimni, di tanggal 16 Juli menarik kembali tulisannya dan bersumban untuk tidak menulis lagi di media” (Kim, 15 Juli, 2005). Aku kira dunia Muslim dan Mesir terutama tidak akan pernah lagi menghasilkan penulis sejujur, seberani, dan sejenius Dr. Sayyid Mahmoud al-Qimni.

[DAFTAR ISI] | [Bab VII] [Bab IX]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: