Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab VI

[DAFTAR ISI] | [Bab V] [Bab VII]

BAB VI

Kalifah Uthman ibn ‘Affan

Uthman merupakan Kalifah ketiga diantara mereka yang disebut umat Muslim sebagai Empat Kalifah Teladan, yakni Abu Bakr, ‘Umar, Uthman, dan ‘Ali. Dalam bukunya yang berjudul Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini), di bawah artikel yang berjudul “Kita Tidak Boleh Melupakan Sejarah dan Harus Memiliki Hikmat dan Kesadaran”, Al Qimni meluruskan tuduhan yang mengatakan seorang Yahudi bernama Ibn Saba’a membunuh Kalifah Uthman ibn ‘Affan (ibid: 105). Menurut al-Qimni, ibn Saba’a tidak bersalah atas darah Uthman. Kalifah Utham sendirilah yang bersalah atas kematiannya. Al-Qimni bertanya “Jikalau negara Islam itu merupakan negara terhebat di dunia di saat Kalifah ketiga yang telah menerapkan Syariah Islam dan Hudud, dan menegakkan ibadah dan aturan Islam, maka mengapa dia lalu dibunuh?” (Al-Qimni 1996: 105). Al-Qimni menjawab artikel Islam yang diterbitkan di koran Al-Ihram yang menyatakan “pada jaman Uthman, terdapat kekayaan berlimpah-ruah di Medina, sampai² Jariya (budak wanita) dijual dengan jumlah emas yang sama dengan berat badannya” (ibid: 107). Menurut al-Qimni, majikan Jariya yang cantik jelita itu membayar sangat mahal karena mengharapkan wanita itu dapat memuaskannya di ranjang. Akan tetapi, pertanyaan al-Qimni yang terpenting adalah: dari mana emas sebanyak itu dimiliki Muslim? Untuk menjawab pertanyaan ini, al-Qimni berkata, “Emas itu datang dari negara² yang diserang dan dijarah tentara Muslim. Sebelum emas² itu dimiliki majikan Jariya, emas² itu tersebar dalam harga seekor kambing milik petani Mesir miskin, dalam harga gandum milik orang Iraq yang hidup dalam gubug, dalam harga kambing milik orang Syria yang menggembalakan ternaknya di padang rumput” (ibid). Dengan kata lain, tentara Muslim merampoki ternak dan gandum milik para penggembala, petani, dan buruh miskin di negara² yang mereka serang dalam nama Islam. Hasil ternak dan gandum rampokan ini dibawa ke Medina dan dijual dan hasilnya berupa emas yang digunakan untuk membeli Jariya atau budak wanita. Dengan demikian, keringat para petani Mesir, pedagang Irak, dan penggembala Syria dikumpulkan dan dijual dan “dituangkan dalam satu wadah timbangan dan di wadah timbangan lainnya berdiri seorang Jariya yang cantik jelita” (ibid). Buku² sejarah Islam menjelaskan bahwa “salah satu sahabat nabi meninggalkan harta sebanyak lebih dari 5 juta dinar setelah dia mati dan sahabat lainnya meninggalkan emas yang dibagi-bagi dengan kampak.” (ibid).

Kalifah Umar terkenal akan sikap nepotismenya. Dia mengambil harta dari perbedaharaan sosial umat Muslim dan menyogok orang² yang menentang kekuasaannya (ibid). Dia mengirim dua sahabat Nabi – Aba Zar al-Jaifari dan Yasir ibn Amar – ke pengasingan karena keduanya berani menegur kebijaksanaannya (ibid). Sebelum diasingkan, Uthman terlebih dahulu menginjak-injak Yasir dengan kakinya sampai Yasir pingsan. Yasir adalah salah seorang dari orang² Muslim yang dijanjikan surga oleh Nabi. Uthman menunjuk Ibn Abi al-Sarah sebagai gubernur (penguasa) Mesir sedangkan semua umat Muslim pada saat itu mengetahui bahwa ada ayat Qur’an yang menuduh Ibn Abi al-Sarah sebagai kafir. Al-Qimni tidak menyebut apa ayat Qur’an ini, tapi tampaknya dia mengetahui ini dari salah satu tafsir Qur’an. Dalam buku²nya, al-Qimni mengutip penulis² Muslim terkenal dalam Umaha’at al-Kitab al-Islamia atau Ibu dari Segala Sumber Literatur Islam, seperti misalnya Ibn Kathir, al-Tabari, Ibn Sa’ad, Al-Qurtubi, Al-Sira Al-Halabiyah, Sirat Ibn Hisyam, Sahih Al-Bukhari, dan Sahih Muslim. Ketika al-Qimni diajukan ke pengadilan gara² bukunya yang berjudul Rab al-Zaman (Tuhan Masa Kini), pihak penuntut pengadilan tidak bisa menyerangnya karena semua yang ditulis al-Qimni bersumber dari buku² literatur Islam, yang diakui kesahihannya oleh Universitas Al-Azhar.

Kembali pada kisah Uthman, al-Qimni menjelaskan bahwa ketika beberapa orang Mesir datang ke Medina dan mengeluh pada Uthman tentang Ibn Abi al-Sarah, Uthman menghardik mereka dan membunuh salah seorang dari mereka. Uthman juga menunjuk saudara laki tirinya yang bernama Al-Walid Ibn Agaba sebagai gubernur Kufa, padahal umat Muslim sudah mengetahui Al-Walid telah pernah menipu Nabi dan jadi murtadin setelah Nabi wafat. Al-Walid Ibn Agaba sering memimpin umat Muslim sholat di Kufa dalam keadaan mabuk berat (ibid: 109). Kelakuan Al-Walid Ibn Agaba yang tidak Islamiah ini membuat Ibn Al-Ashtar menegur Uthman dengan keras, “Dari Malik Ibn al-Harith pada Kalifah yang korup, berdosa, benci akan Sunnah Nabi, dan diam² menyangkal aturan Qur’an, jauhkan kami dari Walid dan Sa’ad milikmu dan dari siapapun yang kau kirim dari rumahmu pada kami.” (ibid: 108).

Pemberontakan Muslim Mesir dikobarkan oleh Muhammad Ibn Abi Huzifa, Mohammad ibn Abi Bakr al-Sadiq (putra Abu Bakr, Kalifah pertama), dan Yasir ibn Amar (ibid: 109). Ketiga sahabat Nabi ini berangkat dari Medina ke Mesir untuk menggerakkan massa melawan Uhtman. Di samping semua pertentangan ini, Uthman juga mengumpulkan Musahaf atau buku² berbagai versi Qur’an (ibid: 109-110). Terdapat banyak jenis Qur’an di jaman Uhtman, yang masing² berisi berbagai Sura dan ayat² yang berbeda dengan yang lain. Contoh singkatnya, ada Musahaf versi Aisyah, versi Hafsa, dan versi Ibn Masud. Uthman memilih Musahaf milik Hafsa, putri Abu Bakr sang Kalifah pertama, dan membakar semua Musahaf lainnya. Perbuatan Uthman ini menyebabkan “Ibn Masud, yang disebut sebagai sahabat sejati dan tercinta Nabi, protes berat terhadap apa yang dilakukan Uthman pada firman Allâh” (ibid: 110). Sebagai jawabannya, Uthman mengusir Ibn Masud keluar dari mesjid dan memerintahkan pemukulan atas dirinya sampai tulang iganya patah (ibid). Ali bin Abi Talib, sang Kalifah keempat dan suami Fatima (putri Nabi), tidak mau menyerahkan Musahaf miliknya, tapi Uthman merampasnya dengan paksa. Al-Qimni menulis kesimpulan dalam artikelnya dengan pertanyaan, “Apakah peranan Ibn Saba’a dalam hal ini dan siapakah sebenarnya yang melawan Allâh?” (ibid: 110). Apa yang dimaksud al-Qimni adalah kebijaksanaan Uthman yang korup, nepotis, dan tercela menyebabkan dirinya tertimpa bencana, sampai akhirnya dia dibunuh.

[DAFTAR ISI] | [Bab V] [Bab VII]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: