Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab V

[DAFTAR ISI] | [Bab IV] [Bab VI]

BAB V

Kalifah ‘Umar ibn al-Khattab

Muhammad wafat sebelum mampu mewujudkan impiannya untuk merampok dan menjarah kekayaan, wanita² dan anak² di luar wilayah Arabia. Pengganti Muhammad yang pertama yakni Abu Bakr juga wafat sebelum bisa mewujudkan impian Nabi. Kalifah Abu Bakr menghabiskan dua tahun masa kekuasaannya untuk menaklukkan suku² Arab yang dituduh murtad dari Islam setelah Nabi wafat. Akan tetapi, di masa Kekalifahan Kedua ‘Umar bin Al-Khattab (10 tahun) dan masa Kekalifahan Ketiga Uthman ibn ‘Affan (13 tahun), dunia non-Arab diserang tentara Muslim dan para sahabat Nabi mewujudkan impian Nabi.

Di masa pemerintahan Kalifah Umar, tentara Muslim menyerang banyak negara dan mencapai daerah Asfahan di Iran sampai Tripoli di Libya.

  1. Di tahun 14 H (14 Hijriah = 635 M), Damaskus, Hams, Balabak dan al-Basra diserang dan ditaklukan.
  2. Di tahun 15 H (636 M), Yordania diserang dan tentara Muslim mengalahkan tentara Romawi di Perang al-Yarmuk, dan menaklukan Persia di Perang al-Qadisia.
  3. Di tahun 16 H, tentara Muslim menyerang al-Ahwaz dan al-Madain di Perang Jawala, dan Kaisar Persia kalah dan melarikah diri di Perang Yazidiger. Di tahun yang sama Takrit di sebelah selatan Irak diserang, dan tentara Muslim juga menyerang Qansarin, Halab, Antakia, Soroog, dan Qirqasa.
  4. Di tahun 18 Hijriah, Jawan, al-Rahad, Simisa, Haran, Nasibien, al-Mawsil, dan al-Jazeera diantara Iraq and Syria diserang dan dijarah.
  5. Di tahun 19 Hijriah, sebagian tanah kekuasaan Caesar ditaklukan.
  6. Di tahun 20 H, tentara Muslim menyerang sebelah barat Mesir dan kota Tastar di Iran.
  7. Di tahun 21 H, tentara Muslim menyerang Alexandria di Mesir, Nahawand di Iran, dan Barqah di Libya.
  8. Di tahun 22 H, tentara Muslim menyerang Azerbaijan, al-Dinior, Masibzank, Hazan, al-Rai, dan Asker dan Qamwams di Asia Tengah, dan Tripoli di Libya.
  9. Di tahun 23 H, Kalifah Umar dibunuh, tentara Muslim menyerang Kerman, Sajistan, Makran, dan Isfahan.

Dalam pertempuran berdarah ini, ribuan kafir dibunuh oleh tentara Muslim. Banyak para wanita yang diperkosa dan banyak anak² yang diperbudak. Banya rumah² yang dibakar, dijarah, dan ribuan keluarga dihancurkan. Para Muslim merampoki dan menjarahi kekayaan daerah² tersebut, membagi-bagi kekayaan, para wanita, dan anak² diantara mereka sendiri. Mereka tidak ingin berkhotbah tentang Islam, tapi hanya ingin merampok, memperbudak, dan memperkosa. Hal ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus tentang Setan di mana dia berkata, “Pencuri (Setan) datang hanya untuk mencuri, untuk membunuh dan untuk merusak. Tetapi Aku datang untuk memberi kehidupan dan hidup yang berkelimpahan.” Untuk mengetahui seberapa besar kerusakan dan kehancuran yang dilakukan para Mulsim Mujahidin terhadap negara² yang mereka serang, mari baca keterangan penulis sejarah Islam al-Tabari di buku²nya yang berjilid-jilid banyaknya, yang berjudul al-Tarik atau Sejarah. Salah satu tentara Muslim Arab yang bernama Mahafaz mengisahkan pengalamannya dalam peperangan itu. Di tahun 16 H, dia ikut dalam Perang Jawala di Iran. Dia berkata, “Kami memasuki kota dan aku melihat wanita yang bagaikan seekor kijang dalam kejelitaannya dan wajahnya bercahaya bagaikan matahari. Aku ambil dia dan bajunya dan dia jadi Jariah atau ‘budak wanita’ milikku.” (al-Tabari, volume 4, hal. 26-27).

Tujuan peperangan dan penyerangan ini tidak hanya untuk memperbudak dan memperkosa para wanita di negara² tersebut, tapi juga untuk merampok harta kekayaan. Dalam beberapa tahun saja, para sahabat Nabi jadi begitu kayaraya sehingga kekayaan mereka berjumlah jutaan dinar. Beberapa contoh berikut menunjukkan berapa banyak harta yang dirampas para sahabat Nabi dari negara² yang mereka serang.

  1. Ketika Kalifah ketiga Uthman dibunuh, dia memiliki ‘ribuan atas ribuan’ dan lima ratus rib dirham dan seratus ribu dinar. Hal ini sama dengan kekayaan jaman modern jutaan dollar AS.
  2. Al-Ziabri ibn al-Awam memiliki harta sebanyak limapuluh dari ribuan atas ribuan dirham dan dua ratus ribu dinar. Selain itu dia punya banyak perumahan di Alexandria, Basra, dan Kufa. Ketika dia mati, dia meninggalkan sebuah taman yang besar yang berharga ribuan atas ribuan dan enam ratus ribu dinar.
  3. Abd el-Rahman ibn Awof ketika wafat meninggalkan emas yang dipecah-pecahkannya dengan menggunakan kampak.
  4. Sa’ad ibn Abi Waqas meninggalkan harta sebanyak dua ratus dan limapuluh ribu dirham.
  5. Ibn Masood meninggalkan harta sebanyak sembilan puluh ribu dirham.
  6. Talha bin Abdi Allâh memiliki cincin emas yang bertakhtakan berlian. Nafkahnya sehari-hari datang dari tanahnya di Irak yang menghasilkan uang sebanyak seribu dirham atau empat ratus atau lima ratus dirham setiap tahun. Ketika dia wafat, dia meninggalkan dua ribu dan dua ratus ribu dirham dan dua ratsu ribu dinar. Selain itu, dia memiliki ratusan kendi penuh dengan emas.
  7. Umar bin al-A’as meninggalkan harta sebanyak tujuh puluh kendi berisi emas murni. Ketiak dia hampir mati, dia menawarkan emasnya pada putra²nya tapi mereka menolaknya karena yakin harta itu dimiliki melalui cara yang tidak benar.
  8. Ketika Zayd wafat, dia meninggalkan emat yang dipotong-potong dengan kampak.

(Tabaqat dari ibn Sa’ad, hal. 53, 76, 77, 157; al-Masoodi dalam buku Murouj al-Zahab, volume 1, hal. 544-545, Khitat al-Maqarizi, volume 1, hal. 140, 564).

Pembunuhan Kalifah ‘Umar

‘Umar seringkali memperingatkan gubernur² Muslimnya untuk tidak mengirim budak apapun atau mualaf manapun ke ibukota negara Islam di Medina. Dia takut bahwa orang² yang kehilangan istri, anak, dan sanak keluarga gara² diserang Muslim akan balas dendam terhadapnya. ‘Umar menyebut orang² non-Arab dengan sebutan ‘Alwoj yang berarti kotor atau najiz. Di dalam setiap suratnya pada para gubernurnya, dia memerintahkan agar mereka menjauhkan para ‘Alwoj dari dia. Meskipun demikian, salah satu ‘Alwoj ini berhasil datang ke Medina dan membunuh ‘Umar dalam usaha balas dendam atas kehancuran keluarganya.

Abu Loloa adalah seorang Persia yang jadi tawanan perang Muslim di kota Nahawand, Persia. Tentara Arab Muslim menghancurkan rumahnya, keluarganya, anak²nya, dan negaranya, padahal masyarakat Iran tidak pernah mengganggu umat Muslim sama sekali. Setelah Abu Loloa kehilangan segalanya, dia dijadikan budak milik majikan Muslimnya yakni al-Muqirah bin Sha’ba. Untuk alasan tertentu, al-Muqirah mengirim Abu Loloa ke Medina. Ketika Abu Loloa masuk Medina, dia sedih sekali melihat anak² Persia dan negara² lain memenuhi jalanan Medina. Dia mencari anak²nya sendiri diantara mereka tapi tak mendapatkannya. Tangisan anak² ini membuat hatinya semakin hancur. Menurut Ibn Sa’ad, “Abu Loloa sering menemui anak² tawanan perang dan dia menangis tiap kali dia melihat mereka dan mengusap kepala mereka dengan tangannya, dan dia berkata, ‘Orang² Arab memakan hatiku.’ Maka dia membunuh ‘Umar atas pembalasan bagi yang dilakukan ‘Umar terhadap para tawanan perang.” (Ibn Sa’ad, al-Tabaqat al-Kubara, volume 3, hal. 271). Abu Loloa membunuh Kalifah ‘Umar di dalam mesjid saat sholat subuh. Dia berpura-pura jadi Muslim dan masuk mesjid untuk sholat di belakang Kalifah ‘Umar. Saat Kalifah ‘Umar dan umat Muslim sedang berlutut dalam bersholat, Abu Loloa maju dan menusuk mati ‘Umar.

Setelah pendahuluan singkat tentang kepemimpinan ‘Umar, mari kita kembali pada al-Qimni dan apa pendapatnya tentang ‘Umar. Al-Qimni menyalahkan ‘Umar ibn al-Khattab, sang Kalifah kedua, karena melarang apa yang diijinkan dalam Qur’an. Qur’an mengijinkan praktek nikah Muta’a (nikah sementara atau nikah untuk senang² saja) (Q 4:24), tapi Kalifah ‘Umar melarangnya dan mengancam menghukum siapapun yang berani melakukan hal itu (Al-Qimni 2004: 236). Ketika Nabi hampir meninggal, Nabi meminta pengikutnya untuk memberinya sebuah kertas agar dia menulis surat untuk mencegah umat Muslim menyeleweng dari aturan Islam. ‘Umar berkata, biarkan dia sendirian, dia itu gila (ibid). Selain itu, setelah berkuasa ‘Umar terkenal suka menyuruh pengikutnya memata-matai rumah² orang di malam hari.

Peraturan ‘Umar

Ketika tentara Islam menyerang daerah² Kristen seperti Mesir, Yordania, Syria, Palestina, dan Lebanon, Kalifah kedua yakni ‘Umar ibn al-Khattab memaksa penduduk daerah itu untuk menandatangani peraturan dengan Pemerintah Muslim yang menjajah mereka:

  1. Kami tidak akan membangun dalam kota kami dan lingkungan perumahan kami, biara² baru, gereja² baru, tempat² ibadah baru, dan kami pun tidak akan memperbaiki di siang atau malam hari bangunan² itu jika rusak atau jika terletak di daerah umat Muslim.
  2. Kami akan membiarkan pintu pagar kami terbuka bagi orang yang bertamu atau pengelana. Kami akan menyediakan tempat tinggal bagi semua Muslim yang melewati jalanan kami selama tiga hari.
  3. Kami tidak akan menyediakan tempat persembunyian bagi mata² yang dicari Muslim di dalam gereja² atau rumah² kami.
  4. Kami tidak akan mengajar Qur’an kepada anak² kami.
  5. Kami tidak akan menyebarkan agama kami di muka umum atau mengajak siapapun memeluk agama kami. Kami tidak akan menghalangi siapapun anggota keluarga kami memeluk Islam jika mereka menghendakinya.
  6. Kami akan menunjukkan rasah hormat pada Muslim, dan kami akan berdiri dari tempat duduk jika Muslim ingin duduk di situ.
  7. Kami tidak akan meniru Muslim dalam memakai pakaian, turban, sepatu, atau cara menyisir rambutnya. Kami tidak boleh bicara seperti cara mereka berbicara, dan kami pun tidak boleh meniru cara Muslim memberi julukan hormat (kunya).
  8. Kami tidak akan naik pelana, tidak akan mengasah pedang, atau mengenakan atau membawa senjata.
  9. Kami tidak akan menorehkan tulisan Arab pada tanda cap/stempel kami.
  10. Kami tidak akan menjual minuman beralkohol.
  11. Kami akan mencukur bagian depan kepala kami (tanda Arab yang berarti hinaan)
  12. Kami akan pakai pakaian dengan cara sama dan akan selalu mengikatkan zunar di sekeliling pinggang kami.
  13. Kami tidak akan menunjukkan salib² kami atau buku² kami di jalanan atau di pasar Muslim. Kami akan bertepuk tangan perlahan dalam gereja² kami. Kami tidak akan menangis keras² jika ada anggota kami yang mati. Kami tidak akan menggunakan penerang di jalanan atau pasar Muslim. Kami tidak akan mengubur jenazah kaum kami dekat umat Muslim.
  14. Kami tidak mengambil budak yang telah disediakan bagi Muslim.
  15. Kami tidak akan membangun rumah yang lebih tinggi daripada rumah² Muslim.
  16. (Ketika aku membawa surat ini pada Umar, semoga Allâh berkenan padanya, dia menambahkan, “Kami tidak akan menyerang Muslim.”)
  17. Kami menerima keadaan² ini bagi kami dan bagi masyarakat kami, dan sebagai imbalan kami menerima keamanan.
  18. Jika kami melanggar peraturan ini, kami kehilangan status dhimmi, dan kami akan dihukum.
  19. ‘Umar ibn al-Khattab memerintah: Tandatangani pernyataan mereka, tapi tambahkan dua hal dan tetapkanlah mereka dengan tambahan persyaratan ini: “Mereka tidak boleh menebus siapapun yang dijadikan tawanan oleh umat Muslim,” dan “Siapapun yang menyerang Muslim dengan sengaja akan kehilangan perlindungan yang disetujui dalam perjanjian ini.”

‘Umar Ibn dikenal umat Muslim sebagai sebagai hakim atau penguasa yang paling bijak yang pernah ada di muka bumi. Karena alasan inilah maka dia dijuluki ‘Umar al Faruq yang berarti ‘Umar yang Bijak. Akan tetapi Aturan ‘Umar di atas tidak sesuai dengan julukan itu. Al-Qimni mengutip keterangan Ibn Kathir bagaimana ‘Umar memutuskan masalah tuduhan zinah.

Ini merupakan kasus penting yang menunjukkan bagaimana ‘Umar ibn al-Khattab menerapkan hukum rajam dalam kasus zinah… Kisah ini merupakan kisah sejarah terkenal dalam sejarah Arab. Kisah ini terjadi di tahun 17 Hijriah. Tiada buku Islam yang tidak memuat kisah ini. Tiga sahabat Nabi yang penting yakni Abi Bikra, Nafi ’a bin al-Harith, dan Shibal binMa’abad mengaku di hadapan ‘Umar ibn al-Khattab bahwa mereka menyaksikan al-Mughirah ibn Shu`bah berzinah dengan Um Jamil sewaktu al-Mail masuk ke dalam al-Mukahal. Para tiga sahabat mengaku melihat perzinahan tanpa rasa malu atau takut. Ketika sahabat Nabi yang keempat yakni Zaiad ibn Shamalah muncul, Kalifah ‘Umar meyakinkannya bahwa dia tidak akan mengecewakan al-Mughirah ibn Shu`bah. Lalu dia menanyakan apa yang dilihat Zaiad.

Dia menjawab, “Aku melihat mereka, dan mendengar dengusan nafas yang kuat, dan kulihat dia telungkup di atas perut dan payudara Um Jamil.”

‘Umar berkata, “Apakah kau melihat dia memasuk-keluarkan penisnya saat al-Mail masuk ke dalam al-Mukahal?”

Dia menjawab, “Tidak. Tapi aku melihat dia mengangkat kedua kaki Um Jamil dan tubuhnya naik turun diantara kedua kaki Um Jamil. Dan aku melihat dia melakukannya dengan sepenuh tenaga dan aku mendengar dengusan nafas yang keras.”

‘Umar bertanya, “Apakah kau melihat dia memasuk-keluarkan penisnya saat al-Mail masuk ke dalam al-Mukahal?”

Dia menjawab, “Tidak.”

‘Umar berkata, “Allahu Akbar. Panggil al-Mughirah ibn Shu`bah kemari dan beri ketiga saksi delapan puluh cambukan.” (ibid: 2001, mengutip dari Ibn Kathir, al-Bedyia wa al-Nihaia, hal. 83-84).

Untuk membuktikan tuduhan zinah dalam Islam, harus ada empat saksi yang mengaku di pengadilan bahwa mereka menyaksikan pelaku melakukan perzinahan. Sebelum istri favorit Nabi yakni Aisyah dituduh berzinah dengan pemuda Muslim tampan Safwan bin Al-Muatal Al-Sulami, perzinahan bisa dibuktikan cukup dengan saksi 2 Muslim saja atau 1 Muslim + 2 Muslimah saja. Akan tetapi, setelah kasus Aisyah dan Safwan, Qur’an lalu menambahkan jumlah saksi jadi 4 Muslim.

Qur’an, Sura An-Nuur (24), ayat 4
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

Meskipun demikian, setelah kasus al-Mughirah ibn Shu`bah dan Um Jamil, Kalifah ‘Umar ibn al-Khattab memperkenalkan penggunaan benang sebagai metoda penting dalam membuktikan tuduhan zinah. Jadi, selain harus ada 4 saksi, Syariah menuntut saksi membawa sebuah benang dan memasukkan benang itu diantara tubuh pezinah wanita dan tubuh pezinah pria. Jika benang tidak berhasil melalui kedua tubuh mereka, maka hal ini membuktikan penis pria masuk ke dalam vagina wanita. Beginilah bukti yang diminta Kalifah ‘Umar dari keempat saksi yang memang melihat al-Mughirah ibn Shu`bah dan Um Jamil bersetubuh. Melihat cara ‘Umar menangani kasus zinah ini, apakah ‘Umar itu layak dijuluki sebagai hakim yang paling bijak yang pernah ada di muka bumi?

[DAFTAR ISI] | [Bab IV] [Bab VI]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: