Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Nestapanya Masyarakat Muslim

Oleh Ibnu Kammuna (3 Juli 2012)

Ketika saya tinggal di Timur Tengah, saya pernah bertanya kepada seorang teman baik, seorang wanita Amerika, yang tinggal di sana: Apa pendapat Anda perbedaan utama antara cara berpikir kami orang Arab dengan cara berpikir Anda orang Barat?

Meskipun pertanyaan saya tidak jelas dan umum, memang saya maksudkan seperti itu. Saya ingin melihat apa yang paling berbeda dalam pikirannya tentang budaya dan mentalitas Arab dengan budaya dan mentalitas barat.

Tolong diingat bahwa dia adalah seorang wanita terpelajar. Dia menjawab pertanyaan saya dengan panjang, yang dapat diringkas sebagai berikut:

Budaya Arab adalah budaya rahasia. Orang Barat juga memiliki rahasia, tapi mereka menginginkan sebanyak mungkin terpapar di depan umum. Budaya Arab adalah budaya malu tanpa kebenaran dan keterbukaan. Budaya barat adalah budaya “membantu orang lain”, bukan mempermalukan seseorang. Dan itu adalah budaya kejujuran dan tradisi pencatatan publik. Budaya Arab adalah budaya “memaksakan” sesuatu pada individu tanpa refleksi apapun. Budaya Barat adalah budaya pilihan, dan refleksi kritis terhadap apapun.

Dia mengatakan banyak hal lain yang tidak saya ingat secara persis. Pada saat itu, saya belum pernah ke barat. Jadi, saya yakin dia mengatakan banyak hal yang tidak cukup dapat saya tangkap dan pahami. Tapi point-point itu lah yang tetap melekat dalam ingatan saya.

Setelah saya pindah ke Barat dan tinggal selama bertahun-tahun, saya percaya dia “memalu paku tepat di kepala paku” dalam memberikan jawabannya.

Di Timur Tengah, otak saya jenuh dengan “membenci Yahudi” melalui buku teks, fatwa agama, ayat-ayat Alquran, peribahasa budaya, surat kabar dan media lainnya. Kejenuhan pikiran dengan ajaran “membenci Yahudi” ini mau tidak mau memaksakan pandangan tertentu tentang orang Yahudi di pikiran seseorang. Butuh waktu bertahun-tahun hidup di barat dan berurusan dengan banyak orang Yahudi untuk menyadari bahwa orang Yahudi dapat menjadi orang yang mengagumkan-suatu proses, yang saya sebut “detoksifikasi”. Saya telah berurusan dengan banyak orang Yahudi, yang terlibat dalam kegiatan sukarela dan amal secara rutin, dan memiliki keahlian khusus untuk kepentingan publik, suatu sifat yang hampir tidak terlihat dalam budaya Arab.

Hubungan saya dengan pribadi2 Yahudi di Barat membuat saya mempertanyakan budaya “kebenaran” Arab, yang telah dijejalkan ke otak saya dan saya yakini ketika dalam masa pertumbuhan di Timur Tengah. Misalnya, saya telah dituntun untuk percaya pada budaya kebenaran Arab bahwa perang 1967 adalah tidak lebih dari sebuah agresi Israel terhadap bangsa Arab. Saya teliti hal ini berdasarkan publikasi terpercaya dan dokumen netral. Dan kesimpulan saya, apa yang Thomas Kuhn sebut “paradigma shift” terjadi pada saya. Penghasut utama dari perang 1967 adalah negara Arab. Biang keladi utama perang itu adalah presiden Mesir waktu itu, yakni Jamal Abdul Naser. Tentu saja, para pemimpin Arab lainnya mendukungnya. Dan seluruh dunia Arab mengalami kekalahan telak dan memalukan dalam suatu perang, yang dengan bangga mereka cetuskan, di tangan negara kecil Israel.

Sejak itu, saya telah berhenti mempercayai media atau politik Arab. Saya memutuskan untuk melakukan sendiri penelitian independen untuk sampai pada kebenaran.

Mari kita kembali ke isu utama yang akan dibahas dalam artikel ini – kenyataan tanpa harapan di negara-negara Arab dan Islam. Situasi tanpa harapan di negara-negara Islam berasal dari pengabaian fakta-fakta kehidupan, dan penghindaran, tidak menanganinya. Dan saya yakin bahwa Islam, yang Muslim imani sebagai petunjuk lengkap dari kehidupan mereka, bertanggung jawab atas kenestapaan ini di negara-negara Islam. Islam mematikan pikiran individu dan bangsa. Islam menghadang di jalan pencarian kebenaran. Islam yang membutakan masyarakat Muslim membuat mereka tidak tertarik pada kebenaran dan membuat mereka tetap dalam kebodohan.

Perkenankan saya jelaskan lebih jauh.

Pencarian kebenaran, tidak peduli apa pun topiknya, mengharuskan kita untuk berpikir kritis. Berpikir kritis membantu kita untuk menyelidiki setiap kebenaran secara netral dan terus-menerus, dan memperbaiki pandangan kita tentang kebenaran itu, bila diperlukan. Fakta ini terbaik dapat dilihat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Bumi datar adalah “Kebenaran” bagi sebagian besar sejarah manusia. Tapi kemudian, penelitian ilmiah mengatakan sebaliknya tentang bentuk bumi – bahwa bumi memiliki bentuk bola yang agak lonjong – berbeda dari kebenaran kuno kita bahwa bumi adalah datar. Dan kita koreksi diri kita sendiri.

Kita percaya bahwa konsep “waktu” adalah mutlak. Fenomena tertentu menantang “Kebenaran” seperti itu. Lalu kita pikirkan secara kritis, dan akhirnya mengubah pandangan kita akan waktu menjadi suatu yang “relatif”. Dengan demikian, berpikir kritis sangat penting untuk mencari kebenaran, yang mendorong kemajuan dan perkembangan ilmiah.

Islam menghancurkan elemen penting ini dalam pemikiran manusia, setidaknya dalam hal-hal tertentu. Islam mungkin membolehkan berpikir kritis, tetapi yang menyangkut agama dan yang berhubungan dengan agama, adalah terlarang bagi pemikiran kritis. Di Barat, orang boleh mempertanyakan moralitas Yesus. Seseoang boleh mempertanyakan niat dan maksud Paus. Setiap orang dapat menantang norma apapun. Tidak dalam Islam. Di negara Muslim, bila Anda mempertanyakan kenabian Muhammad atau kebenaran Quran, Anda akan jadi daging mati. Mantan Muslim Mark Gabriel adalah seorang profesor Al-Azhar. Ia mempelajari Islam secara kritis dan mengerti bagaimana jahatnya fondasi Islam. Lalu, dia berhenti mempercayai Al Qur’an. Tebak apa yang terjadi padanya? Dia diludahi dan diserang oleh rekan-rekannya di Universitas Al-Azhar dan juga oleh keluarganya. Seorang profesor universitas di Tepi Barat mempertanyakan keberadaan Muhammad berdasarkan fakta-fakta sejarah tertentu. Tebak apa yang murid-muridnya lakukan kepadanya? Mereka melemparkannya keluar jendela lantai dua.

Muslim menyangkal penegasan Ali Sina bahwa Islam adalah sebuah kultus. Tapi kenyataan di lapangan membuktikan pernyataannya benar hari demi hari. Anggota kultus tidak bisa menerima kenyataan bila pemimpin mereka ternyata adalah penjahat hina. Dalam cara yang persis sama, umat Islam tidak hanya gagal menerima bukti kebenaran yang nyata bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penjahat keji, perampok jalan raya, pembunuh massal, memperbudak orang, dan seorang pedofil, poligamis dan pemerkosa. Mereka mengabaikan fakta-fakta tersebut, memberikan warna ilahi, dan menyenangkan dan memuaskan diri sendiri bahkan hari ini.

Ketika Muslim mendengar bahwa seseorang telah membakar Al Qur’an, padahal baru desas desus, neraka langsung terbuka lebar. Mentalitas kultus merasuk, membakar dan mengamuk langsung nampak! Mereka membunuh biarawati dan misionaris Kristen dimana saja di dunia, meskipun pembakaran Quran yang diduga terjadi jauh di pojok lain dunia. Mereka membunuh orang Yahudi, membakar kuil Yahudi dan kitab Taurat sambil kalap menghancurkan masjid Ahmadiyah.

Islam adalah kultus yang menemukan sukses besar karena saat kelahirannya yang cocok. Di abad keenam saat tidak ada pemerintahan yang berfungsi di Arab, kekuatan suku berkuasa dan menentukan urusan sehari-hari. Muhammad memanfaatkannya bagi keuntungan dirinya. Ia mendirikan dan membuka sistem “suku”, yang disebut Islam. Dalam sistem ini, mudah untuk bergabung, tapi mustahil keluar dalam keadaan hidup. Sampai hari ini, hukuman bagi kemurtadan adalah kematian. Dalam sistem suku terbuka untuk masuk dan tertutup untuk keluar, Muhammad berhasil menarik semua penjahat dan pemberontak dari suku-suku lain. Dia memikat mereka dengan harta jarahan dan tawanan perempuan untuk diperkosa, dan ternyata berhasil. Dengan keserakahan terhadap harta jarahan dan wanita, Muhammad membuat sebuah sistem suku yang sukses – terbuka untuk masuk tetapi tertutup untuk keluar. Dia dengan bangga mengatakan ungkapan seperti “Saya dibuat menang dengan teror” dan “Saya satu-satunya nabi yang dihalalkan menerima harta jarahan oleh Tuhan/Allah.”

Paradigma dasar Islam ini, betapa pun mengerikan dan kejinya, sangat jelas dalam teks-teks Islam yang suci, namun umat Islam di abad 21 tetap memeluk keyakinannya yang tak tergoyahkan. Mereka tetap yakin akan keilahian dan kebenaran Muhammad yang layak ditiru setiap saat. Hal itu menunjukkan bagaimana budaya muslim tidak membolehkan pengembangan pemikiran kritis dan refleksi diri. Jauh dari itu, malah menekannya.

  1. “Muslim tidak dibolehkan meninggalkan Islam. Jika mereka lakukan harus dibunuh “. Muslim tidak dibolehkan merefleksikan ajaran Islam.
  2. “Seorang pria Muslim dibolehkan menikahi wanita dari agama lain (Yahudi dan Kristen). Seorang wanita muslim tidak dibolehkan menikah dengan non-Muslim”. Muslim tidak dibolehkan mempertanyakan kenapa Muhammad mengajarkan begitu.
  3. “Seorang Muslim tidak dibolehkan minum segelas anggur (hal yang menyehatkan jika dilakukan secukupnya)”. Seorang Muslim tidak dibolehkan untuk melakukannya atau mempertanyakannya.
  4. “Tubuh Seorang wanita Muslim harus ditutupi, padahal sebenarnya mengekspos kulit pada sinar matahari secukupnya adalah hal yang baik. Sinar matahari membantu pembuatan vitamin D dalam tubuh, yang merupakan nutrisi penting untuk perkembangan tulang”. Seorang Muslim tidak dibolehkan untuk menantang ajaran-ajaran tersebut.

Daftarnya panjang. Fakta tetap bahwa umat Islam tidak diperbolehkan untuk menggunakan otak mereka secara kritis jika penggunaan tersebut menantang ajaran Islam atau perilaku Muhammad, yang dianggap Sunnah suci. Seorang dokter Muslim di Minnesota masih merekomendasikan pemotongan alat kelamin perempuan dengan cara tertentu karena, dalam satu Sahih hadis, Muhammad mengajarkan melakukan hal yang sangat jahat dan tidak bermoral yang merusak seksualitas perempuan.

Untuk mengembangkan pemikiran kritis, kita harus diajarkan di sekolah-sekolah kebebasan berpikir dan kebebasan untuk merenungkan segala sesuatu yang diajarkan atau datang ke pikiran seseorang. Pendidikan sejati memungkinkan individu untuk melihat tidak ada yang sakral, dan mempertanyakan setiap fakta yang dipelajari atau diterima. Kemampuan seperti itu tidak ditanamkan pada anak-anak dalam masyarakat Muslim. Jika berpikir bebas dan kritis diizinkan dalam masyarakat Muslim tentang apa saja, saya yakin, Islam akan segera menerima takdirnya menjadi sejarah agama dalam peradaban manusia. Akan dikubur di gurun pasir Saudi Arabia yang menjadi pemiliknya.

Sumber: FaithFreedom.org

One response to “Nestapanya Masyarakat Muslim

  1. Rio Prawira 21 Maret 2014 pukul 1:07 AM

    segera tobat mas, kiamat sudah semakin dekat..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: