Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Isra Mi’raj Antara Dogma dan Khayalan

Oleh Salib Ahmeed Al Banjari

Islam pada hakekatnya menyatakan dirinya sebagai “Rahmatan lil ‘Alam” melalui Muhammad, via Jibril di Gua Hira. Islam berasal dari kata “Salaama” (السَّلْم) yang berarti damai (ada yang meragukan ini!), sesuai dan seturut dengan pernyatan Qur’an, saya berikan kutipannya:

021.107 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
021.107 We sent thee not, but as a Mercy for all creatures.

Islam juga memberikan penghargaan (penghormatan) kepada para Nabi terdahulu dan juga mengajarkan syari’at yang telah diturunkan oleh Allah kepada nabi atau rasul terdahulu, dan Islam juga dengan Qur’an-nya merupakan suatu petunjuk dan pembanding kitab-kitab sebelumnya, TAPI walhasil:

  • Qur’an gagal membuktikan kebenarannya yang berasal dari Allah dan juga gugurlah pernyataan Allah bahwa Qur’an adalah kitab yang mulia;
  • Qur’an gagal sebagai Nurul Alam seperti yang dikatakan Allah;
  • Qur’an juga gagal memberikan bukti-bukti yang shahih dan rahmat bagi kaum beriman seperti yang dikatakan Allah;
  • Qur’an gagal memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya bagi kaum beriman seperti yang dikatakan Allah, serta Allah gagal memelihara kebenaran Qur’an;
  • Qur’an juga gagal membuat orang dapat berolah pikir yang benar;
  • Qur’an juga gagal memberikan hal-hal secara terperinci;
  • Qur’an juga gagal yang konon katanya tidak ada hal-hal yang membengkokkan didalamnya, yang kenyataannya terdapat banyak pertentangan didalamnya dan memperkuat bahwa Qur’an buatan Muhammad;
  • Qur’an juga bukan berasal dari ilmu Allah melainkan dari pengetahuan Muhammad yang copy-paste dari kitab sebelumnya.

Wahyu yang diberikan Allah kepada Muhammad via Jibril banyak sekali mengandung historical errors, yang mana perlu dikaji ulang dan dianalisa lagi tentang kebenaran dan keabsahan Al-Qur’an agar banyak orang tidak terpengaruh oleh buaian “nina bobo” dari sang Nabi tercinta.

Maka marilah kita menguji kebenaran Al-Qur’an mulai dari sejarahnya hingga tentang sejarah yang lain, yang mana konon merupakan Ilmu Allah, yang seharusnya terperinci, tidak bengkok, dan tidak ada crush di dalamnya. Atas nama kejujuran yang dilimpahkan oleh Allah dan atas izin Sayidinia Al Maseeh Al Mukhallish Al ‘alam marilah kita telaah kebenaran Qur’an.

BAB I : SEJARAH ISRA MI’RAJ MUHAMMAD

Islam yang merupakan agama ‘damai’ (السَّلْم) yang mana sumber segala rahmat Allah yang Ilmu-Nya menurunkan Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh Ummat, dalam buku Allah (Qur’an) yang mana sangat terperinci dalam mediktekannya kepada Muhammad via Jibril.

Pada hakekatnya umat Islam mengakui secara lisan, tulisan, dan hati bahwa Allah telah menurunkan (Nazil) Al-Qur’an kepada Muhammad via Jibril, dan tidak satupun yang diubah, dan umat Islam percaya bahwa pengajaran (As-Sunnah) yang diajarkan oleh Muhammad benar-benar merupakan suatu petunjuk serta penuntun dalam kehidupan umat Islam hingga akhir zaman, sesuai dan seturut dengan pernyataan Muhammad yang tercatat dalam suatu Hadith, saya berikan kutipannya:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِهِ
(وراه مالمك)
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan pernah tersesat selagi masih berpegang teguh pada keduanya; yaitu kitabullah (al-Qur’an) dan sunah nabinya (al-Hadits).’” (HR. Imam Malik)

Baiklah, kita ambilkan saja suatu contoh tentang Isra Mi’raj Muhammad untuk menguji keterperincian Qur’an serta ke tidak bertentangan antara ayat yang satu dengan yang lain. Umat Islam mengklaim bahwa Muhammad dihantarkan oleh Allah dalam suatu peristiwa yang amat sakral antara Allah dan makhluknya (Muhammad), yakni Isra Mi’raj, yang mana Isra Mi’raj Muhammad merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam karena pada peristiwa ini Muhammad mendapat perintah untuk menunaikan Shalat lima waktu sehari semalam.

Isra Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 Hijriah. Pada peristiwa Isra Mi’raj dapat dikatakan terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Muhammad “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Muhammad dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalatlimawaktu.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah shalatlimawaktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Muhammad sedih.

Isra Mi’raj ini di-record serta dicatat dalam sebuah Qur’an yakni TQS 17:1, yang mana mengisahkan bahwa Allah mengangkat Muhammad kehadirat-Nya. Berikut saya berikan ayatnya dalam tiga versi bahasa yakni Arab, Inggris, dan Indonesia:

17:01 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ14)

17:01 “Glory to (Allah) Who did take His servant for a Journey by night from the Sacred Mosque to the farthest Mosque, whose precincts We did bless,- in order that We might show him some of Our Signs: for He is the One Who heareth and seeth (all things).”

17:01 “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Marilah kita uji pandangan para Cendekiawan Islam ini yang mana sambil menunjukkan hujah-hujah yang kebudak-budakan, tetapi Saya TEKANKAN disini bahwa saya tidak pernah menghina Muhammad dan Qur’an, tetapi sebagai pembanding dan penguji keterperincian antara Qur’an dan Hadith.

Saya tampilkan beberapa pendapat para Mullah dari Agama Islam tentang Isra Mi’raj Muhammad, diantaranya adalah Syed Abu Ala Maududi, saya berikan kutipannya:

“This sura (verse) is a wonderful combination of warning, admonition, and instruction which have been blended together in a balanced proportion… Accordingly convincing arguments have been put forward to prove that the Koran is the book of Allah and its teachings are true… Besides these Muhammad the prophet has been instructed to sticks firmly to his stands without minding the opposition and difficulties which he was encountering and should never think of a making a compromise with unbelief (Christians and Jews)… Moreover sholat was prescribed in order to reform and purify their souls as if to say (this is the thing) which will produce in you to those high qualities of character which are essential for everyone who intends to struggle in righteous way incidentally we learn from tradition in Hadith Shahih Bukhari and Muslim that Mi’raj was the first occasion on which the five daily prayers were prescribed to be offered at fixed time.”
[At Tafsir (exegesis) Syed Abu Ala Maududi, Sura Al Isra]

Dalam dalil yang dikemukakan oleh Pemikir Islam ini akan saya tarik benang merah yang mana akan menunjukkan ketidak mampuannya dalam menganalisa dan berolah pikir tentang bukti-bukti ketidak benaran cerita tentang Isra Mi’raj Muhammad ini, berdasarkan sumber mereka sendiri, yang mana dalam hal ini para Cendekiawan Islam melancarkan teknik “taqiyya” untuk membela ketidak benaran cerita ini (TQS 17:1).

Marilah kita buka dengan hati yang ikhlas dan ridho, serta menggunakan akal sehat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita untuk menguji kebenaran Qur’an tanpa ada paksaan dan caci-maki. Apabila kita analogikan antara Qur’an dan tafsir diatas maka kita akan menemukan kejanggalan yang ada diantaranya adalah:

  1. Bagaimana mungkin Allah lupa mencatat dan menyampaikan kepada Muhammad via Jibril kedalam Kalam Allah (Qur’an) tentang satu halpun dalam tata cara sholat?
  2. Kenapa harus mencari tata cara sholat kedalam Hadith Shahih Bukhari dan Muslim yang jaraknya sangat jauh setelah kematian Muhammad?

Ini merupakan hal yang sangat luar biasa, serta mengandung takhayul (tathayyur) dan perlu direnungkan kembali oleh Cendekiawan Islam yang ada diseluruh dunia sebelum mereka membual tentang kebenaran Qur’an sebagai Kalam (firman) Allah yang kekal.

BAB II : KEJANGGALAN ISRA MI’RAJ MUHAMMAD

Pada Bab I diatas kita telah menyinggung tentang asal usul Isra Mi’raj Muhammad yakni 27 Rajab 11 H dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram lalu ke Sidratul Muntaha dengan menggunakan Buraq (bukan nama pesawat).

Marilah kita menelaah pemahaman budak-budak Muhammad ini (pemikir Islam) yakni Armansyah (silakan klik di http://www.geocities.com/arman_syah/) apabila anda membacanya maka akan tertawa terbahak-bahak karena betapa lucunya pemahaman budak Muhammad yang satu ini.

Saya ambilkan kutipan pemahaman dari budak yang satu ini:
“Kalimat ini memberi pengertian bahwa Nabi Muhammad Saw itu di Asraa kan dalam pengertian di mi’rajkan oleh Allah, bukan Asraa dengan sendirinya alias kehendak Muhammad sendiri dan juga bukan atas kepintaran yang ada pada diri Nabi Muhammad, tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang memperjalankannya. Disamping itu, kata-kata “Bi’abdihi” ini dapat dipakai untuk memberikan jawaban penolakan atas orang yang berpendapat bahwa perjalanan malam Nabi Muhammad Saw ini hanya terjadi dengan ruhnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata-kata “abd” (hamba) itu dipakai untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, bukan untuk ruh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang mengatakan ruh itu sebagai “abd” atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai ‘abd. Setelah sekian lama saya mencoba menyelidiki, mendalami, dan menganalisa serta mempertimbangkan dari beberapa sudut keilmuan modern dan pendapat para alim ulama, akhirnya saya berkesimpulan bahwa Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad Saw melakukan “kunjungan” itu TIDAK TERLETAK DIBUMI. Cukup logis saya rasa penjelasan saya ini, dan jauh dari sifat yang mengada-ada serta tidak jelas.”

Pada kutipan yang saya ambil diatas nyatalah budak Muhammad yang satu ini tidak pernah membaca satu halpun dalam Hadith baik Bukhari maupun Muslim. Nyatalah bahwa antara Mullah Agama Damai telah tertipu oleh heresy yang diajarkan oleh Muhammad. Analisa budak Muhammad yang satu ini telah heterodox (menyimpang) dari fakta real yang ada dilapangan. Budak yang satu ini telah menafsirkan cerita tathayyur (khayalan) ini menjadi sebuah yang real, yang lebih memalukan lagi budak ini mengkhayal bahwa Muhammad telah di Mi’rajkan ke langit ke-7 yang bukan dari bumi. Sungguh sangat memalukan bagi Cendekiawan Islam yang satu ini yang tidak mengerti juga tidak mengetahui seluk beluk cerita ini. Hanya Syaikh Maududi lah yang mengakui kebobrokan cerita ini bahwa tata cara shalat dan Isra Mi’raj sebagian besar berasal dari Hadith Sahih Bukhari dan Muslim.

Maka baiklah saya memaparkan sedikit ulasan tentang Masjidil Aqsa yang sebenarnya berdasarkan sumber mereka sendiri dan fakta real di lapangan, tanpa ada paksaan, caci maki, dan hinaan kepada Agama lain tetapi memberikan sedikit ulasan dan pencerahan agar tidak tersesat oleh heresy yang namanya Islam. Maka bi-Idzin Al Maseeh dan perlindungan dari Roh Kudus akan saya paparkan dan ulaskan secara terperinci, Amien.

Masjidil Aqsa merupakan kawasan bagian dari kompleks bangunan suci yang berada di Yerusalem dikenal dengan nama Al Haram asy Syarif bagi umat Muslim. Literatur Islam menyatakan bahwa Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 dan menjadikan Masjid ini sebagai tempat suci Islam yang ketiga.

Menurut keterangan diatas hal tentang Isra Mi’raj ini sangat rancu, kenapa saya bilang begitu? Karena Masjidil Aqsa tak pernah ada pada zaman Muhammad, karena Masjidil Aqsa yang sebenarnya dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah pada tahun 66 H selesai hingga 73 H. Hal ini sangat rancu lagi absurd tentang cerita ini, dapatkah umat Islam menjawabnya?

Hal aneh lagi terus datang seputar Isra Mi’raj Muhammad, saya pernah membaca di HS Bukhari Vol 004 Book 055 No 636, saya ambil kutipannya:

HS Bukhari Volume 004, Book 055, Hadith Number 636
Narated By Abu Dhaar: I said, “O Allah’s Apostle! Which mosque was built first?” He replied, “Al-Masjid-ul-Haram.” I asked, “Which (was built) next?” He replied, “Al-Masjid-ul-Aqs-a (i.e.Jerusalem).” I asked, “What was the period in between them?” He replied, “Forty (years).” He then added, “Wherever the time for the prayer comes upon you, perform the prayer, for all the earth is a place of worshipping for you.”

HS Bukhari Volume 004, Buku 055, Nomor 636
Dikisahkan oleh Abu Dhaar: Aku bertanya, “Ya Rasulullah! Masjid manakah yang dibangun pertama kali? Beliau menjawab, “Masjidil Haram” Aku bertanya, “Selanjutnya?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa”. Kemudian aku bertanya, “Berapakah selisih pembangunan keduanya?” Rasulullah menjawab, “Empat puluh (tahun)”,…

Hal yang sangat janggal dan penuh kekeliruan terjadi dikarenakan cerita ini, bahwa kita dapat menarik suatu kesimpulan dari ajaran Muhammad ini bahwa Masjidil Aqsa berada di Yerusalem.

Kita dapat melihat dan menguji serta mengkalkulasikan hitungan dari Nabi tercinta ini, Muhammad bersabda bahwa jarak kedua Masjid ini adalah 40 tahun. Maka baiklah kita mengujinya.

Menurut Islam bahwa Masjidil Haram dibangun oleh Sayidina Abraham yang pernah hidup di bumi ini 2000 BC, serta Masjidil Aqsa ini merupakan masjid yang dibangun diatas reruntuhan bangunan Haeekal (Bait Allah) oleh Salomo, yakni 958-951 AD, maka kalkulasi yang benar adalah 1040 tahun. Menurut Muhammad bangunan ini jaraknya adalah 40 tahun jadi telah meleset 1000 tahun. Kenapa Nabi suci ini meleset dalam perhitungan yang segampang ini, kemungkinan besar Muhammad mengarang dan mengalami disorientasi waktu dalam perhitungannya, sungguh memalukan bagi Nabi yang satu ini yang tiada pernah berhitung dan lagi penuh dengan kekeliruan dan absurd.

Pertanyaan saya bagi Cendekiawan Islam adalah:

  • Bagaimana mungkin Allah lupa mencatat dan menyampaikan kepada Muhammad via Jibril kedalam Kalam Allah (Qur’an) tentang satu halpun dalam tata cara sholat?
  • Kenapa harus mencari tata cara sholat kedalam Hadith Shahih Bukhari dan Muslim yang jaraknya sangat jauh setelah kematian Muhammad?
  • Lalu dimana letak Masjidil Aqsa yang sebenarnya, kalau menurut Nabi anda jelas-jelas menunjukkan letaknya di Yerusalem?
  • Kalau memang letaknya adalah di Yerusalem sesuai dengan ucapan nabi anda, kenapa para Cendekiawan Islam baik orientalis maupun zaman dulu tidak pernah mencatatkan tentang Masjid ini?
  • Setahu saya Masjidil Aqsa ini tidak pernah dibangun sebelum atau pada waktu zaman Muhammad, kenapa Islam mengarangnya?
  • Kenapa terjadi kesalahan dalam pengkalkulasian tentang rentang waktu pembangunam kedua masjid ini oleh Muhammad?

Comments are closed.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.001 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: