Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Islam Adalah Fasisme

Oleh Ali Sina

Islam adalah sebuah agama dengan agenda politik yang sangat kuat. Goal utama Islam adalah untuk memerintah dunia. Tetapi pemerintahan seperti apakah yang akan dimiliki oleh sebuah negara Islam?

Tentu saja bukan sebuah negara demokratis. Islam tidak sejalan dengan demokrasi. Amir Taheri, seorang penulis/jurnalis yang dilahirkan sebagai seorang Iran, dalam sebuah perdebatan mengenai Islam dan demokrasi, berargumen bahwa ada fakta dimana kata demokrasi tidak ditemukan dalam bahasa-bahasa apapun yang dipakai oleh orang-orang Muslim. Taheri berkata,”Untuk memahami sebuah peradaban, adalah penting memahami kosa katanya.” Jika hal itu tidak ada pada lidah mereka, kemungkinan besar hal itu juga tidak ada dalam pemikiran mereka.

Elemen-elemen Islam yang sama dengan fasisme

Demokrasi berimplikasi pada adanya kesetaraan. Tetapi kesetaraan tidak diterima dalam Islam. Orang tidak beriman tidak dapat dianggap setara dengan orang-orang beriman, dan wanita tidak setara dengan pria. Bahkan orang-orang non-Muslim pun dibeda-bedakan. Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) diterima sebagai masyarakat kelas dua dan diijinkan untuk hidup di sebuah negara Islam selama mereka membayar pajak perlindungan yang disebut Jizyah. Tetapi para penyembah berhala, orang-orang atheis dan pagan tidak dianggap sepenuhnya sebagai manusia. Berdasarkan Quran, para penyembah berhala harus dibunuh dimana pun mereka dijumpai (Quran 9:5).

Dalam sebuah isu yang muncul tanggal 9 April 2002, The Wall Street Journal mempublikasikan konsep uang darah di Saudi Arabia. Jika seseorang telah dibunuh atau mati karena perbuatan orang lain, maka pihak yang menyebabkan kematiannya harus membayar uang darah atau kompensasi, sebagai berikut:

100,000 riyals jika korbannya adalah seorang pria Muslim

50,000 riyals jika korbannya adalah seorang wanita Muslim

50,000 riyals jika korbannya adalah seorang pria Kristen

25,000 riyals jika korbannya adalah seorang wanita Kristen

6,666 riyals jika korbannya adalah seorang pria Hindu

3,333 riyals jika korbannya adalah seorang wanita Hindu

Berdasarkan hirarki ini, hidup seorang pria Muslim dihargai 33 kali lebih besar dibandingkan hidup seorang wanita Hindu. Hirarki ini didasarkan atas definisi Islamik mengenai hak-hak asasi manusia dan hal ini berakar dalam Quran dan Syariah (Hukum Islam). Bagaimana kita bisa berbicara mengenai demokrasi ketika konsep kesetaraan tidak pernah eksis dalam Islam?

Tentu saja, membunuh para penyembah berhala “dimanapun engkau menemui mereka” tidak selalu merupakan tindakan yang bijaksana. Hal apa yang akan didapat oleh orang-orang Muslim di India jika mereka membunuh semua orang Hindu? Mereka akan memerintah siapa? Karena itu kadang-kadang Muslim bersikap pragmatis, dan para penguasa Muslim pada derajat tertentu akan menjalankan ‘toleransi’ terhadap orang-orang kafir yang menjadi subyek mereka. Pada masa kini, sulit menemukan seorang penguasa Muslim yang lebih kejam daripada Muhammad. Para penguasa Muslim membunuh ketika mereka melihat hal itu mendatangkan keuntungan dan oleh karena subyek yang hidup lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang mati, pemusnahan tidak dilakukan secara total. Inilah juga yang dilakukan oleh Muhammad. Meskipun demikian, toleransi yang mereka perlihatkan berasal dari kebijakan politik. Sebaliknya, pembantaian yang dilakukan Muhammad terhadap para korbannya merupakan masalah psikopatologis. Ia akan melenyapkan seluruh populasi hanya karena mereka itu menolaknya atau melukai ego narsistiknya.

Orang-orang Kristen dan Yahudi, yang disebut para Ahli Kitab, memiliki beberapa hak-hak yang bersifat kondisional. Mereka harus membayar jizyah dan membeli perlindungan atas diri mereka. Namun sesungguhnya mereka hidup dalam sebuah negara religius apartheid dan berada di bawah perlakuan yang sangat merendahkan. Sebagai contoh, mereka dipandang sebagai najis (tidak murni) dan tidak diijinkan untuk bepergian ketika hujan tengah turun, sebab jika tidak maka ‘kenajisan’ mereka akan mengenai orang Muslim yang tengah melintas, dan menyebabkan dia menjadi “tidak murni” dan membuat sholatnya menjadi batal.

Orang-orang Yahudi dan Kristen diharuskan untuk turun dari binatang tunggangan mereka jika mereka bertemu dengan seorang Muslim di perjalanan, dan mereka diwajibkan untuk memberi salam pada orang-orang Muslim itu dengan merendahkan diri dan memperlihatkan sikap tunduk padanya. Orang-orang Dhimmi tidak diijinkan membangun rumah-rumah mereka lebih tinggi dari para tetangga Muslim mereka, dan pada beberapa kasus mereka tidak diijinkan untuk membangun gereja-gereja dan sinagoga-sinagoga yang baru. Di samping itu, mereka pun harus meminta ijin jika mereka ingin memperbaiki tempat ibadah mereka. Hukum ini dipraktekkan hingga hari ini di semua negara-negara Muslim.

Taheri berkata, “Mengatakan bahwa Islam sejalan dengan demokrasi, tidak boleh dilihat sebagai sebuah sikap meremehkan Islam. Sebaliknya, banyak orang Muslim yang akan melihatnya sebagai sebuah pujian karena mereka secara tulus meyakini bahwa ide pemerintahan oleh Allah adalah hal yang superior dibandingkan dengan pemerintahan oleh manusia, yaitu demokrasi.”

Dalam sebuah artikel berjudul “The Political Framework of Islam” (Kerangka Politik Islam), yang bisa dijumpai di banyak situs-situs Islam, penulis menjelaskan: “dalam demokrasi Barat, masyarakatlah yang berkuasa; dalam Islam kekuasaan ada di tangan Allah dan orang-orang adalah kalif-kalifNya atau perwakilanNya. Hukum-hukum yang diberikan oleh Allah melalui NabiNya (Syariah) harus dipahami sebagai prinsip-prinsip konstitusional yang tidak boleh dilanggar.”

Taheri mengutip beberapa pemikir Islam yang mengekspresikan penghinaan dan sikap tidak setuju mereka terhadap demokrasi.

“Ayatollah Khomeini menyebut demokrasi “sebuah bentuk prostitusi” karena ia yang mendapatkan suara paling banyak, memenangkan kekuasaan yang hanya Allah sendiri berhak memilikinya.

Sayyed Qutb, orang Mesir yang diberi kredit sebagai mentor ideologis kaum Salafis, menghabiskan waktu setahun di Amerika Serikat pada tahun 1950. Ia menulis: “Amerika adalah sebuah bangsa yang telah melupakan Tuhan dan telah dilupakan olehNya; sebuah bangsa yang arogan yang ingin memerintah dirinya sendiri.”

Yussuf al-Ayyeri, seorang teoritikus terkenal mengenai Gerakan Islamis hari ini, mempublikasikan sebuah buku (bisa diperoleh lewat internet), dimana ia memperingatkan bahwa bahaya yang sebenarnya terhadap Islam bukan berasal dari tank-tank Amerika dan helikopter-helikopter yang dipersenjatai seperti yang ada di Irak, melainkan dari ide mengenai demokrasi dan pemerintahan oleh masyarakat.

Maudoodi, teoritikus Islamis lainnya yang terkenal, memimpikan sebuah sistem politik dimana manusia bertindak secara otomatis berdasarkan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah. Ia mengatakan bahwa Allah telah mengatur fungsi-fungsi biologis manusia dengan cara tertentu, yang pengoperasiannya ada di luar kontrol manusia. Bagi fungsi-fungsi non-bilogis kita, khususnya politik-politik kita, Tuhan telah menetapkan aturan-aturan yang harus kita temukan dan aplikasikan sekali dan untuk selamanya, sehingga masyarakat kita dapat membicarakannya secara otomatis.

Teolog Saudi yang sudah almarhum, Sheikh Muhammad bin Ibrahim al-Jubair, orang yang saya hormati meskipun jarang sekali saya setuju dengan pendapatnya, sangat meyakini bahwa akar penyebab dari semua sakit-penyakit yang dialami manusia adalah karena penyebaran demokrasi. “Hanya satu ambisi yang dianggap pantas dalam Islam: mengajar orang bahwa mereka tidak bisa memerintah diri mereka sendiri berdasarkan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Manusia telah tersesat dari jalan Allah, kita harus kembali pada jalan itu atau menghadapi pemusnahan yang pasti terjadi.”

Jika demikian, pemerintahan Islam yang bagaimana yang kita usulkan?

Demokrasi artinya pemerintahan oleh masyarakat. Hal ini tidak bisa diterima dalam Islam. Quran menekankan bahwa “kepada Allah sajalah semua kekuasaan dan pemerintahan” (2.165, 35:10, 35:13, 64:1). Pernyataan “Tak ada penghakiman kecuali penghakiman Allah (la hukm illa li-llah), didasarkan pada beberapa ayat-ayat Quran (khususnya 6.57; 12.40, 67 dsb.). Kekuasaan ini diberlakukan di wilayahNya dan dikenal sebagai Khalifat al-Allah.

Kalifah tidak dapat membuat undang-undang. Ia hanya bisa mengintepretasikan Hukum yang diberikan dalam Quran dan sunnah, serta menerapkannya. Secara natural, karena Quran itu bukanlah sebuah buku yang jelas isinya, maka ini membuat terjadinya penafsiran yang sangat bervariasi dan ini pun menjelaskan mengapa ada begitu banyak sekolah-sekolah pemikiran Islam, disamping sekte-sekte. “Tetapi hal yang mendasar adalah bahwa tidak ada pemerintah Islam yang bersifat demokratis dalam pengertian mengijinkan orang-orang biasa memperoleh hak yang setara dalam legislasi/undang-undang.”

Orang biasa disebut awwam (orang awam), dan ada pepatah Arab yang mengatakan: al-awwam kal anaam! (Orang awam sama seperti hewan).

Terserah pada “para ahli” Hukum untuk menafsirkan Syariah dan memberitahukan pada kaum awam bagaimana mereka seharusnya hidup. Hal ini menjadi berkah bagi para penguasa yang “ahli” dalam memanipulasi hukum, sebab hal itu memberikan ruang padanya untuk bertindak sebagai deputi Allah di bumi. Tak boleh ada oposisi terhadap penguasa. Anda tidak dapat menentang Allah dengan menentang wakilnya.

Dalam demokrasi, keyakinan orang tidaklah relevan. Mereka bisa memeluk sebuah agama atau tidak beragama sama sekali; dan masih tetap bisa memerintah diri mereka sendiri dalam sebuah negara sekular. Tidak demikian dalam Islam dimana Allah adalah pemberi hukum. Orang-orang Kristen dan Yahudi memisahkan Gereja dari Negara. Pemisahan seperti itu tidak mungkin terjadi dalam Islam. Konsep Gereja (dengan kasus C di atas) sebagaimana dipahami dalam Kekristenan tidaklah eksis dalam Islam. Tak ada otoritas seperti Vatikan atau Gereja Inggris dalam Islam. Para mullah dan imam adalah orang-orang Muslim kebanyakan yang melalui pengetahuan mereka mengenai Quran dan Syariah, mereka mendapat reputasi di antara ummah dan rekan-rekan mereka. Anda tak bisa memisahkan “Gereja” Islamik dari politik, karena tidak dikenal apa yang disebut sebagai “Gereja” Islamik. Setiap Mullah bisa menafsirkan Syariah dengan cara mereka sendiri. Tetapi ia tidak boleh mendefenisikan ulang ajaran-ajaran Islam yang bersifat eksplisit.

Pada masa kini, orang-orang Muslim tidak mempunyai seorang kalifah. Bahkan jika mereka memilikinya, ia tidak boleh menyimpang dari Quran dan memisahkan Islam dari politik.

Goal utama Islam adalah untuk memberikan pemerintahan dunia ini kepada pemiliknya ‘yang sah”, yaitu Allah. Tak ada otoritas di bumi yang bisa merubahnya. Menghalangi Islam untuk mencapai goal ini berarti menyangkali hakekatnya dan akan dianggap sebagai sebuah penghujatan. Berdasarkan defenisi, Islam bersifat imperialistik.

Islam harus bergerak maju, menaklukkan dan mengklaim kembali pemerintahan atas seluruh bumi atau jika tidak, tak ada alasan baginya untuk eksis.

Demokrasi adalah pluralistik. Dalam demokrasi, masyarakat memiliki iman yang berbeda-beda dan bebas untuk mengkritik, tak hanya agama orang lain melainkan mengkritik agamanya sendiri. Islam tidak mungkin toleran dengan hal ini. Setiap orang yang mengkritik Islam akan menghadapi penghukuman yang berat termasuk eksekusi atau pembunuhan. Islam dianggap sebagai satu-satunya Kebenaran. Mengabaikan kebenaran ini sama halnya dengan mengabaikan Allah. Menentang otoritas dari wakil Allah di bumi sama seperti menentang Allah sendiri.

Pada tanggal 27 Mei 1999, Rafsanjani, salah seorang pemimpin para Mullah di Iran mengatakan: “Jika natur Islamik dan pilar fundamental dari negara dan velayat-e faqih (versi kaum Syiah mengenai kekalifahan) diabaikan, maka tak ada lagi yang tersisa. Pada hari yang sama, Khatami, yang disebut presiden “reformis” Republik Islam, di kota Qom mengatakan: “Membagi masyarakat dengan agama dan kaum rohaniwan adalah permulaan dari kejatuhan kita.” Pada tanggal 5 Juli 1998, Khatami mengatakan: “velayat-e faqih adalah poros dan pilar negara”. Ia mengulangi pernyataannya, “velayat-e faqih adalah hakekat dari negara kita. Menentangnya…adalah sama seperti menentang dasar dan pilar negara…Tak ada negara yang akan toleran dengan penghinaan terhadap prinsip-prinsip dan pilar-pilarnya,” katanya. [Iran Zamin News Agency]

Iran-bulletin.org mendefinisikan konsep velayat-e faqih, versi Syiah mengenai khilafat dan mengatakan: “dalam teori velayate faqih, tak ada dari kita yang bisa memberitahukan perbedaan antara baik dan buruk dan, yang sebenarnya, keseluruhan bangunan besar dari pemerintahan kaum rohaniwan telah dibangun untuk mengatasi “kebodohan” kita. Pemimpin kaum rohaniwan tertinggi merupakan penjaga kita (qayyem), dan kita seumpama domba-domba yang, jika dipisahkan dari sang gembala, maka bisa dipastikan kita akan tersesat. Velayate faqih memegang semua hak dan kita semua hanya harus menjalankan kewajiban-kewajiban. Definisi yang paling menyedihkan adalah ketika ia mengatakan bahwa sistem velayate faqih adalah ekspresi dari kebodohan dan absennya hak-hak yang menjadi bagian kita – sebagai hal yang kontras dengan semua pengetahuan dan kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin rohani (para Mullah).

Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, menjelaskan konsep velaya-e faqih, posisi yang ia sendiri miliki, dengan sebuah keterus-terangan yang licik saat ia mengatakan: “Arti dari kepemimpinan adalah ketika ada masalah-masalah pemerintahan yang tidak bisa diatasi, diatasi dengan tangannya sendiri. Pemimpin bertugas untuk menyingkapkan kebenaran bagi masyarakat dan mengekspos konspirasi musuh.” [ibid]

Dalam negara Islam, agama adalah hal yang utama dan Tuhan dilihat sebagai satu-satunya sumber undang-undang utama. Para pemimpin temporal hanya mengimplementasikan undang-undang Islam sebagaimana yang didiktekan oleh Tuhan.

“Sistem politik Islam didasarkan pada tiga prinsip: Tawhid (kesatuan Allah), Risalat (Kenabian), dan Khilafat (perwakilan).

Tawhid artinya bahwa hanya Allah-lah sang Pencipta, Pemelihara dan Tuhan atas jagat raya dan semua yang hidup baik yang bersifat organis maupun non-organis. Kedaulatan kerajaan ini hanya miliknya semata. Ia sendiri yang empunya hak untuk memerintahkan atau melarang. Ibadah dan ketaatan harus ditujukan padaNya, tak ada yang boleh mendapatkannya dengan cara apapun.

Hidup dalam semua bentuknya, organ-organ fisik dan pancaindera kita, kontrol yang kelihatan yang kita miliki atas hampir semua hal dalam hidup kita dan dalam hal-hal itu sendiri; tak ada satupun yang diciptakan atau kita peroleh berdasarkan hak kita sendiri. Semuanya itu diberikan pada kita oleh Allah. Karena itu, kita tidak berhak memutuskan makna dan tujuan eksistensi kita atau menetapkan batasan-batasan otoritas kita; dan tak ada satu orang pun yang telah diberi nama untuk membuat keputusan-keputusan ini bagi kita. Hak ini hanya ada pada Allah, yang telah menciptakan kita, mengaruniakan pada kita mental serta panca indera fisik, dan menyediakan hal-hal materi untuk kita pakai.

Prinsip kesatuan Allah ini, meniadakan secara total konsep independen legal dan politik manusia, baik secara individual maupun kolektif. Tak ada individu, keluarga, kelas atau ras yang bisa menempatkan diri mereka di atas Allah. Allah adalah satu-satunya Penguasa dan perintah-perintahNya adalah Hukum.

Medium yang melaluinya kita menerima hukum Allah dikenal sebagai Risalat. Kita telah menerima dua hal dari sumber ini: Kitab dimana Allah telah menetapkan hukumNya, dan penafsiran otoritatif dan contoh-contoh dari Kitab itu yang diberikan oleh Nabi, (semoga berkat dan damai ada atasnya) melalui perkataan dan perbuatan dalam kapasitasnya sebagai wakil Allah. Nabi, berkat dan damai ada atasnya, juga sejalan dengan tujuan dari Kitab Ilahi, memberikan pada kita sebuah model cara hidup Islamik melalui bagaimana ia mengimplementasikan hukum dan menyediakan detail-detail penting yang dipersyaratkan. Kombinasi dari kedua elemen inilah yang disebut Syariah.

Sekarang perhatikan mengenai Khilafat. Menurut kamus Arab, kata ini artinya “representasi”. Menurut Islam, manusia adalah representasi Allah di bumi, yaitu sebagai wakilNya. Dengan memperhatikan kuasa yang didelegasikan oleh Allah padanya, ia diwajibkan untuk menjalankan otoritas yang diberikan Allah padanya dalam dunia ini, di dalam batasan-batasan yang ditentukan oleh Allah.

Sebuah negara yang didirikan berdasarkan teori politik seperti ini, pada hakekatnya akan menjadi sebuah kekalifahan manusia di bawah kedaulatan Allah, dan ia akan melakukan kehendak Allah dengan bekerja berdasarkan batasan-batasan yang sudah ditetapkan olehNya dan berdasarkan instruksi-instruksi dan keputusan-keputusanNya.”

Definisi ini menjelaskan bahwa aturan dari sistem pemerintahan Islam tidak terbatas hanya pada orang-orang Muslim, tetapi juga pada setiap hal “organik dan inorganik” yang ada di jagat raya. Tentu saja termasuk di dalamnya orang-orang non-Muslim. Dalam sebuah negara Islam, setiap orang harus hidup berdasarkan aturan-aturan Islam.

Khilafat atau velayat-e faqih pada hakekatnya sama dengan fasisme. The Columbia Encyclopedia mendefinisikan fasisme sebagai: “Sebuah filosofi pemerintahan totalitarian yang memuliakan negara dan bangsa, dan memberikan kewenangan kepada negara untuk mengontrol setiap aspek kehidupan secara nasional.”

Karakteristik-Karakteristik Filosofi Fasis:

“Fasisme, khususnya pada tahap awal, diharuskan untuk bersifat anti-teoritikal dan bersikap oportunis dengan tujuan, agar ia bisa diterima oleh banyak kelompok yang beragam. Namun demikian, ada beberapa konsep kunci dari filosofi ini. Yang pertama dan yang paling penting adalah memuliakan negara dan penundukan individu secara total kepadanya. Negara didefinisikan sebagai keseluruhan organ yang padanya semua individu harus diserap demi kebaikan mereka dan negara tersebut. “negara total” ini bersifat absolut dalam metode-metodenya dan dibatasi oleh hukum dalam kontrol dan arahan dari masyarakatnya.

Konsep kedua dari pemerintahan fasisme terdapat dalam teori sosial Darwinisme. Doktrin, yang kuatlah yang bertahan hidup, dan perlunya mempertahankan kehidupan, diaplikasikan juga oleh penganut fasisme dalam kehidupan dari sebuah negara-bangsa. Perdamaian, kesejahteraan bangsa-bangsa, dilihat sebagai sebuah kebodohan yang akan membawa pada kegagalan. Hal itu menjadi dasar diciptakannya sebuah karakteristik kepemimpinan negara fasis yang bersifat militer. Imperialisme menjadi hasil logis dari dogma ini.

Elemen fasisme lainnya adalah elitisme. Keselamatan atas pemerintahan yang diusahakan oleh massa, dan penghancuran aturan sosial yang ada, hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin yang otoritatif, yang dianggap sanggup membawa bangsanya menjadi bangsa yang paling ideal. Konsep pemimpin sebagai pahlawan atau superman, dipinjam sebagian dari romantisisme Friedrich Nietzsche, Thomas Carlyle, dan Richard Wagner, yang secara dekat dikaitkan dengan penolakan fasisme terhadap alasan dan inteligensia, dan penekanannya pada visi, kreatifitas dan kehendak.”

Ijinkan saya membandingkannya dengan Islam. Islam adalah ideologi yang sangat oportunistik. Ia sangat menyesatkan dan disamping sebagai sebuah doktrin perang, Islam pun menggambarkan dirinya sebagai agama damai. Ia ingin terlibat mengurusi soal-soal yang ada di jagat raya ini. Ia merendahkan hak-hak wanita dan Muhammad sendiri adalah seorang yang sangat bejat; tetapi para pembela Islam mempresentasikan Muhammad sebagai seorang juara atas hak-hak kaum wanita. Quran sendiri adalah sebuah buku yang isinya sangat bodoh dan omong kosong, tetapi para pembelanya mengklaim bahwa ini adalah sebuah mujizat yang berisi fakta-fakta ilmiah. Islam berlawanan dengan pengetahuan dan teknologi, tetapi ia dipresentasikan sebagai agama yang mendorong orang untuk belajar. Sering kita menemukan orang Muslim yang mengingatkan orang lain bahwa Muhammad mengatakan untuk “mencari pengetahuan hingga ke Cina”, namun faktanya, setiap pengetahuan yang mereka nilai bertentangan dengan Quran dianggap bersifat satanik dan karena itu harus dihancurkan.

Perpustakaan Royal Alexandria yang ada di Mesir, adalah salah satu perpustakan terbesar di dunia. Ia dibangun pada permulaan abad ke-3 BC dalam masa pemerintahan Ptolemy II dari Mesir. Ia menyimpan 400 hingga 700 ribu gulungan perkamen. Pada tahun 640 AD, orang-orang Muslim merebut kota ini dan saat mempelajari “sebuah perpustakaan yang berisi semua pengetahuan dunia pada waktu itu”, sang jenderal penakluk bertanya pada Kalifah Umar, instruksi apa yang akan ia berikan. Telah dikutip, Umar pernah mengatakan bahwa perpustakaan itu berisi “buku-buku yang berkontradiksi dengan Quran atau, setuju dengan Quran, jadi ada banyak sekali pengetahuan di dalamnya.” Dan agar bisa berada di sisi yang aman, maka Umar pun memerintahkan perpustakaan itu untuk dihancurkan dan semua buku dibakar.

Inilah cara bagaimana orang-orang Muslim mencoba untuk menggambarkan sebuah gambaran Islam yang palsu, sehingga ia bisa memiliki daya tarik yang luas.

Gambaran pemerintahan Islam yang paling penting adalah pemuliaan negara Islam dan penundukan total individu pada negara itu.

Sama halnya seperti dalam fasisme, negara Islam didefinisikan sebagai sebuah keseluruhan organ yang hanya kepadanyalah individu harus tunduk. Dalam Islam, “kebebasan” ada dalam penundukan diri kepada Allah dan utusanNya. Kata Islam sendiri, yang orang-orang Muslim secara salah menafsirkannya sebagai ‘damai’, arti sebenarnya adalah ‘kepatuhan’. Apa yang baik untuk Islam dan negara Islam, baik juga untuk orang-orang Muslim. Dan apa yang buruk bagi Islam dan negara Islam, itu harus dipotong dan dianggap juga sebagai hal yang buruk bagi orang-orang Muslim. Islam dan mendirikan pemerintahan Islam adalah hal yang sangat baik dan merupakan goal tertinggi yang harus diusahakan oleh setiap orang Muslim.

Situs Islam, muslim-canada.org menulis: “Organisasi tertinggi dalam masyarakat adalah negara. Islam telah memberikan pada dunia bentuk praktis dan ideal dari sebuah negara. Karena itu, pertanyaan bagaimana agama seharusnya menginspirasikan, menginfomasikan dan mendisiplinkan kehidupan, secara natural terkait dengan pertanyaan bagaimana ia harus direlasikan dengan organisasi yang paling tinggi dalam masyarakat (misalnya negara).”

Hal utama lainnya dari Islam adalah konsep jihad dan pentingnya untuk berjuang demi mengembangkan dominasi Islam. Motto bahwa “Islam adalah sebuah agama damai” adalah sebuah slogan yang tidak masuk akal, dan ini bagian dari strategi Islam “Permainan Tipu Daya”. Arti kata Islam bukanlah damai, Islam tidak mengkotbahkan damai, dan ia tidak pernah terlihat sebagai agama yang damai dan tidak akan mungkin terlihat demikian. Islam berkembang melalui militerisme yang agresif dan melihat Jihad dan kesyahidan sebagai aksi-aksi yang paling bermanfaat. Islam berdasarkan naturnya bersifat militan dan imperialistis.

Fasisme adalah elitis. Islam juga elitis. Kalifah atau velayat-e faqih adalah otoritas tertinggi di bumi. Dialah satu-satunya yang bisa memahami properti kitab suci. Perkataannya adalah aturan tertinggi yang tidak boleh digantikan. Namun demikian, secara teori, sama seperti dalam komunisme, setiap orang bisa menjadi Kalifah. Kalifah dalam sekte Sunni dipilih oleh rakyat sementara velayate-e faqih dalam Syiah dinominasikan oleh badan para Mullah yang memerintah dan disebut: “Dewan Para Ahli”.

Apakah penguasa ini dipilih atau dinominasikan, sama seperti dalam rejim-rejim totalitarian lainnya, ia menduduki kursinya seumur hidup dan tidak perlu merespon otoritas manusia.

Kemiripan lainnya dari Islam dan fasisme adalah sikap mereka yang meremehkan akal sehat dan inteligensia. Dalam Islam, penekanannya ada pada iman dan ketaatan tanpa bertanya terhadap mandat Tuhan. Akal sehat ditolak dan dianggap sebagai sebuah kekeliruan. Abu Hamid Al-Ghazali, (1058 – 1111 CE), sarjana Islam terbesar yang pernah ada, dalam bukunya “Inkoheren Para Filsuf” secara tegas menolak Aristoteles, Plato, Sokrates dan para pemikir Yunani lainnya, menganggap mereka sebagai sebagai orang kafir dan melabel mereka yang menerima metode-metode dan ide-ide mereka sebagai perusak iman Islam. Ia menyerang Avicenna sebab menjadi seorang rasionalis dan telah menarik intelektualitas kepada orang-orang Yunani kuno. Dengan menekankan pada iman dan logika sebagai dua hal yang tidak bisa dipersatukan, dan dengan memasukkan kegagalan yang menyebabkan iman tunduk pada logika, Ghazali memberi validitas kepada iman yang tidak bisa dipahami dengan akal, dan oleh karena itu memuliakan kebodohan.

William Montgomery Watt mengatakan: “Periode awal dari pemikiran Islam didominasi oleh konsepsi tentang agama yang benar yang tidak bisa dirubah, kekhususan Arab dan konsepsi Islam tentang natur pengetahuan. Pengetahuan yang penting untuk menjalani hidup – dan ini adalah pengetahuan dalam pengertian sepenuhnya – diperoleh dalam firman-firman Tuhan yang diwahyukan dan melalui ucapan-ucapan para nabi dan orang-orang yang dberikan karunia spesial. Dari konsepsi mengenai pengetahuan ini, selanjutnya dijelaskan bahwa karya para sarjana adalah untuk mentransmisikan secara akurat teks-teks yang diwahyukan dan kata-kata hikmat lainnya.” [The Formative Period of Islamic Thought, p.63]

Penting untuk dicatat bahwa ketika orang-orang Muslim berbicara mengenai pengetahuan, mereka tengah membicarakan mengenai pengetahuan yang “diwahyukan” dan bukan mengenai pengetahuan ilmiah sekular yang telah melahirkan peradaban kita. Kata ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab adalah ilm. Orang yang memiliki ilm ini, disebut ulama (plural dari alim). Alim tidak berarti ilmuwan. Kata itu menunjuk pada sarjana keagamaan. Ilm adalah ilmu pengetahuan mengenai agama.

Islam tidak mendorong untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Bahasa-bahasa Islamik tidak punya satu pun kata untuk itu. Islam mendorong untuk mempelajari hal keagamaan. Inilah yang dimaksudkan oleh Muhammad ketika ia mengatakan “carilah pengetahuan”. Mencari pengetahuan dalam Islam mengandung pengertian menghapal Quran dan hadis.

Islam adalah Sebuah Alat Untuk Kekuasaan

Diinspirasikan oleh Quran, kelompok-kelompok Muslim melakukan kekerasan sektarian untuk meraih tujuan-tujuan politik. Kelompok pertama adalah Kharijiyya. Kharijiyya terdiri dari dua hal. Yang pertama adalah, komunitas Islam harus didasarkan atas Quran. Poin kedua menekankan pada kekuasaan atau pengaruh dari negara Islam atas hak-hak individu. Dimotivasikan oleh banyak ayat-ayat Quran (32.13, 76:29-31, 3:39, 3:159, 16:93, 2:6-7, 4:88, dsb.), mereka menempatkan kehendak Tuhan harus ada di atas kehendak manusia, serta mengklaim komunitas sebagai pembawa nilai-nilai yang berisi hal-hal yang tidak punya makna. Dengan kata lain, hidup manusia hanya punya arti jika ia merupakan bagian dari komunitas Muslim. Ide-ide ini didasarkan pada Quran dan diadopsi oleh orang-orang Muslim. Inilah cara bagaimana fasisme mendefinisikan posisi individu terhadap negara.

Para rasionalis Muslim seperti Mutazilis, menempatkan akal sehat/logika di atas pewahyuan. Mereka juga bersikap keras. Sekolah mereka sangat ditentang oleh banyak kaum Islamis yang berdedikasi dan karena itu menjadi punah. Mereka diserang oleh sebuah kelompok yang bernama Ashariyya, yang merupakan kelompok dimana al-Ghazali dan penyair terkenal Rumi bergabung. Rumi mengejek kaum rasionalis dan dalam sebuah ayat yang mudah diingat dan telah meninggalkan jejaknya dalam jiwa massa yang bodoh, ia menyebut kaum rasionalis itu sebagai orang-orang yang berdiri di atas “kaki yang terbuat dari kayu”.

Kelompok Ashariyya memuliakan irasionalitas dan tetap setia kepada Quran. Mereka menolak kaum rasionalis yang, dalam pemandangan mereka, telah melupakan agama dan telah menyimpang dari Tuhan dan wahyuNya. Sebab itu obyektifisme rasional ditolak dengan ejekan dan kekerasan, buku-buku kaum rasionalis seperti yang ditulis oleh Zakaria Razi dihancurkan, dan kaum rasionalis harus menyembunyikan diri demi keselamatan mereka. Kelompok  Ashariyya menang sebab mereka memperoleh dukungan dari Quran.

Melalui otoritas pewahyuan yang dipeluk oleh kelompok Ashariyyah dengan tanpa syarat, dan bagaimana mereka memuliakan irasionalitas, rasionalisme dirusak pucuknya dan itu juga yang terjadi dengan Renaisance yang seharusnya sudah lahir 1000 tahun yang lalu. Kita tidak akan pernah tahu seberapa luas kerusakan yang dibuat oleh agama fanatik ini terhadap peradaban manusia.

Dalam sebuah artikel berjudul: Apakah Rumi Adalah Sebagaimana Yang Kita Pikirkan? Massoume Price mengutip Dr. Shaffiee Kadkani yang menulis “sayangnya dengan kemunculan para jenius seperti Rumi dan para mistikus (Urafa) lainnya, yang dengan tanpa syarat telah mendukung kelompok Ashariyya, maka tindakan itu tidak memberikan kesempatan kepada kebebasan berpikir.” Ia menyimpulkan, “Jika bukan karena kelompok Ashariyya, sejarah kita akan berkembang secara berbeda.” [Creation and History, (Afarinesh va Tarikh, p.50)]

Price melanjutkan: “Bukanlah sebuah kebetulan bahwa dalam Mathnavi, Rumi menyerang semua pemikir termasuk kaum atheis, naturalis, dan para filsuf dsb… Ketika Ibn Khadon [Khaldun] menjelaskan bahwa orang-orang Afrika berkulit hitam oleh karena kondisi geografi dan lingkungan mereka, kelompok Ashariyya menentang observasi ilmiah itu dengan mendeklarasikan bahwa orang-orang Afrika berkulit hitam oleh karena Tuhan-lah yang menciptakan mereka seperti itu. Ketika para dokter mencoba untuk menemukan koneksi antara otak dan gerakan-gerakan tangan, Imam Muhammad Ghazali mengejek penjelasan ilmiah mereka, dengan mengatakan bahwa “tangan bisa bergerak oleh karena Tuhan berkehendak”. (Alchemy of Happiness, Kimiyaya Saadat). Kelompok Ashariyya juga yang memperkenalkan budaya inquisisi yang masih tetap ada hingga saat ini, dan menghantui kita bahkan sampai ke Amerika Utara.”

Kamus baru Literasi Budata, (Edisi ketiga. 2002) mengatakan: “Sebagai yang berkuasa, pemerintah-pemerintah fasis didominasi oleh seorang diktator, yang biasanya memiliki sebuah personalitas magnetik, memakai seragam yang mencolok, memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan parade massa, menyuarakan pentingnya nasionalisme, dan mempromosikan kecurigaan atau kebencian terhadap orang-orang asing atau orang-orang yang “tidak murni” yang hidup di tengah-tengah bangsanya, misalnya orang-orang Yahudi yang ada di Jerman.”

Dalam Islam, Kalifah tidak mengenakan seragam yang mencolok. Sebaliknya, berdasarkan sunnah Muhammad, ia menekankan untuk mengenakan pakaian atau peralatan yang memperlihatkan kesederhanaan. Kesederhanaan hanyalah sebuah tontonan dan tanda kesopanan Islam. Semakin sederhana anda berpakaian, maka akan terlihat semakin suci anda. Tetapi sholat Jumat dan naik haji merupakan versi parade massa dalam Islam yang didisain untuk membuat orang beriman menjadi tertarik, memberikan pada mereka perasaan bangga dan merasa bahwa mereka adalah bagian di dalamnya, serta membuatnya semakin yakin dengan keyakinannya bahwa Islam itu kuat.

Parade seperti ini bagi Muhammad sangat penting, sebagaimana dalam sebuah hadis dikutip ia mengatakan:

“Saya berpikir bahwa saya harus memerintahkan sholat untuk dimulai dan memerintahkan seseorang untuk memimpin jemaah melakukan sholat, dan kemudian aku akan pergi bersama beberapa orang, membawa bahan bakar untuk mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat (dalam jemaah) dan membakar rumah-rumah mereka dengan api. (Muslim 4,1370; Bukhari 1,11,626)

Islam juga mempromosikan kecurigaan dan kebencian pada orang-orang tidak beriman. Muhammad mengatakan bahwa orang-orang tidak beriman adalah tidak murni (najis) 9:28, dan menyuntikkan kebencian pada orang-orang Yahudi, dengan mengatakan bahwa Allah telah merubah mereka menjadi kera dan  babi. 2.65, 5.60, 7.166

Jelas bahwa sistem pemerintahan Islam bersifat fasis.

  • Ia ditandai dengan sentralisasi otoritas dibawah seorang pemimpin tertinggi yang diberikan kekuasaan ilahi.
  • Ia dengan keras mengontrol sosial-ekonomi dalam semua aspek. Semua subyek ada di bawah kekuasaannya tanpa mengindahkan iman mereka.
  • Ia menekan para penentang melalui teror dan penyensoran.
  • Ia menerapkan kebijakan yang keras terhadap orang-orang tidak beriman.
  • Ia mempraktekkan apartheid religius.
  • Ia menghina akal sehat
  • Ia bersifat imperialistik
  • Ia bersifat opresif
  • Ia bersifat diktatorship dan mengontrol

Islam, sama seperti faham fasisme lainnya, adalah hal yang menarik bagi orang-orang yang memiliki citra diri dan inteligensia yang rendah. Keduanya merupakan ideologi yang irasional. Mereka menghina logika dan memberlakukan devosi dan kepatuhan pada seorang penguasa yang lebih tinggi. Sama seperti orang-orang fasis, orang-orang Muslim mencari kemenangan. Mereka mencari kekuasaan, dominasi dan kontrol. Mereka membanggakan diri mereka berdasarkan kekuatan jumlah, dalam pemikiran kosong akan heroisme, dalam sikap mereka yang menafikan kehidupan dan dalam keinginan mereka untuk membunuh dan mati demi tujuan mereka.

Islam adalah politik dan politik Islam adalah fasisme.

Alisina.org

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: