Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Bab I

[DAFTAR ISI] | [Pendahuluan] [Bab II]

BAB I

Asal Usul Islam

Dalam bukunya yang berjudul Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamya (Kelompok Hasmit dan Dasar Negara Islam), Sayydi Mahamoud al-Qimmi menelusuri asal-usul agama Islam dari tokoh bernama Abd Al-Mutalab, kakek Nabi Muhammad. “Jika Tuhan ingin mendirikan sebuah negara, maka Dia akan menciptakan orang² seperti ini,” kata Abd Al-Mutalab sambil menunjuk putra²nya (al-Qimmi 1996: 51). Menurut al-Qimmi, gagasan mendirikan negara dan agama Islam berasal dari kakek Nabi Muhammad. Abd Al-Mutalab mengerti bahwa suku² Arab tak mungkin bersatu di bawah satu kerajaan karena tiadanya unsur pemersatu suku² tersebut. Dalam sebuah kerajaan, suku yang berkuasa akan mendominasi suku² lain dan hal ini tentunya tak dapat diterima suku² yang tak berkuasa. Karena itulah, satu²nya cara menyatukan suku² Arab adalah dengan menciptakan Raja-Nabi yang berkuasa atas mereka semua. Kesatuan seperti ini tidak dapat ditolak karena dianggap sebagai perintah Illahi. Tatkala Abd Al-Mutalab mengerti permasalahannya, dia meminjam contoh kisah Raja-Nabi Yahudi yakni Raja Daud dan anaknya yakni Raja Salomo. Setelah itu, dia menciptakan agamanya sendiri yakni Al-Hanafiya , yang dia telusuri asalnya dari kakek moyang masyarakat Arab yakni Ibrahim atau Abraham.

Dalam menyelidiki asal-usul Negara Islam, al-Qimni juga menyelidiki tentang kakek buyut Muhammad, yakni Qusay Ibn Kilab. Di jaman pra-Islam, banyak suku² Arab yang bertikai untuk memiliki kontrol atas kota penting Mekah. Suku Ibn Najjar mengambil alih Mekah dari suku Guraban, dan lalu suku Madar mengalahkan Ibn Najjar dan mengambil alih kekuasaan Mekah. Dari Madar, kontrol kota Mekah diteruskan ke suku dari Yemen yakni Khazah. Dan akhirnya suku Quraish, di bawah pimpinan Qusay Ibn Kilab, menguasai Mekah. Melalui “tipu muslihat, Qusay Ibn Kilab membawa kunci² al-Ka’bah dari Gebshan al-Khousa’I, melalui pertukaran dengan sebotol minuman anggur” (al-Qimni 1996:115). Tatkala dia menguasai kota Mekah dan Ka’bah, Qusay mendirikan Dar Al-Nadwa atau “Rumah Bersama” (ibid: 82, mengutip dari Ibn Kathir, al Bedya wa al-Nihaia, hal. 192). Di bawah kekuasaan Qusay, Mekah jadi negara kecil dan Dar al-Nadwa menjadi tempat demokrasi bagi suku² Baduy Arab. Menurut Ibn Kathir, Qusay menjadi raja dan seluruh suku² Arab tunduk padanya (ibid).

Bangunan² Ka’bah

Di masa itu, Mekah bukanlah satu²nya kota Arab yang memiliki ka’bah. Terdapat ka’bah di Najran, ka’bah di Shadad al-Aiadi, dan ka’bah di Qatafan (ibid:65). Setiap ka’bah didirikan sebagai rumah bagi tokoh pemimpin besar suku, yang dijuluki sebagai Rabb atau “tuan”, atau rumah bagi batu suci. Batu² gunung berapi dan batu² meteor merupakan benda² yang disembah oleh masyarakat Arab Baduy. Mereka menganggap kedua jenis batu tersebut keramat karena batu berapi datang dari dalam bumi dan batu meteor datang dari dinding² rumah Tuhan di surga. Richard Burton, bintang film terkenal AS, dulu pura² jadi Muslim dan mengunjungi Mekah, sambil mengambil sedikit bagian dari Batu Hitam (Hajar Aswad) dan lalu meneliti jenis batu tersebut. Penelitian membuktikan bahwa Batu Hitam merupakan serpihak dan batu meteor (ibid: 25). Terdapat berbagai versi dongeng² Islamiah tentang asal-usul Batu Hitam. Sebuah dongeng menyatakan bahwa Adam diusir keluar dari surga dan dia membawa Batu Hitam ini dari surga dan turun ke bumi. Batu itu dulu sangat cemerlang dan putih tapi menjadi hitam karena menyedot semua dosa orang² yang menciumnya setiap tahun di ibadah Haji. Dongeng lain mengatakan Batu Hitam ini milik Abraham dan putranya Ishmael. Dikatakan bahwa Abraham dan putranya menggunakan Batu Hitam ini sebagai tangga untuk membangun Ka’bah.

Tahun Gajah

Sebuah kejadian penting terjadi di tahun 569 atau 570 M, yang dikenal oleh masyarakat Arab sebagai Tahun Gajah, yang menambah pentingnya bangunan Ka’bah di Mekkah (ibid: 76, al Suhaili mengutip dari Ibn Hisyam, di bukunya al-Rawd, hal. 77). Pemimpin Ethiopia yang bernama Abraha berusaha untuk menghancurkan Ka’bah, tapi tidak berhasil. Legenda Islam mengatakan bahwa burung² dari surga yang disebut sebagai “Tair al-Aba’abil” menjatuhkan batu² pada tentara² penyerang. Akan tetapi, penulis Ethiopia bernama Abbas Mahmoud al-Agaad yakin bahwa tentara Abraha terserang penyakit cacar (ibid: 76, mengutip dari Al-Agaad, T’awal’ai al-Bi’atha al-Muhammadia, hal. 145-146). Al-Agaad mengambil kesimpulan ini dari catatan² sejarah Byzantium yang ditulis oleh ahli sejarah bernama Procope, yang mengunjungi Mekah di Tahun Gajah. Mundurnya pasukan Abraha membuat masyarakat Mekah yakin bahwa tuhan suku Quraish telah menang berperang bagi mereka.

Ketika Qusay Ibn Kilab meninggal, dia meninggalkan warisan Ka’bah dan pemimpinan Mekah pada putra pertamanya adalah Abd Al-Dar. Akan tetapi, putra keduanya yakni Abd Manaf menginginkan kedudukan abangnya dan mencoba merebut kekuasaan dengan kekerasan. Al-Qimni menganggap penulis² sejarah dan penafsir Islam tidak adil karena berpihak pada Abd Manaf dan bukannya berpihak pada Abd Al-Dar (ibid:89). Putra² Abd Manaf yakni Hasyim, Abd Shams, Abd Mutalab, dan Nawfal, semuanya ingin berperang melawan putra² Abd Al-Dar. Akan tetapi, putra² Abd Al-Dar mengambil keputusan untuk menghormati ayah mereka dengan menghindari pertumpahan darah dan perpecahan sehingga mereka menyerahkan kekuasaan pada saudara² misannya. Al-Qimni menjelaskan perbuatan putra² Abd Manaf sebagai berikut: “Dan kepemimpinan yang diambil alih melalui kekerasan dari rumah Abd Al-Dar, akhirnya jatuh ke tangan Hasyim, putra Abd Manaf.” (ibid: 90, mengutip al-Tabari, al-Tarikh, hal. 123). Tak lama setelah Abd Shams wafat, putranya yakni Umayyah mencoba mengambil alih kekuasaan dari pamannya Hasyim dengan kekerasan. Suku Quraish sekali lagi mencegah peperangan dengan cara meminta keputusan adil dari seorang imam Khazai. Imam ini menetapkan bahwa Umayyah harus diasingkan secara sukarela selama 10 tahun. Cucu Umayyah yang bernama Mu’awiyya nantinya mencoba merebut kekuasaan yang dirampas dari kakek buyutnya, dan dia lalu mendirikan kekalifahan Umayyah dan membunuh habis keturunan Hasyim sampai tiada yang tersisa lagi (ibid).

Abd Al-Mutalab
Setelah kematian Hasyim, kepemimpinan Mekah dan Ka’bah diwariskan pada Abd Al-Mutalab (ibid: 98). Tak lama setelah dia menjadi pemimpin, Abd Al-Mutalab mulai “meletakkan fondasi agama baru di mana semua hati harus disatukan bagi satu Tuhan” (ibid: 99). Dia memerintahkan penghapusan berhala². Tuhan tidak akan menerima ibadah seseorang kecuali melalui perbuatan² baiknya. Tuhan yang dimaksudnya adalah Tuhan Ibrahim atau Abraham, bapak segala suku² Arab dan Yahudi. Abd Al-Mutalab mendapat penglihatan ketika dia sedang tidur di halaman Ka’bah bahwa Tuhannya Ibrahim telah memerintahkannya untuk menggali sumur Zamzam (ibid: 100, mengutip dari Ibn Hisyam, al Sira, hal. 136, 139). Dia lalu melarang semua penyembahan dan ibadah pada berhala² dan meminta masyarakat Mekah kembali pada agama Ibrahim, yang disebutnya sebagai agama Hanafiya. Ketika bulan Ramadhan tiba, dia akan pergi ke gua Hirah untuk bertapa di sana. Abd Mutalab mulai mengajak masyarakat Mekah untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan karena dia percaya akan kebangkitan jiwa² orang mati dan penghakiman di hari kiamat. Sebenarnya Abd Al-Mutalab bukanlah pendiri pertama agama Hanafiya. Menurut al-Qimni, beberapa orang dari Yemen mendirikan agama ini di abad pertama Masehi sebelum kelahiran Yesus (ibid:111, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal. 59, dan Thuria Manquosh, al-Tawhid, hal. 159). Abd Al-Mutalab tidak tahu asal-usul agama Hanafiya dan karenanya dia memilih saja nabi Yahudi yakni Ibrahim (ibid, mengutip dari al-Fakhr al-Razi). Masyarakat Yemen sudah terbiasa menyembah satu tuhan yang mereka sebut sebagai Al-Rahman (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal. 59).

Banyak orang yang lalu menerima agama Abd Al-Mutalab dan beberapa dari mereka juga mengembangkannya. Pengikut² agama Hanafi yang paling utama adalah:

Qas Ibn Sa’ad al-Ia’adi
Dia mengajak orang² untuk mengikuti “Satu Tuhan, yang tidak melahirkan dan dilahirkan, dan padaNyalah segala sesuatu akan kembali” (ibid: 112, mengutip dari al-Shahirstani, al-Milal wa al-Nihel 1951, hal. 96). Karenanya, dialah orang pertama di Jazirah Arabia yang menyebut tentang Tauhid atau Tuhan yang Esa.

Suaid Ibn A’amir al-Mustalaq
Dia mengatakan “orang tidak berdaya mengalami hal yang jelek atau baik. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan.” (ibid, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, hal. 219, 259). Maka al-Mustalaq menetapkan pengertian tentang takdir.

‘Awkia Bin Zohir al-Ia’adi
Dia mengaku sebagai Nabi (ibid, mengutip dari Ibn Habib, al-Mahbar, hal.136, and al-Awasi, Boloq Alarab, hal. 260). Dia dulu sering pergi ke tempat yang rendah di Mekah, lalu naik tangga, dan mengatakan pada orang² bahwa Tuhan berkata padanya dari tempat ini. Akan tetapi ‘Awkia tidak berhasil dalam usahanya mengaku sebagai Nabi (ibid).

Waraqa Ibn Nawfal
Dia mengajak orang² untuk beribadah pada Tuhannya Ibrahim dan mengikuti agama Hanafiya pada mulanya, tapi dia lalu memeluk agama Kristen. Dia adalah saudara sepupu istri pertama sang Nabi, yakni Khadijah. Melalui Nawfal, Khadijah jadi yakin bahwa suaminya adalah seorang Nabi (ibid: 114, mengutip Ibn Hisyam, al-Sira, hal. 511-512).

Ala’af Ibn Shihab al-Tamimi
Dia percaya keesaan Tuhan, kebangkitan jiwa² yang mati, dan pahala bagi perbuatan baik dan hukuman bagi perbuatan jahat (ibid: 115, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, hal. 277).

Umat Hanafiya melakukan praktek² ibadah seperti “sunat, naik haji ke Mekah, wudhu setelah bersetubuh, menolak penyembahan berhala, percaya pada satu Tuhan yang menentukan nasib baik dan jelek, dan semua di jagad raya ini telah ditakdirkan dan ditulis nasibnya.” (ibid: 116, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mafasal, hal. 290). Menurut al-Qimni, satu²nya yang belum ada bagi umat Hanafiya adalah seorang Nabi (ibid: 116). Ketika umat Hanafiya sadar pentingnya memiliki seorang Nabi, mereka lalu bersaing satu sama lain untuk menentukan siapa diantara mereka yang layak jadi Nabi. Mereka mengira wahyu akan dinyatakan pada satu orang yang mencapai tingkat spiritual dan kesucian yang tinggi (ibid: 117). Salah satu dari mereka, yakni Zayd Ibn ‘Umar Ibn Nafil, tenar akan kerohaniannya dan dia tidak minum minuman beralkohol, tidak makan bangkai, darah, babi dan semuanya yang disembelih tanpa menyebut nama Allâh atau apapun yang dipersembahkan pada berhala (ibid:118, mengutip Ibn Hisyam, hal. 206). Umat Hanafiya lainnya adalah Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi al-Salt yang tidak pernah menerima Islam karena mengira dia sendiri akan jadi Nabi (ibid: 121, mengutip Dr. Jawad ‘Ali, hal. 280-281, Ibn Hisham hal. 208-209, dan Ibn Kathir hal. 206, 208). Ketika dia diberitahu bahwa Nabi Muhammad membunuh orang² Mekah dalam perang Badr, dia menyobek-nyobek bajunya dan meratap-tangis dan berkata jika dia adalah Nabi, maka dia tidak akan membunuhi keluarganya sendiri (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, hal, 377, 378, 383).

Al-Qimni menyatakan banyak sajak² yang ditulis oleh kedua pemeluk Hanafiya, yang lalu dimasukkan ke dalam Qur’an (ibid, hal. 118-123). Berikut adalah contoh ayat yang ditulis oleh Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi Salt dan dimasukkan ke dalam Qur’an:

Tentang Ibrahim ketika dia bermimpi akan membunuh putranya Ismail,
Umaiyya berkata, “Wahai putraku, aku telah memberikanmu sebagai persembahan pada Tuhan, bersabarlah karena Allah akan menggantimu. Putranya menjawab bahwa segalanya milik Allâh tanpa perkecualian. Lakukan apa yang telah kau janjika pada Allah dan jangan melihat darahku yang menutupi bajuku. Dan saat dia menanggalkan baju anaknya, Allâh mengganti putranya dengan persembahan halal seekor domba.

Tentang Maria dan putranya Yesus, Umaiyya berkata,
Dan dalam agamamu karena Tuhannya Maria adalah sebuah tanda, yang tentang Yesus putra Maria. Seorang malaikat datang pada Maria pada saat orang² sedang tidur, dan malaikat itu tampil nyata dan tidak tersembunyi. Dia berkata, “Jangan takut atau tak percaya pada para malaikat Tuhan dari ‘Aad dan Jariham. Aku adalah utusan al-Rahman yang memberimu seorang putra.” Maria berkata, “Bagaimana mungkin aku punya putra sedangkan aku tidak pernah jadi wanita jalang atau mengandung?

Tentang Musa dan Harun dan kisah mereka dengan Firaun, Umaiyya berkata,
Karena kebaikan dan pengampunanMu kau mengangkat Musa sebagai seorang Nabi. Kau berkata padanya, pergilah kau dan Harun menghadap Firaun yang congkak. Katakan padanya, apakah kau membuat bumi tanpa gunung² untuk melindunginya? Dan katakan padanya, apakah kau membuat langit tanpa pilar² pendukung?

Tentang Hari Kiamat, Umaiyya berkata,
Ketika mereka menghadap pada Takhta Allâh, yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nyata. Ketika kami datang menghadapNya, Dia adalah Tuhan yang pengasih dan janjiNya dipenuhi. Dan kaum berdosa dibawa dengan telanjang ke tempat terkututk bagi mereka. Di sana mereka tidak mati untuk beristirahat, dan mereka tetap berada dalam lautan api.

Al-Qimni mengutip pernyataan Dr. Jawad ‘Ali sebagai berikut:
Terdapat banyak kesamaan pendapat dalam ayat² puisi di atas dengan apa yang tertulis dalam Qur’an tentang Hari Kiamat, Surga, dan Neraka. Terlebih lagi, kita dapatkan dalam puisi² Umaiyya konstruksi dan isi kalimat yang sama seperti yang tercantum dalam Qur’an dan ahadis. Tentu saja tidak mungkin bahwa Umaiyya menjiplak puisi tersebut dari Qur’an sebab saat itu Qur’an belum diwahyukan. Meskipun dia meninggal di tahun ke 9 Hijriah, kita tidak bisa membuat kesimpulan bahwa dia mencuri ayat² Qur’an karena saat itupun Qur’an belum selesai diwahyukan. (ibid: 123-124, Dr. Jawad ‘Ali, al-Mafsal, hal. 384-385).

Selain tentang agama Hanafiya, al-Qimni juga membahas sedikit tentang agama Al-Sabiah atau Sabian. Menurut dia, umat Sabian “biasa sembahyang berkali-kali setiap hari dan hal ini merupakan kewajiban ibadah. Dalam sembahyang mereka melakukan qiyam (berdiri) dan ruk’u (berlutut dan bersujud), melakukan wudhu sebelum sembahyang, dan mencuci tubuh mereka setelah berhubungan sex, dan mereka punya beberapa ketentuan yang membatalkan wudhu.” (ibid: 111, mengutip dari Mahmoud al-‘Aqaad 1967, hal. 144).

Munculnya Nabi yang Ditunggu-tunggu

Setelah penjelasan latar belakang keadaan, al-Qimni berkata, “dan setelah Muhamad SAW mulai mengikuti jejak langkah kakeknya Abd Al-Mutalab di gua Hira, dan gua ini berubah jadi tempat suci dan terkenal dalam sejarah… dan dia beriman pada agama Hanafiya, dan sebelum mencapai usia 40 tahun, dia menyatakan diri sebagai Nabi ummat , setelah Tuhan Ibrahim menyatakan diri padanya.” (ibid: 132).

Pada mulanya, masyarakat Mekah tidak menentang atau menerima agama baru Muhammad. Akan tetapi, para pemimpin Mekah mulai protes ketika ayat² Qur’an mulai menghina mereka (ibid: 134). Contohnya, dalam Sura Qalam (Pena), ayat 68:13, Qur’an menyebut Al-Akhnas Ibn Shariq sebagai anak haram karena dia menyebut Muhammad sebagai orang sakit jiwa atau orang kesurupan (ibid, mengutip dari Ibn Kathir, hal. 243). Dalam Surah Al-Muddaththir, ayat 74:50, Qur’an menyatakan bahwa para ketua masyarakat suku sebagai keledai² karena mereka menolak masuk Islam (ibid). Dalam Sura Al-Masad 111 (Api), Qur’an membantah pernyataan paman Muhammad yang bernama Abd al-‘Aizi, dan menyebut dia sebagai Abu Lahab atau “Ayah Api,” dan menyebut istrinya yang merupakan saudara perempuan Abu Sufyan, sebagai pembawa kayu bakar di neraka. Dan di Sura Al-Kafirun 109, Qur’an menyebut masyarakat Mekah sebagai kafir (ibid:135). Akan tetapi, para ketua Mekah tidak melihat bahaya dari Islam sampai Muhammad mulai membujuk para budak untuk memberontak terhadap majikan² mereka. Pada saat ini kelompok Abd Al-Dar mulai bersekutu dengan suku² Mekah lainnya untuk mencegah Islam berkembang (ibid: 141, mengutip Ibn Hisyam, hal. 238, 241). Mereka sekarang melihat bahwa putra² Abd Manaf mencoba menguasai seluruh suku² Arab melalui cara sebagai Nabi baru.

Persekutuan dengan Suku² Medina

Ketika Muhammad mulai kehilangan harapan untuk mendapat dukungan di Mekah, dia menerima ajakan orang² Yahtrib dari suku Al-Khaoz dan Al-Khazrig untuk tinggal di Yathrib dan jadi ketua mereka (ibid:150). Suku² Yathrib ingin menguasai kota Mekah dengan cara menyerang dan mencegat kafilah² dagang Mekah yang datang dari Al-Sham atau Syria menuju ke Mekah. Perbuatan penyerangan ini dihalalkan dalam Islam (ibid). Suku² Yahudi yang saat itu tinggal di Yathrib menerima persetujuan dari suku² Al-Khaoz dan Al-Khazrig, dan berjanji untuk berperang bersama dengan mereka. Dengan begitu, ayat² Qur’an memuji-muji kaum Yahudi dan nabi²mereka mulai bermunculan. Ayat² ini menyatakan masyarakat Yahudi melebihi segala masyarakat lain di seluruh dunia [lihat Qur’an, Sura² Al-Baqarah 2: 62, Al-Maidah 5: 44, Al-A’raf 7: 157, and As-Saff 61: 6] (Ibid: 150). Akan tetapi, sikap ramah Muhammad terhadap kaum Yahudi ini tidak lama berlangsung. Sang Nabi “bersikap ramah untuk beberapa saat pada kaum Yahudi, lalu mulai berdebat dengan mereka, dan menunggu bertindak sampai datang kesempatan baik untuk mencabut kuku² mereka (menyiksa mereka), dan akhirnya menghancurkan mereka sepenuhnya” (ibid: 151, mengutip dari Ahmed al-Sharif, Makka wa al-Madina, hal. 415).

Tak lama setelah sang Nabi pindah ke Yahtrib, yang lalu dinamakannya sebagai Medina, dia membuat perjanjian dengan kaum Yahudi dan mulai menyerang kafilah² dagang Mekah, yang datang dari Al-Sham atau Syria (ibid: 153). Persekutuan antara suku² Medina dan Muhammad berperanan penting dalam mengalahkan suku² Mekah. Dan akhirnya memang Mekah jatuh dan kelompok keluarga Hashmi mengambil alih kekuasaan di kota Mekah dan Medina. Ketika Muhammad menguasai Ka’bah, suku² Arab menerima agama baru Islam (ibid: 154). Akan tetapi, kekuasaan keluarga Hashmi tidak berlangsung lama setelah sang Nabi wafat. Putra² Umayyah, yang diasingkan ke Syria, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam terhadap keluarga Hashmi. Dan ketika kesempatan baik tiba, mereka tidak hanya mengambil alih kekuasaan, tapi juga membunuh semua anggota keluarga Hashmi. Mereka membunuh cucu² Muhammad yakni Hasan dan Husyein, dan memusnahkan seluruh keluarga Hashmi dari muka bumi. Mereka juga bahkan menghancurkan Ka’bah dengan ketepel² raksasa (ibid: 154). Ma’uwiyah, yang merupakan kalifah pertama bani Umayyad menulis syair yang menyarikan buku yang ditulisnya yakni Al-Hizb Al-Hashmi:

Suku Hashmi bermain-main dengan kepemimpinan
Tiada kabar atau wahyu yang datang dari surga
(ibid: 154, mengutip dari Muhammad al-Qazuni, hal. 9, dan Ibn Kathir, al-Bedayia wa al-Nihaia, hal. 227).

Akan tetapi, kisahnya tidak berhenti dengan kesimpulan itu, tapi diteruskan dalam buku Al-Qimni dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi).

[DAFTAR ISI] | [Pendahuluan] [Bab II]

[Download eBook]

%d blogger menyukai ini: