Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Depresiasi Kehidupan dibawah Islam

Oleh Jacob Thomas
Karena jasa media online didunia Arab, kita kini bisa baca tulisan² MUSLIM sendiri yang sudah mulai muak dengan Islam tentang ketidak-sempurnaan yang mewarnai surga² peradaban Islam.
kwtanweer.com yang terbit tanggal 22 Agustus memuat judul “Islam dan Muslim Mendepresiasi Kehidupan”. Dua hari kemudian surat kabar harian online, Elaph.com, juga menerbitkan artikel yang sama dengan judul ini, “Hidup di mata Muslim dan Islam”.
Berikut ini kutipan dari artikel ini yang saya akhiri dengan komentar saya.

──────────────────────────

Sudah berapa diskusi dan argumen yang berlangsung yang membahas peran Islam dalam meningkatnya terorisme global. Banyak Muslim mencoba membantah keterlihatan Islam dalam Irhab, dengan mengatakan bahwa Islam tidak meridhoi kekerasan, hanya organisasi² fanatik itulah yang salah!

Betulkah?

Ijinkan saya untuk menulis tentang kehidupan di Timur Tengah SEBELUM lahirnya Islam.

Bangsa Mesopotamia (kini, Irak) adalah yang pertama yang memulai peradaban. Mereka menciptakan roda, tulisan dan musik. Mereka adalah pionir pengumpulan tulisan² di batu tanah liat dan menyimpan mereka dalam sebuah perpustakaan. Mereka menciptakan UU yang mengatur kehidupan antara negara dengan warganya. Pendeknya, bangsa itu cinta kehidupan dan memang tahu benar bgm menikmatinya. Karena mereka begitu cinta hidup, mereka juga banting tulang untuk memperbaikinya. Ciptaan dan penemuan² baru lancar mengalir dari peradaban macam itu.

Kemudian… datanglah Islam, yang mulai mengobrak abrik kehidupan di bumi, merubah tujuan hidup manusia untuk satu hal saja: ALLAH. Lagipula, bukankah itu yang dikatakan Allah kepada Muslim dalam Qur’an 51:56?

[51.56] Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Pemujaan kepada Allah kemudian menjadi pusat kehidupan; Muslim tidak lagi diijinkan untuk menikmati apapun didunia fana ini.

Ajaran Qur’an ini membawa kemerosotan hidup Muslim dengan, misalnya, kewajiban solat 5 kali sehari dan melek semalaman saat Ramadhan (Qur’an 17:78)

[17.78] Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

[17.79] Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Semakin banyak peraturan ditambahkan bagi Muslim. Ada fuqaha (juris) yang mengatakan bahwa jika kita mendengarkan pelafalan Qur’an saat Ramadan, pahala akan dobel: ‘Ia yang bangun selama malam² Ramadan karena imannya, semua dosa lalunya dimaafkan.’

Tidak ada lagi waktu tersisa bagi Muslim untuk menikmati ataupun memperbaiki hidup.Dan seakan beban ini belum cukup, ada lagi fatwa² yang melarang musik, instrumen musik dan menyanyi. Pernah ada yang bertanya kepada sang faqih, Ibn al-Jawzi: ‘Apakah halal bagi saya untuk menikmati apa yang diijinkan dalam dunia hiburan ?’ Al-Jawzi menjawab, ‘Sudah begitu banyak hal yang mengalihkan perhatianmu, jadi, mengapa harus ditambah lagi ?’ Ia mengatakan bahwa mendengarkan lagu² adalah suatu pengalihan perhatian dari jiwa manusia, shg menjauhkan pemikiran manusia dari Allah, Ke Maha EsaanNya dan Pengabdian bagiNya. Ditambah lagi, lagu² akan menjadikan jiwa mencari kepuasan dalam kenikmatan² seperti sex, yang nanti akan mengarah ke perzinahan.

Lagipula, kata faqih ini, untuk apa Muslim perlu mendengarkan musik di dunia ini kalau toh di Surga nanti, para houri akan bernyanyi baginya? Lihatlah Hadis ini:
‘Begitu seorang yang beriman masuk surga, ia akan menikmati pelayanan dua houri, satu di kepalanya, dan satu lagi di kakinya; menyanyi dengan suara yang terindah yang pernah didengar manusia ataupun jinn.’

Tapi untuk masuk surga itu, Muslim terlebih dahulu harus berjihad ‘Fi Sabilullah’ di jalan Allah, sampai ia tewas. Jadi, setelah mati nanti, ia akan masuk Surga, dimana ia akan mendapat kenikmatan sesungguhnya: lagu, sex, anggur, foya², senang². Rute terpendek ke surga adalah mati shahid, menurut ayat Qur’an 9:111

[9.111] Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

[9.81] Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)”, jika mereka mengetahui.

[9.82] Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.

Nah, karena jihad merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, pertanyaan kemudian adalah : SIAPA yang harus mereka perangi? Ibn Jawzi mengatakan, ‘Adalah kewajiban Muslim untuk memerangi SEMUA KAFIR.’

Hadis : ‘Ia yang mati dalam jihad akan menjadi kesayangan Allah.’

Karena begitu banyak janji² enak di Surga dan karena hidupnya didunia ini hanya sarat dengan kewajiban melulu (solat, puasa, melek semalaman, tidak boleh dengar musik, tidak boleh bergaul dengan perempuan, tidak boleh ini, tidak boleh itu), maka mengapa tidak membunuh kafir fi sabilullah saja dan masuk Surga? Beres! Mudah bukan? Daripada sengsara didunia, yah cepatlah ke surga!

Bahkan di AS, ayah2 Pakistan mewajibkan putera2 mereka ke sekolah Islam untuk menghafal Qur’an. Ini berarti repetisi tidak habis²nya teks Arab ; 6.200 (atau 6666) ayat Qur’an yang memerlukan waktu 2-3 tahun. Masa depan macam apa yang menunggu seorang anak yang menghabiskan 3 tahun menghafal 6.666 ayat Arab yang tidak dimengertinya? Bukankah ia sebaiknya diberi kesempatan untuk belajar matematika, sains, bahasa Inggris? Atau musik? Sport? Lalu kita heran mengapa anak² ini memiliki ide² radikal dan membenci semua non-Muslim? Bagaimana anak² muda yang tumbuh di negara berbhineka budaya seperti AS lalu bisa membina hubungan baik dengan anak² AS lain yang Kristen ataupun Buddhis ataupun atheis, kalau dari kecil saja mereka sudah dicekoki Surah 2:193, yang memerintahkan Muslim untuk memerangi kafir?

[2.193] Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim.

Bagaimana kalau Surah 47:4 ini sampai berbekas di benak anak² muda kita?

[47.4] Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

[61.4] Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

[9.23] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Situasi di Pakistan lebih parah daripada di negara² kafir. Negara ini menjadi inkubator para suicide-bomber yang melancarkan jihad mereka diseluruh Eropa. Pakistan penuh dng madrassah yang berspesialisasi menghafal Qur’an. seperti burung beo, bocah2 lelaki mengulang² kata² Qur’an dalam bahasa yang mereka sama sekali tidak mengerti; dan pada saat bersamaan, sang guru mengisi otak mereka dengan bom² mental.

Minggu lalu, polisi Pakistan menahan TUJUH lelaki yang memiliki hubungan dengan pilot untuk meledakkan 9 pesawat terbang di jalur London – AS, seperti yang dilaporkan tgl 20 Agustus 2006 oleh surat kabar al-Sharq al-Awsat. President Musharraf memutuskan agar mengusir semua guru asing dari madrasah Pakistan. Namun, tindakannya ini tidak membawa dampak apapun pada pabrik² yang memproduksi Irhabi di Eropa atau di New York. Contoh, Pakistani yang hidup di Barat dengan mudah bisa menghadiri mesjid yang mengajarkan penghafalan Qur’an. Nah, herankah kami mengapa kesemua lelaki yang terlibat dalam pemboman London th 2005 ini adalah Pakistani yang tinggal di Inggris??

Tragedi yang sama terulang di India, Filipina, Bangladesh, Indonesia, dll yang memiliki sekolah² penghafalan Qur’an. Contoh, dua bom meledak di pasar sibuk disebuah kota di Indonesia dimana mayoritasnya Kristen, mengakibatkan tewasnya 21 orang. (Al Sharq al-Awsat 29 Mei 05). Mereka yang menanamkan bom di pasar² itu membunuh orang secara serampangan, mengecilkan arti nyawa, karena memang bagi mereka nyawa tidak ada harganya. Karena mereka memang tidak dipersiapkan untuk menikmatinya. Mereka tidak memiliki tujuan lain selain : masuk surga lewat jalur Jihad. Mereka sudah diprogram untuk memilih rute terpendek ke surga. Disurgalah, baru mereka dapat berfoya² dan bersenang².

Seorang Muslim yang mati shahid tidak peduli dengan nyawa orang lain. Bahkan nyawa anak kecilpun tidak ia hargai sama sekali. SUDAH SEJELAS SINAR MATAHARI BAHWA ISLAM MEMBUNUH KEHIDUPAN dalam MUSLIM, DAN MENDORONGNYA untuk MEMBUNUH NON MUSLIM.
Baik Islam, maupun Muslim TIDAK MENGHARGAI HIDUP. Satu²nya prestasi Muslim adalah: depresiasi kehidupan manusia. (Bravo Muslim!)

──────────────────────────

K O M E N T A R

Keterusterangan sang penulis memang luar biasa. Ia tidak menggunakan bahasa basa basi dalam menunjuk kepada satu kerusakan dasar dalam Islam: pengagungan jihad fi sabilullah. Sang penulis mendapatkan 17 tanggapan dan kesemuanya positif.

Salah satu dari wanita Kurdi: “Terima kasih atas kebenaran yang anda sampaikan ini. Subyek ini selama ini tabu dibahas oleh siapapun. Jempol buat anda!”

Memang tidak semua Muslim menganggapi dengan serius larangan main musik ataupun kewajiban melek selama Ramadan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa prioritas Islam adalah MATI DI JALAN ALLAH. Inilah yang mengakibatkan depresiasi kehidupan manusia.

Siapa berani bilang bahwa ideology Salafi yang semakin garang menyebar disleuruh dunia tidak Islami? Siapa berani bilang bahwa Hasan Nasrallah di Lebanon tidak mencontoh Muhamad?

Saya menulis ini pada acara peringatan ke lima Peristiwa 9/11. Saya tidak dapat melupakan sajak yang ditemukan dalam kopor Muhamad ‘Ata, salah satu pelaku 9/11. that Pada malam sebelum pembunuhan masal itu, ia menguatkan niat rekan²nya dalam berjihad melawan AS dan mengutip sajak ini: “Tabassam bi-wajhi’lrada ya fata; Fa’innaka ma’den l-ijannati’l khuldi” “Senyumlah dalam menghadapi kematian, hai pemuda. Karena kau sedang menuju kehidupan abadi di surga !”

Muhammad ‘Ata juga mengutip ayat² dari Qur’an dan Hadis; dan menggunakan ekspresi seperti “waqla ta’alah” atau ‘dan Ia, sang Maha Kuasa, mengatakan.’ Jadi, kejahatan biadab yang akan ia lakukan itu diridhoi oleh Allah dan NabiNYA. Nah, siapa yang berani menolak perintah Allah?

Kami tidak dapat lari dari fakta yang menganga didepan kita bahwa ajaran Islam yang mengagungkan kematian, mendepresiasi kehidupan Muslim dan non-Muslim.

Faithfreedom Int’l | Faithfreedom Indonesia

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: