Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab VII

[DAFTAR ISI] | [Bab VI] [Bab VIII]

Bab VII

Nasikh dan Mansukh

Dalam bukunya yang berjudul Al-Islamiat (Para Islamis), Al-Qimni mulai membahas Nasikh dan Mansukh atau “Aturan Pembatalan” ayat dalam Qur’an dengan menerangkan kisah Ayat² Setan (al-Qimni 2001: 563). Menurut al-Qimni, Nabi Muhammad berharap Allâh tidak mewahyukan firman apapun yang bisa menyebabkan masyarakat Mekah menolaknya. Ketika Muhammad, umat Muslim, dan para pemimpin masyarakat pagan Mekah sedang sholat di Mesjid al-Haram, Muhammad menerima wahyu dari Allâh yang dibacakannya keras² sebagai berikut:

Qur’an, Sura An-Najm, ayat 53: 19-20
19 Apakah kau telah melihat Lat dan ‘Uzza?
20 Dan yang lainnya, yang ketiga yakni (dewi) Manat?

Sang Nabi meneruskan wahyunya:
“Mereka adalah dewi² atau pemimpin² ibadah tertinggi dan berkah² mereka diharapkan”

Setelah Muhammad membacakan ayat² ini, “tiada seorang pun yang tetap berada dalam Mesjid, baik Muslim maupun kafir yang tidak bersujud bersama sang Nabi” (ibid). Lalu Muhammad berkata bahwa malaikat Jibril datang dan menegurnya sambil mengatakan padanya bahwa dia melafalkan pada orang² ayat yang tidak diwahyukan Allâh padanya.

Qur’an, Sura Al-Isra’a (17), ayat 73-74
Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

Karena itu, Nabi memperbaiki ayatnya di Sura An-Najm sebagai berikut:

Qur’an, Sura An-Najm, ayat 19-22
19 Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza,
20 dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?
21 Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?
22 Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Al-Qimni menjelaskan dengan terperinci reaksi para Muslim dan non-Muslim terhadap ayat² tersebut, yang dikenal pula sebagai ayat² Gharaniq . Akan tetapi, yang lebih terpenting lagi adalah bahwa ayat² ini merupakan ayat² Qur’an, yang dirubah dan diganti oleh ayat² lain dan sebagian ayat² tersebut hilang. Qur’an sendiri mengakui kenyataan tersebut dalam ayat² berikut:

Qur’an, Sura Al-Nahl (16), ayat 101
Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.

Qur’an, Sura Al-Baqarah (2), ayat 106
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Qur’an, Sura Ar-Ra’d (13), ayat 39
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Lohmahfuz).

Dengan demikian, ayat² Gharaniq atau ayat² Setan itu dikatakan oleh Nabi karena niatnya sendiri dan juga karena godaan Setan.

Qur’an, Sura Al-Hajj (22), ayat 52
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

Kisah ayat² Gharaniq dan sebagian ayat² Qur’an yang bertentangan satu sama lain, menyebabkan para Muslim ahli Islam awal menetapkan aturan Nasikh (membatalkan) dan Mansukh (dibatalkan). Terdapat tiga jenis Nasikh dan Mansukh dalam Qur’an:

  1. Aturan hukum dari ayat dibatalkan tapi pelafalannya tetap berlaku.
  2. Pelafalan ayat dibatalkan, tapi aturan hukumnya tetap berlaku.
  3. Aturan hukum dan pelafalan ayat dibatalkan.
    (ibid: 570)

1. Aturan hukum sebuah ayat dibatalkan tapi pelafalannya tetap berlaku

Contoh terkenal dari pembatalan jenis ini adalah ayat Rajam dan ayat Menyusui Pria Dewasa. Sebagian besar Muslim ahli Islam setuju bahwa ayat Rajam diwahyukan pada Nabi dan kemudian diambil kembali ke surga. Dikatakan bahwa Kalifah ‘Umar ibn al-Khattab berkata, “Kami dulu sering membaca ayat yang mengatakan jika Al-Syeikh atau orang tua dan Al-Syeikha atau wanita tua berzinah maka rajmalha mereka sampai mati karena kenikmatan yang mereka telah dapatkan… dan jika aku tidak khawatir orang² akan berkata ‘Umar telah menambah ayat Qur’an, tentunya aku sudah mencantumkan ayat itu dalam Qur’an” (ibid: 573). Akan tetapi, ayat² Qur’an yang berkenaan dengan hukum zinah saat ini tidak mengatakan hukum rajam bagi pezinah pria atau wanita.

Qur’an, Sura An-Nisa (4), ayat 15
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

Qur’an, Sura An-Nuur (24), ayat 2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Meskipun demikian, hukum Syairan tetap menetapkan hukuman rajam bagi pria/wanita yang telah menikah jika mereka melakukan zinah, karena ucapan Kalifah ‘Umar.

Ayat tentang menyusui pria dewasa berdasarkan pada laporan Aisyah di mana dia berkata, “Ayat Rajam dan ayat Menyusui Pria Dewasa telah dinyatakan Nabi, dan ketika dia jatuh sakit, kami terlalu sibuk mengurus penyakitnya. Seekor hewan ternak memakan naskah yang berisi ayat² tersebut. Sang Nabi wafat dan ayat² tersebut dulu dibaca sebagai bagian dari Qur’an” (ibid: 580). Pertanyaan yang dianggap al-Qimni sukar untuk dijawab adalah: “Apakah ayat menyusui pria dewasa telah dibatalkan sebelum binatang ternak memakannya, atau apakah ayat itu dipertimbangkan sebagai ayat yang dibatalkan karena ayat itu tidak ditemukan dalam jilid² Qur’an yang dikumpulkan Kalifah ketiga Uthman bin ‘Affan karena seekor binatang telah memakannya?” (ibid: 581). Kisah menyusui pria dewasa disampaikan dalam sebuah hadis oleh Aisyah:

Suatu hari, Sahla binti Suhail datang menemui Nabi dan berkata pada Nabi, “Aku melihat wajah Abi Huzifa (suami Sahla, dan ini berarti Sahla melihat suaminya marah) setiap kali Salim datang ke rumah kami.”
Nabi berkata padanya, “Persilakan dia menetek (menyusui) padamu.”
Sahla berkata, “Bagaimana mungkin aku bisa menyusuinya sedangkan dia adalah pria dewasa?”
Nabi berkata, “Memangnya aku tak tahu bahwa dia adalah pria dewasa?”
Sahla datang lagi pada Nabi di lain waktu dan berkata, “Aku bersumpah demi Allâh wahai Nabi Allâh bahwa aku tidak melihat lagi kemarahan di wajah Abi Huzifa.” (ibid: 580)

Dengan mengikuti nasehat Nabi pada Sahla binti Suhail, “Aisyah sering menyuruh saudara perempuannya yakni Um Kalthum dan anak² perempuan saudara lakinya untuk meneteki (menyusui) lelaki dewasa manapun yang dipersilakan masuk rumah mereka” (ibid). Pertanyaannya adalah: bagaimana mungkin wanita dewasa atau gadis remaja menyusui pria dewasa? Bukankah hal seperti itu bisa membuat pria itu terangsang secara seksual? Dan bagaimana dengan wanita tersebut? Apakah wanita itu bisa tenang² saja saat bibir pria dewasa mengulum putting payudaranya? Menurut al-Qimni, ayat Menyusui Pria Dewasa seharusnya diperlakukan sama seperti ayat Rajam terhadap al-Syeikh dan al-Syeikha (pria dan wanita tua) yang melakukan zinah. Akan tetapi, para Muslim ahli Islam, tanpa alasan yang jelas, mempertahankan hukuman rajam dan tidak mengindahkan aturan para Muslimah menyusui pria dewasa yang dipersilakan datang berkunjung ke rumah mereka. Aturan menyusui pria dewasa terus dilakukan sampai kematian Nabi dan selama itu Aisyah terus melakukannya dan menasehati saudara² dan keponakan² perempuannya untuk melakukan hal yang sama. Sebagian Muslim ahli Islam mengatakan bahwa ayat Menyusui Pria Dewasa ini telah dibatalkan. Tapi pertanyaan al-Qimni berikutnya adalah: kapan, bagaimana, dan oleh siapa ayat Menyusui Pria Dewasa ini dibatalkan? Al-Qimni tidak menerima keterangan bahwa ayat ini dibatalkan, karena tiada pembatalan ayat Qur’an apapun setelah Nabi wafat. Prinsip ini diakui umat Muslim. Sekali lagi, orang tentunya membayangkan bagaimana Aisyah istri favorit Muhammad yang muda dan cantik seringkali menyusui pria² muda dewasa yang dipersilakan datang memasuki rumahnya. Ketika Muhammad wafat, Aisyah masih berusia 18 tahun dan dalam usia semuda ini tentunya Aisyah masih punya hasrat sex.

2. Pelafalan ayat dibatalkan, tapi aturan hukumnya tetap berlaku.

Sebagian Muslim Mujahirin (Muslim Mekah yang ikut hijrah bersama Nabi ke Medinah) seringkali memanggil Nabi langsung dengan namanya saja dan mengunjunginya tanpa diundang atau tanpa bilang terlebih dahulu. Sikap tak sopan ini menjengkelkan Nabi dan dia lalu menggunakan Qur’an untuk mengatasi masalah ini (ibid: 583). Ayat baru menetapkan bahwa Muslim harus bayar jika ingin bertemu dan berbicara pada Nabi (ibid). Al-Qimni menjelaskan bahwa sedekah dalam hal ini berarti uang konsultasi yang harus dibayar kepada Nabi. Kata sedekah juga bisa berarti memberi uang pada orang miskin. Ini ayatnya:

Qur’an, Sura Al-Mujaadalah (58), ayat 12
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan itu . Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini membuat para Muslim enggan bertemu dan berkonsultasi dengan sang Nabi. Ketika para Muslim yang ingin tahu mempertanyakan ayat ini, Allâh lalu membatalkan ayat di atas dan menggantinya dengan ayat berikut:

Qur’an, Sura Al-Mujaadalah (58), ayat 13
Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi tobat kepadamu maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat Pedang juga merupakan contoh lain yang membatalkan ayat² lainnya.

Qur’an, Sura At-Taubah, ayat 5
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Menurut Ibn Al-Arabi “semua ayat² Qur’an yang menyatakan pengampunan bagi kafurn dan pencegahan membunuh mereka telah dibatalkan oleh aat pedang… ayat ini telah membatalkan seratus dua puluh ayat” (ibid: 584). Masalah mulai timbul saat Uthman mengumpulkan ayat² Qur’an dan menyusun semua ayat sedemikian rupa sehingga ayat² yang dibatalkan tercampur aduk dengan ayat² yang membatalkan (ibid). Penyusunan ini menimbulkan kebingungan dan kontradiksi dalam Qur’an versi Uthman, yang digunakan sampai hari ini.

3. Aturan hukum dan pelafalan ayat dibatalkan.

Menurut Aisyah, Sura Al-Ahzab terdiri dari 200 ayat ketika Nabi masih hidup, tapi ‘Uthman hanya mengumpulkan 70 atau 71 ayat² saja (ibid: 590). Muslama Ibn Mukhlid berkata, “Katakan padaku dua ayat yang tak tertulis dalam Qur’an dan ketika tiada seorang pun yang dapat memberitahunya, dia lalu melafalkan ‘mereka yang percaya, melakukan hijrah, dan berperang demi Allâh dengan uang dan jiwa mereka; sesungguhnya mereka adalah orang² yang berhasil. Dan mereka yang memberinya tempat bernaung, kemenangan, dan memerangi orang² yang dikutuk Allâh, kepada merekalah tiada jiwa yang mengetahui pahala yang telah disediakan sebagai hadiah atas apa yang telah mereka lakukan’” (ibid: 591).

Untuk membuktikan bahwa Qur’an jaman sekarang tidak lengkap, Al-Qimni mengutip kasus Aisyah yang menyuruh juru tulis Qur’annya untuk menambahkan ayat berikut: “Peliharalah segala salat, dan salat wusthaa dan salat al-asr. Berdirilah karena Allah dengan khusyuk.” (ibid). (Adadeh: Menurut Aisyah, Qur’an, Sura Al-Baqarah (2), ayat 238) tidak lengkap karena tidak mengandung kata ‘salat al-asr’. Keterangan ini diambil dari kumpulan hadis sahih Jami‘ At-Tirmidhi – oleh Imam Hafiz Abu ‘Eisa Mohammad Ibn ‘Eisa At-Tirmidhi [Darussalam Publishers & Distributors, Edisi pertama: November 2007], ahadith diedit dan diperiksa oleh Hafiz Abu Tahir Zubair ‘Ali Za’i, diterjemahkan oleh Nasiruddin al-Khattab (Canada), diperiksa terakhir kali oleh Abu Khaliyl (USA), Volume 5, dari hadis nomer 2606 sampai 3290, Bab 2. Tentang Surat Al-Baqarah, hal. 302-303).

Taha Husyein berkata tentang hal ini “Qur’an diwahyukan dalam tujuh huruf (dialek) saja , dan ‘Uthman mengurangi apa yang ingin dikuranginya dalam Qur’an dan membakar apa yang ingin dia bakar dari Qur’an. Dengan begitu “Uthman mengurangi ayat² yang telah diwahyukan Allâh dan membakar versi² Qur’an yang mengandung ayat² yang dipelajari umat Muslim dari sang Nabi. Imam Uthman tidak seharusnya menyembunyikan satu pun ayat Qur’an atau menghapus ayat² dari Qur’an.” (ibid).

Menurut Al-Qimni, keberadaan ayat² Nasikh dan Mansukh dalam Qur’an tidak seharusnya dilihat sebagai kontradiksi (bertentangan satu dengan yang lain). Baginya, buku Allâh itu sempurna, lengkap, dan bebas dari kontradiksi. Akan tetapi, sungguh sukar bagi pengamat jeli untuk tidak melihat kontradiksi dalam Qur’an. Contohnya, ketika Nabi hijrah ke Medinah, “situasi dan kondisi membutuhkan adanya ayat² Qur’an yang memerintahkan Muslim untuk memuji-muji bani Israel, nabi² mereka, dan pernyataan Allâh yang memilih mereka di atas bangsa² lain, bahwa Taurat merupakan buku pembimbing yang benar, dan mereka harus mengikuti apa yang tertulis dalam Taurat mereka” (ibid: 588). Akan tetapi sikap bersahabat dengan kaum Yahudi ini berubah karena persekutuan dengan kaum Yahudi sudah tidak dibutuhkan lagi “setelah kemenangan di Perang Badr di mana Muslim mendapatkan banyak senjata, kekayaan, dan kekuatan” (ibid: 589).

Sungguh mengejutkan bahwa setelah peristiwa Badr, Nabi tiba² saja mendapatkan bahwa kaum Yahudi “telah mengganti Taurat yang asli sehingga Muslim wajib untuk membunuh mereka karena telah mengganti ayat² Allâh” (ibid). Al-Qimni melihat perilaku Muhammad yang sama terhadap orang² Kristen “setelah Muslim tidak butuh Abyssinia dan Nagashi lagi, maka ayat² Qur’an pun mulai menyerang dogma² Kristen” (ibid). Ketika umat Muslim masih sedikit dan lemah di Mekah “ayat² bijak Qur’an cocok dengan posisi mereka yang lemah di tengah² masyarakat pagan mayoritas yang memusuhi mereka, dan karena itu pula ayat² Qur’an Mekah mengandung pesan kebebasan beragama dan tak ada paksaan beragama Islam dan hukuman di Hari Kiamat akan ditentukan Allâh” (ibid). Al-Qimni melanjutkan, “setelah hijrah dari Mekah ke Medinah, dan setelah Perang Badr dan berubahnya keadaan umat Muslim dari lemah ke kuat, maka munculah ayat² Nasikh yang membatalkan kemerdekaan beragama dan memerintahkan Muslim untuk memerangi dan membunuhi non-Muslim” (ibid). Al-Qimni berusaha mengatasi masalah kontradiksi ayat² Qur’an melalui penjelasan konteks sejarah mengapa ayat² itu diturunkan atau “asbab al-nuzul”.

[DAFTAR ISI] | [Bab VI] [Bab VIII]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: