Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab IX

[DAFTAR ISI] | [Bab VIII] [Bab X]

BAB IX

Ajaran Muhammad Tentang Wanita

Menurut Daniel Boyarin, “Agama jelas merupakan sistem utama dalam sebagian besar budaya dalam menentukan peranan gender (lelaki dan wanita)” (Boyarin 1998: 117). Karena itulah, untuk mengetahui peranan laki dan wanita dalam umat Muslim, kita harus mengetahui apa yang dikatakan Qur’an tentang peranan Muslim dan Muslimah. Banyak tokoh feminis Muslimah di jaman modern ini yang menelaah secara kritis dan menulis ulang permasalahan gender dalam Islam. Kebanyakan dari mereka mengatakan Muslimah ditekan dan dilarang berkembang dalam Islam. Akan tetapi, mereka membantah hal ini berasal dari ajaran Qur’an, tapi lebih merupakan hasil tradisi/budaya yang menempatkan wanita di posisi rendah. Untuk menaikkan derajat wanita sejajar dengan derajat pria, para feminis Muslimah ini meminta ahadis (hadis² akan perkataan dan perbuatan Nabi) yang menjelekkan wanita harus disingkirkan. Mereka yakni ahadis sial ini merupakan rekayasa para pemimpin Muslim dan ahli Islam generasi berikut setelah Nabi wafat dan ahadis ini tidak mewakili pesan asli Qur’an, yang diakui mereka memberikan persamaan hak antara laki dan wanita. Akan tetapi, banyak Muslim ahli Islam yang menyangkal tuduhan pihak feminis Muslimah. Fundementalis Muslim yakin sekali ahadis itu merupakan perkataan Nabi yang asli 100% dan menolaknya berarti menyangkal perkataan Nabi Muhammad. Selain itu, mereka yakin pula bahwa tidak mungkin untuk benar² mengerti Qur’an tanpa penjelasan dari hadis yang menerangkan isi Qur’an.

Dengan demikian, dalam dunia umat Muslim modern, hadis (cara hidup, perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad) menjadi bahan perdebatan diantara para ahli Islam. Di satu pihak, kaum feminis Muslimah, reformis Islam, dan modernis Muslim meminta pesan² Islam yang jelek yang mereka anggap bertentangan dengan pesan Islam yang asli untuk disingkirkan, sedangkan pesan Qur’an tentang persamaan hak bagi laki dan wanita mereka dianggap sebagai pesant Islam yang asli. Di lain pihak, kaum fundamentalis, tradisionalis, dan konservatif Muslim menerima seluruh ahadis Islam, yang kemudian juga diterapkan dalam Hukum Syariah Islam . Meskipun pihak terakhir ini juga berusaha membedakan mana hadis yang sahih dan mana yang lemah, tapi perseteruan antara kedua pihak tetap berlangsung. Karena pengaruh² luar, jarak perbedaan antara kedua pihak makin lama makin lebar. Pertentangan hal akademis dan masalah Islam ini tidak berpengaruh banyak terhadap kedudukan Muslimah dalam umat Muslim. Kebanyakan Muslim modern menerima saja ajaran Islam yang disampaikan pada mereka dari generasi dulu ke generasi berikutnya dan dipertahankan dalam Hukum Syariah, yang bersumber dari Qur’an dan Hadis.

Dalam tulisan ini, aku akan menelaah secara kritis pandangan² para feminis Muslimah dan melihat apakah pandangan mereka bisa dipertahankan dalam menghadapi tradisi turun-temurun Islam di mana Syariah Islam yang bersumber pada Qur’an dan Hadis mengatur semua norma dan hukum kehidupan Muslim. Para Muslim ahli Islam setuju akan kesahihan dua koleksi Hadis yakni Bukhari Sahih dan Muslim Sahih. Selain itu, terdapat pula koleksi hadis lainnya seperti Muwatta Malik, Sunan Abu Daud, dan Tirmizi yang juga diakui kebenarannya dan banyak digunakan dalam Syariah. Umumnya, “Koleksi Hadis merupakan tulisan rinci tentang apa yang dikatakan dan diperbuat Nabi. Bersama Qur’an, Hadis merupakan sumber hukum dan acuan untuk membedakan mana yang haram dan halal, yang benar dan yang salah – sumber² hukum ini membentuk etika dan nilai² moral Muslim” (Mernissi 1993: 1). Bagi kebanyakan Muslim, “Hadis sahih merupakan tulisan yang sakral, yang kedua setelah Qur’an yang suci” (Strowasser 1992: 1). Dalam membandingkan kesucian Qur’an dan Hadis:

Hadis Sahih dianggap sebagai ketetapan illahi tapi bukan sebagai seperti wahyu Allâh (karena dalam Qur’an yang Muhammad berkata), “dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan” (Q 53:3-4). Satu²nya perbedaan antara Qur’an dan Hadis adalah Qur’an disampaikan oleh malaikat Jibril dan setiap kata berasal dari Allâh, sedangkan Hadis dinyatakan tanpa melalui huruf ataupun kata (Haqq & Newton 1996:1).

Qur’an mendukung kesahihan Hadis dan Muslim dan Muslimah harus tunduk pada Qur’an dan Hadis:
Q 33:36
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Meskipun terdapat keyakinan kuat akan isi Hadis, di jaman modern ini kita dapatkan banyak Muslim ahli Islam yang tidak ragu mempertanyakan keaslian Hadis, terutama kaum feminis dan reformis Muslim. Mereka mengakui kedudukan penting Hadis dalam Islam tapi mereka ingin membedakan Hadis yang sahih dan yang lemah. Mereka menggunakan Qur’an dalam menentukan perbedaan ini. Hadis manapun yang bertentangan dengan pesan Qur’an tentang kesamaan hak harus ditolak. Pandangan seperti ini tentunya menganggap Qur’an tidak mengandung pesan yang jelek. Salah satu tokoh feminis Muslimah adalah Riffat Hassan yang berkata, “Sudah jelas dalam ajaran Qur’an bahwa lelaki dan wanita punya kedudukan sama di hadapan Allâh” (Hassan 2001: 63). Meskipun begitu, pesan kesamaan hak dalam Qur’an tetap saja diperdebatkan. Sebagian feminis Muslimah melihat kontradiksi dalam Qur’an dan hal ini tampak nyata bagi mereka dalam ayat² Qur’an yang mengajarkan pria lebih superior dibandingkan wanita, poligami, cerai, dan pemukulan pada istri (Q 4: 34, 4: 3, 2: 228, 2: 282, 6: 10). Feminis Muslimah Nawal El-Saadawi merupakan salah satu feminis yang melihat kontradiksi dalam Qur’an. Dia berkata, “Allâh berkata dalam buku sucinya bahwa Dia menciptakan lelaki dan wanita dari satu jiwa yang sama; tapi di halaman lain, Dia mengatakan yang sebaliknya, bahwa lelaki lebih superior dibandingkan wanita” (Saadawi 2001: 4). Dengan demikian, pernyataan bahwa Qur’an mengatakan lelaki dan wanita berkedudukan sama tetap merupakan masalah yang dipertentangkan. Yang mengakui kesamaan kedudukan lelaki dan wanita dalam Qur’an akan sukar memenangkan perdebatan. Hal ini karena “para Muslim pada umumnya tidak suka akan sikap mempertanyakan kesahihan ahadis dalam rangka mengartikan kembali Qur’an untuk menciptkan wajah Islam yang baru” (Strowasser 1992: 1).

Contoh ahadis yang merendahkan wanita:

Sahih Bukhari, Hadis no. 301 dan 856:
Rasul Allâh suatu saat berkata pada sekelompok wanita: ‘Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih bodoh dalam berpikir dan beragama dibandingkan kalian. Orang yang bijak dan waras bisa disesatkan oleh sebagian dari kalian.’ Para wanita bertanya, ‘Wahai Rasul Allâh, apa sih kekurangan kami dalam berpikir dan beragama?’ Dia berkata, ‘Bukankah kesaksian dua wanita sama nilainya dengan kesaksian satu pria?’ Mereka membenarkan akan hal itu. Dia berkata, ‘Itulah yang merupakan kebodohanmu dalam berpikir.’ … ‘Bukankah wanita tidak boleh sholat atau puasa saat sedang mengalami datang bulan?’ Para wanita membenarkan hal itu. Dia berkata, ‘Itulah yang merupakan kebodohanmu dalam beragama.”

Kesahihan ahadis di atas sudah diakui dalam dunia Islam. Isi hadis ini diulang berkali-kali dalam dua koleksi Hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Ketika Bukhari dan Muslim menerima hadis ini, mereka menyebut hadis ini sebagai “mutafagun ‘alayihi” yang berarti “disetujui” (Haqq & Newton 1996: 3). Kalimat Arab “al-Nisa nagisatan ‘aglyan wa din” (wanita itu bodoh dalam berpikir dan beragama) terdapat dalam ujung lidah setiap Muslim. Kalimat ini sering digunakan oleh para Muslim ahli Islam dan Muslim awam dalam menjelaskan tentang wanita. Ada sebuah peribahasa terkenal di negara² Arab, “Jika seorang wanita menjadi sebuah kampak, dia tidak akan bisa membacok kepala.” Peribahasa ini menerangkan bahwa wanita tidak saja lemah, tapi juga sama sekali tak berguna. Contoh hadis lain yang menghina wanita:

Sahih Bukhari, vol. VII, no. 113
Wanita itu bagaikan tulang iga; jika kau mencoba meluruskannya, maka dia akan patah. Jadi jika kau ingin memanfaatkan dia, lakukanlah meskipun dia bengkok.

Sahih Bukhari, vol. I, no. 28
Wanita itu tak tahu terima kasih pada suami² mereka dan tak berterima kasih pada pertolongan dan kebaikan yang diberikan pada mereka. Jika kau selalu baik terhadap salah satu dari para wanita itu dan dia lalu melihat sesuatu pada dirimu yang tidak disukainya, maka dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah menerima kebaikan apapun darimu.’

Sahih Muslim, no. 3240
Ketika seorang wanita muncul, dia akan muncul dalam bentuk setan.

Sahih Bukhari, vol. I, no. 301
Nabi berkata, “Wahai kaum wanita! Beri zakat, karena aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kalian (kaum wanita).

Sahih Muslim, no. 6600
Diantara penghuni Surga, kaum wanita merupakan kelompok minoritas.

Mereka yang mempercayakan masalah mereka pada seorang wanita tidak akan pernah mengalami kemakmuran (Mernissi 1993: 49).

Fatima Mernissi menulis bahwa:
Sebagian hadis dari kitab Bukhari yang disampaikan oleh guru²ku menyakiti hatiku. Mereka menyatakan bahwa Nabi berkata, “Anjing, keledai, dan wanita akan membatalkan sholat Muslim jika mereka berjalan di hadapan Muslim, membatalkan sholat Muslim dan kiblat sholat .” Aku kaget sekali mendengar hadis seperti ini dan tidak pernah mengulang isi hadis itu lagi dalam pikiranku dengan harapan aku bisa melupakannya. Aku bertanya, “Mengapa Nabi mengatakan hadis seperti itu yang sangat menyakitkan hatiku … Bagaimana mungkin Nabi tercinta sanggup menyakiti gadis cilik yang sedang tumbuh, dan yang berusaha mengidolakannya dalam impian² romantisnya.” (Mernissi 1991: 82).

Muslimah dan Budaya

Mungkin penjelasan paling tepat tentang kedudukan Muslimah dalam dunia Islam terdapat dalam tulisan² pemikir Muslim liberal Mesir Sayyid Mahmoud al-Qimni. Dalam bukunya Rab Al-Zaman (Tuhan Masa Kini), di bawah artikel yang berjudul “Wanita dalam Warisan dan Legenda² Agama,” dia menyampaikan isi artikel ini sebagai bahan kuliah pada Persatuan Wanita Masyarakat Maju (People’s Progressive Women’s Union). Al-Qimni menunjuk Islam sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas rendahnya kedudukan Muslimah (al-Qimni 96: 219). Menurutnya, warisan agama Islam membuat para Muslimah yakin “bahwa dia diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, bodoh dalam berpikir dan beragama, kesaksiannya hanya berharga separuh dibandingkan kesaksian pria, jatah warisannya hanya separuh jatah warisan pria, dan dia tidak bisa menceraikan suaminya” (ibid: 220). Muslimah yakin dirinya merupakan jelmaan Setan dan karena itu dia tidak bisa mengontrol nafsu berahinya (ibid: 221). Menurut Islam, “Wanita hanya menuruti nafsu berahinya dan tidak bisa berpikir, dia punya kecenderungan alami untuk mengkhianati suaminya, karena dia merupakan satu dari empat hal yang tak bisa dipercaya, ‘duit, Sultan, waktu, dan wanita” (ibid: 220). Wanita diciptakan untuk kenyamanan dan kesenangan suaminya saja. Dengan begitu, Islam membuat Muslimah “yakin bahwa dirinya itu tak lebih daripada sekedar vagina dan di luar itu dia adalah horma (tabu) dan haram. Karena itulah, jika dia mempertahankan imannya dan vaginanya dan membuat senang suami dan majikannya, maka dia akan masuk surga” (ibid: 220). Iman Muslimah “tidak bisa sempurna kecuali jika dia tunduk dan taat sepenuhnya pada suaminya dan ketaatan seperti ini akan memberinya tempat di surga sebagai seorang pelacur diantara banyak harem Muslim” (ibid: 221). Gambaran nasib Muslimah menyedihkan yang diajukan al-Qimni membuat banyak profesor² Muslimah dan para ulama atau ahli Islam Al-Azhar jengkel karena mereka yakin Islam menghormati wanita dan meletakkan wanita di kedudukan yang terhormat.

Al-Qimni berkata Qur’an memberikan dua hak kontradiktif akan wanita (al-Qimni 2004: 170). Beberapa ayat Qur’an menyatakan wanita berkedudukan sama dengan lelaki, misalnya Sura² al-Imran: 195, al-Nahil: 97, al-Touba: 71, al-Ahzab: 35, and al-Maida: 38. Pandangan positif akan kaum wanita ini dijungkirbalikkan dengan Sura al-Nisa 4:34 (pemukulan terhadap istri yang tidak taat pada suami). Dalam sebuah hadis Bukhari, Nabi berkata, “setiap orang yang memilih wanita sebagai pemimpin tidak akan makmur” (ibid). Al-Qimni mengutip banyak ayat² Qur’an dan hadis² untuk menunjukkan kedudukan Muslimah yang rendah dalam Islam.

Dalam hal ini, al-Qimni menyebut kejadian di mana dia dituduh sebagai kafir oleh para profesor dan doktor (S3) Muslimah dari Universitas Al-Azhar karena dalam bukunya yang berjudul Al-Fashun wa Al-Watan, (Kaum Fasis dan Negara), dia menerangkan Islam menempatkan Muslimah di kedudukanyang rendah – bahwa Muslimah kurang dalam segala hal dibandingkan Muslim dan Muslimah diciptakan sebagai pemuas nafsu berahi Muslim. Alasan utama protes mereka adalah karena al-Qimni menyatakan bahwa mereka “berlaku salah karena berani menuntut hak² bagi wanita, padahal Islam hanya memberi hak seperti itu pada Muslim saja” (ibid: 177).

Contoh² hadis² perendahan wanita dan penjelasan al-Qimni menunjukkan teori sebenarnya akan Muslimah dalam Islam. Sudah jelas bahwa fakta menunjukkan Muslimah seringkali dianggap sebagai ancaman dalam kestabilan masyarakat Muslim dan karenanya mereka harus di bawah kontrol Muslim. Darlene M. Juschka menulis, “Jika kaum wanita dianggap jadi pembawa sial suatu budaya – misalnya dianggap sebagai pembuat kekacauan, perilaku sex yang tak terhormat, dan sikap tak masuk akal – maka masyarakat menganggap perlu mengambil tindakan untuk menekan ancaman ini…” (Juschka 2001: 161).

Lelaki Lebih Superior Dibandingkan Wanita

Qur’an menyatakan bahwa lelaki dan wanita punya kesamaan dalam kewajiban beribadah, pahala dan hukuman, dan kesatuan penciptaan (Q 3:195, 4:1). Akan tetapi, ayat² Qur’an lain mengajarkan pria lebih superior dan satu derajat lebih tinggi daripada wanita (Q 4:34, 2:228). Fadela M’rabat dari Aljeria mengomentari Q 4:34 sebagai berikut, “Apa yang sebenarnya ingin disampaikan dari ayat ini adalah Allâh lebih suka pada pria daripada wanita, karena wanita lebih lemah.” (Smith 1978: 526). Pria lebih superior daripada wanita di bidang pengetahuan, kekuatan, kekuasaan dan ini karena Allâh lebih suka akan pria daripada wanita dan pria berkuasa atas wanita. Lebih jauh lagi, wanita dianggap bodoh dalam berpikir dan beragama.

Wanita Bukan Saksi yang Baik dan Tak Tahu Berterimakasih

Q 2:282
… Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. …

Sahih Bukhari, vol. I, no. 28
Wanita itu tak tahu terima kasih pada suami² mereka dan tak berterima kasih pada pertolongan dan kebaikan yang diberikan pada mereka. Jika kau selalu baik terhadap salah satu dari para wanita itu dan dia lalu melihat sesuatu pada dirimu yang tidak disukainya, maka dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah menerima kebaikan apapun darimu.’

Wanita adalah ‘AURAT

Tiada definisi lain yang begitu banyak dipakai dan diterima Muslim selain definisi wanita adalah AURAT. Ensiklopedia Islam menjelaskan bahwa Aurat adalah “alat kelamin wanita atau vagina” (Haqq & Newton 1996: 5). Kata ini diambil dari kata benda “telanjang”. Jadi artinya “wanita adalah vagina.”

Hadis Tirmizi, vol. II, kitab Adab al-Nikah, hal. 65
Ali melaporkan bahwa Nabi berkata, ‘Wanita punya sepuluh aurat. Ketika dia menikah, suaminya menutupi satu auratnya, dan ketika dia mati menutupi sepuluh auratnya.

Di hadis lain, Tirmizi melaporkan bahwa wanita adalah Aurat.

Tirmizi, vol. II, hal. 65
Seorang wanita adalah Aurat. Ketika dia keluar rumah, Setan menyambutnya.

Hadis ini mengatakan bahwa wanita selalu dirasuki setan². Dengan begitu, wanita dianggap berbahaya bagi umat Muslim dan karenanya dia harus dipenjara di dalam rumahnya.

Kedua hadis ini berhubungan dengan pemaksaan wanita memakai kerudung. Tapi aturan kerudung Muslimah pun berbeda-beda dan para tokoh pendiri empat aliran Islam utama tidak memiliki aturan yang sama akan hal ini. Aliran² Islam Maliki dan Hanafi mengijinkan Muslimah untuk menunjukkan tangan dan wajah, sedangkan seluruh tubuh dikerudungi. Aliran Shafi’i dan Hanbali menganggap seluruh tubuh wanita sebagai aurat dan karenanya wanita wajib menutupi seluruh tubuh, dari ujung kepala sampai ujung kaki. (Haqq & Newton 1996: 5). Sebagian Muslim ekstrim pendukung Sunah Nabi malahan menganggap suara wanita sebagai aurat sehingga wanita bahkan tidak boleh bicara di manapun.

[Tambahan keterangan tentang Empat aliran utama Syariah Islam:
• Hanafi (Syria, Turkey, Pakistan, the Balkans, Asia Pusat, anak benua India, Iran, Afghanistan, China dan Mesir)
• Maliki (Afrika Utara,daerah² di Afrika Barat, dan beberapa negara Arab di Teluk Persia)
• Shafi’i (Arabia, Indonesia, Malaysia, Maldives, Egypt, Somalia, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Yemen dan India selatan)
• Hanbali (Arabia).]

Wanita adalah Tulang Rusuk yang Bengkok

Bukhari dan Muslim setuju akan hadis² berikut:

Sahih Bukhari, vol. VII, no. 113
Wanita itu bagaikan tulang iga; jika kau mencoba meluruskannya, maka dia akan patah. Jadi jika kau ingin memanfaatkan dia, lakukanlah meskipun dia bengkok.

Dalam kitab Adab al-Nikah, Tirmizi menyatakan di hal. 51:
Tiga orang jika kau menghormati mereka maka mereka akan menghinamu dan jika kau menghina mereka maka mereka akan menghormatimu: wanita, budak, dan orang Nabasia .

Hak² Muslim akan Muslimah

Islam menetapkan hak² bagi Muslim dan Muslimah. Yang terpenting dari hak² ini adalah ketaatan total pihak Muslimah terhadap suami² Muslim mereka.

Ketaatan

Banyak hadis yang menerangkan perihal ketaatan berhubungan dengan Q 4:34.

Mishkat al-Masabih, Buku I, hadis No. 74
Ada tiga orang yang sholatnya tidak akan diterima, atau amalnya tidak akan dihitung: budak yang melarikan diri sampai dia kembali ke majikannya, wanita yang suaminya tidak puas akan dirinya, dan orang mabuk sampai dia sadar kembali.

Mishkat al-Masabih, Buku I, hadis No. 60
Wanita yang mati dan suaminya puas akan dirinya, maka wanita itu akan masuk surga.

Mishkat al-Masabih, Buku I, hadis No. 61
Nabi Allâh berkata: Jika seorang pria memanggil istrinya untuk memuaskan nafsu berahinya, wanita itu harus segera datang pada suaminya, meskipun dia saat itu sedang sibuk di dapur.

Sahih Bukhari, vol. VII, no. 121
Rasul Allâh berkata: Jika seorang pria memanggil istrinya ke ranjangnya dan istri itu menolak, dan suami melalui malam hari dengan rasa marah, maka para malaikat akan mengutuki istri sampai dia terjaga di pagi hari.

Muslim menyampaikan hadis serupa dengan isi yang agak berbeda:

Jika seorang pria memanggil istrinya ke ranjangnya, dan istri menolak, Dia yang di surga akan marah pada sang istri sampai suaminya merasa puas dengannya. (Haqq & Newton 1996: 7).

Mishkat al-Masabih, Buku I, hadis No. 70
Jika saja aku harus memerintahkan orang untuk bersujud pada orang lain, maka aku akan memerintahkan para wanita untuk bersujud di hadapan para suami mereka sesuai dengan hak pria atas wanita yang telah ditetapkan Allâh.

Hadis ini dinyatakan pula oleh Abu Daud, Ahmad, Tirmizi, Ibn Magah, dan Ibn Haban.

Pemukulan atas Wanita

Qur’an 4:34 menyatakan:
… Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. …

Ayat di atas menjadi bahan perdebatan sengit diantara para ahli Islam modern. Kelompok² feminis, reformis, dan Muslim liberal beranggapan ayat ini tidak berarti suami dapat memukul istrinya jika istri berontak. Mereka mencoba mencari makna lain dari kata Arab “idribuhun” agar tidak berarti memukul. Contoh dari usaha ini tampak di buku Asma Parl yang berjudul “Muslimah dalam Islam.” Akan tetapi usaha² seperti ini sukar diterima tatkala kita melihat latar belakang kejadian turunnya ayat. “Ayat di atas dinyatakan berkenaan dengan seorang wanita yang mengeluh pada Muhammad bahwa suaminya menampar wajahnya (dan bekas pukulan masih tampak jelas di wajahnya). Awalnya sang Nabi berkata padanya: ‘Balas pukul dia,’ tapi lalu menambahkan: ‘Tunggu sampai aku memikirkan hal itu.’ Selanjutnya ayat di atas dinyatakan, di mana Nabi berkata, ‘Kami menginginkan sesuatu tapi Allâh menginginkan hal lainnya, dan apa yang diinginkan Allâh adalah yang terbaik.” (Haqq & Newton 1996: 9).

Memukul istri merupakan hal yang halal dalam Syariah jika termasuk dalam empat kasus berikut:

  1. Jika istri tidak mau berdandan atau berhias diri padahal suaminya menghendaki begitu,
  2. Jika istri tidak mau berhubungan sex dengan suami tanpa alasan yang diakui Islam,
  3. Jika istri disuruh membersihkan diri untuk sholat dan dia tidak mau, dan
  4. Jika dia pergi keluar rumah tanpa ijin dari suaminya.

Dalam hadis Muslim sahih, Aisyah mengatakan hadis yang panjang dimana Nabi memukul dadanya sampai terasa sakit.

Hadis Sahih Muslim, buku 004, nomor 2127:
Muhammad b. Qais berkata kepada orang2: Haruskah aku menceritakan padamu (sebuah hadis dari sang Nabi) berdasarkan wewenangku dan wewenang ibuku? Kami mengira dia mengatakan ibunya yang melahirkan dia. Dia (Muhammad b. Qais) lalu melaporkan bahwa Aisha-lah yang menceritakan ini: Haruskah aku menceritakan padamu tentang diriku dan Rasul Allah (SAW)? Mereka berkata: Ya. Dia (Aisha) berkata: Waktu itu adalah giliranku untuk menghabiskan malam hari bersama dengan sang Nabi. Dia membaringkan badannya, memakai baju hangatnya dan melepas sepatunya dan lalu berbaring sampai dia mengira aku tertidur. Dia memegang baju hangatnya perlahan dan pelan2 memakai sepatunya, dan membuka pintu dan ke luar dan menutup pintu sedikit. Aku menutupi kepalaku, mengenakan kerudungku dan mengencangkan kain pembungkus pinggangku, dan lalu ke luar mengikutinya sampai dia mencapai Baqi’. Dia berdiri di sana dan dia berdiri untuk waktu yang lama. Dia lalu mengangkat tangan2nya tiga kali, dan lalu kembali dan aku pun kembali. Dia mempercepat langkahnya dan aku pun mempercepat langkahku. Dia berlari dan aku pun berlari. Dia tiba (di rumah) dan aku juga tiba (di rumah). Akan tetapi aku datang lebih cepat dan aku masuk (rumah), dan selagi aku berbaring di tempat tidur, dia (sang Nabi) masuk (ke rumah), dan berkata: Mengapa, O Aisha, kau terengah-engah kehabisan nafas? Aku berkata: Tidak ada apa2. Dia berkata: Katakan padaku atau Sang Pengamat dan Sang Maha Tahu akan memberitahukan padaku. Aku berkata: Rasul Allah, semoga ayahku dan ibuku jadi tebusan bagimu, dan lalu kuceritakan padanya (semua hal). Dia berkata: Apakah itu gelapnya (bayanganmu) yang kulihat di mukaku? Aku berkata: Ya. Dia memukul dadaku sampai terasa sakit, dan berkata: Apakah kau pikir Allah dan RasulNya akan bertindak licik terhadapmu? Aku berkata: Apapun yang disembunyikan manusia, Allah akan mengetahuinya. Dia berkata: Gabriel datang padaku ketika kau melihatku. Dia memanggilku dan dia tak tampak bagimu. Aku menjawab panggilannya, tapi aku tidak memberitahumu (karena Gabriel tidak datang padamu), karena kamu tidak berpakaian lengkap. Kupikir kau sudah tidur, dan aku tidak suka membangunkanmu, khawatir kau akan takut ….

Hadis² yang membahas tentang wanita jumlahnya sangat banyak. Beberapa dari hadis² tersebut menunjukkan sikap yang baik terhadap wanita, dan wanita dalam hal ini adalah seorang ibu dan bukan seorang istri atau anak perempuan.

Abu Hurairah melaporkan bahwa seorang pria datang menghadap Rasul Allâh dan bertanya: “Wahai Rasul Allâh, siapakah orang yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikan dan perhatian dariku?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Pria itu bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Pria itu bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu. Surga terletak di bawah kaki para ibu.”

Dr. Suhaib Hasan memberi komentar terhadap hadis di atas:
Hadis itu merupakan hadis yang do’if , tapi isinya tercantum pula di hadis Ibn Majah dan al-Nasa’i di mana seorang pria datang menghadap Nabi dan berkata, “Wahai Rasul Allâh! Aku berniat pergi perang, tapi aku ingin meminta pendapatmu.” Nabi berkata, “Apakah ibumu masih hidup?” Orang itu menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “Tinggallah dengannya, karena Taman (surga) terletak di bawah kakinya.” (Haqq & Newton 1996: 12).

Para feminis, reformis, dan liberal Muslim seringkali mengutip kedua hadis di atas untuk mendukung pandangan mereka bahwa Islam mengajarkan kesetaraan kedudukan lelaki dan wanita dan hadis² yang bertentangan merupakan karangan generasi Muslim berikutnya saja. Akan tetapi, kedua hadis ini menasehatkan para putra untuk berbaik hati pada ibu² mereka, tapi tidak menasehatkan para suami untuk berbaik hati pada istri² atau para ayah pada anak² perempuan mereka. Terlebih lagi, kedua hadis ini tidak dianggap sebagai hadis sahih karena Bukhari dan Muslim tidak memasukkan kedua hadis itu ke dalam koleksi mereka. Hanya Ibn Majah dan al-Nasa’i saja yang menyatakan hal itu. Kedua hadis ini jarang sekali dikutip para ulama dan ahli Islam.

Setelah melihat ayat² Qur’an dan ahadis, masih saja para ahli Islam ngotot menyatakan Islam membela wanita dan memberi wanita kedudukan yang sama dengan pria. Pengakuan seperti ini sukar dipercaya. Mereka berusaha percaya Islam itu egalitarian (menganggap kedudukan wanita dan pria sama) dengan cara menyangkal ajaran²nya tentang perlakuan terhadap wanita. Hal ini jelas hanyalah angan² mereka saja dan bukan fakta. Usaha² seperti ini tidak menguntungkan pihak Muslimah. Para Muslimah yang tinggal di negara Barat tidak terangkat derajatnya karena usaha ini, tapi karena masyarakat Barat memang memberi hak yang sama dan sederajat terhadap pria dan wanita. Akan tetapi Muslimah yang hidup di lingkungan umat Muslim masih saja terkekang dengan ajaran² Muhammad akan wanita.

[DAFTAR ISI] | [Bab VIII] [Bab X]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: