Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab IV

[DAFTAR ISI] | [Bab III] [Bab V]

BAB IV

Kalifah Abu Bakr Al-Sidiq

Abu Bakr merupakan Kalifah pertama yang menggantikan Muhammad. Dia adalah ayah dari Aisyah, istri favorit Nabi Muhammad. Al-Qimni menulis tentang Abu Bakr dalam bukunya yang berjudul: Shukran… Ibn Laden (Terima kasih… Ibn Laden), di bawah artikel yang berjudul “Murtad dalam Islam.” Dia ingin membuktikan bahwa aturan murtad adalah hasil karangan Kafilah pertama Abu Bakr untuk menyingkirkan para saingan politiknya yang menentang kepemimpinannya. Para Muslim ahli Islam jaman sekarang bersikeras bahwa aturan murtad sah berdasarkan hadis Sahih Al-Bukhari, dengan demikian Abu Bakr hanyalah mengikuti apa yang ditetapkan Nabi, yakni membunuh Muslim yang murtad meninggalkan Islam. Dalam artikel ini, al-Qimni membantah pandangan itu.

Sumber pertama bagi para ahli Islam adalah hadis di mana Nabi berkata, “Siapapun yang meninggalkan agamanya, bunuh dia” (Qimni 2004:202). Ini adalah hadis Sahih Bukhari dan merupakan hadis terpercaya bagi umat Muslim dan para ahli Islam. Sumber kedua adalah kisah di mana para sahabat Nabi membunuh seseorang yang meninggalkan Islam. ‘Umar Ibn Al-Khatab protes terhadap pembunuhan itu karena para sahabat tidak memberi makan orang tersebut selama tiga hari dan tidak memintanya untuk kembali memeluk Islam sebelum mereka membunuhnya. Sumber ketiga, yang bahkan lebih dipercaya para ahli Islam adalah Perang Murtad yang terkenal di mana Abu Bakr sebagai Kalifah Pertama memerangi beberapa suku Arab yang tidak mau bayar zakat setelah kematian Nabi. Al-Qimni mempertanyakan ketiga sumber ini dan juga mempermasalahkan penafsiran baru akan murtad yang diciptakan para ahli Islam dari Pusat Riset Islam Universitas Al-Azhar.
Tafsir Baru Murtad

Beberapa ahli Islam Al-Azhar yang terkenal dan terpandang mengeluarkan anjuran baru akan hukum murtad dalam Islam. Menurut anjuran ini, jika seorang Muslim murtad dan meninggalkan umat Islam maka nasibnya terserah pada walinya. Jika kemurtadannya tidak membahayakan umat Muslim maka walinya harus selalu memintanya bertobat sepanjang hidupnya dan karenanya dia tidak usah dibunuh. Tapi jika kemurtadannya membahayakan umat Muslim maka walinya diperbolehkan untuk membunuhnya (ibid: 199)

Penafsiran murtad yang baru ini bertentangan dengan aturan klasik Hudd tentang murtad yang disetujui oleh semua aliran Islam. Berdasarkan Syariah Islam, Muslim melakukan murtad jika dia meninggalkan Islam dan memeluk agama lain. Murtadin harus diberi waktu tiga hari untuk bertobat dan dibunuh di hari keempat. Dalam penafsiran lama, murtadin diberi waktu tiga hari untuk bertobat dan kembali memeluk Islam dan jika tak mau maka akan dibunuh di hari keempat. Tapi dalam penafsiran baru terdapat dua jenis tindakan murtad dan masing² jenis mendapat penanganan yang berbeda. Dalam kasus pertama: Muslim meninggalkan Islam dan memeluk agama lain tapi tindakannya tidak membahayakan Islam dan umat Muslim sehingga walinya tidak perlu membunuhnya. Tapi jika murtadin membahayakan Islam dan umat Muslim, maka walinya harus membunuhnya. Bagi Qimni, penafsiran baru oleh ilmuwan Al-Azhar ini bertujuan untuk menyingkirkan para pemikir liberal sekuler di Mesir dan menghalalkan pembunuhan atas Faraj Foda.

Sumber aturan murtad pertama berasal dari Sahih Bukhari yang “dianggap sebagai buku Islam yang paling dipercaya setelah Qur’an” (ibid:202). Al-Qimni menolak hadis ini atas beberapa alasan. Pertama, jika memang betul Nabi yang mengatakan isi hadis itu maka mengapa Kalifah Abu Bakr tidak menyinggung hal ini tatkala ‘Umar Ibn Al-Khattab dan beberapa sahabat Nabi lainnya tidak setuju dengan keputusan Abu Bakr melakukan Perang Murtad? (ibid: 205). Terlebih lagi, jika hadis itu memang benar² ada mengapa para sahabat tersebut berani menentang perintah Nabi bunuh murtadun? Dari pemikiran ini, Qimni mengambil kesimpulan bahwa isi hadis ini hanyalah hasil karangan di masa selanjutnya. Qimni juga menolak sumber kedua yang berdasarkan kisah ‘Umar, dengan alasan yang sama.

Tentang Peperangan Murtad di jaman Kalifah Pertama Abu Bakr, ‘Umar Ibn Al-Khattab berkata, “Kekalifahan Abu Bakr merupakan suatu kesalahan, semoga Allâh melindungi umat Muslim dari kejahatan kekalifahan tersebut dan jika ada orang lain yang mencoba mengulangi kesalahan kekalifahan itu, maka dia harus dibunuh” (ibid: 213). Tampaknya, ‘Umar menentang tindakan Abu Bakr membunuhi masyarakat suku² Arab yang menolak kepemimpinannya dan caranya dia dipilih jadi Kalifah pertama. Menurut Qur’an, pemilihan pemimin harus dilakukan melalui Shura (setiap suku ditanyai pendapatnya dan harus mendapatkan persetujuan mereka). Sewaktu Abu Bakr jadi Kalifah pertama, banyak suku² yang tidak diberitahu dan mereka yang menolak dituduh sebagai murtad dan lalu dibunuh. Al-Qimni menyinggung satu kejadian di mana ketua suku² Khazrig yang sangat tua dan tidak bisa jalan lagi, tidak mau mengakui kekalifahan Abu Bakr. ‘Umar jadi jengkel terhadap ketua suku tersebut dan menginjak tubuhnya sewaktu dia berbaring di lantai saat berbicara bersama ‘Umar dan Abu Bakr. Ada pula pemimpin lain yang menolak mengakui kekalifahan Abu Bakr dan melarikan diri ke Syria. Abu Bakr mengirim seseorang untuk membunuhnya. Beberapa sumber Islam lain mengatakan bahwa jin telah membunuhnya karena dia buang air kecil di sebuah tembok dan berdiri di atas kaki jin itu. Al-Qimni mengatakan banyak Muslim ahli Islam jaman sekarang yang masih percaya cerita takhayul seperti itu.

Menurut al-Qimni, peperangan yang dikobarkan Abu Bakr bertujuan untuk menundukkan suku² Arab yang tidak mau menerimanya sebagai Kalifah setelah kematian Nabi karena mereka tidak diminta pendapatnya terlebih dahulu dan karenanya mereka berhenti bayar zakat. ‘Umar dan beberapa sahabat protes terhadap peperangan ini karena masyarakat suku² tersebut masih Muslim dan membunuh mereka tentunya bertentangan dengan Hadis Nabi di mana dia mengatakan “Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang² sampai mereka mengaku tiada illah lain selain Allâh dan Muhammad adalah Rasul Allâh” (ibid: 214). Selama Perang Murtad, para tentara Kalifah “melakukan perbuatan kriminal mengerikan karena menenggelamkan para Muslim di dalam sumur², mendorong mereka dari gunung² yang tinggi, dan membakar yang lain dengan api” (ibid). Al-Qimni mengisahkan bagaimana komandan tentara Islam yakni Khalid Ibn Al-Walid, salah satu orang yang dijanjikan surga oleh Nabi, telah membunuh ketua suku Kana’a karena memiliki istri yang cantik jelita. Ketua suku dan masyarakatnya memberitahu Khalid bahwa mereka adalah Muslim. Untuk membuktikan bahwa mereka beriman pada Islam, mereka memberitahu Khalid bahwa mereka baru saja melakukan sholat maghrib. Khalid memerintahkan mereka untuk menyerah dan meletakkan pedang² mereka dan berjanji untuk negosiasi setelah itu. Ketika masyarakat Kana’a telah menyerah, Khalid memerintahkan tentaranya untuk membunuh mereka. Menurut al-Qimni, tujuan Khalid membunuh ketua suku Kana’a adalah karena dia menginginkan istrinya yang cantik. Khalid meniduri wanita ini di malam yang sama Khalid membunuh suaminya dan ini berarti dia melanggar Qur’an karena dia tidak menunggu masa ‘Ida (tiga bulan dan sepuluh hari). Ketika Khalid kembali ke Medina, ‘Umar menemuinya dan berkata padanya, “Kau telah membunuh Muslim dan mengambil istrinya. Aku bersumpah demi Allâh aku akan merajam kamu sampai mati” (ibid: 217). Akan tetapi, Kalifah Abu Bakr tidak menganggap Khalid berzinah dan karenanya Khalid tidak perlu dirajam. ‘Umar tidak menerima keputusan Abu Bakr dan berkata pada Khalid, “Kau adalah musuh Allâh karena kau telah membunuh seorang Muslim dan memperkosa istrinya” (ibid).

Bagi al-Qimni, orang² seperti Khalid dan Abu Bakr tidak layak dihormati karena pelanggaran² yang mereka lakukan. Al-Qimni lalu menjelaskan bahwa sejarah peperangan ini lalu dipalsukan dan diajarkan pada anak² sekolah sebagai peperangan yang benar (ibid 219). Peperangan ini merupakan peperangan politik dan bertujuan untuk memaksa suku² Arab mengakui Kalifah Abu Bakr, yang sebenarnya dipaksakan pada mereka. Dengan begitu, Muslim manapun yang protes terhadap kepemimpinan Abu Bakr lalu dituduh sebagai murtadin dan layak dibunuh, istrinya dirampas, uangnya dirampok, dan anak²nya dijual sebagai budak di pasar budak (ibid 248). Keputusan Abu Bakr ini “sangat mengerikan dan merupakan hukum teroris yang sampai hari tetap berlaku di Syariah Islam dengan merampas iman orang², mencekik leher² mereka, mempermalukan wanita² mereka, menghancurkan kehormatan mereka, memperbudak anak² mereka, dan merampas uang dan kekayaan mereka” (ibid: 250). Tiada ahli Muslim yang berani mengatakan pada para Muslim bahwa “para sahabat Nabi protes terhadap keputusan Kalifah, dan diantara mereka adalah ‘Umar Ibn Al-Khatab meskipun ‘Umar menarik kembali protesnya ketika dia mengucapkan “Aku melihat Allâh meletakkan keputusan dalam hati Abu Bakr dan aku lalu tahu itu merupakan hal yang benar” (ibid:251). Al-Qimni menyimpulkan bahwa, “kebanyakan keputusan dibungkus sebagai perintah illahi untuk menjadi pedang bagi leher para Muslim, padahal keputusan itu dibuat oleh manusia biasa saja. Contohnya, Al-Bukhari memilih sebagian hadis sebagai Sahih dan menolak hadis lainnya karena berdasarkan alasan perasaannya menentukan yang mana hadis yang benar dan yang salah. Dengan demikian, al-Bukhari telah berperan sebagai tuhan dan pengarang buku illahi yang disetujui semua ahli Islam sebagai buku yang paling dipercaya setelah buku Allâh”(ibid).

Penafsiran baru Hukum Murtad oleh ilmuwan Al-Azhar berarti, “dapat mengartikan hasil penyelidikan ilmiah ahli Islam manapun sebagai tindakan kriminal, melarang pemikiran baru apapun, sehingga akal ini tidak boleh berpikir, dan ketika kau melakukan penyelidikan dan mendapatkan kesalahan dalam Syariah, maka kau dengan cepat lalu dituduh murtad dan darahmu jadi halal, hanya karena kau telah menemukan kesalah dari hukum itu dan kesalahan penerapan hukum dan juga hakim pelaku hukum” (ibid: 252). Al-Qimni menunjuk pada tiga peristiwa baru² ini di mana para ahli Islam menggunakan Hukum Murtad untuk mencegah para pemikir Islam mengulas pandangan mereka akan Islam.

Kejadian pertama adalah pembunuhan pemikir liberal Muslim Mesir yakni Dr. Faraj Foda. Salah seorang ahli Islam Al Azhar bernama Dr. Mahmoud Mazroat berkata “siapapun yang mencoba mencegah Syariah Allâh dan ingin menerapkan hukum buatan manusia adalah seorang murtad dan halal bagi umat Muslim untuk memilih siapapun untuk melaksanakan Hudd bagi murtadin tersebut” (ibid: 208). Karena Fatwa ini dan banyak Fatwa lainnya yang dikeluarkan para ahli Al-Azhar, Dr. Faraj Foda dibunuh di tahun 1992 oleh sekelompok Muslim fanatik.

Kejadian kedua terjadi pada diri al-Qimni sendiri. Sebuah Fatwa dari editor koran Islam The Truth (Kebenaran) dikeluarkan bagi al-Qimni di tanggal 8 Mei, 1999. Fatwa ini menyatakan, “Dr. Sayyid Al-Qimni berani menciptakan keraguan akan kewajiban Syariah atau kepercayaan yang penting dalam Islam yang tidak akan diragukan oleh Muslim manapun, kecuali jika orang itu adalah murtadin. Dia menyangkal Sunnah Nabi dan orang yang berani menyangkal hal itu adalah Kafir dan hal ini disetujui oleh berbagai ahli Islam” (ibid: 209). Karena Fatwa ini al-Qimni mengalami banyak penindasan dan penyerangan dari pihak hukum, Muslim fanatik, dan para ahli Islam Al-Azhar.

Kejadian ketiga berhubungan dengan ahli Islam Al-Azhar Nasr Hamid Abu Zayd yang berbeda dengan kebanyakan ahli Islam Al-Azhar dalam segala hal. Nasr Hamid Abu Zayd merupakan seorang Mujtahdin (ahli Islam, dipercaya layak menafsirkan Syariah) terbaik diantara para ahli Islam Al-Azhar. Akan tetapi, karena pandangan barunya akan Islam, maka “polisi menyerang rumahnya dan merampas semua tulisan dan penanya karena dianggap berbahaya bagi ketenangan negara Mesir” (ibid).

Al-Qimni menyimpulkan penjelasannya yang panjang lebar tentang murtad dengan mengatakan “berdasarkan apa yang kami ungkapkan, menuduh Muslim sebagai murtadin karena dia menyangkal satu dari kewajiban Islam, merupakan tindakan hukum teror, di tangan teroris, digunakan oleh teroris, dan dilakukan oleh teroris” (ibid: 239). Dengan demikian, al-Qimni menganggap bahwa Hukum Murtad Islam adalah hukum teroris untuk mengontrol dan meneror siapapun yang berani menolak sebagian hukum fundamental Islam dalam Syariah. Pada kenyataannya, banyak pandangan fundamental yang tidak berasal dari Islam karena tidak terdapat dalam Qur’an atau Sunah. Aturan fundamental Islam ini diciptakan oleh para Kalifah dan diterapkan oleh para ahli Islam untuk menghalalkan pembunuhan terhadap siapapun yang tidak setuju dengan mereka. Oleh karenanya, tindakan mereka bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Al-Qimni menyalahkan Abu Bakr, Kalifah Pertama, karena tidak mengijinkan Fatima putri Nabi mewarisi kekayaan ayahnya setelah Nabi wafat. Abu Bakr mengaku mendengar Nabi berkata, “Kami para Nabi tidak menyerahkan harta warisan kami pada keluarga kami” (Al-Qimni 2004: 242). Selain Abu Bakr, tiada seorang pun yang mengaku mendengar hadis ini dari Nabi. Jadi satu²nya sumber hadis ini adalah Abu Bakr sendiri. Al-Qimni berkata secara sarkastik bahwa mungkin Abu Bakr mendengar hadis ini ketika dia berduaan saja dengan Nabi dalam sebuah gua. Selain hadis ini, Abu Bakr mengisahkan hadis satu lain yang menghalalkan keputusannya untuk mewarisi tanah² milik Nabi sebelum Nabi wafat. Ketika Ali dan Fatima datang menemui Abu Bakr untuk meminta tanah² milik Nabi sebagai warisan bagi mereka, Abu Bakr mengaku mendengar Nabi berkata, “jika Allâh memberi makan seorang Nabi, Dia menyerahkan makanan bagi orang yang berkuasa setelah Nabi itu” (ibid, hal. 243). Dan orang yang berkuasa setelah Nabi wafat tentunya adalah Abu Bakr. Al-Qimni mengutip perdebatan antara Fatima dan Kalifah Abu Bakr, yang tercantum dalam kitab Tabaqaat dari Ibn Sa’ad :

Fatima: Siapakah yang mewarisi harta milikmu setelah kau mati?
Abu Bakr: Putraku dan keluargaku.
Fatima: Kalau begitu, mengapa kau mewarisi harta Nabi dan bukan kami yang mewarisinya?
Abu Bakr: Wahai putri Rasul Allâh, aku tidak mewarisi emas dan perak dari ayahmu.
Fatima: Dan bagianmu dari Khaybar dan tanah² milik ayahku.
Abu Bakr: Aku mendengar Nabi berkata, “Kami para Nabi, tidak mewariskan harta kami pada keluarga kami.”
Fatima: Allah telah berkata dalam bukuNya “Sulaiman mewarisi harta Daud.”

Ketika Fatima menyadari bahwa Abu Bakr tidak akan menyerahkan harta Nabi padanya, Fatima datang ke mesjid untuk menghadapi Abu Bakr di depan para Muslim Al-Ansar atau Muslim Medina dan mengucapkan pesan yang panjang lebar dan berakhir dengan kata² “perangi imam² Kafur yang tak beriman sampai mereka tobat” (ibid, hal. 244). Yang dimaksud Fatima sebagai imam² adalah Abu Bakr dan ‘Umar karena mereka tidak mengijinkan Fatima mewarisi harta dan tanah Nabi.

Al-Qimni menerangkan bahwa Fatima wafat di usia 30 tahun, hanya enam bulan setelah kematian ayahnya. Fatima tidak pernah mengeluh sakit apapun sebelumnya, dan penyebab kematiannya pun tak diketahui. Karena alasan ini, al-Qimni menduga bahwa Abu Bakr membunuh Fatima sama seperti yang dilakukannya terhadap pemimpin² suku² Arab Muslim yang menentangnya.

[DAFTAR ISI] | [Bab III] [Bab V]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: