Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Songs: Islam’s Not For Me

“Islam’s Not For Me”

PLAY IT!

http://islamcomicbook.com/music/Islamnot4me.mp3

They tried to tell me my religion was wrong.
They tried to tell me to follow Islam.
They said their “Prophet” was a righteous dude,
But I found out none of their words were true.

I read the Qur’an and I read the Hadith,
And the sickness of Mohammed was apparent to me.
He justified perversion in the name of Allah,
When he married a girl too young for a bra.

She was playing with dolls when the “Prophet” came.
Her childhood was stolen in Allah’s name.
Aisha was nine when he took her to bed.
Don’t tell me that fool’s not sick in the head.

I ain’t gonna follow no child molester, sex offender, Prophet pretender.
I ain’t gonna follow no child molester! Islam’s not for me!
Islam’s not for me!

The sickness of the Islamic mind,
Has caused some mullas to be blind.
To justify their “Prophet” they will justify sin,
So the sins of the “Prophet” are repeated again.

All over the world in Islamic states,
Nine year old girls suffer cruel fate,
Sold into marriage to twisted men,
And Aisha’s sad story is repeated again.

I ain’t gonna follow no child molester, sex offender, Prophet pretender.
I ain’t gonna follow no child molester! Islam’s not for me!
Islam’s not for me!

Do you care about women all over the world?
Do you care about those little girls?
Better stand up and fight for human rights,
Speak out against the laws of Islam!

I ain’t gonna follow no child molester, sex offender, Prophet pretender.
I ain’t gonna follow no child molester! Islam’s not for me!
Islam’s not for me!
Islam’s not for me!

http://islamcomicbook.com

25 responses to “Songs: Islam’s Not For Me

  1. Dimaz 6 Januari 2010 pukul 12:14 PM

    Lagu yang bagus…buat di neraka.

  2. moldovanrich 7 Januari 2010 pukul 4:20 PM

    not for me too…
    pemerkosa bayi…

  3. madmangila 8 Januari 2010 pukul 4:24 AM

    SONG “ISLAM IS THE BEST I EVER HAD”

    They say Islam is a liar
    their propaganda that Islam is a fraud
    but I believe .., that Islam is the best that I ever had ..
    They prey to the god child
    and why not on his god.
    it not better to prey to the god then of the his child

    chours:
    fukin propaganda by the Christian
    fukin propaganda by the true end
    they fukin around, like an animal because their religion does not forbid then…
    why do you choose..,yesus

    they hide the fact that they were lying injil
    written by the prophets and altered by humans,
    like shakepear poetry as though it was a made by human ..,

    chours:
    fukin propaganda by the Christian
    fukin propaganda by the true end
    they fukin around, like an animal because their religion does not forbid then…
    why do you choose..,yesus

    than why I chose Islam..,Bucause Islam is the best I ever had..

    By.., Mad man

  4. suprabowo 9 Januari 2010 pukul 9:05 AM

    Setuju bro, ISLAM memang bukan buat anda yang membuat blog ini.
    Kalo begitu, yang pantas buat anda apa bro? KRISTEN, YAHUDI, atau ATHEIS bro. Peace.

  5. uleew 10 Januari 2010 pukul 6:15 AM

    fuckyou . whatever for your religion !! but don’t judge islam like that !!!!!

  6. therealmuslim 10 Januari 2010 pukul 9:04 PM

    Bismillahhirrahmannirrahim,

    Saudara saudari muslimin dan muslimat, tolong jangan terjebak provokasi dari pembuat blog ini. Tolong jangan kunjungin lagi blog ini, tolong jauh jauh dari blog ini. Dikarenakan semakin banyak orang yang terjebak(khususnya muslim) maka pembuat blog ini akan semakin bahagia dan mungkin akan mendapat imbalan dari advertising yang terpasang dari blog ini. Jadi semakin banyak yang meng’klik’ blog ini maka semakin banyak yang didapat oleh pembuat blog ini. Jangan sampai saudara saudari, kebencian kebencian kita malah menjadi rejeki dan kebahagiaan dia.

    Banyak saudara saudari yang bisa kita baca dari internet berupa hal hal yang bermanfaat. Sudah terlihat jelas blog ini hanya ingin membuat sensasi dan provokasi, dan literally menjiplak (copy translate) dari karangan karangan orang orang dari Europe atau US. Saya sendiri mengerti bahwa blog seperti ini langsung dengan jelas menggambarkan tingkat intelektual seseorang.

    Sekali lagi tolong, dimohon, please jangan kembali lagi ke blog ini. Supaya blog ini menjadi sepi ataupun cuman diklik orang yang tidak tahu apa – apa.

    Cuman kalau saudara saudara sudah terlanjur sakit hati, hal terbaik yang bisa anda semua lakukan adalah membaca surat Yasin, biarkanlah Allah SWT THE ALMIGHTY menunjukkan balasan kepada orang yang menghina ALLAH SWT dan MUHAMMAD SAW. AMIN AMIN

    PS: Tolong jangan sekali sekali mampir ke blog ini lagi!!!

  7. roja7onlytime 11 Januari 2010 pukul 4:26 AM

    yah udah kalu bukan untukmu..Untukku sahaja yah.he..he..

  8. BaNi MusTajaB 11 Januari 2010 pukul 7:10 AM

    mampir ke blog saya. banyak tulisan menarik. terima kasih.
    PARADOKS PARADIGMA GUS DUR

  9. damai1985 11 Januari 2010 pukul 6:31 PM

    I ain’t gonna follow no child molester, sex offender, Prophet pretender.
    I ain’t gonna follow no child molester! Islam’s not for me!
    Islam’s not for me!

    FAITHFREEDOM IS MY HOLY BOOK..
    GOOGLE TRANSLATOR IS MY PROPHET..
    HATRED IS MY GOD..

    ooohhh…islam’s not for meeeee……

  10. 800m 13 Januari 2010 pukul 4:37 AM

    MAU BUAT FILM BARU NIH : JUDUL NYA “KAFIR YAHUDI ATHEIS” YANG MEMAKAN TAI BINATANG.. 😀

  11. nadyanuraini 13 Januari 2010 pukul 6:33 AM

    Aduh.. lagunya lucu ya..
    Penyanyinya siapa sih??!
    mau saya tamparin waktu lagi nyanyi, biar setiap kata yang berhubungan dengan ISLAM di lagu ini berubah dengan kata-kata yang berhubungan dengan agama anda..
    (ups, anda punya agama kan?! :P)

    HEHEHEHE…. 😀

    nb: Suaranya bagus!! Saya kasih tantangan!! Gimana kalau kamu suruh tuh orang buat ciptain lagu lain yang ngejelek-jelekin agama anda…. Biar saya yang nyanyi.. hihi….

  12. myhati 13 Januari 2010 pukul 1:14 PM

    ya Islam memang bukan untukmu, Islam terlalu suci dan tinggi untuk dianut iblis rendah dan hina sepertimu….kasian….

  13. websitedada 13 Januari 2010 pukul 4:07 PM

    Didalam kitab Injil telah disebutkan bahwasanya Yezuz berkata didalam surat Matius: “Hai Nasrani, janganlah kamu mendekati orang kafir. (Siapakah orang yang kafir itu, orang yang kafir itu adalah orang yang non Nasrani). Tetapi dekatilah domba-domba itu, karena sesungguhnya aku hanyalah terutus di masa ini saja.” Dapat diartikan bahwasanya Agama Kristen hanyalah berlaku untuk masa Yezuz saja, jadi sekarang, sebenarnya sudah hilang ajaran Kristen, karena Jezuz hanyalah terutus di masa itu saja.

  14. gabanget 14 Januari 2010 pukul 12:18 AM

    LU KAN SETAN….ANJING…
    BIAR MAKIN PANAS GUA KASIH NI API NERAKA BWAT LU..
    PANAS…PANAS LU..
    INBOX EMAIL PENUH KAN..MAKAN TUH…

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah kampung suku Hudhail yang biasa disebut sebagai Bani Luhayan.

    Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, ‘Ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka.’

    Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata, ‘Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian.’ Ashim bin Tsabit berkata, ‘Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir.’ Lalu memanjatkan doa, ‘Ya Allah, beritakan kondisi kami ini kepada NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam.’

    Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang lelaki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata, ‘Ini adalah penghianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh).’

    Kemudian rombongan Bani Hudhail membawa pergi Hubaib dan Zaid bin Dasnah, mereka berdua dijual. Ini terjadi setelah peperangan Badar. Adalah Bani Harits bin Amr bin Nufail yang membeli Hubaib. Karena Hubaib adalah orang yang membunuh al-Harits bin Amir pada peperangan Badar. Kini Hubaib menjadi tawanan Bani al-Harits yang telah bersepakat untuk membunuhnya.

    Pada suatu hari Hubaib meminjam pisau silet dari salah seorang anak perempuan al-Harits untuk mencukur kumisnya, perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu mendekati Hubaib bahkan duduk dipangkuannya tanpa sepengetahuan ibunya. Sementara tangan kanan Hubaib memegang silet. Wanita itu berkata, ‘Aku sangat kaget.’ Hubaib pun mengetahui yang kualami. Hubaib berkata, ‘Apakah kamu khawatir aku akan membunuh anakmu? Aku tidak mungkin membunuhnya.’

    Wanita itu berkata, ‘Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan sebaik Hubaib. Dan demi Allah pada suatu hari, aku melihat Hubaib makan setangkai anggur dari tangannya padahal kedua tangannya dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah sedang tidak musim buah. Sungguh itu merupakan rizki yang dianugrahkan Allah kepada Hubaib.’

    Ketika Bani al-Harits membawa keluar Hubaib dari tanah haram untuk membunuhnya, Hubaib berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.’ Mereka mengizinkan shalat dua rakaat. Hubaib berkata, ‘Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku.’ Lalu Hubaib memanjatkan doa, ‘Ya Allah, susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup,’ lalu mengucapkan syair:

    Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam
    Dengan cara apa saja Allahlah tempat kembaliku
    Semua itu aku kurbankan demi Engkau Ya Allah
    Jika Engkau berkenan,
    berkahilah aku berada dalam tembolok burung karena lukaku (syahid)

    Lalu Abu Sirwa’ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat.

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu para sahabat pada hari disiksanya Hubaib, bahwa kaum Quraisy mengutus beberapa orang untuk mencari bukti bahwa Ashim bin Tsabit telah terbunuh dalam peristiwa itu, mereka mencari potongan tubuh Ashim. Karena Ashim adalah yang membunuh salah seorang pembesar Quraisy. Tetapi Allah melindungi jenazah Ashim dengan mengirim sejenis sekawanan lebah yang melindungi jenazah Ashim, sehingga orang-orang itu tidak berhasil memotong bagian tubuh jenazah Ashim sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari, no. 3989; Abu Dawud, no. 2660.)

  15. gabanget 14 Januari 2010 pukul 12:22 AM

    GUA TUH BERBAIK HATI SAMA LU..
    BIAR LU SENENG GUA KASIH DEH ARTIKEL2 ISLAM YANG BAGUS..
    SEPERTI JUDUL BLOG LU..BERITA MUSLIM SAHIH

    Tobat Sebelum Ajal Mendekat
    Kematian nggak pernah diketahui datangnya. Setiap orang pasti mati. Tapi semua orang tak pernah tahu kapan kematian menjemputnya. Itu sebabnya, kita kudu siap-siap sebelum datang hari di mana kita harus sudah pergi meninggalkan segala nikmat dunia. Kalo kita perhatiin, ada yang sebelum mati sempat ninggalin pesan tertentu kepada keluarganya. Tapi banyak juga yang pergi ninggalin dunia tanpa pesan. Banyak orang juga yang insya Allah saat ajal mendekat ia masih bisa beramal shalih. Khusnul khatimah alias baik di akhir hidupnya. Namun nggak sedikit yang saat ajal mendekatinya dan benar-benar menjemputnya ia sedang berbuat maksiat. Su’ul khatimah alias buruk di akhir hayatnya Naudzubillahi min dzalik.

    Bro en Sis, ajal setiap orang udah ditetapkan waktunya. Udah dijatah sama Allah Swt. batas waktu ‘beredar’ setiap orang di dunia. Jangan lupa juga bahwa hidup kita dunia ini akan diuji, siapa yang terbaik amalnya. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Maha Suci Allah Yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS al-Mulk [67]: 1-2)

    Yup, ada ganjaran berupa pahala yang akan diberikan oleh Allah Swt untuk setiap ibadah yang kita lakukan. Begitu pula, Allah Swt. akan memberikan siksa bagi manusia manapun yang telah berbuat dosa dalam kehidupannya (atau bahkan selama hidupnya). Tentu itu adil dong ya. Mereka yang beriman dapat pahala, dan siapa saja yang berbuat maksiat diberikan siksa karena dosa-dosanya. So, emang nggak akan lepas dari pengawasan Allah Ta’ala. Waspadalah!

    Terus, gimana kalo kita kadang berbuat maksiat? Ya, Allah Swt. udah ngasih jalan, yakni dengan cara bertobat alias minta ampunan. Setelah bertobat tentu harus ninggalin maksiat yang telah atau biasa dilakukannya sebagai wujud tobat yang sebenarnya-benarnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” [QS at-Tahriim [66]: 8]

    Kita semua pernah berbuat dosa

    Sobat muda muslim, siapa pun orangnya, pasti ia pernah melakukan dosa, kecuali Rasulullah saw. tentunya, karena memang beliau ma’shum (terbebas dari dosa dan kesalahan) dalam penyampaian risalah Allah ini. Itu sebabnya, saya waktu ngaji dulu, ustadz saya sering mengatakan bahwa, “Orang yang bertakwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tapi orang yang bertakwa adalah ketika berbuat dosa, kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah Swt.”

    Rupanya ungkapan ustadz saya itu melumerkan kengototan saya waktu itu, yang menilai bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Pernyataan ustadz saya ini juga semakin menumbuhkan keyakinan dalam diri saya bahwa meski kita tak boleh salah dalam hidup ini, bukan berarti kita akan lolos dari kesalahan. Karena yang terpenting adalah menyadari kesalahan tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi sambil mohon ampunan kepada Allah Swt.

    Imam Ibnu Katsir menukil sabda Rasulullah saw.: “Seorang hamba tidak dapat mencapai kedudukan muttaqin kecuali jika dia telah meninggalkan perkara-perkara mubah lantaran khawatir terjerumus ke dalam dosa” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Boys and gals, menurut hadis ini, yang mubah saja bila perlu dihindari karena khawatir terjerumus dalam dosa, apalagi yang sudah jelas haram. Iya nggak sih? Oya, dalam keterangan lain, orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menjaga dan membentengi diri. Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa muttaqin adalah orang-orang yang berhati-hati dan menjauhi syirik serta taat kepada Allah. Sedangkan Imam Hasan Bashri mengatakan bahwa bertakwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah Swt. dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah Swt.. Berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sedangkan Ibnu Mu’tazz melukiskan sikap yang mesti ditempuh seorang muslim agar mencapai derajat muttaqin dengan kata-kata sebagai berikut: “Tinggalkan semua dosa kecil maupun besar. Itulah takwa. Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di tanah yang penuh duri, selalu waspada. Jangan meremehkan dosa kecil. Ingatlah, gunung yang besar pun tersusun dari batu-batu kecil”.

    Nah, kebayang banget kan kalo semasa hidupnya ada orang yang selalu maksiat. Duh, gimana tuh dosanya. Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang ketika hidupnya selalu melecehkan kaum muslimin, menghina ajaran Islam, dan malah lebih memilih bersahabat dengan musuh-musuh Islam. Ih, dosanya pasti berlipat-lipat. Apalagi pas ajalnya datang nggak bertobat. Naudzubillahi min dzalik.

    Memang sih urusan dosa Allah Swt. yang akan menghisabnya. Tapi kan kita juga diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk menilai seseorang dalam berperilaku. Bahwa yang kita nilai itu adalah yang tampak dan sudah jelas dilakukan seseorang (“nahnu nahkumu bidzdzawaahir”, begitu kata Nabi saw.). Misalnya, ada orang yang ngomong bahwa demokrasi itu sistem yang lebih baik dari Islam (sambil dengan bangga menentang upaya perjuangan orang-orang yang ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah), dia juga ngoceh bahwa pluralisme, sekularisme, dan liberalisme lebih hebat ketimbang Islam, selain itu dia terang-terangan melecehkan kaum muslimin. Nah, untuk orang yang kayak gini tentu saja kita bisa menilai nih orang udah bermaksiat kepada Allah Swt. Tentu, berdosa dong ya.

    Minta ampunan Allah Swt. yuk!

    Sobat muda muslim, ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Lagi pula, memohon ampunan Allah (bertobat) sekaligus mencerminkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Karena orang yang bertakwa salah satu cirinya adalah segera mohon ampunan kepada Allah jika dia sudah menyadari kesalahannya. Jadi, nggak usah malu untuk bertobat en nggak usah merasa ribet. Jalani aja sambil terus belajar supaya nggak kecebur ke dalam jurang yang sama. Karena dengan belajar kita jadi tahu dan yakin bisa menjalani hidup ini dengan tenang. Cobalah.

    Rasulullah saw. memberikan pujian buat kita-kita yang takwa dan taat pada ajaran Islam. Apalagi sebelumnya kita ahli maksiat. Betul nggak? Indah nian ungkapan Rasulullah saw. empat belas abad yang lampau: “…ada kaum yang akan datang sesudah kalian (para sahabat r.a.). Mereka percaya kepada (sekadar) kitab yang dibendel, lalu percaya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Mereka lebih utama daripada kalian. Mereka lebih besar pahalanya daripada kalian.” (HR Ibnu Mardawih yang dikutip dalam penjelasan di Tafsir Ibnu Katsir)

    Bro en Sis, hidup ini penuh dinamika. Penuh warna, penuh liku, penuh lubang dan mendaki (Iwan Fals banget neh!). Kata orang bijak, hidup adalah untuk mati. Bisa dipahami, karena akhir dari kehidupan adalah kematian. Nggak salah-salah amat kok. Tapi, kita juga wajib ngeh, untuk apa kita hidup. Untuk apa kita ada dunia ini. Dan, akan ke mana setelah bersuka-cita, termasuk berduka-derita di dunia ini?

    Kehidupan ini pasti akan berakhir. Wak Haji Rhoma Irama juga tereak: “Pesta pasti berakhir” (kalo disebut nama ini, kamu jangan langsung menggoyangkan jempol tangan dan kaki ya, hehehe…). Hidup di dunia ibarat menempuh sebuah perjalanan panjang dan melelahkan. Banyak sekali cerita terukir di sini. Cerita suka, duka, derita, bahagia, sedih, gembira, kecewa, optimisme, putus asa, peduli, kasih-sayang, cinta, dan seabrek pernak-pernik dan kerlap-kerlip kehidupan dunia yang melengkapinya.

    Bro, perjalanan panjang di dunia ini pasti akan berakhir. Ada terminal akhir yang merupakan tempat kita berlabuh. Allah Swt. udah menyediakan dua tempat; surga dan neraka. Surga untuk para pengumpul pahala, sementara neraka adalah kelas ‘eksklusif’ para pendosa.

    Nah, mumpung kita masih bisa bernapas, mumpung kita masih bisa tertawa, selagi kita masih punya kesempatan banyak, di saat kita masih muda usia, sebelum air mata penyesalan mengalir deras dari kedua mata kita, ada waktu untuk kita perbaiki diri. Jangan putus asa juga buat para pendosa. Yakinlah, selama hayat masih di kandung badan, kalian punya kesempatan yang sama untuk menuai pahala. Bertobat dari berbuat maksiat, itu keputusan tepat. Setelah itu mari belajar agama. Pahami, cermati, dan amalkan dalam kehidupan.

    Sobat muda muslim, ‘qod qola’ Alvin Toffler, “Perubahan tak sekadar penting untuk kehidupan. Perubahan adalah hidup itu sendiri.” Paling nggak, kita berubah menjadi baik dari buruk adalah sebuah perubahan yang menentukan hidup kita sendiri.

    Islam juga mengajarkan agar kita senantiasa berbuat baik. Jika kebetulan berbuat maksiat, bertobatlah segera. Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri ra. katanya: Nabi saw. bersabda: “Seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, lalu dia mencari seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia terus berjumpa pendeta tersebut kemudian berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah taubatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, dia lalu membunuh pendeta tersebut dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang ulama, dia terus berjumpa ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh seratus orang manusia. Adakah taubatku masih diterima? Ulama tersebut menjawab: Ya! Siapakah yang bisa menghalangi kamu dari bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Kamu beribadahlah kepada Allah Swt. bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang sangat hina. Lelaki tersebut berjalan menuju ke tempat yang dimaksud. Ketika berada di pertengahan jalan tiba-tiba dia mati, menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselish pendapat mengenai orang tersebut. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Swt. Namun Malaikat Azab juga berkata: Dia tidak pernah melakukan kebaikan. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan menyerupai manusia dan mencoba menengahi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara dua tempat. Mana yang lebih (jaraknya menuju negeri yang dituju), itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut tempat meninggalnya lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat” (HR Bukhari dalam Kitab Kisah Para Nabi, hadis no. 3211)

    Oke deh, bertobat lebih hebat ketimbang tetap berbuat maksiat. Kamu bisa kok. Yakin deh.

    Apa yang harus kita lakukan?

    Pertama, menyesal. Tanpa penyesalan, rasanya sulit untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat. Penyelasan ini kudu benar-benar tumbuh dalam diri kamu. Minta maaf pula kepada orang yang kamu “kerjain”. Janji nggak bakal ngulangi lagi. Kedua, niat sungguh-sungguh. Kuatkan tekad kita untuk menghentikan kebiasaan maksiat. Ada pahala pula di balik niat yang sungguh-sungguh itu. Ketiga, cari lingkungan yang mendukung. Ini penting banget sobat. Sebab, kalo kamu belum bisa mengubah lingkungan, jangan-jangan kamu yang terwarnai. Kalo lingkungannya baik sih oke aja. Tapi kalo rusak? Bisa gawat kan? Jadi, gaul deh ama teman-teman yang udah baik-baik untuk membiasakan kehidupan kamu yang baru.

    Keempat, tumbuhkan semangat untuk mengkaji Islam. Sobat, dengan mengkaji Islam, selain menambah wawasan, juga akan membuat kita tetap stabil dengan “kehidupan baru” kita. Maksiat? Sudah lupa tuh! Kelima, senantiasa berdoa. Jangan lupa berdoa kepada Allah, mohon dibimbing dan diarahkan, serta dikuatkan tekad kita untuk meninggalkan maksiat. “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan permohonanmu itu.” (QS al-Mukmin [40]: 60)

    Yuk, mumpung masih ada waktu, kita mohon ampunan kepada Allah Swt. Bertobat dengan sebenar-benarnya bertobat. Tak mengulangi kemaksiatan yang telah dilakukan dan sebaliknya kita berlomba memperbanyak amal shalih. Semangat!

  16. gabanget 14 Januari 2010 pukul 12:25 AM

    LU JUGA KAN OTAKNYA MESUM BACA NIH…

    DASAR OMES..

    Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi al-Quran”.Meskipun sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan. Tulisan Sumanto itu berjudul ”Agama, Seks, dan Moral”, yang dimuat dalam sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (terbit pertama Oktober 2009). Kita perlu ”berterimakasih” kepada Sumanto yang secara jujur dan terbuka melontarkan ide liberal dan progresif, sehingga lebih mudah dipahami. Sebab, selama ini banyak yang mengemas ide ”Islam progresif” dan ”Islam liberal” dengan berbagai kemasan indah dan menawan, sehingga berhasil menyesatkan banyak orang.

    Untuk lebih jelas menyimak persepsi ”Islam Progresif” tentang seks bebas ini, ada baiknya kita kutip agak panjang artikel dari penulis yang dalam buku ini memperkenalkan dirinya sebagai kandidat doktor bidang antropologi politik dan agama di Boston University. Kutipan ini ada di halaman 182-184:

    ”Apa yang diwartakan oleh agama (Islam, Kristen dan lainnya) hanyalah satu sisi saja dari sekian banyak persepsi tentang seks itu atau katakanlah sex among others. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, ajaran Kristen atau Islam yang begitu ”konservatif” terhadap tafsir teks sebetulnya hanyalah reaksi saja atas peradaban Yunani (Hellenisme) yang memandang seks secara wajar dan natural. Kita tahu peradaban Yunani telah merasuk ke wilayah Eropa (lewat Romawi) dan juga Timur Tengah di Abad Pertengahan yang kemudian menimbulkan sejumlah ketegangan kebudayaan. Oleh karena itu tidak selayaknya jika persepsi agama ini kemudian dijadikan sebagai parameter untuk menilai, mengevaluasi dan bahkan menghakimi pandangan di luar agama tentang seks.

    Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah pemandangan keangkuhan oleh kaum beragama (dan lembaga agama) terhadap fenomena seksualitas yang vulgar sebagai haram, maksiat, tidak bermoral dan seterusnya. Padahal moralitas atau halal-haram bukanlah sesuatu yang given dari Tuhan, melainkan hasil kesepakatan atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” (invisible hand, istilah Adam Smith) kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun otoritas agama. Teks-teks keagamaan dalam banyak hal juga merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama/pendeta dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan stabilitas.

    Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktek ”seks bebas” atau praktek seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.

    Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. Paul Evdokimov dalam The Struggle with God telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: ”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…”

    Bahkan lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosial-kemanusiaan bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks baru dikatakan “berdosa” jika dilakukan dengan pemaksaan dan menyakiti (baik fisik atau non fisik) atas pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya mengacu pada hubungan seks di luar rumah tangga tetapi juga di dalam rumah tangga itu sendiri. Seseorang (baik laki-laki maupun perempuan) dikatakan “memperkosa” (baik dalam rumah tangga yang sudah diikat oleh akad-nikah maupun bukan) jika ia ketika melakukan perbuatan seks ada pihak yang tertekan, tertindas (karena mungkin diintimidasi) sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman. Inilah tafsir pemerkosaan. Dalam konteks ini pula saya menolak sejumlah teks keislaman (apapun bentuknya) yang berisi kutukan dan laknat Tuhan kepada perempuan/istri jika tidak mau melayani birahi seks suami. Sungguh teks demikian bukan hanya bias gender tetapi sangat tidak demokratis, dan karena itu berlawanan dengan spirit keislaman dan nilai-nilai universal Islam.

    Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?

    Ada sebuah kisah dalam sejarah keislaman yang layak kita jadikan bahan renungan: ada seorang pelacur kawakan yang sudah letih mencari pengampunan kemudian menyusuri padang pasir yang tandus. Ia hanya berbekal sebotol air dan sepotong roti. Tapi di tengah perjalanan ia melihat seekor anjing yang sedang kelaparan dan kehausan. Karena perasaan iba pada anjing tadi, si pelacur kemudian memberikan air dan roti itu padanya. Berita ini sampai kepada Nabi Muhammad yang mulia. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa si pelacur tadi kelak akan masuk surga!

    Kisah ini menunjukkan bahwa Islam lebih mementingkan rasa sosial-kemanusiaan ketimbang urusan perkelaminan…” (***)

    Demikianlah gagasan “Islam-progresif” dalam soal kebebasan seksual yang diungkapkan Sumanto. Memang, sekarang, istilah “Islam progresif” sedang digandrungi kalangan Perguruan Tinggi Islam. Pada Juli 2009, di UIN Jakarta diadakan Konferensi ‘Debating Progressive Islam: A Global Perspective’. Tentu banyak tafsir dan penjelasan tentang makna “Islam Progresif”. Salah satunya adalah versi Sumanto.

    Islam progresif biasanya dimaksudkan sebagai “Islam yang maju”, sesuai dengan asal kata dalam bahasa Latin “progredior”. Sebagaimana banyak pemikir yang mengaku progresif, mereka menempatkan Islam sebagai “evolving religion”, yakni agama yang selalu berkembang mengikuti zaman. Dalam perspektif ini, Islam juga dipandang sebagai agama budaya. Karena itulah, tidak mengherankan, jika mereka memandang tidak ada satu ajaran Islam yang bersifat tetap. Semua harus tunduk dengan realitas zaman. Agama ditundukkan oleh akal. Salah satu yang banyak dijadikan dasar pijakan adalah aspek “kemaslahatan” dan sifat Islam sebagai “rahmatan lil-alamin”. Dengan alasan inilah, berbagai kemunkaran dan kejahatan bisa disahkan. Tentang keabsahan praktik homoseksual, misalnya, ditulis dalam buku ini:

    “Agama, apalagi Islam, yang mengusung jargon “rahmatan lil alamin” — rahmat bagi sekalian alam ini harus memberi ruang kepada umat gay, lesbi, atau waria untuk diposisikan secara equal dengan lainnya. Tuhan, saya yakin tidak hanya milik laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga “mereka” yang terpinggirkan di lorong-lorong sepi kebudayaan.” (hal. 176).

    Karena berpijak pada realiatas dan sejarah sebagai penentu kebenaran — juga syahwat atau hawa nafsu – maka teks-teks wahyu, sunnah Rasulullah saw, dan tafsir wahyu yang otoritatif dikesampingkan. Cara berpikir seperti ini juga sangat paradoks. Dengan berdalih sikap kritis kepada tafsir al-Quran dari para ulama yang otoritatif, banyak kaum yang mengaku liberal dan progresif pada akhirnya tidak mampu bersikap kritis sama sekali pada sejumlah ilmuwan Barat. Mereka sangat ta’dzim dalam mengutip pendapat-pendapat ilmuwan non-Muslim. Ketika menyimpulkan bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh yang penuh noda, dikutiplah pendapat Paul Evdokimov dengan penuh hormat dan ta’jub, bahwa si Evdokimov “telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik.”

    Kita sudah sering membuktikan, sikap sok kritis yang diusung oleh kaum yang menamakan diri liberal dan progresif ini biasanya hanya kritis terdapat pendapat para ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Allah sudah mengingatkan dalam al-Quran bahwa, jika seorang manusia sudah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka akan tertutuplah hati, telinga dan matanya untuk menerima kebenaran. (QS 45:23). Orang bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan bisa merusak.

    Karena itulah, untuk menjaga agar ilmu tidak merusak, para ulama selalu menekankan pentingnya masalah adab dalam urusan keilmuan. Dalam kitabnya yang berjudul Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, pendiri NU, Kyai Haji Hasyim Asy’ari mengutip pendapat Ibn al-Mubarak yang menyatakan: “Nahnu iaa qalilin minal adabi ahwaja minnaa ilaa katsirin mina ’ilmi.” (Kami lebih membutuhkan adab, meskipun sedikit, daripada banyaknya ilmu pengetahuan).

    Demikian pendapat KH Hasyim Asy’ari. Orang yang beradab tahu meletakkan dirinya sendiri di hadapan Allah, Rasulullah saw, para ulama pewaris Nabi, dan juga tahu bagaimana menempatkan ilmu. Karena itulah, al-Quran menekankan pentingnya ada klasifikasi sumber informasi diantara manusia. Jika sumber informasi berasal dari orang fasiq (orang jahat, seperti pelaku dosa besar), maka jangan dipercaya begitu saja ucapannya. Ada unsur akhlak yang harus dimasukkan dalam menilai kriteria sumber informasi yang patut dipercaya. (QS 49:6). Seorang yang tidak beradab (biadab) dalam keilmuan sudah tidak dapat lagi membedakan mana sumber ilmu yang shahih dan mana yang bathil.

    Soal zina, misalnya. Sebagai Muslim, tentu kita yakin benar bahwa zina itu tindakan haram dan biadab. Keyakinan itu berdasarkan kepada penjelasan yang sangat tegas dalam ayat-ayat al-Quran, banyak hadits Rasulullah saw, pendapat para sahabat Nabi, dan para ulama Islam terkemuka. Dalam soal zina ini, kita lebih percaya kepada pendapat para ulama ketimbang pendapat Karl Marx, Paul Evdokimov, Bill Clinton, atau Ernest Hemingway. Sebagai manusia beradab kita bisa membedakan, mana sumber informasi yang layak dipakai dan mana yang tidak. Sebab, Allah sendiri membedakan jenis-jenis manusia. Orang mukmin disebut “khairul barriyyah” (sebaik-baik makhluk) dan orang kafir disebut “syarrul barriyyah” (sejelek-jeleknya makhluk) (QS 98). Meskipun sering mengkampanyekan “kesetaraan semua pemeluk agama”, tetapi faktanya, kaum yang menamakan diri mereka sebagai pengikut “Islam liberal”, “Islam pluralis” atau “Islam progresif” juga tetap menggunakan identitas Islam. Tidak ada yang mau menyebut dirinya “kafir-liberal” atau “kafir-progresif”.

    Sebenarnya, jika kita menelaah pemikiran liberal, dukungan terhadap praktik seks bebas bukanlah hal yang aneh. Ini adalah akibat logis dari sebuah konsep dekonstruksi aqidah dan dekonstruksi kotab suci. Jika seorang sudah tidak percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad saw adalah utusannya, kemudian dia pun tidak percaya kepada otoritas ulama-ulama Islam yang mu’tabarah – seperti Imam al-Syafii – maka yang dia jadikan sebagai standar pengukur kebenaran adalah akalnya sendiri atau hawa nafsunya sendiri. Kita paham, masyarakat Barat saat ini tidak memandang praktik seks bebas sebagai suatu kejahatan. Homoseksual juga dipandang sebagai hal yang normal. Sebaliknya, bagi mereka, praktik poligami dikutuk.

    Nilai-nilai masyarakat Barat yang sekular – tidak berpijak pada ajaran agama — inilah yang sejatinya dianut juga oleh kaum yang mengaku liberal atau progresif ini. Bagi mereka, seperti tergambar dalam pendapat Sumanto ini, urusan seks dipandang sekedar urusan syahwat biologis semata, sebagaimana layaknya praktik seksual para babi, kambing, monyet, ayam, dan sebagaimana. Seks dianggap seperti soal buang hajat besar atau kecil, kapan mereka mau, maka mereka akan salurkan begitu saja. Yang penting ada kerelaan; suka sama suka. Tapi, bagi kita yang Muslim, dan juga pemeluk agama lain, jelas soal seksual dipandang sebagai hal yang sakral. Karena itulah, agama-agama yang hidup di Indonesia, sangat menghormati lembaga perkawinan.

    Dalam pandangan Islam, jelas ada perbedaan nilai dan posisi antara penis dengan pipi, meskipun keduanya sama-sama daging. Bagi seorang Muslim, yang menjadikan “penis” dan “pipi” berbeda adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Sebelum zaman Islam, banyak suku bangsa yang masih memandang sama kedudukan daging wanita dengan daging kambing, sehingga mereka menjadikan ritual korban dengan menyembelih wanita dan kemudian meminum darahnya. Seorang Muslim memandang penting perbedaan antara “daging manusia” dengan “daging ayam”. Daging ayam halal hukumnya untuk dimakan. Jenazah manusia harus dihormati. Jangankan dimakan dagingnya, jenazah manusia harus dihormati dan diperlakukan dengan baik. Jika kaum liberal melakukan dekonstruksi dalam aqidah dan nilai-nilai moral, maka akibatnya, pornografi atau seks bebas pun kemudian didukung. Sebab, dalam pikiran liberal, tidak ada aturan yang pasti, mana bagian tubuh yang boleh dibuka dan mana yang harus ditutup. Yang menjadi standar baik buruk adalah ”kepantasan umum”. Kalau memang bertelanjang atau beradegan porno sesuai dengan tuntutan skenario dan dilakukan ”pada tempatnya”, maka itu dianggap sebagai hal yang baik.

    Kepastian akan kebenaran dan nilai itulah yang membedakan antara Muslim dengan kaum liberal. Orang Muslim yakin dengan kebenaran imannya, dan yakin ada kepastian dalam soal halal dan haram. Hukum tentang haramnya babi sudah jelas dan tetap haram sampai kiamat. Begitu juga dengan haramnya zina, dan haramnya perkawinan sesama jenis (homo dan lesbi). Tapi, dalam perspektif liberal dan progresif, seperti dipaparkan oleh buku ini, larangan agama terhadap perkawinan sesama jenis ini pun dianggapnya sudah tidak berlaku. Tentang perlunya legalisasi perkawinan sesama jenis, ditulis dalam buku ini:

    ”Dan harap diingat, konsep perkawinan dalam suatu ikatan ”sakral” bukan melulu untuk mereproduksi keturunan melainkan juga untuk mewujudkan keluarga sakinah (ketenteraman/kebahagiaan). Maka, dalam bingkai untuk mewujudkan keluarga sakinah ini seorang gay atau lesbian harus menikahi sesama jenis. Justru melapetaka yang terjadi jika kaum gay-lesbian dipaksa kawin dengan lain jenis. Untuk mewujudkan gagasan perkawinan sejenis ini, maka paling tidak ada dua hal yang harus ditempuh: pembongkaran di tingkat wacana keagamaan, yakni teks-teks skriptural (dalam konteks Islam: teks tafsir dan fiqih khususnya) yang masih terkesan diskriminatif dan kemudian pembongkaran di tingkat struktur normatif masyarakat yang masih bias dalam memandang pola relasi antar-manusia.” (halaman 175).

    Berulangkali kita menyerukan kepada kaum yang mengaku liberal, progresif dan sejenisnya, agar mengimbangi sikap kritis dengan adab. Ada adab kepada al-Quran, adab kepada para Nabi, adab kepada ulama pewaris Nabi. Sayangnya, buku yang memuat pendapat yang merusak – seperti dukungan terhadap praktik seks bebas ini — justru dipuji-puji dan didukung oleh orang yang seharusnya justru bersikap kritis dan mendidik masyarakat dengan akhlak yang mulia. Di sampul buku bagian belakang, dicantumkan sejumlah pujian. Djohan Effendi, pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), menyebut buku ini: “sangat inspiratif untuk melakukan refleksi atas perjalanan umat Islam selama ini. Pendapatan dan sikap kritis yang ia lakukan merupakan sumbangan yang sangat berarti untuk mendorong pemikiran progresif di kalangan generasi baru umat Islam yang menginginkan kemajuan bersama dengan orang dan umat lain.”

    Di tengah upaya kita mendidik anak-anak kita dengan akhlak mulia dan menjauhkan mereka dari praktik pergaulan bebas, kita tentu patut berduka dengan sikap sebagian kalangan yang mengusung jargon “Islam progresif” tetapi justru memberikan dukungan terhadap praktik seks bebas semacam ini. Bagi kita, ini suatu ujian iman. Kita tidak bertanggung jawab atas amal mereka. Mudah-mudahan, dengan bimbingan dan lindungan Allah SWT, kita selamat dalam meniti kehidupan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah. Amin. (Solo, 22 Muharram 1431 H/8 Januari 2010).

  17. gabanget 14 Januari 2010 pukul 12:27 AM

    NAH GUA JUGA PUNYA ARTIKEL BAGUS BUAT LU..
    BAIK KAN GUA??

    KESABARAN NABI AYYUB ‘ALAIHISSALAM
    Bulan Ramadhan adalah bulan di mana kesabaran kaum Muslimin diuji, dan salah satu cara untuk meningkatkan dan memperkuat kesabaran adalah dengan membaca kisah-kisah para Nabi dan Rasul yaitu kisah tentang kesabaran mereka dalam menghadapi setiap ujian yang datang kepada mereka. Dan Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah salah seorang Nabi yang terkenal dengan kesabarannya, maka mari kita simak kisah beliau berikut ini dan semoga kisah ini bisa menambah kesabaran kita. Amiin.

    Para ahli tafsir, ahlli sejarah, dan ilmuwan lainnya mengatakan: Ayyub ‘alaihissalam adalah seorang yang mempunyai banyak kekayaan dengan aneka ragam wujudnya, baik binatang ternak maupun tanah pertanian yang membentang di daerah Hauran.”Ibnu ‘Asakir (di kitab tarikh Dimasq) menceritakan: Semuanya itu adalah miliknya. Disamping itu dia mempunyai anak dan anggota keluarga yang sangat banyak. Lalu semua kekayaan itu diambil darinya, kemudian fisiknya diuji dengan berbagai macam penyakit, sehingga tidak ada satu pun anggota tubuhnya yang sehat selain hati dan lidahnya yang selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala. Dengan penderitaan itu ia tetap sabar dan tabah serta selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala siang dan malam hari, pagi dan sore hari.
    Penyakit yang dideritanya itu berlangsung cukup lama hingga dia dikucilkan dan diusir dari kampungnya serta diputus dari interaksi dengan banyak orang. Tidak ada yang menaruh kasihan kecuali istrinya saja, di mana dia selalu memberikan perhatian yang dalam, dan dia tidak melupakan dan tetap menghargai kebaikan dan kasih sayang Ayyub ‘alaihissalam di masa lalu. Istrinya tidak henti-hentinya mengurus segala yang dibutuhkannya, termasuk membantunya buang hajat dan memenuhi semua keperluannya sehingga keadaan istrinya emakin lemah dan hartanya semakin menipis, hingga dia bekerja pada orang lain untuk dapat memberi makan suaminya serta mengobati suaminya-mudah-mudahan Allah meridhainya dan memberikan keridhaan kepadanya-.Namun dia tetap sabar dan tabah dengan peristiwa yang menimpanya dan dengan hilangnya kekayaan dan anak dari sisinya serta penderitaan yang dating bertubi-tubi setelah seblumnya dia merasakan kenikmatan dan kemuliaan. Maka Innaa lillaahi wa Innaa ilaihi raaji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali)

    Dan dalam hadits shahih riwayat Timidzi, Ibnu Majah, Ahmad dll ditegaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل يبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان في دينه صلبا اشتد بلاؤه و إن كان في دينه رقة ابتلي على قدر دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض و ما عليه خطيئة
    “Orang yang mendapat cobaan paling berat adalah para Nabi, lalu orang-orang yang semisalnya dan orang yang semisalnya,seseorang diuji sesuai kadar agamanya, apabila agamanya kuat maka bertambah besar pula ujiannya, dan apabila agamanya lemah maka dia diuji sesuai kadar agamanya. Dan senantiasa seseorang mendapat ujian sampai dia berjalan di atas bumi dan tidak menanggung dosa.”(shahih riwayat Ahmad,Ibnu Majah dll)

    Ujian dan cobaan itu tidak menambah Ayyub ‘alaihissalam melainkan kesabaran, pujian, dan rasa syukur. Kisah di atas merupakan contoh kesabaran Ayyub ‘alaihissalam, serta beratnya bala’ dan ujian yang ia hadapi.

    Para ahli tafsir dan sejarah berbeda pendapat mengenai masa cobaan yang dijalaninya.Dan yang benar adalah sebagaimana disebutkan di dalam sunnah yang shahih.

    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Nabi Allah Ayub’alaihissalam diuji dengan musibah tersebut selama delapan belas tahun, dimana keluarga dekat serta keluarga yang jauh telah menolaknya dan mengusirnya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya, dimana keduanya telah memberinya makan dan mengunjunginya. Kemudian pada suatu hari salah seorang dari kedua saudaranya itu berkata kepada saudaranya yang satu, ‘Demi Allahtahukah kamui, bahwa Ayub telah melakukan suatu dosa yang belum pernah dilakukan siapa pun di dunia ini.’ Sahabatnya itu bertanya, ‘Dosa apakah itu?.’ Saudaranya tadi berkata, ‘Selama delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya, sehingga menimpalah apa yang yang menimpanya.’ Ketika keduanya mengunjungi Ayub ‘alaihissalam maka salah seorang dari kedua saudaranya itu tidak dapat menahan kesabarannya, sehingga ia menyampaikan pembicaraan tersebut kepadanya. Ayub ‘alaihissalam menjawab, ‘Aku tidak mengetahui apa yang kamu berdua bicarakan, kecuali Allah Ta’ala mengetahui; bahwa aku pernah berjalan melewati dua orang laki-laki yang berselisih,lalu keduanya menyebut-nyebut nama Allah.Lalu aku kembali ke rumahku dan menutup diri dari keduanya, karena merasa benci nama Allah disebut, kecuali dalam masalah yang haq.’”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika Ayub ‘alaihissalam pergi menunaikan hajatnya maka istrinya memegang tangannya hingga selesai. Suatu hari istrinya datang terlambat dan Ayub ‘alaihissalam menerima wahyu, ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.’ (Shad: 42) Ketika istrinya datang dan bermaksud menemuinya, maka ia melayangkan pandangannya dalam keadaan tertegun, dan Ayub AS menyambutnya dalam rupa dimana Allah telah menyembuhkan penyakit yang dideritanya, dan rupanya sangat tampan seperti semula. Ketika istrinya melihatnya, seraya bertanya, ‘Semoga Allah memberkatimu, apakah engkau melihat Nabi Allah yang sedang diuji? Demi Allah, bahwa aku melihatnya mirip denganmu saat ia sehat.’ Ayub ’alaihissalam menjawab, ‘Sesungguhnya aku ini adalah dia.’ Ketika itu di hadapannya terdapat dua buah gundukan yaitu gundukan gandum dan jewawut. Kemudian Allah mengirim dua buah awan, dimana ketika salah satunya menaungi gundukan gandum, maka tercurah padanya emas hingga penuh, sedangkan pada gundukan jewawut tercurah mata uang hingga penuh.” (HR. Abu Ya’la, 3617, yang dishahihkan al-Hakim (2/581-582) dan Ibnu Hibban (2091) serta al-Albani dalam kitab Shahîh-nya no. 17).

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi, beliau bersabda:“Setelah menyuembuhkan Ayyub ‘alaihissalam, Allah menurunkan hujan berupa belalang emas kepadanya. Lalu Ayyub mengambil sebagian darinya dengan tangannya dan memasukannya ke dalam bajunya.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Ketika Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba sekumpulan belalang emas bersujud, kemudian Ayyub meraupnya dan memasukkan ke bajunya, lalu Rabbnya berseru kepadanya :’Hai Ayyub, bukankah Aku telah menjadikan kamu kaya seperti yang kamu saksikan?’Ia menjawab:’Benar, ya Rabbku, tetapi tiada pernah aku merasa cukup dari berkah-Mu.’”

    Dan fiman Allah Ta’ala:

    ارْكُضْ بِرِجْلِكَ {42}
    “Hantamkanlah kakimu”(QS.Shaad:42)

    Artinya, hentakkanlah kakimu ketanah. Maka Ayyub ‘alaihissalam pun mentaati perintah-Nya, Sehingga Allah Ta’ala membuatkan sumber air yang jernih, lalu menyuruhnya mandi dan minum dari air tersebut. Setelah mandi dan meminum air itu, maka lenyaplah semua penyakit yang dideritanya selama ini, baik yang lahir maupun yang bathin. Dan setelah itu Allah Ta’ala menggantinya dengan kesehatan lahir dan bathin, ketampanan yang sempurna dan harta kekayaan yang melimpah, Bahkan Allah Ta’ala juga menurunkan hujan belalang emas kepadanya, serta mengembalikan keluarganya, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

    وَءَاتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم {84}
    “Dan Kami Anugerahkan ia dengan mengumpulkan kembali keluarganya dan Kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka pula” (QS.Al-Anbiyaa’:84)

    Ada yang berpendapat:”Allah Ta’ala menghidupkan mereka secara keseluruhan.”Dan ada lagi yang menyatakan:”Allah Ta’ala memberikan ganti kepadanya ketika di dunia dan menyatukan mereka kembali bersamanya kelak di akhirat.”
    Dan firman-Nya :

    رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا {84}
    “Sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QSAl-Anbiyaa’:84)

    Maksudnya, Kami hilangkan kesusahan yang dideritanya dan Kami lenyapkan penderitaanya sebagai rahmat dari Kami sekaligus kasih sayang dan kebaikan Kami kepadanya.

    وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ {84}
    “Dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang beribadah kepada Allah. (QS.AlAnbiyaa’:84)

    Yaitu, sebagai peringatan bagi orang yang mengalami cobaan, baik fisik, harta kekayaan, mauoun anak keturunannya. Maka hendaklah dia menjadikan Nabi Ayyub ‘alaihissalam sebagai suri tauladan, di mana beliau pernah diuji oleh Allah dengan cobaan yang lebih berat, lalu dia bersabar sehingga Allah menyembuhkannya kembali.

    Dan setelah itu, Nabi Ayyub ‘alaihssalam sempat menjalani hidup selama tujuh puluh tahun di negeri Romawi dengan memeluk agama yang hanif, adapun orang-orang yang setelahnya mereka merubah agama Ibrahim ‘alaihissalam.

  18. berhalasalib 14 Januari 2010 pukul 6:13 AM

    Injil tidak lebih dari cerita novel Nabi – Nabi
    Ritual ibadah orang kristen memang sangat tidak jelas. Mereka hanya perlu datang dan duduk-duduk di gereja, maka akan masuk surga. Tidak ada ayat-ayat khusus yang perlu dibacakan didalam proses ibadah. Mereka hanya perlu bernyanyi-nyanyi, alirannya pun bebas. Musik rok, remix, lagu slow… dan teriak-teriak pun bisa diagap beribadah. Ini menunjukkan betawa lemahnya ajaran kristen untuk diaggap sebagai sebuah agama. Isi injil pun hanya seperti sebuah novel yang menceritakan kisah para Nabi. Tidak ada hukum dan petunjuk hidup didalamnya. Kalau anda tidak percaya, coba anda tanyakan pada orang kristen. Suruh mereka mejelaskan tentang surga dan neraka. Pasti mereka tidak bisa menjawab karena Injil adalah hasil buatan manusia sehingga informasi didalamnya pun sangat terbatas.

    Tidak ada hukum pernikahan, hukum memperlakukan orang mati, hukum jual beli apalagi hukum-hukum detail yang lain. Ini menunjukkan betapa lemahnya Injil tersebut sebagai penuntun hidup manusia. Mereka boleh ke gereja dengan menggunakan pakaian apa saja bahkan dengan bikini sekalipun karena memang tidak ada hukum berpakaian yang diatur didalam Injil… masih percayakan kamu pada Injil??? Tersesatlah kamu seumur hidup mu….

  19. debatagama 14 Januari 2010 pukul 12:07 PM

    Blog ini menceritakan ttg Islam dan sejarahnya seakan2 dia yg paling tahu ttg Islam. apa dia sdh hidup pada masa permulaan Islam? bisanya cuma mempelintir fakta sejarah doang.
    Sy tdk mengerti apa maksud anda menghina Islam padahal anda hidup di negara yg mayoritas Islam ini dgn nyaman dan aman tdk seperti org Islam yg di Palestina.

    skrg anggaplah apa yg anda kisahkan ttg Islam di blog ini semuanya benar dan pembaca berniat untuk murtad lantas agama apa yg anda tawarkan kpd pembaca???
    – apa agama hindu&budha yg menyembah berhala/patung??? sdh jelas2 patung2 tsbt dibuat oleh manusia kok malah disembah2, seharusnya patung itu yg menyembah manusia.
    -atau agama yahudi yg menganggap selain yahudi itu adlh binatang??? dan beribadah sambil mengantuk2an kepala ke dinding ratapan??
    – atau agama kristen yg ibadahnya cuma nyanyi2 tiap minggu??? sambil nyembah2 salib dan yesus. yg tuhannya punya keluarga?? ada tuhan ayah, tuhan bunda, dan tuhan anak??? tuhan kok gak beda sama yg diciptakannya kan aneh.
    -atau jd atheis yg tak punya tuhan dan agama dn kerjaannya asik mabuk2an, ngentot sana sini sepuasnya tdk ada pantangan. bila perlupun ibunya dan saudara kandungnya dientotnya. tidak ada dosa selagi suka.

    lantas apa jawabanmu??? agama apa yg pantas bwt pembaca blogmu ini??? (nb.kl berani jgn hapus komenku ini)

  20. yousucckk 15 Januari 2010 pukul 12:32 PM

    Al-Quran Tetap Utuh Di Tengah Kebakaran

    mau bukti : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3148105

    penduduk di dunia mayoritas 85% memeluk agama muslim….

    thanks.

    jadi klo mau menghina agama islam pikir2 dlu ya bozz.

  21. ropiuddin 18 Januari 2010 pukul 1:03 AM

    YAH SILAHKAN AJA SI BANCI INI TIDAK MEMILIH ISLAM, TOH DALAM ISLAM TIDAK ADA PAKSAAN…

    KALO KAMU MAU TAHU ISLAM = SALOM = DAMAI SEJAHTERA = SELAMAT

    DAN ISLAM ADALAH KHUSUS YANG MENYEMBAH ALLAH, SEPERTI SOSOK YANG KEMAU SEMBAH ITU JUGA ISLAM KOK (KARENA DIA MEMANGGIL-MANGGIL ALLAH KETIKA DI TIANG SALIB) :

    Mark 15:34 à “Yesus berdo’a : (ELOY / ELI) Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?.”

    Mat 27:46 à “Yesus berdo’a : (ELOY / ELI) Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?.”

    DAN KALO KAMU MAU TAHU ELOHIM = ALLAHUMMA (YA ALLAH) BUKA KAMUS IBRANI ARAB DONKKKKK…….

    NIH LIHAT AYAT-AYAT DI BAWAH (BANTAHAN DAN KUTUKAN YESUS BUAT KALIAN YANG MENYEMBAHNYA) :

    1. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa dirinya bukan Tuhan :
    · Yohanes, 20:17 à “Aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, Allahku dan Allahmu.”
    · Yohanes, 8:54 à “Jika aku memuliakan diriku sendiri, maka kemuliaanku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa/Allah-kulah yang memuliakanku.”
    · Matius, 18:19 à “Permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa/Allah-ku di sorga.”
    · Markus, 10:18 à “Mengapa kau katakan aku baik? Tidak ada yang baik selain Allah.”
    · Matius, 7:21à “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku Tuhan, Tuhan! Akan masuk kerajaan sorga. Melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa/Allah-ku disorga.”
    · Lukas, 18:19 à “Mengapa kau katakan aku baik? Tidak ada yang baik selain Allah.”
    · Matius 19-17 à “Hanya Satu yang baik … turutilah perintah Allah.”
    · Semua yang tidak mengakui dirinya sebagai Tuhan, ia tidak pantas disebut sebagai Tuhan.
    · Karena Tuhan pasti menyebut diri-Nya sebagai Tuhan : Im 19:31 & Yes 43:11.

    2. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu (bukan tiga), yaitu Allah Tuhannya Yesus dan Tuhannya alam semesta :
    · Matius, 4:10 à “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”
    · Matius, 23:8 à “Hanya satu Rabimu.”
    · Markus, 12:29 à “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.”
    · Markus, 12:32 à “Tidak ada yang lain kecuali Dia (Allah).” = Laa Ilaaha Illallah
    · Lukas, 10:21 à “Bapa/Allah, Tuhan langit dan bumi.”
    · Yohanes, 5:44 à “Allah yang Esa.”
    · Yohanes, 17:3 à “Mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar.”
    · Semua yang lebih dari satu, tidak pantas disebut sebagai Tuhan karena Tuhan Maha Satu. Laa Ilaaha illallah (Tiada tuhan selain Allah), senada dengan :
    ü Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu : Ulangan, 4:35
    ü Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu : Ulangan, 6:4
    ü Allah adalah nama Tuhan untuk selama-lamanya (bukan Yesus) : Keluaran, 3:15
    ü Laa Ilaah Illallah (Tiada tuhan selain Allah) : Yesaya, 46:9.

    3. Yesus berkata bahwa Tuhan/Bapa/Allah ada di sorga (bukan Yesus yang ada di bumi) :
    · Matius, 23:9 à “Janganlah kamu menyebut siapapun Bapa/Allah di bumi ini, karena hanya satu Bapa/Allah-mu, yaitu Dia yang di sorga.”
    · Matius, 6:9 à “Bapa/Allah kami yang di sorga.”
    · Matius, 5:48 à “Bapa/Allahmu yang di sorga adalah sempurna.”
    · Matius, 10:32 à “Di depan Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Matius, 12:50 à “Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Matius, 15:13 à “Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Matius, 16:17 à “Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Yohanes, 6:32-33 à “Bapa/Allah-Ku yang memberikan kamu roti dari sorga.”
    · Matius, 18:10 à “Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Matius, 18:19 à “Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Matius, 7:21-23 à “Bapa/Allah-ku yang di sorga.”
    · Semua yang ada di bumi adalah ciptaan Allah dan tidak pantas disebut sebagai Tuhan :
    ü Kejadian, 1 & 2 à “Allah menciptakan langit dan bumi.”
    ü Lukas, 10:21 à “Bapa/Allah, Tuhan langit dan bumi.”
    · Tuhan memang tidak dapat dilihat di bumi oleh manusia biasa :
    ü Yohanes, 1:18 à “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah.”
    ü 1Timotius, 6:16 à “Dan memang manusia tidak dapat melihat Dia/Allah.”
    ü Kel 19:24 à “Rakyat tidak boleh menghadap Tuhan, supaya jangan dilanda-Nya.”
    ü Kel 20:19 à “Janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.”
    ü Kel 33:20-23 à “Tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”

    4. Yesus mengatakan bahwa dirinya hanya seorang Rasul/Nabi/utusan Tuhan/pemimpin :
    · Yohanes, 12:49 à “Bapa/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Matius, 15:24-26 à “Aku diutus hanya kepada … umat Israel .” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 17:3 à “Yesus yang telah Engkau (Allah) utus.” = Rasul Allah.
    · Matius, 10:40 à “Dia/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Matius, 23:10 à “Hanya satu pemimpinmu yaitu Mesias.” = hanya Pemimpin umat.
    · Markus, 6:4-6a à “Yesus berkata bahwa dirinya hanya seorang Nabi.” = Nabi Allah.
    · Lukas, 4:18 à “Dia/Allah yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Lukas, 4:24 à “Yesus berkata bahwa dirinya hanya seorang Nabi.” = Nabi Allah.
    · Lukas, 4:43 à “Untuk itulah aku diutus.” = Rasul Allah.
    · Lukas, 7:16 à “Yesus membenarkan orang yang mengatakan dirinya hanya Nabi.”
    · Lukas, 7:39 à “Yesus diam saja, ketika orang menyebut dirinya hanya seorang Nabi.”
    · Lukas, 9:48 à “Dia/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Lukas, 10:16 à “Dia/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 4:34 à “Dia/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 4:44 à “Yesus bersaksi bahwa dirinya hanya seorang Nabi.” = Nabi Allah.
    · Yohanes, 4:19 à “Yesus membenarkan wanita yang menyebut dirinya hanya Nabi.”
    · Yohanes, 6:38 à “Dia/Allah yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 6:39 à “Dia/Allah yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 6:57 à “Bapa/Allah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 7:16 à “Dia/Allah yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 7:33 à “Dia/Allah yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 8:29 à “Dia/Allah yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 8:18 à “Bapa/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 9:4 à “Dia/Allah yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 11:42 à “Engkaulah (Allah) yang mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Yohanes, 17 :6-9 à “Engkaulah (Allah) yang telah mengutus aku.” = Rasul Allah.
    · Semua yang diutus Tuhan adalah hamba Tuhan : Mat 12:17 & Kis 4:27.
    · Hamba Tuhan tidak pantas disebut sebagai Tuhan: Mat 19:17 & Luk 18:18 & Mark 10:18.

    5. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa dirinya lemah dan tidak punya kuasa/kehendak setitikpun, melainkan hanya Allah yang berkehendak (Insya Allah) :
    · Yoh 8:42 à “Aku datang bukan atas kehendakku … tapi Dialah yang mengutus aku.”
    · Yoh 8:16 à “Penghakimanku benar … sebab aku bersama Dia yang mengutus aku.”
    · Yoh 5:30 à “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri … sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.”
    · Mat 20:23 à “Aku tidak berhak memberikannya … (tapi) Bapaku yang menyediakannya.”
    · Luk 11:20 à “Aku mengusir setan dengan kuasa Allah.”
    · Luk 22:42 à “Bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mulah (Allah) yang terjadi.”
    · Yoh 5:19 à “Anak (Yesus) tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri.”
    · Yoh 5:36 à “Pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaku, supaya aku melaksanakannya.”
    · Yoh 6:38 à “Aku … melakukan kehendak Dia yang telah mengutus aku.”
    · Yoh 6:39 à “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus aku.”
    · Yoh 7:16 à “Ajaranku tidak berasal dari diriku, tapi dari Dia yang mengutus aku.”
    · Yoh 7:28-29 à “Aku datang bukan atas kehendakku, tapi aku diutus oleh Dia/Allah.”
    · Yoh 7:28-29 à “Aku datang dari Dia, dan Dialah yang telah mengutus aku.”
    · Mark 1:13 à “40 hari lamanya dicobai oleh iblis.” Artinya Yesus bukan Tuhan.
    · Kis 10:40 à “Dan Allah berkenan (menghendaki), Yesus (untuk) menampakkan diri.”
    · Kis 10:38 à “Allah mengurapi dia (Yesus) dengan Roh Kudus dan kuasa-Nya.”
    · Semua yang tidak punya kuasa, tidak pantas disebut sebagai Tuhan : Mat 19:17 & Luk 18:18 & Mark 10:18 & Mat 12:17 & Kis 4:27.
    · Karena Tuhan Maha Berkuasa : Kej 1 & 2 – Yes 44:24 – Yes 46:9 – Yes 45:18.

    6. Yesus dengan tegas bahwa dirinya tidak mengetahui hari kiamat :
    · Markus 13:32 à “Tentang hari dan saat itu (hari kiamat) tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan anak (Yesus)pun tidak, hanya Bapa saja.”
    · Mat 24:36 à “Tentang hari dan saat itu (hari kiamat) tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan anak (Yesus)pun tidak, hanya Bapa sendiri.”
    · Semua yang tidak mengetahui hari kiamat, tidak pantas disebut sebagai Tuhan : Mat 19:17 & Luk 18:18 & Mark 10:18 & Mat 12:17 & Kis 4:27.
    · Karena Tuhan Maha Tahu segala yang telah terjadi dan yang akan terjadi :
    ü Yes 46:10 à “.”

    7. Yesus tidak mengetahui musim buah :
    · Markus 11:13 à “Tapi waktu ia tiba di situ, ia (Yesus) tidak mendapati apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.”

    · Matius, 21:19 à “Dari jauh ia melihat pohon ara, lalu pergi ke situ, tapi ia tidak mendapati apa-apa … selain daun saja.”

    · Semua yang tidak mengetahui musim buah, tidak pantas disebut sebagai Tuhan : Mat 19:17 & Luk 18:18 & Mark 10:18 & Mat 12:17 & Kis 4:27.

    · Karena Tuhan Maha Mengetahui segala-galanya : Yes 46:10 à “Akulah Allah, dan tidak ada yang lain seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian.”

    8. Yesus selama hidupnya selalu berdo’a kepada Tuhan (bukan kepada dirinya sendiri) :
    · Mat 14:19 à “Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat.”
    · Mat 14:23 à “Yesus naik ke atas bukit untuk berdo’a.”
    · Mat 26:36 à “Aku (Yesus) pergi ke sana untuk berdo’a.”
    · Mat 26:42 à “Ia (Yesus) pergi kedua kalinya untuk berdo’a.”
    · Mat 27:46 à “Yesus berdo’a : Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?.”
    · Mark 14:36 à “Yesus berdo’a : Ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu.”
    · Mark 15:34 à “Yesus berdo’a : Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?.”
    · Luk 6:12 à “Pergilah Yesus ke bukit untuk berdo’a.”
    · Luk 9:28 à “Yesus naik ke atas gunung, untuk berdo’a.”
    · Luk 22:41-42 à “Ia (Yesus) berlutut dan berdo’a.”
    · Luk 11:1 à “Yesus sedang berdo’a di salah satu tempat.”
    · Semua yang berdo’a/memohon kepada Tuhan, tidak pantas disebut sebagai Tuhan.
    · Karena Tuhanlah yang Maha Menciptakan dan Maha Memiliki alam semesta : Kej 1 & 2 – Yes 44:24 – Yes 46:9 – Yes 45:18 & 24.

    9. Yesus selama hidupnya bersyukur kepada Tuhan (bukan kepada dirinya sendiri) :
    · Luk 10:21 à “Aku (Yesus) bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi.”
    · Mat 11:25 à “Aku (Yesus) bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi.”
    · Mat 16:17 à “Berbahagialah/bersyukurlah engkau … karena yang menyatakan itu, Bapa/Allah ku yang di sorga.”
    · Yoh 11:41 à “Bapa, aku (Yesus) mengucap syukur kepada-Mu.”
    · Semua yang bersyukur/berterima kasih kepada Tuhan, tidak pantas disebut sebagai Tuhan.
    · Karena Tuhanlah yang Maha Memiliki alam semesta beserta isinya : Kej 1 & 2 – Yes 44:24 – Yes 46:9 – Yes 45:18.

    10. Yesus melarang dan mengutuk orang-orang yang berkata bahwa Yesus adalah Tuhan :
    · Matius, 23:9 à “Janganlah kamu menyebut siapapun Bapa/Allah di bumi ini, karena hanya satu Bapa/Allah-mu, yaitu Dia yang di sorga.”
    · Mat 7:21 à “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam kerajaan sorga. Melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku di sorga.”
    · Mat 7:22-23 à “Pada hari terakhir (akhir zaman) banyak orang yang berseru kepadaku Tuhan, Tuhan! … Pada waktu itulah aku berterus terang kepada mereka : aku (Yesus) tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dariku, kamu sekalian pembuat kejahatan.”
    · Mark 10:18 à “Mengapa kau katakan aku (Yesus) baik? Tidak ada seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.”
    · Luk 18:18 à “Mengapa kau katakan aku (Yesus) baik? Tidak ada seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.”
    · Mat 19:17 à “Hanya Satu yang baik … turutilah segala perintah Allah.”
    · Luk 13:26-28 à “Enyahlah dari hadapanku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan” yaitu orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan : Mat 7:22-23.
    · Yang melarang dan mengutuk bukan Ropi (penulis buku ini) …, tapi Yesus sendiri.
    · Allah Maha Satu dan tidak ada yang seperti Allah (Laa Ilaaha Illallah) : Yes 46:9.

    11. Yesus hanya seorang hamba Allah (bukan jelmaan Allah) :
    · Mat 12:18 à “Lihatlah itu hamba-Ku yang ku pilih.”
    · Kis 4:27 à “Yesus, hamba-Mu yang kudus.”
    · Kis 4:30 à “Yesus, hamba-Mu yang kudus.”
    · Seorang hamba tidak pantas disebut sebagai Tuhan (lihat nomor 1-10 di atas).

    12. Yesus hanya sebagai anak Allah seperti halnya Yakub dan Efraim :
    · Luk 1:32 à “Ia (Yesus) akan disebut anak Allah.”
    · Keluaran, 4:22 à “Israel/Yakub anak sulung Allah.”
    · Hosea 11:1 à “Israel/Yakub anak kesayangan Allah.”
    · Mazmur, 2:7 à “Allah mengangkat anak di zaman Daud.”
    · Yeremia, 31:9 à “Efraim anak sulung Allah.”
    · Semua yang disebut anak Allah tidak pantas disebut sebagai Tuhan (lihat nomor 1-10).

    13. Yesus hanya seorang pemimpin dan juru selamat umatnya :
    · Kis 5-31 à “Dialah (Yesus) … pemimpin dan juru selamat, supaya Israel bertobat.”
    · Luk 4:41 à “Ia (Yesus) adalah Mesias.”
    · Mat 23:10 à “Hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias.”
    · Loth juga sebagai pemimpin dan juru selamat umatnya (Kej 19:6-8).
    · Musa juga sebagai pemimpin dan juru selamat umatnya (UL 4:1-2 & 10:13-14).
    · Yosua juga sebagai pemimpin dan juru selamat umatnya (Yos 24:27).
    · Yehezkiel juga sebagai pemimpin dan juru selamat umatnya (Yeh 3:16-17).
    · Nabi terakhir/Muhammad (Yoh 16:7,12) juga sebagai pemimpin (Yoh 16:13) dan juru selamat umatnya (Yoh 16:13 & Yoh 14:26).

    14. Stefanus melihat Yesus ada di samping Allah (bukan sebagai Allah)
    · Kisah, 7:55 à “Stefanus melihat … Yesus ada di samping Allah.”
    · Kisah, 7:56 à “Anak manusia (Yesus) berdiri di sebelah kanan Allah.”
    · Apakah Tuhan ada dua sosok…? padahal Yesus menampakkan dirinya karena kuasa Allah bukan karena kemauan Yesus sendiri (Kis 10:40).
    · Musa serta Elia juga menampakan dirinya setelah berabad-abad wafat (Luk 9:29-31).
    · Para Nabi juga hidup di samping Allah (Kej 48:15).
    · Tapi penulis kisah di atas berlebihan dan bertentangan dengan Yoh 1:18 & 1Timot 6:16 & Kel 19:24 & Kel 20:19 & Kel 33:20-23, karena Allah tidak bisa dilihat oleh orang biasa.

    15. Yesus hanya ditinggikan/diberkati oleh Allah (bukan dilantik sebagai Tuhan)
    · Kis 5:31 à “Dialah (Yesus) yang ditinggikan Allah dengan tangan kanan-Nya.”
    · Koresh ditinggikan dengan tangan Allah menjadi pemimpin bangsa-bangsa (Yes 45:1).
    · Nabi terakhir (Nabi Muhammad) juga ditinggikan/diberkati dengan tangan Allah menjadi pemimpin bangsa-bangsa (Yes 42 : 1-4). lihat pembahasannya nubuat Nabi Muhammad (lihat daftar isi di bwah).

    · Bahkan Musa diberkati sebagai Allah bagi Firaun (Kel 7:1), – Apakah Musa dilantik sebagai Tuhan???

    MAMPUS LOH DI TOLAK TUHAN LO SENDIRI

  22. elraudhy 3 Februari 2010 pukul 11:43 PM

    Dasar…kutunggu tantanganmu….

  23. ruldhop 13 Februari 2010 pukul 8:42 AM

    why this blog anti muhammad??…

  24. Pingback: Berita Kebakaran Dalam Bahasa Inggris Beserta Artinya | Berita Terbaru Dari .Com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: