Berita Muslim Sahih

MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT DENGAN SEGALA KENYATAAN YANG ADA

Ritual Haji Mengungkap Siapa Allah SWT

Oleh  Ali Makrus

Sekilas tentang Sholat

Mendirikan sholat adalah rukun Islam kedua yang harus dijalani oleh setiap Muslim. Sholat adalah cara sembahyang agama bangsa Arab yang pada waktu melakukannya yaitu ruku dan sujud harus menghadap ke Ka’bah di Mekkah. Tata cara sembahyang agama bangsa Arab ini diambil dan ditirukan dari tata ibadah agama Kristen. Tata cara sembahyang ini oleh agama Kristen telah dilakukan sejak zaman para rasul yaitu pada abad pertama tahun Masehi sampai sekarang ini. Arah kiblat dari sembahyang agama Kristen ini adalah arah ke timur dan dilakukan dalam dua versi. Versi yang pertama adalah versi nabi Daniel di mana jumlah melakukan sembahyang per harinya adalah tiga kali sehari. Versi yang kedua adalah versi Daud di mana jumlah melakukan sembahyang per harinya adalah tujuh kali sehari. Pada zaman sekarang tata cara sembahyang ini hanya dilakukan oleh jemaat gereja Kristen Orthodox yang telah melakukannya sejak abad pertama tahun Masehi hingga sekarang ini. Dengan demikian rukun Islam yang kedua ini mengandung unsur-unsur peniruan terhadap ritual beribadah agama Kristen.

Pada mulanya kiblat sholat adalah Baitul Maqdis di Yerusalem, tetapi setelah Muhammad merasa kedudukannya makin kuat dan atas pertimbangan politis maka arah kiblat dipindahkan dari arah ke Baitul Maqdis di Yerusalem menjadi ke arah yang baru yaitu arah Masjidil Haram di Mekkah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 142 dan Hadits Shahih Bukhari No. 240:

Orang-orang yang bodoh di antara manusia akan berkata: “Apakah gerangan (sebabnya) mereka (orang Islam) beralih dari kiblat mereka semula (dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?)
Katakanlah: Timur dan Barat kepunyaan Allah. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. (QS 2:142)

Dari surat Al-Baqarah ayat 142 itu timbul pertanyaan, “Mengapa sholat agama bangsa Arab harus menghadap ke arah Ka’bah di Mekkah?” Karena Ka’bah adalah tempat tinggal Allah, yaitu rumah Allah sebagaimana yang disebut dalam Surat Al Hajj (QS 2) ayat 26:

“Dan (ingatlah) ketika Kami tempatkan Ibrahim pada tempa Baitullah (dengan firman): Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu, dan sucikanlah rumahKu (Ka’bah) untuk orang-orang yang tinggal (itikaf) dan orang-orang yang ruku dan sujud (sholat).” (QS 22:26)

Pada awalnya Ka’bah di Mekkah ini adalah lokasi pusat penyembahan 360 patung-patung berhala (Hadits Shahih Bukhari No. 1187). Tetapi sejak Muhammad menyiarkan agama Islam yang merubah agama bangsa Arab dari agama yang menyembah banyak Tuhan dengan 360 patung-patung berhala (politeisme) menjadi agama yang hanya menyembah satu Tuhan saja, maka seluruh patung-patung berhala disingkirkan, kecuali ditinggalkan hanya sebuah patung berhala yaitu batu hitam Hajar Aswad yang diletakkan di sudut Ka’bah.

Pada waktu penataan kembali Ka’bah (akibat banjir) dan penentuan di mana Hajar Aswad akan ditempatkan kembali, maka timbul perselisihan di antara pemuka-pemuka suku Quraisy, karena masing-masing pemuka suku merasa berhak untuk menentukan di mana tempat Hajar Aswad ditempatkan kembali. Akhirnya disepakati oleh mereka bahwa yang akan menjadi hakim dalam penempatan kembali batu hitam Hajar Aswad adalah orang yang pertama datang ke Ka’bah. Ternyata orang yang datang pertama adalah Muhammad (waktu itu Muhammad berusia lebih kurang 35 tahun dan belum menjadi nabi) dan semua pemuka Quraisy menyetujui bahwa Muhammad-lah yang akan menentukan lokasi di mana Hajar Aswad akan diletakkan. Agar semua pemuka-pemuka suku Quraisy terlibat dalam penentuan tempat Hajar Aswad tersebut, maka Muhammad mengambil sehelai kain lalu dihamparkannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain tersebut. Kemudian Muhammad menyuruh agar setiap pemuka suku Quraisy bersama-sama mengangkat tepi kain tersebut ke tempat asal Hajar Aswad ditempatkan. Ketika sampai ke tempatnya, maka Muhammad meletakkan batu hitam Hajar Aswad tersebut dengan tangannya sendiri ke tempatnya. Dengan demikian selesailah persengketaan antara pemuka-pemuka Quraisy. Dan oleh peristiwa itu Muhammad diberi gelar Al-Amin, yaitu yang dipercaya.

Dengan begitu dari riwayat tersebut, Hajar Aswad inilah yang didewakan serta disembah dan diletakkan di Ka’bah sebagai tempat tinggal atau rumahnya Allah, dan setiap pengikut agama bangsa Arab yang melakukan sholat haruslah menghadap ke arah Ka’bah di mana Hajar Aswad tersebut ada.

Upacara Ibadah Haji sebagai Ibadah Menyembah Berhala

Melakukan upacara ibadah haji telah dilakukan oleh bangsa Arab jauh sebelum Muhammad lahir. Dengan demikian upacara ibadah haji ini bukanlah merupakan ibadah agama yang baru dilaksanakan sejak agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad. Oleh sebab itu upacara ibadah haji yang sekarang ini hanya merupakan kelanjutan dari upacara ibadah haji bangsa Arab yang sejak dahulu kala dilaksanakan jauh sebelum Muhammad lahir dalam rangka bangsa Arab menyembah kelompok berhala yang berada di Ka’bah Mekkah yang berjumlah 360 patung berhala (Hadits Shahih Bukhari No. 1187).

Pada waktu itu Ka’bah di Mekkah telah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari No. 843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.

“Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh Rasulullah SAW sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang Musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” (Hadits Shahih Bukhari, No. 843)

Sejak Muhammad menyiarkan agama Islam maka bangsa Arab yang melakukan upacara ibadah haji tidak boleh lagi telanjang bulat tetapi seluruh anggota badan harus ditutupi dengan kain putih (ihram) dengan catatan tidak boleh memakai baju dalam dan celana dalam dan tidak boleh bertepuk tangan.

Pakaian ihram ialah menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup.

Menurut Surat Ali Imraan ayat 97 setiap orang yang mampu harus melakukan upacara ibadah haji sebagai kewajiban penyembahan kepada Allah. Melakukan upacara ibadah haji berarti harus datang ke tempat Ka’bah di Mekkah untuk menyembah Allah secara langsung.

Padanya ada tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim dan barang siapa memasukinya, maka amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia karena Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Dan barangsiapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah Maha Kaya dari semesta alam. (QS 3:97)

Walaupun dikatakan dalam surat Ali Imraan ayat 97 bahwa melakukan upacara ibadah haji hanya bagi orang-orang yang mampu saja, yaitu orang-orang yang kaya saja dan bukan untuk orang-orang yang miskin, tetapi karena menurut Hadits Imam At-Turmudzi yang menyatakan bahwa Mekkah adalah kota dengan 100.000 kebaikan yang memberikan beratus-ratus ribu pahala, maka orang miskin pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji dengan cara menjual harta benda mereka yang terbatas itu secara habis-habisan.

Kebaikan dan pahala yang akan diperoleh jika mengunjungi Mekkah menurut Hadits Imam At-Turmudzi adalah sebagai berikut:

  1. Mekkah adalah kota dengan 100.000 kebaikan.
  2. Orang yang sekali saja sholat di Mekkah akan mendapatkan pahala yang sama seperti 100.000 sholat.
  3. Orang yang berpuasa sehari saja di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan 100.000 hari puasa.
  4. Orang yang memberi sedekah satu dirham di Mekkah akan memperoleh pahala dari Allah sebanyak 100.000 dirham sedekah.
  5. Orang yang membaca Alquran tamat satu kali (satu khatam) di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan membaca Quran 100.000 khatam Quran.
  6. Orang yang membaca satu kali tasbih di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan membaca 100.000 tasbih.

Hadits Imam At-Turmudzi:
“Ibnu Abbas mewariskan bahwa Rasulullah bersabda yang maksudnya: Tidak suatu negeri di permukaan bumi ini yang diangkat Allah padanya satu kebaikan dengan 100.000 kebaikan, kecuali Mekkah. Barangsiapa sholat sekali di Mekkah niscaya dikaruniai Allah pahala 100.000 sholat.
Barangsiapa bersedekah satu dirham di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala 100.000 dirham sedekah.
Barangsiapa berpuasa sehari di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala 100.000 hari puasa.
Barangsiapa membaca satu khatam Quran di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala membaca 100.000 khatam Quran.
Barangsiapa membaca satu kali tasbih di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala membaca 100.000 tasbih.
Satu hari beribadah di tanah haram itu lebih diharap dan lebih baik bagimu daripada berpuasa sepanjang masa dan beramal ibadah yang kamu kerjakan di tempat lain.”

Di samping Hadits Imam At-Turmudzi ini yang begitu memikat dan mendorong setiap pengikut agama bangsa Arab untuk datang ke Mekkah, terdapat pula Hadits lainnya yaitu Hadits riwayat Ibnu Majah yang mengatakan bahwa jika umat Islam berdoa sambil melihat Ka’bah, maka doa tersebut akan dikabulkan Allah.

Rasulullah SAW bersabda: Dibukakan pintu langit dan diperkenankan doa orang muslim ketika melihat Ka’bah. (Hadits riwayat Ibnu Majah)

Semua hal-hal yang dinyatakan dalam hadits tersebut di atas jelas-jelas telah memberhalakan kota Mekkah dengan Ka’bahnya.

Lalu selanjutnya, sebagaimana diketahui bahwa ajaran agama bangsa Arab ialah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, sehingga ibadah apapun yang mereka laksanakan adalah dalam rangka cari pahala.

Oleh sebab itulah dalam kenyataannya orang berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji. Walaupun di dalam Alquran ditentukan bahwa melakukan upacara ibadah haji hanya bagi orang yang mampu saja atau hanya bagi orang-orang terbilang kaya saja, tetapi karena pahala yang dijanjikan begitu besar jumlahnya, yaitu beratus ribu dan jika tinggal di Mekkah sekurang-kurangnya satu minggu akan mendapat pahala berjuta-juta kali, maka tidak heranlah jika orang-orang miskin yang tidak mampu pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melaksanakan upacara ibadah haji ini.

Untuk mencari dana atau uang untuk biaya ibadah haji ini orang tidak segan-segan menjual seluruh harta bendanya yang jumlahnya sudah terbatas.

Bahkan ada orang sampai melakukan penipuan demi memperoleh uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji tersebut. Ada sementara orang bahkan mencuri atau berkorupsi agar memperoleh uang untuk biaya upacara ibadah haji. Mereka sampai berani mencuri atau berkorupsi karena menurut Hadits Shahih Bukhari No. 647 yang menyatakan bahwa walaupun mereka mencuri dan berzinah, maka mereka tetap akan masuk surga, asalkan tidak syirik.

Abu Dzar mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Seorang datang kepadaku dari Tuhanku membawa berita: “Sesungguhnya barang siapa di antara umatku yang mati, sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, orang itu masuk surga.” Aku bertanya: Sekalipun orang itu berzinah dan mencuri? Jawab nabi: “Ya sekalipun dia berzinah dan mencuri.” (Hadits Shahih Bukhari, No. 647)

Pada lazimnya upacara ibadah haji memakan waktu sekitar enam hari lamanya, yaitu mulai tanggal 8 Dzulhijjah sampai dengan tanggal 13 Dzulhijjah. (Hadits Shahih Muslim No. 1241).

Hal yang dilakukan di dalam upacara ibadah haji adalah:

  1. Harus berpakaian ihram.
  2. Datang ke Masjidil Haram di Mekkah dan langsung menuju ke sudut Ka’bah di mana batu hitam Hajar Aswad berada untuk memulai thawaf qudum (selamat datang). Thawaf qudum dilaksanakan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.
  3. Melakukan Sa’i, yaitu melakukan perjalanan kaki dari bukit Marwah ke bukit Shafa yang berada dalam lingkungan Masjidil Haram sebanyak 7 kali.
  4. Kemudian pergi ke padang Arafah melakukan wukuf yaitu berada di padang Arafah mulai jam 12.00 siang sampai matahari terbenam. Selama berada dalam keadaan wukuf diwajibkan memikirkan perkara-perkara rohani dan membaca ayat-ayat Alquran. Di padang Arafah terdapat bukit Jabal Al Rahmat untuk dikunjungi.
  5. Upacara ibadah berikutnya adalah berjalan ke Musdalifa untuk tinggal sepanjang malam, kemudian paginya pergi ke Mina untuk melakukan upacara melontarkan jumrah, yaitu melontarkan batu kerikil kepada si Iblis sebanyak 7 kali. Ada 3 jumrah, yaitu: jumrah ula, jumrah wustha, jumrah aqabah. Dengan demikian upacara melontarkan batu kerikil kepada si Iblis adalah sebanyak 7×3 = 21 kali. Dalam hubungan ini pemerintah Saudi Arabia telah menyediakan sejumlah besar batu-batu kerikil untuk melontari Iblis. Batu-batu kerikil ini disediakan untuk para calon jemaah haji yang akan melakukan upacara melontari Iblis dengan batu kerikil. Batu-batu kerikil ini diletakkan di tempat-tempat yang menuju ke jumrah ula, wustha dan aqabah. Walaupun telah disediakan batu-batu kerikil secukupnya untuk melontari iblis-iblis tersebut, tetapi banyak juga dari jemaah haji yang melontarkan batu-batu dengan ukuran yang besar sehingga batu-batu tersebut sering mengenai dan melukai kepala orang-orang yang berada di muka di dekat jumrah-jumrah tersebut, terutama di jumrah aqabah.
    Sementara itu pada tanggal 10 Dzulhijjah dilakukan penyembelihan hewan untuk kurban. Hewan yang dikurbankan pada umumnya adalah kambing, domba, sapi, unta. Selain dari pada itu diadakan upacara mencukur rambut atau menggunting rambut saja.
  6. Kemudian kembali ke Masjidil Haram di Mekkah untuk melakukan thawaf wada dan Sa’i antara bukit Shafa dan Marwa. Thawaf wada sebagai thawaf selamat tinggal (Hadits Shahih Muslim No. 1261 dan No. 1262).

Sebelum dilakukan thawaf qudum maka pelaksana upacara ibadah haji harus membaca doa talbiyah yang berbunyi sebagai berikut:

Labbaik alaahumma labbaik
Labbaika laa Syarikalaka labaik
Innal hamda wan nimata laka walmulk
Laa Syaariika laka — 3 x.

Artinya:

Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kerajaan hanya untukMu, tiada sekutu bagiMu.

Dengan demikian pada waktu pelaksana upacara ibadah haji memasuki Masjidil Haram maka ia harus langsung menuju ke sudut Ka’bah di mana batu hitam Hajar Aswad ditempatkan sambil membaca doa talbiyah tersebut di atas.

Kemudian setelah sampai di muka batu hitam Hajar Aswad lalu membungkuk dan menyembah sambil mencium batu hitam tersebut. Setelah mencium batu tersebut barulah ia dapat melakukan thawaf qudum (thawaf selamat datang) berjalan keliling Ka’bah sebanyak 7 kali.

Pada waktu jalan berkeliling Ka’bah sebanyak 7 kali, maka setiap kali melewati batu hitam Hajar Aswad tersebut, haruslah batu hitam itu dicium atau kalau tidak mungkin, maka disentuh atau kalau juga tidak mungkin disentuh karena banyaknya orang, haruslah mengangkat tangan ke arah batu hitam itu sambil mengucapkan Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar. Hal ini semuanya diungkapkan dalam hadits-hadits sebagai berikut:

“Dari Nafi r.a. katanya: Ketika Ibnu Umar telah dapat masuk ke tanah Haram, dia berhenti membaca talbiyah dan ia bermalam di Zu Thaa. Waktu melewati perbatasan tanah Haram berhenti membaca talbiyah. Dan setelah memasuki tanah Haram dibaca kembali.” (Hadits Shahih Bukhari, No. 818)

“Dari Jabir bin Abdullah r.a. katanya: Tatkala Rasulullah SAW tiba di Mekkah, mula-mula beliau datangi Hajar Aswad lalu beliau cium, kemudian beliau berjalan ke kanan lalu berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan kaki empat kali putaran.” (Hadits Shahih Muslim, No. 1190)

“Dari Ibnu Umar r.a. katanya: Tidak pernah saya tidak menyentuh kedua sudut ini, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan lapang, semenjak saya melihat nabi saw menyentuh kedua-duanya.” (Hadits Shahih Bukhari, No. 835)

“Dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Nabi SAW pernah thawaf di Ka’bah dengan mengendarai unta. Setiap beliau melewati satu sudut, beliau memberi isyarat ke arah sudut itu dengan apa saja yang ada di tangan beliau sambil mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).” (Hadits Shahih Bukhari, No. 838)

Dari uraian di atas dapat dilihat dengan jelas bahwa batu hitam yang bernama Hajar Aswad yang terletak di salah satu sudut Ka’bah sangat didewa-dewakan dan dianggap sebagai Allah yang Maha Besar (Allahu Akbar).

Oleh sebab itulah setiap pengikut agama bangsa Arab harus sujud dan menyembahnya pada setiap kali melakukan sholat. Ka’bah di mana Hajar Aswad ditempatkan dianggap sangat suci sekali sehingga orang yang berada di sekitar Ka’bah dilarang menghadap atau membelakangi Ka’bah pada waktu buang air atau hajat besar di ruangan terbuka seperti tanah lapang atau padang pasir.

Setiap pengikut agama bangsa Arab yang akan melakukan sholat di mana pun dia berada harus menghadapkan dirinya ke arah Hajar Aswad yang ditempatkan di sudut Ka’bah atau berkiblat ke Mekkah, karena Ka’bah ada di dalam kota Mekkah dan Ka’bah itulah tempat tinggal atau rumah Allah atau tempatnya Hajar Aswad.

Jika kita perhatikan dalam Alquran Surat Al-Faatihah ayat 1, yaitu Basmalah yang menyatakan bahwa Allah ialah zat atau benda wujud (materi) yang maha suci yang disembah dengan sebenarnya, maka benda yang dimaksud adalah benda batu hitam Hajar Aswad yang oleh bangsa Arab disembah dan dipuja sejak jaman dahulu sebelum Islam disiarkan oleh Muhammad. Hanya pada waktu itu Hajar Aswad disembah dan dipuja bersama-sama dengan 359 berhala lainnya termasuk berhala-berhala perempuan Laata, Manaata dan Uzza. Pada waktu itu agama bangsa Arab sifatnya politeisme yaitu menyembah banyak Tuhan sampai jumlahnya 360 patung berhala yang didewakan sebagai Tuhan-tuhan.

Tetapi setelah agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad maka 359 patung-patung berhala disingkirkan dari Ka’bah (Hadits Shahih Bukhari, No. 832) kecuali Hajar Aswad yang tetap tinggal, karena agama bangsa Arab yang baru mengajarkan hanya menyembah satu Tuhan sehingga agama bangsa Arab yang bersifat politheisme dirubah menjadi monotheisme yaitu hanya menyembah satu Tuhan yang di dalam hal ini menyembah satu berhala batu hitam yang bernama Hajar Aswad.

Mendewa-dewakan dan menyembah batu hitam Hajar Aswad yang dilakukan oleh Muhammad ternyata membuat gusar pengikut Muhammad yang setia, yaitu Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab yang telah mengimani rukun iman ketiga dari agama Islam yang percaya pada Taurat, Zabur dan Injil, mengetahui benar bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang hidup yang dapat memelihara dan melindungi.

Diapun mengetahui bahwa sebagian dari Taurat, Zabur dan Injil telah dimasukkan ke dalam Alquran antara lain di dalam Surat Ali-Imran (QS 3) ayat 150, surat Al-An Aam (QS 6) ayat 102, surat Asy-Syuura (QS 42) ayat 28, surat Al-Hasyr (QS 59) ayat 23.

Lain dari pada itu, juga Umar bin Khattab pun mengetahui bahwa Alquran adaah bagian dari Alkitab seperti disebutkan di dalam surat Az-Zukhruf (QS 43) ayat 4, dan surat Asy-Syuura (QS 26) ayat 196.

Oleh sebab itu pada prinsipnya Umar bin Khattab tidak mau sujud menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut, karena dia mengetahui benar bahwa batu hitam itu tidak lain adalah benda mati yang tidak mungkin dapat menciptakan langit dan bumi apalagi sebagai pemelihara, penjaga dan penolong.

Tetapi karena Muhammad sendiri telah memberi contoh untuk menyembah batu hitam tersebut, maka sebagai pengikut yang setia kepada Muhammad, akhirnya tidak ada jalan lain bagi Umar bin Khattab untuk juga menyembah dan mencium batu tersebut walaupun dalam hatinya tetap tidak bisa menerima kenyataan ini sehingga dia bersungut-sungut pada waktu menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Hal ini dapat disaksikan dalam Hadits Shahih Bukhari maupun Hadits Shahih Muslim sebagaimana dinyatakan berikut ini:

Dari Umar r.a. katanya: Bahwasanya dia datang mendekati Hajar Aswad (batu hitam) lalu dia menciumnya katanya: “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini batu yang tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat. Jikalau tidaklah karena saya melihat nabi saw mencium engkau, niscaya saya tidak akan menciummu pula.” (Hadits Shahih Bukhari, No. 830)

Dari Salim r.a. katanya bapaknya menceritakan kepadanya bahwa Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad, kemudian Umar berkata: “Ketahuilah, demi Allah! Aku tahu engkau hanya batu. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, aku tidak akan menciummu.” (Hadits Shahih Muslim, No. 1222)

Pengetahuan tentang Allah yang benar, telah dipahami oleh Umar bin Khattab yaitu Allah yang harus disembah oleh bangsa Arab adalah Allah yang disebut dalam Alkitab yang telah dituangkan ke dalam Alquran melalui Surat Ali-Imraan (QS 3) ayat 45, yaitu Isa Almasih yang terkemuka dan yang paling tinggi kedudukannya di dunia dan akhirat yang lahir dari Roh Allah (Surat An-Nisaa ayat 171), yang merupakan firman Allah (Hadits Shahih Bukhari No. 1496), yang dapat menciptakan burung, di mana identik dengan penciptaan Allah akan manusia (Surat Al-Maidah ayat 110, Surat Ali-Imraan ayat 49), dan yang menghakimi setiap orang pada akhir zaman (Surat An-Nisaa ayat 159, Hadits Shahih Bukhari No. 1090, Hadits Muslim No. 127).

Oleh sebab itu pada waktu Umar bin Khattab mengucapkan doa talbiyah yaitu: “Aku penuhi panggilanMu ya Allah” sambil berjalan menuju batu hitam Hajar Aswad, kemudian setelah sampai di hadapan batu hitam tersebut, dia harus membungkuk menyembah dan mencium batu tersebut, timbullah dalam hatinya suatu pertentangan yang tidak ingin menyembah dan mencium batu tersebut sebagai tanda selamat datang sebelum melakukan thawaf qudum. Tetapi karena Muhammad telah memberi contoh sebelumnya bahwa batu hitam itu harus disembah dan dicium, maka Umar bin Khattab pun taat melaksanakannya sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad walaupun hatinya sangat menentangnya.

Oleh sebab itu beliau terpaksa mencium dan menyembah batu hitam tersebut disertai dengan bersungut-sungut dan bersumpah.

Sesungguhnya pada saat itu Umar bin Khattab sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan syirik, karena dia telah percaya kepada Allah yang benar sesuai dengan disebutkan dalam Alkitab tetapi sekarang apa boleh buat, dia harus menunjukkan kesetiaannya kepada Muhammad dengan cara harus menyembah berhala pula.

Dia pun mengetahui bahwa Muhammad telah menurunkan Surat An-Nisaa (QS 4) ayat 117 dalam Alquran yang menyatakan bahwa penyembahan berhala adalah sama dengan menyembah setan. Oleh sebab itu Umar bin Khattab sadar bahwa apa yang dia lakukan yaitu menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad dan mendewa-dewakannya sebenarnya dilarang, karena menimbulkan murka Allah.

“Yang mereka sembah selain dari Allah tidak lain hanyalah berhala perempuan dan tiadalah yang mereka sembah kecuali setan yang durhaka.” (QS 4:117)

Tentunya bukan Umar bin Khattab saja yang sadar akan penyembahan berhala batu hitam Hajar Aswad adalah tidak sesuai dengan ketentuan Taurat dan Injil yang sudah diterapkan dalam Alquran.

Pada umumnya bangsa Arab yang beragama Yahudi dan yang beragama Kristen yang pada waktu itu sudah ada dan hidup di Mekkah dan Madinah, juga tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad karena mereka tahu bahwa hal ini sangat bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam Taurat agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Tetapi anehnya, orang-orang yang tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut oleh Muhammad justru dinyatakan sebagai orang Musyrik dan orang kafir.

Menurut Muhammad, orang-orang Musyrik ini harus dimusuhi dan diperangi sebagaimana yang tertera dalam Alquran sebagai berikut:

“Apabila habis bulan-bulan Haram, maka perangilah orang-orang Musyrik itu di mana kamu jumpai, dan tangkaplah mereka, kepunglah dan dudukilah setiap tempat pengintaian mereka. Jika mereka taubat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, maka biarkanlah mereka pada jalannya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS 9:5)

Memang Muhammad telah berhasil mengubah agama bangsa Arab dari agama politheisme yang menyembah banyak Tuhan menjadi agama monotheisme yang menyembah hanya satu Tuhan saja. Muhammad pun telah berhasil memasukkan sebagian dari Taurat dan Injil ke dalam Alquran, bahkan Taurat dan Injil dianggap sebagai dasar dari Alquran. Tetapi Muhammad tidak berhasil merubah tradisi bangsa Arab yang sejak beribu-ribu tahun yang lalu menyembah berhala sampai zaman sekarang. Muhammad hanya berhasil mengurangi jumlah berhala yang disembah dari 360 buah berhala menjadi penyembahan kepada satu berhala saja.

Mengapa hal ini sampai terjadi demikian, padahal pada mulanya Muhammad memasukkan unsur-unsur Taurat dan Injil agar dapat menyembah Tuhan yang benar sesuai dengan apa yang ditulis dalam Taurat dan Injil? Hal ini terjadi karena sejak bayi, Muhammad telah diserahkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib kepada batu hitam Hajar Aswad di kaki Ka’bah. Mungkin batu hitam Hajar Aswad ini mempunyai daya tarik yang luar biasa besarnya, sehingga walaupun pada mulanya secara resmi Muhammad bertekad menyembah Tuhan yang digambarkan Taurat dan Injil, tetapi akhirnya dalam kenyataannya hanya menyembah batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Pengikut agama bangsa Arab selain Umar bin Khattab, menyadari tentang kekeliruan ini, oleh sebab itu kekeliruan ini mereka tutupi dengan cara bahwa setiap orang yang bukan pengikut agama bangsa Arab dilarang datang ke Ka’bah Mekkah, agar praktek penyembahan berhala ini tidak terlihat keluar dengan harapan kekeliruan ini tidak akan diketahui oleh umum.

Larangan ini khususnya ditujukan kepada pengikut-pengikut agama Yahudi dan agama Kristen, karena merekalah yang mengetahui Tuhan yang sebenarnya yang digambarkan dalam Taurat serta Injil dan yang telah diterapkan ke dalam Alquran.

Bangsa Arab yang pada waktu itu telah memeluk agama Yahudi dan yang memeluk agama Kristen pun tidak mau mengikuti ajaran baru dari Muhammad untuk menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad itu.

Oleh sebab itulah Muhammad mengeluarkan ketentuan bagi pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen bahwa mereka termasuk orang-orang Musyrik yang tidak boleh masuk ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berada di dalamnya.

Larangan ini tertuang dalam Alquran sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (QS 9:2)

Segala usaha telah dilakukan agar pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen tidak bisa memasuki tempat-tempat di mana upacara ibadah haji dilakukan, yaitu Mekkah dan sekitarnya agar praktek penyembahan berhala di Ka’bah tidak diketahui oleh orang luar.

Bahkan jika kita berkendaraan mobil menuju ke kota Mekkah, maka sebelum kita memasuki kota tersebut, akan kita lihat adanya tanda penunjuk jalan yang besar di persimpangan jalan yang membagi jalan menjadi dua jurusan yaitu satu arah untuk orang-orang Muslim yang dapat langsung memasuki kota Mekkah dan satu arah lagi bagi orang-orang yang bukan Muslim yang tidak diperkenankan masuk ke kota Mekkah dan harus kembali lagi atau pergi ke arah lain.

Larangan kepada orang-orang yang bukan Muslim ini sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Arab atau bangsa lainnya yang beragama Yahudi atau yang beragama Kristen. Dengan demikian penganut agama Yahudi maupun penganut agama Kristen yang tentunya mempunyai pemikiran yang sama dengan pemikiran Umar bin Khattab sebagaimana yang disebut dalam Hadits Shahih Bukhari No. 830 dan Hadits Shahih Muslim No. 1222 tidak akan bisa melihat apa yang terjadi dalam upacara ibadah haji ini, sehingga orang luar tidak akan melihat adanya pertentangan antara ajaran Taurat dan Injil yang menyembah Allah yang benar di satu pihak, dan penyembahan berhala batu hitam Hajar Aswad di lain pihak, yang kedua-duanya tercakup dalam agama bangsa Arab tersebut.

Kesimpulan

Seandainya Muhammad pada waktu merubah agama bangsa Arab dari agama politheisme menjadi agama monotheisme dengan cara menyingkirkan seluruh patung berhala yang berada di Ka’bah yang jumlah 360 buah itu tanpa meninggalkan satu patung berhala pun, maka kekeliruan penyembahan kepada Allah pasti tidak akan terjadi.

Kalau memang demikian halnya maka bangsa Arab pasti akan menyembah Allah yang benar sebagaimana yang digambarkan dalam Taurat dan Injil yang dituangkan ke dalam Alquran.

Tetapi untuk rukun Islam yang kedua dan keempat, yaitu sholat menghadap berhala Hajar Aswad dan upacara ibadah haji ke Mekkah sama sekali tidak ada unsur Taurat dan Injil di dalamnya.

Agama bangsa Arab ini adalah satu-satunya agama di dunia yang walaupun bersifat monotheisme dan mengkaitkan Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen ke dalam Alquran, tetapi tetap menyembah batu hitam di Ka’bah yang bernama Hajar Aswad. Sedangkan agama Hindu dan agama Budha adalah agama yang murni menyembah dewa-dewa dalam bentuk berhala-berhala tanpa melibatkan Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Dalam teorinya, agama bangsa Arab ini menyembah Allah yang benar sesuai Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen yang telah dituangkan ke dalam Alquran, tetapi dalam prakteknya, karena adanya rukun Islam yang kedua dan kelima, maka ternyata yang disembah dan dicium adalah batu hitam Hajar Aswad yang berada di sudut Ka’bah, dan setiap pengikut agama bangsa Arab yang akan melakukan sholat, di manapun mereka berada, harus sujud menyembah ke arah Ka’bah tersebut.

Seyogianya, kekeliruan ini janganlah ditutup-tutupi, karena dengan ditutupnya atau disembunyikannya kekeliruan menyembah Allah tersebut, berarti ikut membantu pengikut agama bangsa Arab ini berjalan ke arah yang keliru. Memang di dalam Alquran surat Al-Araaf (QS 7) ayat 186 dikatakan bahwa “barangsiapa disesatkan Allah maka tidak ada baginya orang yang memberi petunjuk, dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatannya”. Karena kita hidup di negara yang berasaskan Pancasila, maka jika diketahui ada orang berjalan ke arah yang keliru tanpa disadarinya dan sama sekali di luar pengetahuannya, maka wajib menasehati dan menuntun orang itu agar berjalan ke arah yang benar.

Pada kenyataannya, sebagian besar pengikut agama bangsa Arab tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja bukanlah Allah yang digambarkan sebagaimana yang tertulis dalam Taurat dan Injil, melainkan pada hakikatnya yang mereka sembah adalah Batu Hitam Hajar Aswad.

Penyembahan pada batu Hajar Aswad baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu pergi ke Ka’bah di Mekkah di mana harus menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Pada saat mencium bahu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut.

Bagi pengikut agama bangsa Arab yang belum melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu melakukan upacara ibadah haji mungkin tidak akan mengetahui tentang praktek perbuatan syirik tersebut.

Sumber : Mengenal Islam

Comments are closed.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.003 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: