Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Ilusi Mereformasi Islam

Oleh Ali Sina

Terimakasih untuk terorisme Islam yang menyebabkan ketertarikan untuk mengetahui tentang Islam semakin meningkat, dan Islam kini berada di bawah penyelidikan yang seksama. Namun sejak perkembangan terorisme yang makin meningkat itu, maka dunia non-Muslim mulai mempertanyakan, dimanakah orang-orang Muslim yang moderat. Sayangnya, tak ada seorang pun. Konsep itu adalah sesuatu yang absurd. Orang-orang Muslim melihat isu tersebut secara berbeda. Anda masuk dalam kategori, apakah seseorang yang mempraktekkan Muslim dengan ‘baik’ atau seorang Muslim yang plin-plan. Kelompok terakhir inilah yang disebut oleh orang-orang Barat sebagai Muslim yang moderat. Biasanya orang-orang Muslim sejati melihat mereka sebagai orang-orang ‘munafik’. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ‘orang-orang moderat’ itu juga mengakui bahwa mereka adalah orang-orang ‘munafik’. Mereka akan memberitahukan pada anda bahwa mereka meyakini Islam tetapi mereka bukanlah orang-orang Muslim yang baik. Namun demikian, dalam pikiran mereka, mereka merencanakan untuk menjadi orang-orang Muslim yang ‘baik’ ketika mereka telah merasa puas melakukan semua ‘dosa’ serta menjalani kesenangan hidup.

Islam benar-benar sebuah agama yang buruk. Masalah Islam bersumber dari kitab sucinya dan bukan pada para pengikutnya. Memanfaatkan kebingungan ini, sekelompok orang-orang Muslim memiliki ide untuk ‘mereformasi Islam.’ Beberapa orang dari ‘para reformator’ ini pun sudah mendapatkan sejumlah pengakuan dari orang-orang non Muslim yang teledor, dimana mereka menaruh harapan mereka dari kelompok orang-orang Muslim seperti itu, kendati mereka tidak dianggap bahkan dicemooh oleh orang-orang Muslim kebanyakan.

Dalam artikel ini, saya ingin mendiskusikan mengenai apakah Islam bisa direformasi.

Marilah kita menyelidiki etimologi dan arti dari ‘re-form’ (membentuk kembali). Kata ‘reform’ berasal dari bahasa Latin ‘reformare’, yang artinya: membebaskan, mengklaim kembali, atau ‘memperbaharui ulang’. Kesemuanya itu mengandung implikasi, merestorasi sesuatu kepada bentuk aslinya.

Sebelum berbicara mengenai reformasi Islam, marilah kita pertama-tama melihat sejenak pada reformasi yang terjadi dalam Kekristenan.

Reformasi Kristen

Reformasi Kristen dimulai sebagai sebuah usaha untuk mereformasi, bukan mereformasi Kekristenan, melainkan mereformasi Gereja Katolik. Banyak orang percaya yang bergumul dengan Gereja dan praktek-praktek yang ada di dalamnya, misalnya mengenai penjualan indulgensia (surat penghapusan siksa/tiket menuju ke Firdaus), dan simoni (membeli dan menjual posisi-posisi dalam Gereja). Mereka melihat hal-hal itu sebagai doktrin-doktrin yang salah dan dianggap sebagai malpraktek dalam Gereja.

Martin Luther, Ulrich Zwingli, John Calvin and para reformator lainnya, memprotes hal-hal tersebut dan praktek-praktek serta kepercayaan-kepercayaan lainnya yang ada dalam Gereja Katolik; misalnya mengenai Purgatori, devosi pada Maria (memuliakan Maria), doa dan devosi pada orang-orang suci, sebagian besar sakramen, selibat yang diwajibkan bagi para rohaniwan (termasuk monastisisme), dan otoritas Paus.

Tak satu pun dari doktrin-doktrin yang ada di atas merupakan doktrin Kristen. Kesemuanya itu adalah praktek Gereja. Para reformator memprotes Gereja. Mereka tidak sedang menentang otoritas Alkitab. Mereka menganjurkan supaya Alkitab dibaca secara literal. Mereka menolak penafsiran-penafsiran alegoris terhadap Alkitab dan mengajarkan bahwa teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru seumpama undang-undang dasar yang tak boleh dirubah. Kata-kata dalam Alkitab mengandung arti sebagaimana yang dikatakan; setiap kesulitan, kontradiksi, atau arti yang tak jelas, adalah kesalahan pembaca dan bukan kesalahan teks.

Semua hal yang tidak secara eksplisit dan literal ada dalam Alkitab harus ditolak, dan semua hal yang secara eksplisit dan literal ada dalam Alkitab harus diikuti tanpa ragu.

Inilah esensi dari Reformasi Protestan.

Reformasi Islam

Sebuah reformasi yang sejalan juga terjadi dalam Islam. Inilah yang disebut reformasi Salafisme.

Banyak dari orang Barat yang dengan salah mempercayai bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703-1792) adalah pendiri dari sebuah sekte ekstrimis Islam. Hal ini sama sekali tidak benar. Abdul Wahhab tidak mendirikan sebuah sekte. Ia hanyalah seorang reformator Islam, sama dengan Martin Luther dalam Kristen.

Inti dari pemikiran Abdul Wahhab adalah bahwa Islam sudah sempurna dan lengkap di masa Muhammad dan sahabat-sahabatnya masih hidup; dan bahwa kini Islam mengalami kemunduran sebagai akibat dari inovasi-inovasi keagamaan (bidat), dan bahwa sebuah kebangunan kembali Islam akan membawa Islam seperti saat ketiga generasi masih ada, dimana pengaruh-pengaruh luar terhadap agama tersebut bisa dibersihkan.

Konsep bahwa Islam itu sebenarnya sudah sempurna di tahap-tahap awal keberadaannya bisa dilihat di Quran sura 5:3,

 

Q. 5:3 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Abdul Wahhab meminta orang-orang Muslim agar mereka menarik diri dari setiap inovasi-inovasi dan mengikuti contoh-contoh dari para salaf (‘pendahulu’ atau’generasi-genarasi awal’) darimana kemudian nama Salafis berasal.

Salafi: سلفي, mengambil sebagai model, para leluhur yang saleh dari periode patristik Islam mula-mula. Keyakinan ini bukanlah sebuah penemuan dari Abdul Wahhab, melainkan didasarkan pada sebuah Hadis yang melaporkan bahwa Muhammad mengatakan:

Orang-orang dari generasi saya adalah yang terbaik, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, dan kemudian para pengikut yang berikutnya (misalnya, ketiga generasi awal orang-orang Muslim. [Bukhari 3:48:819 and 820 dan Muslim 31:6150 dan 6151.] (Tabi‘in dan Taba‘ at-Tabi‘in,)

Di Hadis Muhammad lainnya dicatat:

Dalam usaha untuk menghancurkan mitos Barat bahwa Abdul Wahhab adalah pendiri Salafisme, ditambahkan catatan bahwa ibn Taymiyyah (1263–1328) juga adalah seorang Salafi. Ibn Taymiyyah menentang perayaan ulang tahun Muhammad dan konstruksi tempat suci di sekitar ‘orang-orang suci’ Sufi dengan mengatakan: “Banyak dari antara mereka [orang-orang Muslim] bahkan tidak tahu bahwa praktek-praktek seperti itu asalnya dari orang-orang Kristen [Katolik]. Tuduhan dialamatkan pada orang-orang Kristen dan para pengikutnya.”

Pemakaian awal terminologi Salaf muncul dalam buku Al-Ansab oleh Abu Sa’d Abd al-Kareem al-Sama’ni, yang wafat pada tahun 1166 (tahun 562 menurut kalender Islam). Saat mendefinisikan terminologi al-Salafi, ia mengatakan,”Ini adalah sebuah inskripsi untuk salaf atau para penerusnya, dan adaptasi dari institusi pendidikan mereka yang didasarkan pada apa yang saya telah dengar.” Kemudian ia menyebutkan contoh-contoh lebih banyak lagi sarjana yang menggunakan inskripsi ini.

Ada sebuah hadis dimana Muhammad mengatakan,”Aku adalah Salaf terbaik bagimu.” [Sahih Muslim: no. 2450]

Keinginan untuk mereformasi Islam dan kembali ke kondisi aslinya sebenarnya merupakan pemikiran yang sudah tua. Namun demikian, Abdul Wahhab, berhasil mempertajam konsep ini, dan raja-raja Saudi sangat berterimakasih padanya sebab mereka merupakan keturunannya melalui salah seorang dari puterinya.

Kemiripan antara Reformasi Kristen dan Reformasi Islam

Ada banyak kemiripan antara Protestantisme dan Salafisme. Protestantisme menolak devosi kepada Maria dan orang-orang suci dan dan menjadikan mereka sebagai perantara. Salafisme sebaliknya, menolak devosi kepada Muhammad, berdoa kepadanya dan menganggap orang-orang suci Islam sebagai perantara (inilah praktek yang bisa ditemukan dalam kelompok Syiah). Kedua gerakan reformasi ini ingin mengembalikan iman yang sangat mereka hormati itu kepada kemurniannya yang awal dan menjauhkan diri dari inovasi-inovasi yang sudah ditambahkan pada agama tersebut setelah kematian dari para pendirinya.

Dr. Ingrid Mattson, yang diundang oleh Barrack Hussein Obama untuk mewakili orang-orang Muslim dalam doa antar-iman di konvensi Presidensial Demokrat, dan yang menjadi presiden dari the Islamic Society of North America/Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA), saat ditanya apakah Wahhabisme adalah sebuah sekte sayap kanan ekstrim Islam, menjawab:

Tidak, adalah tidak benar untuk mengkarakteristikkan ‘Wahhabisme’ dengan cara seperti itu. Itu adalah nama dari sebuah gerakan reformasi yang dimulai 200 tahun lalu untuk membersihkan masyarakat Islam dari praktek-praktek budaya dan penafsiran yang kaku, yang masuk ke dalam Islam selama berabad-abad Islam ada di dunia. Ini adalah sesuatu yang sangat sejalan dengan reformasi protestan Eropa.

Hasil dari Reformasi Kristen

Kendati Reformasi Kristen dan Reformasi Islam hampir-hampir identik dalam cakupan dan metodologinya, hasilnya sangatlah berbeda. Pembacaan Alkitab secara literal menjadi tempat bergantung teori-teori sosial dan organisasi masyarakat Protestan dan pondasi dari organisasi sosial koloni-koloni Inggris di Amerika.

Para reformator ini secara literal mentransformasikan pandangan filosofis, politik, keagamaan dan sosial Eropa. Kita masih tinggal di sebuah masyarakat yang didominasi oleh teori Protestan mengenai organisasi sosial.

Wacana politik Amerika pada hakekatnya bersifat Calvinistik. Dengan kata lain, organisasi sosialnya didasarkan pada makna literal dari kitab suci Kristen.

Berdasarkan ajaran Calvin dan Zwingli, tidak hanya bahwa semua keyakinan keagamaan seharusnya didasarkan pada pembacaan literal dari kitab suci, tetapi juga organisasi gereja, organisasi politik, dan masyarakat sendiri seharusnya didasarkan pada pembacaan literal dari kitab suci tersebut.

Luther menulis sebuah surat kepada Paus Leo, (yang mengakibatkan dia diekskomunikasi dari Gereja), yang mana kemudian ia menjelaskan substansi dari ide-idenya. Surat itu diberi nama “Demi Kemerdekaan Orang Kristen” (“On the Freedom of the Christian”). Surat ini menjelaskan inti dari pemikiran Luther. Menurut Luther, hakekat dari Kekristenan adalah ‘kemerdekaan’ atau ‘kebebasan’.

Inilah konsep yang kemudian memberikan inspirasi bagi bangkitnya kebebasan individual, kebebasan politik dan kebebasan ekonomi.

Kebanyakan dari Pencerahan Eropa (enlightenment), berkisar soal kemerdekaan dan merupakan proyek untuk ‘membebaskan’ manusia: membebaskan mereka dari keyakinan-keyakinan palsu, agama palsu, penguasa yang sewenang-wenang, dsb. – inilah, apa yang disebut sebagai ‘wacara pembebasan.’ Orang-orang Kristen, masih berpartisipasi dalam proyek Enlightenment hingga hari ini.

Inilah alasan mengapa Amerika menginvasi Irak, yaitu untuk mencegah seorang diktator mengontrol sebagian besar dari cadangan minyak dunia, untuk membebaskan Kuwait, dan satu dekade kemudian, untuk membebaskan orang-orang Irak. Inilah alasan mengapa Amerika telah berperang di hampir empat puluh peperangan di luar negaranya sendiri, dari Jepang hingga Jerman, Italia, Panama, Nikaragua, Kosovo, Vietnam, Korea, Anggola, juga di Somalia. Apakah peperangan ini adalah sesuatu yang benar atau salah, motivasinya selalu sama, yaitu untuk membebaskan manusia, menghentikan diktator, mengekspor demokrasi dan kebebasan. Ide ‘membebaskan’ manusia, demokrasi, sedemikian berurat-berakar dalam politik internasional Amerika, muncul dari ide Luther mengenai “kebebasan”.

(Bagi mereka yang menyerang saya, karena saya membicarakan Luther, saya mencoba meluruskan bahwa saya bukan sedang membela pandangannya yang anti-semitis. Saya hanya sedang mendefinisikan konsep dari Reformasi Protestan. Mari kita memisahkan kedua isu tersebut).

Faktor-faktor lain juga memainkan peran dalam perang-perang ini, misalnya untuk melindungi kepentingan ekonomi dan politik Amerika. Namun demikian, secara umum bisa katakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk membebaskan orang dari tirani. Membebaskan orang dan mempertahankan kepentingan Amerika tidaklah satu sama lain eksklusif.

Ada perkecualian dimana Amerika pernah bertindak sepenuhnya karena kepentingan sendiri, bukan karena alasan untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satu contoh adalah ketika Amerika menyingkirkan Dr. Mossadq, Perdana Menteri Iran yang demokrat, pada tahun 1953, dan menggantinya dengan seorang raja boneka yang tidak pada tempatnya, dan yang kemudian berubah menjadi seorang diktator.

Ini bukan wacana kaum liberal. Kaum liberal tak punya keinginan untuk membebaskan siapa pun. Mereka sudah merasa bahagia bisa bekerjasama dengan rejim yang sangat oppresif dan tak peduli bahwa rejim seperti itu sudah bertindak sangat brutal terhadap masyarakat mereka.

Hasil dari Reformasi Islam

Apakah esensi dari reformasi Islam? Esensinya dari keyakinan Wahhabi adalah bahwa manusia bukanlah mahluk yang bebas melainkan budak Allah. Manusia adalah ibad (budak-budak).

Secara diametris, hal ini merupakan wacana yang berbeda dari yang diwacanakan oleh Protestantisme, dan inilah esensi yang berbeda antara Kristen dan Islam.

Di permukaan, ada banyak kemiripan antara Kristen dan Islam. Keduanya sama-sama percaya pada satu Tuhan, keduanya bersandar pada seorang pengantara antara manusia dan Tuhan, kedua iman ini mengajarkan eskatologi – punya konsep tentang surga, neraka dan hidup sesudah mati, dsb. Namun demikian, inti dari keduanya sangatlah berbeda, pada kenyataannya bertentangan satu sama lain. Para reformator kedua keyakinan ini mengambil jalan yang sama, namun saat mereka kembali ke iman mereka yang paling murni, mereka berjalan di jalan yang berbeda. Islam bukanlah sebuah kelanjutan dari Kekristenan, sebagaimana yang diklaim oleh Muhammad dan para pengikutnya. Melainkan inti dari ajaran Islam sesungguhnya merupakan anti dari keyakinan Kristen. Kekristenan menganjurkan kemerdekaan manusia, Islam menganjurkan perbudakan manusia. Yang satu membawa pesan pembebasan, yang lain, kepatuhan/tunduk.

Wacana kebebasan, yang sedemikian esensial bagi Kristen; sebaliknya kontras dengan dimana Islam berdiri. Ketika orang-orang Muslim membawa spanduk-spanduk bertuliskan “demokrasi adalah kemunafikan”, dan “kebebasan pergilah ke neraka”, saat mereka melakukan demonstrasi-demonstrasi yang sangat riuh, mereka sedang mengekspresikan hakekat sesungguhnya dari Islam, yaitu: anti kebebasan, anti demokrasi, penyokong perbudakan dan penaklukan.

Muslim Menuntut Kebebasan Memilih

Orang-orang Muslim tidaklah bebas untuk memilih, sebaliknya mereka harus mentaati Allah dan Utusannya. Quran sura 33:36 mengatakan:

Q. 33:36 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Bukanlah terserah para orang-orang Muslim apa yang baik untuk mereka. Keputusan ini sudah dibuatkan untuk mereka dan yang harus mereka lakukan hanyalah taat, bahkan ketika mereka tidak menyukainya.

Q. 2:216 “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Islam bisa disaring dari namanya: “kepatuhan’. Allah tahu yang terbaik. Karena itu manusia harus menerima perintahnya, menutup mata dan tanpa menuntut.

Demokrasi mengandung makna, pemerintahan masyarakat oleh masyarakat. Dalam demokrasi, manusialah yang membuat hukum. Dalam Islam, hukum berasal dari Tuhan. Manusia harus taat kendati hukum-hukum itu tampaknya kontras dengan akal sehat dan bersifat opresif.

Inilah alasan mengapa orang-orang Muslim “moderat” tidak dapat menentang hukuman rajam terhadap para pezinah, membunuh mereka yang murtad atau bentuk-bentuk pelecehan lainnya yang dipraktekkan oleh saudara-saudara Muslim mereka yang lain. Protes mereka pun hanyalah sebuah lip service, dan dimaksudkan hanya untuk konsumsi media barat.

Baik Kristen maupun Islam telah mengalami reformasi. Mereka mengambil jalan yang mirip, tetapi keduanya berakhir pada kutub yang sangat berlawanan. Sementara reformasi Kristen membawa kebebasan, Pencerahan dan demokrasi, reformasi Islam melahirkan terorisme.

Ibn Taymiyyah and Ibn Abdul Wahhab adalah para reformator Islam. Di antara para reformator Islam kontemporer kita juga bisa menyebut nama Maududi (1903 – 1979), yang menulis intepretasi Quran, dan juga Sayyid Qutb, (1906-1966), pemimpin intelektual Persaudaraan Muslim pada tahun 50 dan 60an, yang memberikan inspirasi bagi semua teroris Muslim, termasuk Ayatollah Khomeini dan Osama Bin Laden.

Reformasi vs. Transformasi

Apa yang hari ini ditawarkan oleh para reformator Islam, sesungguhnya bukanlah reformasi melainkan transformasi Islam. Berbeda dengan para reformator yang disebut di atas, para reformator baru ini tidak mau kembali pada Islam sebagaimana aslinya, sebaliknya mereka ingin menyingkirkan sejumlah bagian Quran dan keseluruhan Syariah, kemudian membangun sebuah agama yang sepenuhnya berbeda, namun masih disebut agama Islam.

Ini adalah sebuah pemikiran yang delusional dan tidak bisa dipraktekkan, baik secara logis dan logistik. Di samping itu, hal tersebut ditentang keras oleh Quran.

Para neo-reformator ini ingin merubah Islam menjadi sesuatu yang berbeda. Mereka ingin membawa bidat ke dalam Islam. Apakah hal itu mungkin? Bisakah orang beriman memiliki pendapat yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Quran? Kita sudah melihat bahwa Quran 33:36, melarang orang beriman untuk memilih berdasarkan apa yang mereka sendiri inginkan, sebab Allah dan UtusanNya sudah menentukan pilihan itu bagi mereka. Bagaimana bisa mereka memutuskan apa yang baik bagi AGAMA itu?

Ketika Quran berkata,”Sudah ditentukan bagimu untuk berperang, meskipun kamu tidak menyukainya,” pesan yang hendak disampaikan sudah sangat jelas. Di sini Tuhanlah yang sedang berbicara. Jika kamu menerimanya dengan sikap apriori, bagaimana kamu bisa hidup sejalan dengan Tuhan? Sekali Anda menerima Quran sebagai Firman Allah, maka anda tidak bisa mengambil dan memilih serta membuang apa yang anda tidak sukai. Hal ini dilarang keras, tidak hanya sekali melainkan berkali-kali.

Q. 2:85 “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”

 

Q. 6:114 “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”

Q. 6:116 “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Q. 2:174 “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”

Juga bandingkan dengan Quran 16:89 39:23,

Q. 15:90-92 “Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi, Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua”

Q. 6:34 “…Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah…”

 

Q.10:64 “Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah.”

Q. 18:27 “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya.”

Bagaimana bisa seseorang yang mengklaim bahwa ia mempercayai Quran, tetapi kemudian mengabaikan semua peringatan ini?

Mereka yang disebut para reformator Islam telah salah arah, dan yang lebih parah lagi mereka telah disesatkan. Usaha-usaha mereka tidak akan pernah diterima. Apapun tujuan mereka, entah murni atau jahat, mereka sedang menutupi mata non-Muslim dengan kain wool, dan sebagai hasilnya memberikan legitimasi pada sebuah pengakuan yang sangat berbahaya.

Yang baik, buruk dan sangat buruk:

Orang-orang Muslim bisa diklasifikasikan ke dalam 3 kategori, yang baik, buruk dan yang sangat buruk.

Orang-orang Muslim yang baik adalah mereka yang mengikuti Quran dan contoh-contoh yang sudah ditetapkan oleh Muhammad dan karena itu mereka mendedikasikan diri mereka untuk menjadi para teroris.

Orang-orang Muslim yang buruk adalah orang-orang Muslim yang plin-plan, yang tidak mempraktekkan Quran secara sempurna, tidak membaca Quran, tidak menjalankan sholat dan, sangat jarang pergi ke mesjid. Pengetahuan mereka mengenai Islam sangat kurang kendati bisa saja iman mereka tidak bisa dikatakan lemah. Namun demikian, oleh karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai Islam, mereka tidak menunjukkan perasaan-perasaan kebencian kepada non-Muslim, meskipun mereka sering merasa curiga pada orang-orang non-Muslim itu. Di samping itu, mereka berusaha mengembangkan hidup mereka dan hidup sebagaimana orang lain.

Banyak dari orang-orang Muslim yang buruk ini akan mengakui bahwa mereka bukanlah orang-orang Muslim yang baik, dan berharap bahwa pada suatu saat nanti mereka akan memiliki iman yang cukup baik untuk menjadi orang-orang Muslim yang baik. Mayoritas orang Muslim adalah yang seperti ini.

Orang-orang Muslim yang sangat buruk adalah mereka yang tahu kebenaran mengenai Islam namun berbohong mengenai hal itu. Mereka mencoba untuk menggambarkan Islam sebagai sesuatu yang baik. Bahkan mereka setuju dengan anda bahwa orang-orang Muslim yang baik sebenarnya jelek, serta mengklaim bahwa Islam telah dibajak oleh orang-orang Muslim yang baik.

Hanya kebenaranlah yang bisa membebaskan kita. Hanya dengan melapisi Islam dengan gula, anda tidak bisa merubah naturnya. Anda bisa memurnikan air yang tercemar dan meminumnya. Anda bahkan bisa memurnikan air kencing menjadi air yang bisa diminum. Tetapi bisakah anda memurnikan bensin sehingga ia layak untuk diminum? Islam pada hakekatnya adalah sesuatu yang jahat. Ia bukanlah sebuah iman yang baik namun telah terkontaminasi. Anda tidak bisa mereformasi Islam sehingga ia bisa menjadi iman yang bersifat humanis. Bisakah anda mereformasi Naziisme? Pemikiran seperti ini menyesatkan dan tak mungkin dilakukan.

Apa inti dari mereformasi sebuah agama yang dibuat oleh seorang manusia yang sakit mental, yang melakukan begitu banyak kejahatan di bumi, yang berdusta, memperdayai, memperkosa, menyiksa, menjarah, melakukan pembunuhan massal dan kejahatan-kejahatan keji lainnya? Mengapa tetap membiarkan aliran sesat yang ia bangun ini tetap hidup dan menghormati ingatan terhadap dirinya? Manusia seperti ini patutnya menerima cemoohan, bukan penghargaan?

Mereformasi Islam adalah hal yang tak mungkin. Melakukannya hanyalah sebuah tipu muslihat. Jihad didasarkan pada 2 pilar, perang dan penipuan. Saya tak ingin seorang pun diperdayai dengan menyambut janji-janji dari para reformator Islam. Islam moderat sesungguhnya tak pernah eksis. Itu hanyalah sebuah mitos.

Saya tidak mempercayai orang-orang Muslim yang menentang Syariah. Saya tidak bisa mengerti mereka. Saya tidak percaya pada orang yang mengatakan, saya adalah pengikut Muhammad, tetapi saya tidak mengikuti Muhammad. Di sini ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tak jujur dan bersifat munafik berkenaan dengan klaim mereka itu.

Jika anda adalah seorang Muslim, jadilah seorang Muslim. Saya tidak akan pernah setuju dengan anda, tetapi paling tidak saya tahu dimana anda berdiri dan dimana saya seharusnya berdiri untuk merasa aman dari anda. Tetapi jika anda adalah seorang Muslim dan menentang Islam dan Syariah, maka saya tidak percaya pada anda. Anda itu entah seorang bodoh atau seorang bajingan. “Anda tidak panas atau dingin, sebab itu aku akan memuntahkanmu dari mulutku.”

Beberapa orang yang disebut para reformator ini, menyembunyikan identitas mereka dan menghadapi anjuran-anjuran agar masyarakat ‘takut terhadap orang-orang Muslim.’ Mengapa mereka harus melakukan demikian? Mereka tidak mengatakan apapun bahwa CAIR tidak mengatakan ketika ia ingin untuk Con Americans with Islamic Ruse (Melawan Orang-orang Amerika Dengan Tipu Daya Islam).

Mereformasi Islam adalah mustahil dilakukan, tetapi untuk mentransformasikannya, anda membutuhkan otoritas Ilahi. Hanya Tuhan yang bisa merubah perkataanNya. Darimana otoritas ilahi itu? Jika anda mengijinkan untuk mengambil dan memilih ayat Quran, mengapa Osama Bin Laden tidak memiliki hak yang sama? Islam yang mana yang disebut Islam yang benar? Bukankah hal ini akan membawa pada perpecahan dan peperangan yang lebih banyak lagi di antara orang-orang Muslim?

Reformator satu-satunya yang serius dalam Islam adalah Baha’ullah. Ia menyadari Islam tidak bisa direformasi. Karena itu ia mendirikan sebuah agama baru dan mengumumkan bahwa ia diberi otoritas dari Allah untuk membatalkan semua perintah yang ada sebelumnya dalam Quran.

Ia memberitahukan kepada orang-orang Muslim, sebelumnya engkau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih orang-orang kafir, tetapi sekarang engkau diperintahkan untuk mengasihi semua orang tanpa memandang apa pun keyakinan mereka. Jika sebelumnya Allah memberitahukan kamu bahwa wanita itu kurang cerdas, memukuli mereka jika kamu takut mereka tidak mentaatimu, maka sekarang Ia mengatakan bahwa pria dan wanita adalah setara dan menganjurkan supaya kamu memberikan pendidikan yang setinggi mungkin kepada anak-anakmu, karena mereka akan menjadi ibu dan pendidik utama bagi generasi-generasi berikutnya.

Jika sebelumnya dalam ajaran mengenai dispensasi Allah mengatakan pada anda bahwa semua orang tidak beriman akan masuk ke neraka, maka sekarang ia berkata bahwa yang penting itu adalah perbuatan-perbuatanmu, dan bahwa iman tanpa perbuatan baik adalah sia-sia, dan bahwa Ia tidak akan mendiskriminasi seorang pun karena keyakinan mereka. Kemurnian hatilah yang penting, dan bukannya apa yang anda akui dengan lidah anda.

Jika sebelumnya Ia (Allah) telah membangun sebuah alat panggang raksasa untuk membakar manusia karena ketidakpercayaannya, maka sekarang ia sudah mematikan alat itu. Ia ingin engkau mentaatiNya karena engkau mengasihiNya, dan bukan karena engkau takut padaNya. Bertindaklah sebagai seorang dewasa. Tak ada ancaman. Jika sebelumnya Ia mengatakan “berperang itu baik untukmu”, maka sekarang Ia sudah lelah dengan semua peperangan dan mengatakan bahwa berperang itu adalah perilaku binatang buas dan menganjunkan kamu untuk memilih berperilaku sebagai manusia. Jika sebelumnya Ia menjanjikan akan memberikan perawan-perawan ketika ada sampai di surga, maka sekarang…tak ada perawan untuk anda di sana. Tubuhnya menjadi berkarat di sana. Semua upah yang Ia berikan kepada anda di sana bersifat spiritual, seperti sukacita dan kasih. Tak ada hal-hal yang aneh di Firdaus. Juga tak ada penghukuman, kecuali penyesalan yang ada rasakan karena anda gagal mengembangkan hal-hal yang bersifat spiritual selama anda diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini.

Hal itu memerlukan keberanian. Ini terjadi di abad ke 19 di tengah-tengah kelompok Syiah di Persia. Tentu saja kemudian orang-orang Baha’ullah dilemparkan ke dalam penjara bawah tanah dan menghabiskan sisa hidup mereka di pembuangan. Banyak dari pengikut-pengikutnya yang dieksekusi. Namun demikian, ada hal yang bersifat logis dalam argumentasi seperti itu. Hal yang logisnya adalah bahwa hanya Allah yang memiliki otoritas untuk membatalkan hukum-hukumNya. Logika ini tetap valid, hingga anda bertanya, apakah Allah itu sedang merokok saat Ia mengutus Muhammad? Baha’ullah satu-satunya transformator Islam yang kredibel. Tetapi sekali lagi, Iman Bahai berbeda dengan iman Islam. Ia sepenuhnya merupakan sebuah agama yang berbeda.

Mereformasi Islam seperti mengejar Fatamorgana

Anda tidak bisa mereformasi Islam dan anda pun tak bisa mentransformasikannya. Yang bisa dan harus anda lakukan hanyalah membuangnya ke tempat sampah. Marilah kita menghentikan tebak-tebakan seperti ini. Apakah menjadi seorang Muslim dan melakukan seperti yang dikatakan oleh Muhammad atau meninggalkan Islam serta menolak untuk menjadi perisai yang melindungi para teroris.

Jangan mengaduk-aduk air. Jangan berbaur dengan musuh dan meracuni seperti seorang teman. Inilah taktik yang dipakai oleh orang-orang Palestina dalam peperangan yang mereka jalankan. Mereka berbaur di antara orang-orang sipil dan anak-anak tak berdosa sehingga musuh-musuh mereka mengalami kesulitan menjadikan mereka target. Melakukan hal itu Anda menimbulkan kebingungan. Anda menyediakan sebuah perisai perlindungan yang bisa dipakai oleh musuh. Saya tidak menuliskan hal ini untuk anda. Saya tahu bahwa anda tidak akan berubah. Anda adalah seorang penyesat. Saya menuliskan ini untuk orang-orang non-Muslim sehingga mereka tidak jatuh ke dalam jebakan anda dan tidak menyediakan podium bebas yang bisa anda pakai untuk menyesatkan mereka.

Islam tidak bisa direformasi. Mereka mencobanya dengan semua cara yang bisa dibayangkan. Kelompok Mutazelis sudah mencobanya, orang-orang Sufi pun sudah mencobanya; ratusan lembaga pendidikan baik yang tua maupun yang masih muda pun sudah melakukannya, dan mereka semuanya gagal. Jika anda tidak bisa menelan Syariah, mengapa anda masih mau menjadi pengikut Islam? Islam adalah bagian dari toilet sejarah. Buang dan bilaslah (flush). Singkirkan dan jangan membodohi diri anda sendiri dengan hal yang tak masuk akal. Terimalah kebenaran. Ya, yang utama itu adalah kebenaran. Islam adalah sebuah kebohongan. Muhammad adalah seorang yang sakit mental. Singkirkan dia dari hidup anda dan hentikan lelucon tentang reformasi yang menggelikan seperti itu.

Sumber: www.alisina.org

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: